Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.
Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.
Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.
Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.
"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 pulang untuk pergi
Keesokan paginya kesepakatan hitam di atas putih selesai ditandatangani. Nadia tidak membawa apa pun saat keluar dari rumah sakit, selain gaun semalam yang sudah dibersihkan oleh asisten Devan.
"Arkan belum tahu kamu masuk rumah sakit" kata Devan sambil mengancingkan jasnya, bersiap meninggalkan ruangan. "Gunakan kesempatan ini untuk mengambil dokumen penting milik ayahmu di rumah kalian sebelum Arkan menyita semuanya."
Nadia mengangguk pelan. "Aku tahu di mana Papa menyimpan salinan sertifikat dan surat kuasa perusahaan."
"Bagus. Asistenku, Leo, akan mengantarmu dan menunggumu di luar. Jika terjadi sesuatu, telepon aku" kata Devan datar, namun ada nada protektif yang tersirat di sana.
Setengah jam kemudian, Nadia melangkah masuk ke dalam rumah yang selama setahun ini dia anggap sebagai surga, namun ternyata hanyalah sebuah sangkar palsu. Suasana rumah sepi, tetapi suara tawa dari arah ruang tengah langsung membuat langkah Nadia tertahan.
Di atas sofa ruang tamu, Arkan sedang duduk santai sambil memangku laptop. Di sampingnya, Ghea dengan manja sedang menyuapinya potongan buah.
Mereka bahkan tidak repot-repot menyembunyikan hubungan menjijikkan itu di rumah Nadia sendiri.
"Oh, si cengeng sudah pulang?" cemooh Ghea saat melihat kedatangan Nadia. Sama sekali tidak ada rasa bersalah di wajah kakak tirinya itu.
Arkan mendongak, menatap Nadia dengan pandangan dingin dan penuh kilat peringatan. "Dari mana saja kamu semalaman? Ponsel mati, tidak pulang. Jangan bertingkah kekanak-kanakan, Nadia. Cuma karena melihatku dengan Ghea di restoran kamu jadi kelayapan nggak jelas" kata Arkan. "kamu sengaja yah ingin membuatku khawatir?" tuding Arkan kesal.
Nadia menatap suaminya—pria yang dulu sangat dia cintai, namun kini terlihat begitu asing dan menjijikkan. Hebatnya, tidak ada lagi air mata yang menetes. Hatinya sudah terlalu beku oleh rasa sakit.
"Aku tidak berniat membuatmu khawatir, Arkan. Karena aku tahu, kamu hanya bersandiwara mengkhawatirkan ku" jawab Nadia dengan suara yang sangat tenang dan tegas.
Arkan sedikit tersentak mendengar nada bicara Nadia yang berubah drastis. Biasanya, Nadia akan langsung menangis atau memohon penjelasannya. Tapi kali ini, Nadia terlihat tangguh, berdiri dengan tegar di depan Arkan walaupun dia sedikit gemetar.
Tanpa memedulikan sepasang kekasih gelap itu, Nadia berjalan melewati mereka menuju ruang kerja almarhum ayahnya di lantai bawah. Dia bergerak cepat, membuka brankas rahasia di balik lukisan, lalu memasukkan seluruh dokumen penting, paspor, dan laptop pribadinya ke dalam tas jinjing besar.
Saat Nadia keluar dari ruang kerja, Arkan sudah berdiri di depan pintu dengan melipat tangan, menghadang jalannya.
"Mau bawa apa kamu? Jangan coba-coba membawa barang berharga keluar dari rumah ini, Nadia!" bentak Arkan, matanya melirik curiga ke arah tas besar yang dibawa Nadia.
Nadia menatap lurus ke manik mata Arkan. Dengan gerakan perlahan, dia melepas cincin pernikahan mereka dari jari manisnya, lalu menjatuhkannya begitu saja ke lantai. Cincin emas itu berdenting pelan, menggelinding ke dekat kaki Arkan.
Arkan tertegun sejenak melihat tindakan Nadia.
"Aku pergi. Surat gugatan cerai akan sampai ke mejamu besok pagi" ucap Nadia dingin.
Arkan tertawa meremehkan. "Cerai? Kamu pikir kamu bisa bertahan hidup tanpaku? Kamu tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, Nadia! Tanpa aku dan perusahaanku, kamu bukan apa-apa!"
"Dia punya aku."
Tiba tiba sebuah suara bariton yang berat dan sarat akan intimidasi menggema dari arah pintu depan yang terbuka.
Arkan dan Ghea sontak menoleh. Jantung Arkan seakan berhenti berdetak saat melihat sosok pria yang melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan langkah santai namun berwibawa.
Itu Devan Alister. Penguasa bisnis nomor satu yang paling ditakuti Arkan, sekaligus musuh Arkan.
Devan berjalan mendekati Nadia, lalu dengan protektif melingkarkan lengannya di pinggang Nadia, menarik wanita itu ke dalam perlindungannya.
"Dan mulai hari ini, apa pun yang menyentuh milik Nadia, artinya sedang berurusan langsung dengan Alister Group" lanjut Devan, menatap Arkan dengan pandangan membunuh yang membuat nyali suaminya itu ciut seketika.
★★★
(Mau kasih tau, nama panjang nya Nadia tu Nadiara yah, takut nya nanti ada yang bingung pas aku pake "Nadiara" di dialog (ʘᴗʘ✿)