Damar Priambodo Wibisono, 32 tahun lelaki tampan berlesung pipi, CEO dingin sebuah perusahaan multinasional harus berhadapan dengan wanita masa lalunya yang selalu menganggu aktifitas sehari-harinya.
Diandra Paramitha Maheswari Sadewa, 28 tahun, gadis cantik berlesung pipi, seorang manager marketing sebuah perusahaan automotif dan juga seorang penulis novel menjalani hari-hari hidupnya jauh dari keluarganya.
Pertemuan antara Damar dan Diandra yang tidak di sengaja membuat keduanya jadi sama-sama saling terpesona tanpa keduanya sadari pertemuan-pertemuan selanjutnya merupakan takdir yang membuat keduanya semakin dekat dan saling memikirkan satu dengan yang lainnya, tanpa pernah ada yang memulai untuk melanjutkan ke hubungan dengan status seperti layaknya pasangan pria dan wanita inginkan.
Bagaimanakah kisah perjalanan falling in love keduanya, konflik apakah yang akan mereka lalui nantinya, yuk ikuti kisah baru karyaku yang selalu saja bikin geregetan dengan ke-uwuan dua sejoli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Kembali (1)
Mencapai jabatan sebagai Manager Marketing sekarang bagi seorang gadis cantik bernama Diandra bukan hal yang mudah meski hanya jentikan tangan atau sekelip mata ia bisa mendapatkannya.
Diandra tidak ingin menjadi wanita karir yang tiba-tiba saja duduk di kursi empuk top manajemen tanpa mengetahui seluk beluk perusahaan di dunia nyata. Meski dirinya memiliki saham di beberapa perusahaan milik keluarga, bagi Diandra hal itu berbeda dengan dirinya yang turun langsung berhadapan dengan para klien atau customer.
Diandra memang bukan gadis ceriwis yang jika berbicara tidak ada titik komanya, lancar seperti rel kereta api. Diandra lebih suka mengamati dan berbicara langsung dengan klien atau customer hal yang akan mereka bahas.
Diandra sudah punya sekretaris andalannya yang selalu bisa membuatnya puas dengan kinerja sekretaris tersebut.
Pagi ini Diandra dan Gea sekretarisnya akan pergi ke coffeeshop di dalam sebuah Mall. Ada pertemuan dengan klien mereka yang akan membeli mobil keluaran terbaru.
"Nona, pertemuan pagi ini sekalian makan siang dengan klien tersebut, begitu keinginan mereka waktu menghubungi Saya," Gea mengingatkan bosnya.
"Baiklah, atur saja,"
"Siap Nona,"
Keduanya berjalan memasuki coffeeshop yang selalu ramai oleh para eksekutif muda dengan penampilan mereka yang pastinya menawan dan harum.
"Benar ini coffeeshop-nya Ge?"
"Benar sekali Nona,"
"Dindaaa," panggil seseorang yang bikin Diandra mengerutkan keningnya. Hanya ada satu orang cowok yang memanggilnya dengan Dinda padahal nama dirinya jelas-jelas Diandra.
Diandra dan Gea terus saja berjalan tanpa menghiraukan suara berat seorang laki-laki di belakang mereka.
"Dindaaa tungguuu," teriak laki-laki tersebut yang sudah berada di samping Diandra.
"Kamu di panggilin gak jawab malah jalan aja terus," laki-laki tersebut merasa senang bisa bertemu dengan gadis yang di sukainya.
Gea yang tidak mengerti dengan keadaan mengernyitkan alisnya.
"Pak, maaf Bapak salah orang sepertinya, ini atasan Saya namanya Nona Diandra Pak, bukan Dinda seperti yang Bapak panggil tadi,"
"Udah Gea biarin aja, aku kenal Bapak ini," ucap Diandra pelan ke sekretarisnya.
"Yaaahh Dindaku, kok Bapak sih, jangan panggil Bapak Dinda, kita seumuran, sebaya," laki-laki tersebut protes tidak terima dengan panggilan Bapak.
"Nona, kita di meja itu pertemuannya," Gea menunjuk meja yang sudah ada tulisan RESERVASI.
Diandra menganggukkan kepalanya.
"Apa Kamu ikut ke pertemuan dengan Kami, Dinda," tanya laki-laki tersebut ke Diandra.
Diandra terus berjalan tidak menjawab pertanyaan laki-laki tersebut.
"Woii Dewaa! Sini Lu, ngapain Lu pepetin Diandra," terdengar suara dari seorang lelaki yang Diandra kenal sekali suaranya.
"Sebentarn Bro, mumpung bisa ketemu ini," laki-laki tersebut menyipitkan satu matanya ke laki-laki lain yang sudah duduk dengan kopi dan laptopnya di meja.
Diandra dan Gea terus berjalan dan duduk di meja yang sudah mereka reservasi.
"Aku boleh ikutan duduk di sini ya Dinda bersama kalian,"
"Pak, maaf Kami sedang menunggu tamu, Nona Diandra sepertinya tidak mau diganggu Pak, maafkan jika Saya lancang," Gea melihat wajah bosnya yang sudah sedikit berubah rautnya segera mengusir secara halus cowok tampan dengan rambut yang sedikit gondrong tapi tampak keren tersebut.
Wajah Diandra memang sudah tampak kesal, dirinya tau siapa yang duduk di sampingnya ini.
Di meja yang lain, seorang laki-laki tampan dan tinggi baru saja datang berdua bersama asistennya.
"Hallo apa kabar Bro?" Sapa laki-laki yang baru datang itu.
"Weis, Dee, apa kabar Lu? Semakin-semakin saja ini, pasti banyak yang antri ini kan," laki-laki yang dari tadi sudah duduk dengan laptopnya berdiri. Keduanya bertos ala anak muda.
"Bos, Saya ke sana dulu itu ada teman Saya di sana," Vano asisten laki-laki yang dipanggil Dee itu menyalami laki-laki teman bosnya dan izin untuk bertemu temannya yang ada di meja lain.
"Oke Van, jangan lupa nanti makan siang bareng sama Saya,"
"Siap, Bos," Vano memberikan hormat ke bosnya dan pamit meninggalkan bosnya bersama temannya.
"Ayok duduk Dee,"
"Mana si Dewa? Kata lu udah di sini,"
"Noh, lu liat di jarum jam angka 12,"
Laki-laki yang dipanggil Dee mengikuti arah pandang yang di tunjuk.
Raut wajahnya tampak kaget melihat wanita yang duduk di samping Dewa.
"Dengan siapa dia?"
"Nanti gue kenalin siapa tuh cewek,"
Laki-laki yang di panggil Dee manggut-manggut.
"Sudah pesan coffe Bro?"
"Belum sih, nanti saja, sekalian sama Dewa,"
"Kenapa nama gue di sebut-sebut," laki-laki tampan yang tadi bersama Diandra ternyata sudah berpindah tempat saja.
"Akhirnya gue senang bisa ketemu sama Dinda, Bro,"
"Siapa Dinda?" tanya Dee.
"Itu Dinda coba Lu lihat yang di sono," Dewa menunjuk ke arah meja tempat dirinya duduk tadi.
"Namanya Dinda?"
"Itu nama panggilan dari gue Bro, nama aslinya Diandra, memangnya Lu belum kenal sama Diandra kembarannya Ganendra?"
"Kembaran? Oh iya Ganendra punya kembaran tapi selama ini gue belum pernah ketemu dan melihat facenya langsung,"
"Ck..ck..ck..berapa lama Lu main sama Ganen Bro, bisanya gak pernah ketemu,"
"Ya lu kan tau sendiri gimana sibuknya gue,"
"Sudah-sudah, nanti gue kenalin Dee sama kembaran gue, cuma gue gak yakin apa dia mau kenalan sama elu Bro,'
" Kenapa gak mau?"
Ganendra mengedikkan bahunya.
Pandangan Dee tertuju ke meja yang tidak terlalu jauh dari mereka duduk. Pada saat yang sama Diandra juga tanpa sengaja menatap ke meja di mana kembarannya duduk.
Kedua mata mereka bertautan, keduanya seperti kaget saat mata mereka bertemu. Laki-laki yang di panggil Dee segera menarik sudut bibirnya tipis. Sedangkan Diandra langsung mengalihkan pandangannya ke kliennya kembali.
Saat ini Diandra dan Gea sekretarisnya sedang bertemu. Tidak lama kemudian pembahasan mereka selesai.
Diandra dan Gea sedang berdiskusi di meja mereka, saat 3 laki-laki tampan dengan tubuh tinggi dan harum mendatangi meja mereka.
"Siang Dindaku," sapa Dewa yang paling berisik di antara ketiga laki-laki tersebut.
Diandra dan Gea yang sedang serius kaget dan menoleh. Gea yang melihat ketiga laki-laki tampan tersebut wajahnya merona.
Diandra mengernyitkan alisnya.
"Ada apa?" tanya Diandra datar.
"Gak di suruh duduk dulu Di tamunya?" tanya Ganendra yang memang sudah hapal dengan sikap kembarannya ini jika bertemu lawan jenis, sangat dingin tanpa ekspresi, wajahnya di buat datar dan lempeng, selempeng-lempengnya.
"Silahkan duduk, Bapak-bapak semua," Gea akhirnya berdiri dan mempersilahkan tamu bosnya duduk.
"Nona, Saya ke sana dulu ya,"
"Gak Kamu tetap di sini," tegas Diandra.
"Baik Nona," tangan Gea sudah semakin dingin ketiga laki-laki tampan ini membuat hawa dingin bertambah dingin.
Gea duduk kembali di samping atasannya. Ketiga laki-laki tampan yang membuatnya jadi salah tingkah tersebut membuat dirinya tak bisa fokus, Diandra menyadari hal tersebut.
Diandra sudah biasa menghadapi laki-laki tampan.
"Duduk yang tenang Ge, mereka gak makan orang tenang saja," ucap Diandra tenang dan masih tanpa ekspresi.
"Sudah duduk kan, sekarang giliran Kami mau pulang," Diandra akan berdiri tapi tangannya di cekal oleh Ganendra.
"Duduklah Di, jangan karena aku bawa teman lamaku Kamu jadi pergi, aku mau kenalin Kamu sama Dee alias Damar,"
Diandra duduk kembali ke kursinya begitu juga dengan Gea.
Dewa dan Damar terus saja memandang ke Diandra matanya tak lepas dari semua gerak - gerik gadis cantik penuh pesona itu.
"Kenalkan ini sahabat Ku saat Kami sama-sama kuliah di LN,"
Diandra hanya manggut-manggut saja. Dee alias Damar mengulurkan tangannya.
Kapan lagi gue bisa rasakan lembut tangannya ini, batin Damar. Dalam hati dirinya sangat senang, entah mengapa dirinya sangat senang berada di dekat gadis yang sudah beberapa kali ia jumpai ini.
Dengan terpaksa Diandra mengulurkan tangannya.
"Damar," ucap Damar sambil matanya tak lepas dari gadis yang pernah di ciumnya ini.
"Diandra," dengan terpaksa juga Diandra menyebutkan namanya.
Tangan mereka saling berjabatan. Damar senang bisa merasakan lembutnya telapak tangan wanita cantik di depannya. Dirinya merasa senang akhirnya mengetahui nama gadis ini secara langsung dari bibirnya sendiri dan yang lebih penting lagi bagi Damar, gadis yang sudah mencuri perhatiannya ini ternyata kembaran dari sahabatnya sendiri. Kebetulan yang sangat manis sekali ini. Jadi dirinya tidak akan kehilangan jejak gadis cantik ini.
"Aku juga mau kenalan, Bro," ucap Dewa kepo sambil menarik tangan Diandra yang secara reflek langsung terlepas dari genggaman tangan Damar.
"Apaan sih Lu, Dewa," tajam suara Ganendra ke Dewa.
"Becanda aja Bro, aduhh jangan di timpuk gue napa Bro Dee,"
"Jangan ladeni Dewa mau kenalan, Di," ucap Ganendra.
semangat onell /Determined//Determined/
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤