Bebas dari tuduhan konspirasi penculikan yang dirancang mantan kekasihnya, Michaela Hokked (24) memilih mati demi melepaskan diri dari masa lalu yang busuk.
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.
Pelariannya menuju Los Angeles hancur bersama taksi yang ia tumpangi dalam kecelakaan maut yang meremukkan wajahnya.
Enam bulan koma dan melewati enam
Kali operasi wajah, Michaela terbangun dengan rupa baru: wajah cantik milik Cecilia Lynch, wanita bermata teduh yang kecelakaan bersamanya.
Kini, Michaela terjebak sebagai 'Cecilia' di hadapan Killian Vale-Knight (28 th) pria berkuasa yang mengaku sebagai kekasih jarak jauh Cecilia.
Tanpa kecurigaan, keluarga miliarder itu menghujaninya dengan kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Namun, kenyataan pahit menghantam: Cecilia asli tewas dalam keadaan hamil, Mencuri identitas Cecilia adalah tiket kebebasannya, atau justru awal dari labirin misteri yang mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
015
BRAK.
Pintu apartemen mewah berlantai griya tawang di pusat kota Los Angeles itu tertutup rapat.
Belum sempat Michaela menstabilkan napasnya atau mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan bernuansa monokrom yang elegan itu, tubuhnya sudah disudutkan secara paksa ke dinding di samping pintu.
Killian langsung mengurung tubuh Michaela dengan kedua lengan kekarnya.
Tanpa memberikan peringatan atau sepatah kata pun, pria itu menundukkan kepalanya, merenggut bibir Michaela dalam sebuah ciuman yang brutal dan penuh tuntutan yang menggebu-gebu.
Itu bukanlah ciuman penuh kasih sayang, melainkan sebuah agresi murni yang lahir dari rasa frustrasi dan ego yang terluka parah.
Killian melumat bibir Michaela dengan kasar, memaksakan lidahnya untuk menerobos masuk, merampas seluruh pasokan udara di dalam dada wanita itu.
Jari-jari tangan Killian mencengkeram rahang Michaela dengan sangat kuat hingga memutih, mengunci kepala wanita itu agar tidak bisa mengelak dari dominasinya yang menghancurkan.
"Ah!! Tidak... aku tidak mau!!" Michaela berhasil memalingkan wajahnya sejenak ketika ciuman itu mengendur sedetik, napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat.
"Kau istriku dan aku menginginkanmu!" balas Killian dengan cepat, suaranya terdengar serak, dipenuhi oleh kepungan hasrat yang bercampur dengan dendam yang menggelapkan mata.
Killian tidak membiarkan Michaela menjauh.
Dia kembali menyerang, memburu bibir Michaela dengan lumatan yang lebih intens.
Ketika Michaela mencoba menggigit bibir bawah Killian sebagai bentuk perlawanan, pria itu justru semakin gila.
Dia memindahkan ciumannya turun ke arah leher jenjang Michaela, memagut kulit sensitif di sana dengan gigitan-gigitan kecil yang meninggalkan bekas kemerahan yang kontras di atas kulit pastel.
"Apa... apa ini termasuk bagian dari balas dendammu?! Meniduriku secara paksa?!" teriak Michaela di sela-sela napasnya yang tercekik, tangannya memukul-mukul dada bidang Killian yang terasa sekeras batu.
"Tidak!" jawab Killian, napasnya yang panas menerpa ceruk leher Michaela saat dia memberikan kecupan bertubi-tubi yang terasa menghanguskan.
Dengan suara seraknya yang bergetar hebat, dia berbisik di dekat telinga Michaela, "Ini kebutuhanku. Aku pria normal, kau adalah istri sahku, dan kau harus melayaniku!"
Deg.
Jantung Michaela berdegup kencang. Jiwa jalanannya berontak mendengar kata-kata itu.
"Aku bukan gadis murahan yang bisa kau tiduri begitu saja saat dirimu menginginkannya!!" seru Michaela, berusaha sekuat tenaga mendorong bahu lebar pria di hadapannya.
Namun, sial bagi Michaela, tubuh yang digunakannya saat ini berkhianat.
Sentuhan-sentuhan kasar namun penuh keahlian dari Killian mulai mengirimkan gelombang sengatan asing yang membuat persendiannya lemas.
Logikanya pun berputar, mengingat fakta hukum dan agama yang tak terbantahkan bahwa pria ini memang memiliki hak penuh atas dirinya setelah ikatan suci di kapel kemarin.
"Kau mendesah, Sayang! Layani aku dengan baik seperti yang biasa kau lakukan!" desis Killian ketika mendengar satu lenguhan tipis lolos dari bibir Michaela.
Deg.
Michaela merasa terdesak ke ujung tebing.
Menggunakan kekerasan tidak akan berhasil pada pria yang sedang dirasuki amarah seperti ini.
Mengubah taktik, Michaela menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Killian yang menggelap. Matanya berkaca-kaca, memancarkan kerapuhan yang murni.
"B-bisakah kau perlakukan aku dengan baik? Aku... aku baru saja sembuh dari koma selama enam bulan, Yin. Tubuhku masih sakit... Kumohon, kasihani aku," bisik Michaela lirih, menggunakan nada memelas yang sangat jarang dia keluarkan seumur hidupnya.
Killian tertegun seketika.
Gerakannya mengunci tubuh Michaela melambat.
Kalimat wanita itu, terutama panggilan 'Yin' yang keluar dengan begitu rapuh dari bibirnya, menghantam ego terdalam Killian.
Di matanya, gadis licik dari sindikat kriminal ini sedang mencoba bernegosiasi dan menggunakan kelemahannya untuk meloloskan diri.
Killian menatap wajah Michaela yang tampak pucat, lalu mengembuskan napas berat. "Sesuai permintaanmu," ucap Killian datar.
Dia kembali menunduk, mencium bibir Michaela, namun kali ini dengan ritme yang jauh lebih lambat dan menuntut kepatuhan.
Bersamaan dengan itu, Killian menyurutkan lengannya di bawah lutut dan punggung Michaela, mengangkat tubuh wanita itu dalam satu gerakan mudah ke dalam gendongannya.
Killian melangkah lebar menuju kamar tidur utama mereka yang bernuansa gelap.
Killian meletakkan Michaela di atas ranjang dengan perlahan, mematuhi janjinya untuk tidak memperlakukannya secara kasar secara fisik.
Dengan jemari yang bergerak cekatan namun konstan, Killian membuka satu per satu pengait pakaian yang melekat di tubuh Michaela, hingga wanita itu terbaring sepenuhnya tanpa sehelai benang pun di bawah tatapannya.
Dengan mata telanjangnya, untuk pertama kalinya Killian melihat bentuk tubuh utuh dari wanita yang dinikahinya.
Namun, detik berikutnya, alis Killian bertaut dalam.
Pria itu terpaku di tepi ranjang.
Di atas kulit punggung, bahu, dan sebagian rusuk Michaela, bertebaran bekas luka lama yang tampak mengerikan.
Ada bekas cambukan linier, luka parut kecil, dan memar samar yang sudah menyatu dengan kulit.
"Tapi ini... ini bukan bekas luka karena kecelakaan taksi enam bulan lalu," gumam Killian dengan suara lirih, jemarinya bergerak tanpa sadar mengusap salah satu bekas luka panjang di punggung Michaela.
Namun, gejolak emosi dan ego yang terluka segera membuyarkan rasa herannya.
Killian menggelengkan kepalanya kasar. Dia tidak peduli.
Dia tidak mau peduli dari mana luka-luka di tubuh istrinya itu didapatkan.
Di dalam kepalanya yang sudah terpengaruh oleh laporan sindikat, dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita di hadapannya ini adalah seorang penipu ulung yang entah sudah berapa kali dijamah dan melayani pria-pria kaya di luar sana demi uang.
Killian melepaskan kemejanya sendiri hingga bertelanjang dada, menampilkan otot-otot tubuhnya yang atletis dan kokoh.
Walaupun jauh di dalam lubuk hatinya, demi Tuhan, Killian merasakan dadanya sesak dan ingin menangis.
Ada rasa tidak tega yang amat besar yang mengiris batinnya saat melihat kerapuhan istrinya, namun demi membalas rasa sakit hatinya yang dikhianati, dia mengabaikan suara hatinya.
Killian menunduk, mulai menciumi seluruh permukaan tubuh Michaela, memberikan sentuhan-sentuhan yang menuntut penyerahan diri mutlak.
Michaela hanya bisa pasrah, dia tidak berdaya menolak.
Selama Killian memperlakukannya dengan kelembutan fisik yang tidak menyakiti otot-ototnya yang baru pulih,
Michaela memutuskan untuk melayani suaminya, menerima takdirnya sebagai seorang istri.
Setelah merasa momennya tepat, Killian menghentikan aktivitasnya sejenak.
Dia menjangkau laci nakas di samping kepala Michaela yang tampak pasrah, mengambil sebuah pengaman, dan memakainya dengan gerakan cepat.
Namun, sebelum dia memulai penyatuan mereka, sebuah ide keji yang didasari oleh rasa sakit hati kembali melintas di kepala Killian.
Pria itu dengan cepat kembali merenggut laci nakas yang sama, mengeluarkan seikat uang tunai dalam nominal ratusan dolar Amerika.
Plak!
Tanpa belas kasihan, Killian melemparkan lembaran-lembaran uang ratusan dolar itu tepat ke arah wajah Michaela yang sedang terbaring di bawahnya.
Uang-uang kertas itu berhamburan, berserakan di atas wajah, dada, dan bantal di sekitar kepala Michaela.
Deg.
Jantung Michaela serasa berhenti berdetak.
Penghinaan itu begitu nyata, begitu menusuk hingga ke ulu hatinya yang terdalam.
Namun, belum sempat Michaela merespons atau mengumpulkan kesadarannya akibat uang yang berserakan di wajahnya, Killian tidak memberikan jeda sedikit pun.
Pria itu mengambil aba-aba, memposisikan dirinya, dan dengan satu hentakan kuat yang mutlak, sesuatu di bawah sana langsung menerobos masuk memecah batas keper*wanan Michaela.
Tanpa ada kata pelan, tanpa ada persiapan yang matang.
"Ahhhh!!!! Sakit!!!" Michaela menjerit histeris, air matanya langsung meleleh membasahi pipinya yang tertutup lembaran uang.
Rasa sakit fisik yang merobek bagian bawah tubuhnya begitu intens, namun demi Tuhan, rasa sakit itu sama sekali tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit di dalam dadanya akibat dilempar uang seperti gadis hina.
Michaela melakukannya dengan sukarela karena dia tahu Killian adalah suaminya yang sah, dia ingin menebus kesalahan identitas yang dipinjamnya.
Namun ternyata, Killian memperlakukannya seakan-akan dia adalah seorang jalang murahan yang bisa dibeli dengan beberapa lembar dolar di atas ranjang.
Namun, di tengah-tengah pergerakannya yang baru saja dimulai, tubuh Killian mendadak membeku total.
Pria itu menegang di atas tubuh Michaela.
Matanya membelalak sempurna saat merasakan ada hambatan nyata yang baru saja dia robek secara paksa, dan ketika dia menarik dirinya sedikit, dia melihat cairan merah pekat mengalir keluar dari sana, menodai sprei putih di bawah mereka.
Tenggorokan Killian seketika tercekat.
Napasnya tertahan di kerongkongan, dan seluruh amarah yang membakarnya menguap dalam sekejap, digantikan oleh rasa syok yang luar biasa.
"D-darah??" ucap Killian dengan suara yang bergetar hebat, menatap noda merah itu dengan pandangan tak percaya. "Kau... aku yang pertama?!"
itu Mischa kenapa muntah? mungkin kah hamil 🤨🤨🤨