Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Kabut Kematian dan Ekspedisi Pertama
Halaman Tatanan Besi Hitam dipenuhi ketegangan yang pekat. Enam pria berdiri dalam formasi kasar di dekat gerbang utama, menahan napas mereka di bawah guyuran gerimis sisa badai semalam.
Lin Tian dan Lin Chen berdiri di barisan paling depan, wajah mereka setenang air danau yang membeku. Di belakang mereka, Bara dan tiga orang mantan preman bertubuh paling besar tampak gelisah. Tangan mereka mencengkeram erat senjata berupa tombak pipa baja dan parang buatan pabrik.
Suara langkah kaki yang berat dan berirama memecah keheningan.
Yudha melangkah keluar dari bangunan utama. Tubuhnya dibalut jaket tebal panjang berwarna gelap. Namun, yang membuat semua mata tertuju padanya adalah lengan kanannya. Sebuah pelindung mekanis dari baja hitam pekat membungkus lengannya dari bahu hingga ke ujung jari, dengan garis-garis merah menyala yang berdenyut seirama dengan napasnya.
Bara menelan ludah dengan susah payah. Matanya membelalak mengenali batu kemerahan yang tertanam di punggung tangan mekanis tersebut. Itu adalah Inti Energi Api dari palu godam kesayangannya. Di tangannya, inti itu hanya bisa memanaskan sepotong besi kasar. Namun di tangan pemuda ini, inti tersebut telah diubah menjadi mahakarya senjata yang memancarkan hawa kematian.
Sisa-sisa niat pemberontakan di hati Bara hancur lebur saat itu juga.
"Buka gerbangnya," perintah Yudha mutlak, suaranya sedingin es.
Lin Chen bergerak cepat memutar tuas katrol. Gerbang besi raksasa itu berderit terbuka, memperlihatkan jalan raya yang hancur dan diselimuti kabut tipis. Menara Lontar Elektromagnetik di atas mereka berputar pelan, lensa merahnya memindai ancaman, memastikan jalur keluar mereka aman.
"Formasi baris. Lin Tian dan Lin Chen, kalian bertindak sebagai mata di depan," instruksi Yudha seraya melangkah melewati gerbang. "Bara, kau dan tiga orangmu jaga bagian tengah. Aku akan mengawasi dari belakang. Apa pun yang bergerak dan tidak mengenakan seragam kerja pabrik ini, anggap sebagai musuh."
"Siap, Ketua!" jawab mereka serempak, meski suara anak buah Bara sedikit bergetar.
Mereka mulai bergerak menyusuri jalan aspal yang retak. Jarak tiga kilometer dalam kondisi normal bisa ditempuh dengan cepat, namun di era kiamat ini, setiap sudut jalan, setiap mobil yang terbengkalai, dan setiap gang sempit adalah potensi jebakan mematikan.
Setelah dua puluh menit berjalan dengan kehati-hatian tingkat tinggi, langit di atas mereka mulai berubah warna. Awan abu-abu tergantikan oleh pendaran cahaya ungu yang tidak wajar. Kabut yang sebelumnya tipis kini berubah menjadi tebal dan lengket, berbau seperti daging busuk yang dibakar.
[Peringatan Sistem: Anda memasuki zona pengaruh Celah Dimensi Tingkat Rendah.]
[Kepadatan energi asing meningkat. Jarak pandang menurun 60%.]
"Tetap rapat!" desis Lin Tian sambil mengangkat sebelah tangannya, menghentikan langkah rombongan.
Di depan mereka, terhampar perumahan padat penduduk yang kini tak ubahnya seperti kota hantu. Pintu-pintu rumah jebol, kaca jendela berserakan, dan tidak ada satu pun tanda kehidupan manusia.
Namun, yang membuat darah Bara dan anak buahnya berdesir adalah pemandangan di sepanjang jalan perumahan tersebut.
Bangkai-bangkai Anjing Neraka dan Pengintai Kulit Besi berserakan dalam kondisi yang mengerikan. Tubuh mereka tidak sekadar mati, melainkan tercabik-cabik menjadi dua bagian, atau hancur seolah baru saja dihantam oleh palu godam seukuran mobil.
"Makhluk apa yang bisa membantai monster Tingkat 3 semudah ini?" bisik Bara dengan keringat dingin mengucur di dahinya. "Ketua... mungkin kita harus mundur. Ini di luar batas kemampuan kita."
Yudha melangkah maju melewati Bara, matanya menyipit menembus kabut ungu. Atribut Kecerdasannya yang tinggi memungkinkannya menganalisis jejak pertarungan di sekitarnya dalam hitungan detik.
"Luka robeknya tidak rata. Bukan disebabkan oleh senjata tajam buatan manusia, melainkan oleh kekuatan fisik murni yang sangat brutal," gumam Yudha pelan. Ia menoleh ke arah Bara. "Jika kita mundur sekarang, makhluk ini akan terus memakan monster lemah, berevolusi, dan pada akhirnya akan menghancurkan gerbang pabrik kita besok pagi."
DUUM... DUUM...
Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergetar pelan. Suara langkah kaki yang sangat berat terdengar dari balik kabut ungu di ujung jalan. Setiap langkahnya membuat kerikil di atas aspal melompat-lompat kecil.
"Bersiap!" teriak Lin Tian, langsung memasang kuda-kuda dan mengangkat golok bajanya.
Dari balik kabut, sebuah siluet raksasa mulai menampakkan wujudnya. Makhluk itu berdiri tegak di atas dua kaki menyerupai manusia, namun tingginya mencapai tiga meter. Seluruh permukaan kulitnya ditutupi oleh lempengan tulang putih yang tebal, berfungsi layaknya baju zirah alami. Di tangan kanannya, makhluk itu menyeret sebuah pilar beton jalanan lengkap dengan bongkahan aspal di ujungnya, menggunakannya sebagai gada raksasa.
Sebuah teks berwarna merah darah berkedip di atas kepalanya.
[Algojo Zirah Tulang - Tingkat 5]
[Status: Haus Darah]
Makhluk itu menatap enam manusia di depannya dengan sepasang mata kecil yang menyala ungu. Ia menggeram rendah, lalu mengangkat pilar beton di tangannya seolah benda seberat ratusan kilogram itu seringan ranting kayu.
Anak buah Bara melangkah mundur dengan bibir gemetar pucat pasi. Menghadapi serigala mutan adalah satu hal, tetapi menghadapi raksasa lapis baja ini rasanya seperti menantang maut dengan tangan kosong.
Yudha tidak bergeming. Ia memutar pergelangan tangan kanannya, memicu suara dengungan mesin yang halus dari lengan bajanya. Urat-urat merah di sekujur lengan mekanis itu mulai menyala terang, memancarkan hawa panas yang langsung mengeringkan udara lembap di sekitarnya.
"Lin Tian, Lin Chen, serang sendi kakinya dan alihkan perhatiannya!" perintah Yudha, nada suaranya berubah menjadi aura komandan perang yang mutlak. "Bara, jika kau berani mundur satu langkah saja, aku sendiri yang akan melebur kepalamu. Kepung dari samping!"
Yudha menyeringai dingin, menatap lurus ke arah raksasa tulang tersebut.
"Mari kita lihat, sekeras apa tulangmu itu."