Lady suka uang.
Lady juga cinta uang!
But, jika Lady disuruh memilih antara Ace atau uang, maka jawabannya sudah pasti Ace, karena bagi Lady, Ace adalah sumber uangnya. Simple kan jawabannya..
Menikah dengan Ace adalah salah satu hal yang tak pernah terlintas di pikiran Lady. Menikah dengan cowok galak yang memiliki tingkat kesabaran setipis tisu. mungkin juga lebih tipis dari tisu, gak tau deh.
Andaikan saja cowok itu tidak kaya raya serta berwajah jelek, maka mustahil Lady mau menerima perjodohan paksa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon capr.gurlll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
"DIAM KALIAN BERDUA!" teriak Bu Pratiwi sampai tatanan rambut bobnya sedikit bergoyang.
Bukannya diam, Lady dan Rebecca yang duduk bersebelahan di ruang BK malah semakin memperbesar suaranya sampai kembali ingin saling tonjok-tonjokan.
BRAK!
Bu Pratiwi menggebrak kuat mejanya.
"KALIAN BISA NGEHARGAIN SAYA DI SINI?!" Teriakan Bu Pratiwi begitu kencang sampai membuat Lady dan Rebecca tersentak kaget. Benar-benar sangat kencang.
Perdebatan mereka yang tidak ada habisnya itu akhirnya berhasil memancing emosi Bu Pratiwi hingga ke ubun-ubun.
"INI SEKOLAH! TEMPAT DI MANA KALIAN TIDAK BISA BERTINGKAH SEPERTI TADI HANYA KARENA MASALAH SEPELE!" bentak Bu Pratiwi dengan bahunya yang naik turun.
Bu Pratiwi memejamkan matanya. Ia dibuat tak habis fikir oleh kedua siswi di hadapannya ini yang sudah sering keluar masuk ruang BK karena berbagai macam alasan. Salah satunya adalah hal ini, yaitu bertengkar.
Bukannya introspeksi, Lady secara diam-diam malah menginjak kaki Rebecca di bawah meja.
"Assalamualaikum, Bu."
Lady, Rebecca dan juga Bu Pratiwi lantas menoleh dan menatap si ketua OSIS serta delapan murid-murid cowok yang sedang berdiri di depan pintu.
"Waalaikumsalam, Nak." Suara Bu Pratiwi yang tiba-tiba menjadi sangat lembut, membuat Lady bergidik ngeri mendengarnya.
Ketua OSIS itu kemudian masuk menghampiri Bu Pratiwi.
"Bu, Ini murid-murid yang tadi bolos di belakang sekolah. Saya juga ngeliat beberapa dari mereka merokok di sana," ujar si ketos.
"Loh? Siapa saja yang merokok?" tanya Bu Pratiwi dengan matanya yang melotot kaget.
Ketos itu kemudian menatap Ace dan Leon yang juga sedang menatapnya dengan sinis di depan ruang BK.
"Ace sama Leon, Bu," ujar si ketos memberitahu.
Sontak para anak Thunder tersebut langsung menggeleng saat melihat Leon menggulung naik lengan seragamnya, sementara Ace malah meregangkan otot-otot tangannya.
Bu Pratiwi menatap tajam kepada Leon dan Ace. Sudah ia duga, pasti mereka berdua pelakunya.
"Terima kasih, ya, Nak." Bu Pratiwi menepuk-nepuk pundak murid kesayangannya itu beberapa kali.
"Kalau begitu, saya izin keluar dulu, Bu," pamit Si ketos. Setelah diangguki oleh Bu Pratiwi, cowok itu pun melangkah keluar dari ruangan BK sambil membalas tatapan sinis yang diberikan oleh para cowok berpenampilan brandal itu.
"Pulang lewat mana lo, anjing?!" sentak Ace, namun tak dihiraukan oleh si ketos.
"Ngapain kalian semua masih berdiri di sana? Cepetan masuk!" sahut Bu Pratiwi.
Saat hendak ikut masuk bersama yang lainnya, Atan menghentikan langkahnya ketika melihat Zena dan para murid-murid lain yang sedang mengintip di depan pintu ruang BK.
"Lo ngapain di situ?" tanya Atan kepada Zena.
"Ngepet," jawab Zena.
"Kalau kalian?" tanya Gaidan kepada murid-murid cowok tersebut yang ikut mengintip di depan pintu.
Para murid-murid cowok tersebut lantas terkekeh dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Lagi ngintipin Ayang Lady."
Bu Pratiwi menginterupsi para cowok itu agar duduk di sofa sambil menunggu gilirannya.
"Loh? Kamu juga bolos, Kellan?" pekik Bu Pratiwi yang merasa kaget saat Kellan ikutan berada di kerumunan murid-murid bandel itu.
Lady melirik Ace yang ternyata cowok itu juga sedang menatapnya.
Bu Pratiwi kembali menatap tajam kepada Lady dan Rebecca. "Apa kalian berdua tidak memiliki hobi lain selain berkelahi? Apa kalian tidak memiliki hobi lain selain keluar masuk ruang BK? Apa hobi kalian semua hanya memancing emosi saya saja?!"
Lady mendengus. "Dia yang duluan nyari masalah, Bu." Mendengar itu, Lady pun lantas mendelik tak terima.
"Lo lupa siapa yang duluan nyiram gue?"
"Lo tuh yang jalan nggak liat-liat, makanya ketabrak," elak Rebecca.
Lady mengepal kuat tangannya. "Kalau gitu lo juga nggak punya mata, makanya nabrak gue!"
"HEH! ANJING LO, YA!"
"LO YANG ANJING!" umpat Lady tak mau kalah.
"KURANG AJAR LO SETAN! LO MAU MATI?! HAH?!"
"APA?! NGGAK TERIMA LO?!"
"HEH! STOP!" teriak Bu Pratiwi, namun tak dihiraukan oleh Lady dan Rebecca yang kali ini malah kembali saling menjambak.
Bu Pratiwi terlihat linglung memisahkan kedua siswinya itu yang malah adu jotos sampai mengacak-acak ruangan BK.
Lady mengangkat kursinya dan ingin melemparkannya kepada Rebecca.
*
"Halo, My ladies-ladies." Gaidan mengedip centil matanya, menatap cewek-cewek cantik yang sedang berkumpul di pinggir lapangan tersebut. Hal singkat yang membuat mereka menjerit alay.
"Resiko jadi cowok ganteng, ya, gitu. Direbutin sana-sini." Gaidan mengusap rambut sebahunya ke belakang.
"Pede banget lo, gondrong. Ganteng juga David gue daripada muka gocengan lo itu," ejek Atan. David yang berada di pundaknya langsung tersenyum songong kepada Gaidan.
Lady mengepal kuat tangannya dengan kepala yang mendongak ke atas, menatap tiang bendera di bawah terik matahari yang sangat panas itu.
"Led, panas nggak?" tanya Zena sambil mengunyah permen karet.
"Panas lah, goblok! Pakai nanya lagi lo!" omel Lady menatap sahabatnya itu yang dengan enaknya duduk di bawah pohon rindang.
Bukan hanya Lady, tapi Zena dan para anak Thunder yang lain pun ada sana juga. Mereka yang dihukum sedang menjadi pusat perhatian seluruh murid-murid SMA Star saat ini.
Bayangkan saja para murid pentolan Star High School sedang berkumpul di lapangan yang sama. Gimana satu sekolahan nggak heboh coba? Sampai tribun penuh sama murid-murid itu.
"Awas lo, sialan! Gara-gara lo, kulit putih gue bisa gosong!" sahut Lady pada Rebecca yang sedang berdiri di sampingnya.
Rebecca berdecak. "Lo kira kulit gue nggak ikutan gosong?! Hah?!"
Lady menatap Rebecca dengan tajam sambil menggulung naik lengan seragamnya. Saat ia hendak menghampiri Rebecca, tiba-tiba saja suara bariton Leon terdengar.
"Nggak usah bikin ulah mulu lo. Lo mau hukumannya ditambahin sama Bu Pratiwi?" tegur Leon yang sedang berdiri di belakang Lady.
Lady berdecak. Ditatapnya kakaknya itu yang ternyata sedang bersebelahan bersama para antek-anteknya. Ada Ace, Kellan, Gaidan, dan juga Atan di samping Leon.
Ace kemudian memperhatikan Atan di sebelahnya. Alis tebal Ace hampir menyatu saat sahabatnya itu tersenyum manis sambil merapikan rambutnya.
"Mau ngapain lo?" tanya Ace kepada Atan.
Atan menepuk bahu Ace. "Mau modus. Dukung gue, ya, biar bisa dapetin hati Ayang Lady."
Atan melangkah ke sebelah Lady. Cowok itu berdiri tepat di samping Lady, hingga bayangannya yang tinggi menutupi Lady dari panasnya sinar matahari.
"Biar Neng cantiknya Abang nggak kepanasan," ucap Atan kepada Lady.
"Thanks," balas Lady yang tersenyum manis kepada Atan. Atan ada gunanya juga.
Saat menoleh kebelakang, Lady dapat melihat manik hazel Ace yang sedang menyorotnya dengan sinis.
thank youu udah baca sampe bab ini😍
hari ini aku up 2bab, karna mood aku baik hari ini.
beberapa hari gak tenang karna something, tapi hari ini aku bisa lega karna sedikit problem aku di dunia ini udah bisa terlewati.
okeeyy jadi aku hari inii mood bgt jadi up 2bab.
tadi sempat bimbang, up gak ya?! Tapi akhirnya aku update juga haha.thankyou all🫰