Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Arka melirik singkat ke arah layar hologram sistem yang perlahan memudar.
Senyum puas mengukir bibirnya, tetapi ia segera mengalihkan fokus kembali kepada Bu Sinta dan putranya, Bimo, yang kini napasnya sudah mulai stabil di bawah sungkup oksigen.
"Terima kasih, Dokter... Terima kasih banyak!Tapi Saya tidak punya uang banyak untuk bayar biaya pengobatan klinik semewah ini, Dokter... tapi saya pasti akan bayar, walau harus mencicil!" bisik Bu Sinta berulang kali, tangannya menggenggam erat tangan Arka dengan gemetar.
Arka menggeleng pelan, lalu memegang balik tangan wanita paruh baya itu dengan hangat.
"Ibu tidak perlu memikirkan biaya. Klinik ini baru buka hari ini, dan Bimo adalah pasien pertama saya. Anggap saja ini pelayanan gratis untuk pembukaan klinik. Yang penting Bimo selamat dan sehat," ujar Arka lembut sembari menepuk pelan punggung tangan wanita itu.
Mata Bu Sinta berkaca-kaca, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"B-benarkah, Dokter? Ya Allah... terima kasih banyak, Dokter Arka! Semoga Tuhan membalas semua kebaikan Dokter!" bisik Bu Sinta penuh rasa haru, suara terisak-isaknya perlahan mereda.
"Terima kasih karena mendoakanku, doa yang baik juga kembali kepada Ibu," kata Arka dengan senyum hangat yang menenangkan.
Di luar pintu kaca transparan yang tertutup, puluhan warga desa yang sejak tadi berkerumun menyaksikan aksi cepat Arka mulai berbisik-bisik kagum.
Suara kasak-kusuk mereka terdengar sampai ke dalam ruangan.
"Wah, dokternya baik banget ya..." celeduk seorang ibu-ibu berdaster merah di barisan depan.
"Iya, lho! Padahal kliniknya mewah begini, tapi dokternya ramah dan tidak matre sama sekali," sahut bapak-bapak berpeci di sampingnya sambil mengangguk-angguk.
"Dokter muda, ganteng, pinter, dermawan pula. Jarang-jarang ada dokter seperti ini di daerah kita!" timpal warga lainnya penuh apresiasi.
Arka mengabaikan pujian-pujian dari warga di luar. Fokus utamanya tetap pada pasien kecilnya.
Arka menyentuh kulit anak itu, sebuah antarmuka transparan bernuansa biru futuristik mendadak muncul tepat di depan pandangnya.
Ting!
[Panel Antarmuka Medis Sistem]
Status Pasien: Bimo (5 Tahun)
Status Kesehatan: 89%
Status Kehidupan: 89%
Daya Tahan Tubuh: 75%
Kondisi Fisik: 80%
Kesehatan Mental: 85%
Kesadaran: 89%
[Catatan Sistem: Trauma saluran pernapasan ringan. Rekomendasi istirahat cukup dan hindari makanan bertekstur keras selama 24 jam]
Arka menghembuskan napas lega melihat angka-angka keselamatan Bimo yang sudah kembali ke zona hijau.
Ia merapikan kembali pakaian Bimo dan mengelus kepala anak kecil yang kini mulai tersenyum malu-malu itu.
"Sepertinya kondisi Bimo sudah baik-baik saja, Bu, dan anaknya sudah bisa dibawa pulang," ucap Arka
Raut wajah Bu Sinta langsung tampak jauh lebih tenang. "Terima kasih, Dokter."
"Tapi tolong perhatikan lagi ya, Bu. Jangan sampai Bimo menelan barang-barang berbahaya seperti kelereng atau koin lagi saat bermain. Anak seusia Bimo masih sangat eksploratif, jadi pengawasan ekstra itu penting sekali. Untungnya anak Ibu cepat dibawa ke sini dan langsung bertemu saya. Kalau terlambat sebentar saja tadi, jalan napasnya bisa tertutup total dan anak Ibu mungkin tidak bisa diselamatkan," pesan Arka dengan nada serius.
"Baik, Dokter. Ini memang kesalahan saya dan keteledoran saya yang kurang memperhatikan Bimo saat main di halaman. Saya janji akan lebih memperhatikannya lagi mulai sekarang. Saya tidak mau kejadian mengerikan ini terulang lagi," kata Bu Sinta menunduk, mengusap sisa air mata di pipinya.
Bu Sinta lalu merangkul Bimo dan membimbingnya berdiri dari tempat tidur periksa. Anak kecil itu menatap Arka dengan mata bulatnya yang polos.
"Terima kasih ya, Dokter Ganteng!" seru Bimo polos.
Arka terkekeh pelan dan berlutut menyamai tinggi Bimo. "Sama-sama, Jagoan. Jangan makan kelereng lagi, ya? Kelereng itu untuk dimainkan, bukan ditelan."
"Siap, Dokter!" jawab Bimo memberi hormat dengan tangannya yang mungil, membuat Bu Sinta dan beberapa warga di luar tertawa gemas.
"Terima kasih sekali lagi atas bantuannya, Dokter Arka. Kalau begitu, kami permisi dulu," pamit Bu Sinta membungkukkan badan penuh hormat.
"Baik, Bu. Hati-hati di jalan, ya," kata Arka tersenyum sambil mengantar mereka sampai ke pintu depan klinik.
Begitu pintu otomatis terbuka, warga sekitar langsung minggir memberi jalan kepada buk Sinta.
"Dokter Arka, kliniknya mulai buka hari ini ya?"
"Dokter, kalau mau periksa tensi atau berobat besok sudah bisa belum?"
"Pendaftaran pasiennya di sebelah mana, Dok?"
Arka menarik napas dalam-dalam, menyunggingkan senyum terbaiknya. "Ah iya, besok sudah bisa datang berobat," kata Arka mengangguk.