NovelToon NovelToon
The CEO'S Private Doctor

The CEO'S Private Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

​"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."

​Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.

​Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Interogasi Berkedok Makan Malam

Mobil Rolls-Royce Phantom itu akhirnya berhenti di depan sebuah restoran tersembunyi di kawasan Menteng. Tidak ada papan nama besar di depannya, hanya sebuah gerbang kayu jati tua yang dijaga oleh dua petugas keamanan bertubuh tegap. Tempat ini adalah salah satu restoran fine dining paling eksklusif di Jakarta, yang hanya menerima tamu berdasarkan reservasi privat khusus dari kalangan pejabat atau konglomerat kelas atas.

Pak Joko dengan cekatan membukakan pintu mobil. Arka turun terlebih dahulu, disusul oleh Ayana yang langsung membetulkan letak tas medis di bahunya. Karina berjalan di paling belakang, memimpin jalan menuju ruang VVIP yang terletak di bagian paling belakang restoran, menghadap ke sebuah taman dalam yang asri dengan gemercik air mancur mini.

Ruangan itu sangat tenang. Sebuah meja panjang dari kayu solid dengan kursi-kursi berbeludru nyaman sudah tertata rapi. Begitu mereka duduk, dua orang pelayan berpakaian pelayan tradisional Jawa langsung menyajikan handuk hangat untuk menyeka tangan.

"Menu siang ini sudah disesuaikan dengan catatan dari Suster Karina, Pak, Dok," ucap salah satu pelayan dengan membungkuk khidmat. "Kami menyajikan sup bening iga sapi muda dengan potongan kentang dan wortel tanpa MSG, ayam panggang madu organik tanpa kulit, serta tumis buncis muda dengan minyak zaitun."

Ayana mengangguk puas. "Bagus. Tolong pastikan nasinya nasi merah atau nasi tim hangat ya, Mbak. Jangan nasi goreng atau nasi uduk."

"Baik, Dokter. Permisi." Pelayan itu mundur perlahan.

Begitu pintu ruangan tertutup rapat, menyisakan Arka, Ayana, dan Karina di dalam, keheningan mendadak terasa sedikit canggung. Sisa ketegangan dari UGD tadi masih membekas di benak masing-masing, namun ada atmosfer baru yang mulai terbangun—sebuah rasa penasaran yang besar, terutama dari sisi Karina.

Karina meletakkan tablet digitalnya di atas meja kecil di sudut ruangan, lalu duduk di kursi yang agak jauh dari Arka dan Ayana, namun posisinya tetap memungkinkannya untuk mengamati kedua orang itu dengan jelas.

"Dokter Ayana," panggil Arka tiba-tiba, memecah kesunyian sembari melonggarkan jam tangan Rolex-nya yang berharga miliaran. "Aksi dekompresi jarum yang kamu lakukan tadi... dari mana kamu belajar melakukan hal itu dengan begitu tenang di tengah kekacauan?"

Ayana yang sedang meneguk air putihnya langsung meletakkan gelasnya. Ia menopang dagunya dengan tangan kanan, menatap Arka dengan senyuman tipis. "Pak Bos, semua dokter spesialis penyakit dalam atau bedah pasti diajarkan prosedur kegawatdaruratan itu sejak masa koas. Tapi kalau ditanya kenapa bisa tenang... jawabannya karena saya tidak punya waktu untuk panik."

Ayana menjeda kalimatnya saat pelayan masuk kembali membawa mangkuk-mangkuk sup yang mengepul hangat. Aroma kaldu sapi asli yang gurih langsung memenuhi ruangan.

Setelah pelayan keluar lagi, Ayana melanjutkan, "Di dalam UGD, panik itu adalah penyakit yang menular. Kalau dokternya panik, perawatnya akan bingung, dan pasiennya bisa meninggal karena waktu kita terbuang sia-sia. Jadi, sekaku apa pun tangan saya, otak saya harus dipaksa berpikir dingin seperti robot. Persis seperti Anda saat menghadapi penurunan saham di bursa efek, kan?"

Arka mengaduk sup beningnya perlahan. "Berpikir seperti robot dalam bisnis itu mudah karena yang dipertaruhkan adalah angka dan kertas. Tapi yang kamu pegang tadi adalah nyawa manusia." Pria itu menatap Ayana lekat-lekat. "Satu milimeter saja jarummu bergeser dan menusuk pembuluh darah besar, pasien itu bisa mati di tanganmu."

"Dan itulah alasan kenapa gaji saya harus empat kali lipat, Pak!" sahut Ayana cepat dengan nada jenaka, sengaja merusak suasana serius yang mulai terbangun. "Risiko malapraktik dan beban mentalnya itu setara dengan cicilan KPR saya dua puluh tahun ke depan. Jadi, jangan pelit-pelit kalau nanti saya minta bonus vitamin, ya?"

Arka mendengus pelan, seulas senyuman sinis yang kini terasa lebih hangat muncul di sudut bibirnya. "Kamu benar-benar tidak bisa serius lebih dari tiga menit, ya, Ayana?"

"Serius terus bikin cepat tua dan keriput, Pak. Lihat saja muka Anda, umur baru awal tiga puluhan tapi aura mukanya sudah seperti kakek-kakek pemilik perkebunan teh abad ke-19," ledek Ayana tanpa rasa takut sama sekali.

Di sudut ruangan, Karina hampir saja menyemburkan tawa kecilnya. Ia buru-buru menutup mulutnya dengan tisu, berpura-pura batuk kecil. Sepanjang sejarah hidupnya mengenal Arkananta Pradipta, belum ada satu pun manusia di dunia ini—termasuk dewan komisaris tertua di Pradipta Group—yang berani menyamakan wajah sang CEO dengan kakek-kakek pemilik perkebunan teh.

Namun, kejutan bagi Karina belum berakhir. Arka tidak marah. Pria itu justru menyuapkan sepotong iga sapi ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan santai.

"Karina," panggil Arka tanpa mengalihkan pandangannya dari piring.

"I-iya, Pak?" Karina langsung menegakkan posisi duduknya.

"Setelah makan siang ini, batalkan semua agenda kunjungan lapangan saya ke proyek pembangunan hotel di Bogor untuk besok sore. Jadwalkan ulang di minggu depan," perintah Arka.

Karina mengerutkan keningnya heran. "Maaf, Pak, tapi besok sore itu adalah jadwal inspeksi terakhir bersama tim arsitek dari Singapura sebelum struktur utamanya disahkan. Apakah ada alasan mendesak?"

Arka melirik ke arah Ayana yang kini sedang sibuk mengunyah buncis mudanya dengan lahap. "Dokter pribadi saya bilang... besok sore saya harus menjalani sesi terapi psikologis pertama untuk penanganan trauma fobia ambulans saya. Dan saya tidak mau mendengar dia mengomel selama dua puluh empat jam penuh karena saya melanggar jadwal medis."

BRAAAKK... Uhuk! Uhuk!

Kali ini, Ayana yang tersedak buncisnya sendiri. Ia terbatuk-batuk hebat hingga wajahnya memerah. Arka dengan sigap menyodorkan gelas berisi air putih hangat ke depan Ayana, sementara tangannya yang lain bergerak—secara refleks yang sangat mengejutkan—menepuk-nepuk punggung Ayana dengan lembut dari samping.

"Pelan-pelan. Jangan mempermalukan saya di restoran ini, Dokter," sindir Arka pelan, namun tatapan matanya memancarkan kecemasan yang nyata.

Setelah batuknya mereda, Ayana meminum airnya sampai habis, lalu menatap Arka dengan mata bulatnya yang melebar sempurna. "Pak Arka... Anda serius? Anda mau ikut sesi terapi besok?"

Arka menarik kembali tangannya dari punggung Ayana, lalu bersandar di kursinya dengan angkuh. "Saya seorang pebisnis, Ayana. Jika saya sudah membayar mahal untuk sebuah jasa perbaikan, maka saya ingin hasilnya maksimal. Trauma ini... sudah terlalu lama mengganggu efisiensi kerja saya. Jadi, jika kamu mengklaim bisa menyembuhkannya, buktikan besok."

Ayana tertegun. Di balik sifat menyebalkan dan keangkuhan pria ini, Ayana melihat sebuah tekad yang luar biasa besar. Arka tidak sedang menyerah pada ketakutannya; ia justru sedang bersiap untuk mengobarkan perang terbuka melawan trauma masa lalunya yang paling kelam. Dan fakta bahwa Arka memilih untuk memercayakan medan perang itu kepadanya... membuat dada Ayana mendadak dipenuhi oleh rasa tanggung jawab yang teramat besar.

"Baik," Ayana membetulkan posisi duduknya, menatap Arka dengan binar mata yang penuh dengan kesungguhan seorang tabib. "Besok jam empat sore, setelah jam kantor selesai. Kita tidak akan melakukan terapi di rumah sakit atau di klinik psikiatri. Kita akan melakukannya di tempat yang paling membuat Anda merasa aman."

"Di mana?" tanya Arka.

"Di penthouse Anda," jawab Ayana tegas. "Dan persiapkan mental Anda, Pak Bos. Karena terapi trauma itu tidak akan selembut pelukan saya semalam. Itu akan terasa sakit... sebelum akhirnya membuat Anda benar-benar sembuh."

Mendengar kata 'pelukan saya semalam', Karina yang sejak tadi menyimak langsung menjatuhkan sendok garpunya ke atas piring keramik dengan suara KLANG yang cukup keras. Sekretaris berambut sanggul itu menatap Arka dan Ayana bergantian dengan pandangan mata yang kini dipenuhi oleh konfirmasi gosip tingkat tinggi.

Sementara itu, Arka hanya bisa memejamkan matanya pasrah, menyadari bahwa dokter pribadinya ini benar-benar tidak memiliki sensor mulut sama sekali di depan bawahannya. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, sebuah debaran aneh kembali muncul, mengonfirmasi bahwa badai di hidupnya kali ini... mungkin adalah badai terbaik yang pernah datang.

Bersambung.

1
Susilawati Susilawati
up lagi thor
Wardah Wilda
up nya yg banyak dong thor..biar semangat baca nya... please...🙏🙏
Hennyy exo
thor pliss up yg banyak ya🤭
💪💪
Hennyy exo
suka banget sama alur ceritanya😍
Hennyy exo
ahh suka banget sama alurnya thor
Hennyy exo
awas ya Arka nanti kamu jatuh cinta loh sama dokter aya🤣🤣
Hennyy exo
awal yg bagus thor
Wardah Wilda
awas ya Thor..klau up nya lama..🤭🤭🤭
neyrfly: siap kakk😍🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
baru baca seru cerita na
neyrfly: makasi kakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!