Lin tian seorang remaja yang tinggal bersama ayah nya seorang pemabuk. suatu hari tiba tiba ayah nya berbicara dan mengasih warisan keluarga untuk anak nya dapat berkultivasi. seperti pepatah mengatakan "di balik kekuatan hebat terdapat musuh yang kuat"
Mampu kah Lin Tian bertahan dari banyak nya musuh yang datang.
mari kita cari tau bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Tebasan Penghancur Ilusi
Suasana di sekitar Panggung Nomor Tiga mendadak sunyi senyap, seolah-olah seluruh pasokan udara di Alun-Alun Pusat Kota Azure Wood tersedot habis oleh ketegangan yang memuncak. Di atas panggung giok yang luas itu, dua sosok remaja berdiri saling berhadapan. Di satu sisi, Gu Wei berdiri dengan jubah sutra merahnya yang berkibar, dikelilingi oleh kobaran Qi elemen api yang ganas dan membara. Di sisi lain, Lin Tian berdiri tegak dengan jubah hitamnya yang sederhana, memegang sebuah pedang besar yang masih terbungkus kain hitam di punggungnya, tampak tenang bagaikan permukaan danau purba di tengah badai.
Perbedaan ranah di antara keduanya sangat mencolok di mata publik.
Gu Wei adalah seorang kultivator Ranah Pemurnian Meridian Level 2 yang telah membuka jalur-jalur energi utama di tubuhnya, memungkinkan dia untuk memanipulasi energi alam menjadi serangan berelemen. Sementara Lin Tian, di bawah pengamatan mata awam, hanyalah seorang remaja yang baru menginjak Level 3 Pengumpulan Qi—ranah paling dasar di mana seorang kultivator baru belajar mengumpulkan energi di dalam Dantian mereka.
"Pertarungan... Mulai!"
"Mati kamu, bocah desa!" Teriak Gu Wei
Begitu kata "Mulai!" dari diaken penguji selesai menggema, Gu Wei tidak membuang waktu barang sedetik pun. Dia meraung dengan mata yang memerah akibat kombinasi rasa dendam, malu, dan keputusasaan yang menumpuk sejak kemarin. Kaki kanannya menghentak lantai giok putih dengan kekuatan penuh, memicu ledakan Qi elemen api yang memercikkan bunga api ke segala arah. Tubuhnya melesat maju bagaikan meteor merah yang membelah arena.
Di tengah gerakannya yang secepat kilat, Gu Wei menarik pedang panjang di pinggangnya. Bilah pedang tersebut seketika dilapisi oleh kobaran api merah pekat yang membumbung setinggi satu meter, memancarkan gelombang panas yang mendistorsi udara di sekitarnya.
Ini adalah salah satu teknik bela diri tingkat tinggi yang dia pelajari dari Sekte Api Langit: Tebasan Matahari Membara.
"Sembelih dia, Tuan Muda Gu!" teriak beberapa anggota klan luar yang menonton di bawah panggung, menyemangati dengan penuh gairah. Mereka ingin melihat keangkuhan sang pemilik Bakat Emas dihancurkan secara instan oleh realitas perbedaan ranah kultivasi.
Gelombang tebasan api berbentuk sabit raksasa melesat maju, memotong jarak lima meter di antara mereka dalam sekejap mata. Suhu di atas panggung melonjak drastis hingga pelindung batin transparan (barrier) yang mengelilingi arena mulai bergetar dan mengeluarkan suara mendesis karena menahan hawa panas yang ekstrem.
Menghadapi serangan maut yang tampaknya mampu melelehkan baja tersebut, Lin Tian tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Di dalam kesadarannya, dunia seolah-olah melambat. Berkat Fisik Suci Yang Terbalik dan transformasi tulang perunggu yang telah dia selesaikan, kecepatan persepsi dan indra visualnya telah mencapai tingkat yang tidak masuk akal untuk ukurannya.
Di matanya, gerakan melesat Gu Wei dan lintasan tebasan apinya terlihat memiliki begitu banyak celah dan titik lemah yang fatal.
‘Terlalu banyak membuang energi demi penampilan luar. Strukturnya tidak stabil dan aliran Qi-nya terlalu kasar,' batin Lin Tian menilai dengan dingin
.
Tepat ketika gelombang api raksasa itu berjarak kurang dari satu meter dari ujung hidungnya, Lin Tian akhirnya bergerak. Tangan kanannya bergerak ke belakang dengan gerakan yang sangat halus namun bertenaga, menggenggam gagang pedang besar Alat Fana Kualitas Top milik mantan Kepala Desa Gu Hong. Dengan satu sentakan melingkar yang kuat, kain hitam yang membungkus pedang besar itu seketika robek dan meledak menjadi serpihan kain kecil yang terbakar oleh hawa panas udara.
SHRIIING!
Bilah pedang besar yang tebal dan hitam berkilat terhunus ke udara. Berbeda dengan pertarungannya di Hutan Kabut Hitam, kali ini Lin Tian tidak lagi menahan seluruh aliran energinya. Dia memutar pusaran Dantiannya dengan kecepatan maksimal, menyalurkan esensi Qi emas murni yang sangat padat langsung ke dalam bilah pedang.
Seketika itu juga, getaran frekuensi tinggi berdengung dari pedang besar tersebut. Pola-pola perunggu kuno di bawah kulit lengan Lin Tian menyala redup, mentransmisikan kekuatan fisik mentah yang luar biasa berat ke dalam ayunannya. Ini adalah aktivasi tingkat pertama dari Teknik Pedang Tirani Sembilan Penjuru, sebuah teknik warisan kuno yang dia temukan di dalam Cincin Ruang Angkasa Roh Abadi.
"Tebasan Pertama: Membelah Bumi!"
Lin Tian mengayunkan pedang besarnya dalam satu garis lurus vertikal dari atas ke bawah. Gerakan itu tampak sangat sederhana, tanpa ada hiasan api atau efek elemen yang mencolok. Namun, begitu pedang itu diayunkan, sebuah tekanan atmosfer yang teramat sangat berat mendadak jatuh menimpa seluruh Panggung Nomor Tiga. Udara di sekeliling bilah pedang Lin Tian berputar hebat, menciptakan pusaran angin bertekanan tinggi yang seolah-olah memiliki bobot puluhan ribu kati.
BOOOMM!!!
Benturan hebat antara tebasan pedang besar Lin Tian dan gelombang tebasan api Gu Wei memecah kesunyian alun-alun dengan dentuman yang memekakkan telinga. Namun, skenario di mana Lin Tian terlempar atau hangus terbakar sama sekali tidak terjadi.
Di depan mata puluhan ribu penonton yang terbelalak, gelombang api raksasa milik Gu Wei yang tampak begitu mengerikan seketika terbelah menjadi dua bagian yang sama besar, persis seperti selembar kain sutra tipis yang digunting oleh pisau yang sangat tajam. Kepadatan Qi emas murni milik Lin Tian terlalu masif dan stabil, langsung menghancurkan struktur energi api Gu Wei hingga padam total dalam hitungan milidetik tanpa menyisakan ledakan berarti.
"Apa?! Bagaimana mungkin teknik terbaikku hancur?!" Gu Wei menjerit dalam hati,
matanya melebar karena rasa syok yang luar biasa. Dia merasakan gelombang penolakan energi yang sangat keras menghantam pedangnya sendiri, membuat pergelangan tangannya mati rasa seketika.
Namun, kejutan untuk Gu Wei belum berakhir di sana. Momentum tebasan dari Teknik Pedang Tirani milik Lin Tian sama sekali belum habis setelah menghancurkan gelombang api. Sisa dari energi tebasan yang berupa tekanan angin padat berwarna emas redup terus melesat maju dengan kecepatan yang tidak bisa dihindari.
DUAK!
"Ugh!"
Gu Wei mengerang keras saat sisa tekanan tebasan itu menghantam dadanya dengan telak. Zirah Qi pelindung yang menyelimuti tubuhnya retak seketika, mengeluarkan suara seperti kaca yang pecah.
Tubuh Gu Wei terlempar ke belakang sejauh lima meter, kakinya terseret dengan kasar di atas lantai giok putih hingga meninggalkan bekas gesekan hitam yang panjang sebelum akhirnya dia berhasil menghentikan momentumnya tepat di tepi pembatas arena.
Gu Wei berlutut dengan satu kaki, tangan kirinya mencengkeram dadanya yang terasa sesak dan panas, sementara di sudut bibirnya, mengalir setetes darah segar yang pekat. Hanya dalam satu gebrakan awal, seorang jenius Ranah Pemurnian Meridian telah dipukul mundur dan terluka oleh seorang remaja yang tiga tingkat di bawahnya dalam hal ranah kultivasi resmi.
Keheningan yang mematikan kembali menyelimuti Alun-Alun Pusat. Para kandidat yang sebelumnya berbisik-bisik meremehkan Lin Tian kini menelan ludah dengan susah payah, wajah mereka dipenuhi oleh rasa tidak percaya yang mendalam. Mereka semua tahu bahwa menjembatani perbedaan ranah besar adalah hal yang hampir mustahil, namun remaja di atas panggung itu baru saja melakukannya dengan cara yang paling brutal dan dominan.
Di panggung utama, para Tetua Sekte Pedang Azure juga tidak mampu menyembunyikan keterkejutan mereka. Tetua Mo Feng, yang sejak awal sangat mengkhawatirkan keselamatan Lin Tian, tanpa sadar mencengkeram janggut putihnya dengan sangat keras hingga beberapa helai tercabut rontok. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah pedang besar di tangan Lin Tian, lalu beralih ke aura emas yang menyelimuti tubuh remaja tersebut.
"Itu... itu bukan sekadar mengandalkan kekuatan fisik dari tulang perunggunya!" Seru Tetua Mo Feng dengan suara bergetar yang hanya bisa didengar oleh sesama Tetua di sekitarnya.
"Kepadatan dan kemurnian Qi emas yang dia salurkan ke dalam pedang besar itu... mutunya melampaui logika Ranah Pengumpulan Qi! Bahkan beberapa murid dalam kita yang berada di ranah Pemurnian Meridian Level Akhir tidak memiliki kontrol dan kepadatan energi semurni itu!"
"Anak ini... dia benar-benar menyembunyikan banyak rahasia," desah Tetua wanita di samping Mo Feng, matanya memancarkan binar ketertarikan yang semakin besar.
"Teknik pedang yang dia gunakan tadi tampak sangat kasar dan sederhana, namun esensi di dalamnya memiliki konsep tekanan berat yang luar biasa dalam. Itu adalah teknik bela diri tingkat tinggi yang tidak berasal dari wilayah selatan kita."
Sementara para Tetua berspekulasi, Tetua dari Sekte Api Langit yang duduk di kursi undangan tampak mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di tangannya menonjol. Wajahnya sangat merah, menahan rasa malu karena murid dari sektenya dihajar dengan begitu mudah di depan umum. Namun, di balik rasa malu itu, niat membunuh yang sangat dingin mulai tumbuh di dalam hatinya terhadap Lin Tian. Seorang jenius mengerikan seperti ini tidak boleh dibiarkan tumbuh, atau dia akan menjadi ancaman besar bagi eksistensi sekte mereka di masa depan.
Kembali ke atas Panggung Nomor Tiga, Lin Tian perlahan menurunkan pedang besarnya, membiarkan ujung bilah logam tebal itu menyentuh permukaan lantai giok dengan suara ting yang nyaring. Dia menatap datar ke arah Gu Wei yang masih berjuang untuk berdiri tegak di ujung arena. Cahaya keemasan di dalam pupil mata Lin Tian berputar perlahan, memancarkan aura intimidasi yang tak kasatmata namun sangat menekan mental lawan.
"Tuan Muda Gu," suara Lin Tian bergema dengan sangat tenang.
namun di telinga Gu Wei, suara itu terdengar seperti lonceng kematian yang ditiup dari kedalaman neraka.
"Apakah ini saja batas kemampuan dari apa yang kamu sebut sebagai 'kekuatan absolut Ranah Pemurnian Meridian'? Jika ini adalah seluruh modal yang kamu miliki untuk menantangku, maka aku harus mengatakan bahwa utang darah klanmu hari ini... akan dibayar dengan harga yang teramat sangat mahal."
Gu Wei menggertakkan giginya hingga mengeluarkan suara gemeretak, darah segar kembali merembes dari sela-sela giginya. Rasa sakit di dadanya tidak sebanding dengan rasa hina yang membakar jiwanya saat ini. Di depan puluhan ribu pasang mata, dia, seorang jenius dari klan besar dan murid sekte terpandang, justru dipermalukan oleh seseorang yang selama ini dianggap sebagai sampah desa.
"LIN TIAN! JANGAN SOMOBONG DULU!" Raung Gu Wei dengan suara serak yang dipenuhi kegilaan.
"Aku belum kalah! Kamu hanya beruntung karena memiliki senjata yang berat! Sekarang, lihat bagaimana aku membakarmu menjadi abu yang sesungguhnya!"
Gu Wei berdiri tegak dengan paksa. Dia melempar pedang panjangnya yang sudah retak ke lantai arena, lalu meraba cincin ruang angkasanya dengan cepat. Detik berikutnya, sebotol ramuan kecil berwarna merah menyala seperti darah mendidih muncul di genggamannya. Tanpa ragu sedikit pun, Gu Wei membuka sumbat botol dan meminum seluruh cairan di dalamnya dalam satu tegukan gila.
BOOM!
Begitu cairan obat itu masuk ke dalam tubuhnya, aura Qi elemen api di sekeliling Gu Wei meledak berkali-kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya. Pembuluh darah di leher dan wajahnya menonjol keluar, berwarna merah menyala seolah-olah ada lava yang mengalir di bawah kulitnya. Matanya berubah menjadi merah seutuhnya, kehilangan seluruh rasionalitasnya dan digantikan oleh naluri membunuh yang liar.
"Itu... Pil Pembakar Darah! Obat terlarang tingkat 2!" Teriak salah satu penonton di bawah panggung dengan nada ngeri.
"Obat itu bisa meningkatkan kekuatan kultivator sebanyak satu tingkat secara instan dengan cara membakar esensi darah mereka sendiri, tetapi efek sampingnya bisa merusak meridian secara permanen!"
Kultivasi Gu Wei yang semula berada di Ranah Pemurnian Meridian Level 2, kini melonjak drastis menembus batas, mencapai Level 3 Pemurnian Meridian dalam hitungan detik. Hawa panas yang dia pancarkan sekarang begitu pekat hingga ubin giok di bawah kakinya mulai retak dan menghitam karena terpanggang.
"Mati! Mati! Mati!"
Gu Wei meraung bagaikan binatang buas yang terluka. Kedua tangannya bergerak membentuk cakar, dan api merah berubah menjadi warna hitam-merah yang beracun, membentuk sepasang cakar iblis api raksasa di atas kepalanya. Dia melompat ke udara, menerjang lurus ke arah Lin Tian dengan seluruh sisa hidup yang dia pertaruhkan dalam serangan tunggal ini.
Ye Chuan yang menonton dari bawah panggung langsung berdiri dengan panik, tangannya bergerak menuju gagang pedangnya.
"Gu Wei sudah gila! Penjaga, hentikan pertarungan ini!"
Namun, di tengah kepanikan semua orang, Lin Tian justru mengambil satu langkah maju. Dia menggenggam gagang pedang besarnya dengan kedua tangan, menarik napas dalam-dalam, dan membiarkan esensi Fisik Suci Yang Terbalik miliknya beresonansi penuh dengan bumi di bawah kakinya.
"Menggunakan obat terlarang untuk meningkatkan kekuatan semu tidak akan bisa mengubah takdirmu," ucap Lin Tian dengan nada yang teramat sangat dingin.
"Hari ini, aku akan menunjukkan kepadamu apa yang dinamakan dengan kekuatan tirani yang sesungguhnya."
Gurat perunggu di lengan Lin Tian meledak dalam cahaya keemasan yang menyilaukan, bersiap untuk melepaskan tebasan kedua dari teknik pedangnya yang akan mengakhiri seluruh kesombongan Klan Gu untuk selamanya.
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉