NovelToon NovelToon
Melodi Air Mata Samudera

Melodi Air Mata Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.

Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.

Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?

"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Melarikan Diri Dari Kejaran Werewolf

"Larilah, Siren... Larilah sejauh yang kau bisa!" suara serigala Elias menggeram berat. Nada bicaranya terdengar seperti tawa mengejek yang mengerikan, begitu menikmati kepanikan yang kini melanda seluruh tubuh Elara.

Dengan satu hentakan kaki yang kuat, serigala Elias melesat cepat bagai kilat biru. Ia melompat tinggi melewati kepala Elara, lalu mendarat tepat di depan gadis itu untuk menghadang satu-satunya jalan keluar.

Brukkk!

Tanah di sekitar mereka bergetar hebat saat cakar raksasa Elias menghantam bumi. Sepasang mata serigala biru keemasan itu menatap tajam mangsanya yang kini terkunci rapat.

"Berhenti bermain-main denganku, dasar makhluk laut sialan!" geram Elias, memperlihatkan deretan taringnya yang tajam dan siap mencabik-cabik.

Serigala Elias melangkah kian mendekat, memangkas jarak di antara mereka dengan keangkuhan predator puncak.

Elara terus melangkah mundur hingga punggungnya membentur kasar batang pohon besar di belakangnya. Jalan pelariannya buntu. Tubuh Elara bergetar hebat menahan rasa sakit dan lelah, namun sebagai wanita tangguh, ia mati-matian meredam kepanikan yang nyaris melumpuhkan akalnya.

Ia mendongak sekilas, menatap tajam ke arah langit kota Luminara yang tampak semakin terik. Senjata terkuatnya, melodi Siren yang mematikan itu, kini benar-benar telah terkunci rapat kembali dan tidak bisa dikeluarkan lagi dari tenggorokannya yang terasa terbakar.

Di tengah situasi hidup dan mati ini, ia hanya bisa mengandalkan kekuatan fisiknya yang lemah.

Aku tidak boleh pasrah begitu saja. Aku tidak sudi mati mengenaskan di tempat sekotor ini! batin Elara menjerit penuh tekad.

Dengan gerakan taktis yang teramat alami, Elara mendadak menurunkan tubuhnya dan berjongkok secepat kilat. Jemarinya bergerak gesit mencengkeram erat segenggam tanah hutan gembur yang bercampur kerikil tajam.

Tepat saat kepala besar serigala Elias menunduk hendak menerkamnya, gadis Siren itu melemparkan tanah tersebut dengan kekuatan penuh tepat ke arah sepasang mata serigala biru itu.

Syurr!

Taktik tak terduga itu berhasil telak. Elias yang sama sekali tidak mengira akan mendapat serangan fisik serendah itu seketika melolong dan meraung kesakitan. Monster berbulu biru terang itu terhuyung mundur. Kedua kaki depannya bergerak sibuk mengucek-ngucek matanya yang mendadak perih luar biasa akibat kelilipan tanah dan pasir hutan.

Melihat adanya kesempatan emas di depan mata, Elara tidak menyia-nyiakannya. Sang Siren langsung berbalik arah dan memacu sisa tenaganya untuk berlari sekencang mungkin, menyusuri kembali kelebatan hutan belantara demi menjauh dari amukan sang Werewolf.

Elara terus berlari tanpa memedulikan rasa perih yang mencabik-cabik telapak kaki telanjang serta area intimnya. Namun, akibat buta akan arah mata angin di daratan, dewi fortuna tampaknya enggan berpihak pada sang Siren.

Sialnya, langkah kaki yang limbung itu justru menyeret tubuh rapuhnya masuk semakin jauh ke dalam teritori inti klan Blue Light Pack—yang tak lain merupakan wilayah kekuasaan absolut milik klan Edgard sendiri.

Tepat di garis perbatasan wilayah, empat pasang mata tajam milik pasukan Beta yang sedang berpatroli seketika menangkap pergerakannya. Mereka adalah Bastian, Lyall, Aris, dan Max, para serigala tingkat tinggi sekaligus sahabat karib Edgard.

"Lihat di sana! Ada penyusup!" seru Bastian, sang pemimpin pasukan, menunjuk siluet gaun Elara yang tampak compang-camping di balik semak-semak.

"Kau benar. Kita kejar dia! Jangan biarkan mahluk itu menyeberang lebih jauh!" timpal Lyall yang langsung diangguki mantap oleh Aris dan Max.

Tanpa membuang waktu, keempat pria itu melompat maju, membiarkan aura serigala berbulu abu-abu milik mereka menguar tipis saat memburu mangsa.

Elara yang menoleh sekilas ke belakang seketika dirundung kepanikan yang kian memuncak. Jumlah pemangsanya kini bertambah menjadi empat orang, belum lagi siluet serigala biru Elias milik Edgard yang tampak kembali mengejarnya dengan murka dari kejauhan.

Jangan sampai aku tertangkap... kumohon, kaki baru ini harus bertahan, jerit Elara dalam batinnya yang didera ketakutan hebat.

Dengan sisa-sisa tenaga terakhir, Elara memacu langkah kaki manusianya sekencang mungkin. Beruntung baginya, konsentrasi para penjaga gerbang utama sedang lengah karena pergantian giliran jaga. Memanfaatkan celah emas tersebut,

Elara merangsek masuk melewati pagar pembatas, berniat mencari tempat persembunyian di dalam bangunan utama.

Namun, begitu ia berhasil mendorong pintu jati besar packhouse megah milik Alpha Ethan—tempat yang ironisnya juga merupakan rumah tinggal Edgard—sepasang mata sayu Elara langsung menangkap sosok jangkung yang teramat familier di hadapannya.

"Zephyr? Kaukah itu?" tanya Elara dengan nada suara yang bergetar hebat menahan panik.

"Iya, ini aku, temanmu. Dan kau... Elara? Kenapa kau bisa ada di tempat ini?" tanya pemuda itu dengan ekspresi syok yang kentara.

Zephyrion tentu saja masih mengingat betul garis wajah gadis di hadapannya ini. Baru beberapa hari yang lalu, ia dan Elara sempat menghabiskan waktu bersama di bawah dinginnya kegelapan penjara bawah laut Abyssal Trench milik kaum Mermaid.

Dari penderitaan yang sama itulah mereka saling mengenal, berbagi cerita, dan menjadi dekat. Namun, pemuda berdarah campuran itu sama sekali tidak menyangka jika benang takdir akan mempertemukan mereka kembali di daratan dalam situasi yang sekacau ini.

"Ah, pertanyaan itu tidak penting sekarang! Lebih baik kau tolong aku, Zephyr! Bantu aku pergi dari tempat terkutuk ini, kumohon... nanti akan kujelaskan semuanya kepadamu," ratih Elara dengan tubuh yang bergetar hebat akibat trauma fisik dan mental yang datang bertubi-tubi. Air mata kecemasan mulai menggenang pekat, siap tumpah melewati pipinya yang pucat.

"Hei! Ke mana perginya penyusup wanita tadi?!"

Suara teriakan lantang Bastian dan para penjaga packhouse seketika menggelegar hebat dari arah halaman luar, membuat atmosfer di dalam aula megah itu kian mencekam. Mendengar suara yang kian mendekat itu, jantung Elara serasa ingin lepas dari rongganya. Ia benar-benar didera kepanikan yang luar biasa.

"Ayo, Zephyr! Tolonglah aku!" desak Elara, jemarinya mencengkeram erat lengan baju pria itu dengan sangat putus asa.

"Baiklah. Pakai jubahku ini dan ikut aku pergi ke Moon Island. Nanti aku akan mengirim pesan sihir pada Ayah bahwa aku terpaksa pulang duluan," ucap Zephyrion tanggap, menyadari bahaya besar yang mengintai teman senasibnya.

Secepat kilat, Zephyrion melepas jubah tebalnya lalu menyampirkannya ke atas pundak Elara. Pria itu menarik tudung kain tersebut cukup dalam hingga berhasil menyembunyikan seluruh wajah pucat, helai rambut, serta jejak luka memar di leher sang Siren dari pandangan luar.

"Naiklah ke punggungku! Aku akan membawamu berlari secepat kilat dari sini menuju pelabuhan!" perintah Zephyrion tegas.

Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk menjawab, Elara langsung melompat naik ke atas punggung kokoh Zephyrion. Kedua lengannya melingkar kuat, mencengkeram kain jubah pria itu dengan teramat erat seolah sedang menumpahkan segala rasa takut, keputusasaan, dan sisa trauma yang dideritanya sepanjang malam di atas pundak sahabatnya.

Elara menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Zephyr, mencoba mencari perlindungan waras terakhirnya.

"Sudah siap?" tanya Zephyrion, memastikan posisi tubuh Elara sudah mengunci dengan aman.

"Iya, sudah!" jawab Elara mantap, sembari memejamkan kedua matanya erat-erat, bersiap menghadapi kecepatan daratan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Bersiaplah."

Wushhh!

Zephyrion yang mewarisi darah campuran ras Leviathan penguasa laut dalam dan klan Vampir murni itu seketika melesat maju. Ia menerjang keluar melewati pintu samping packhouse dengan kecepatan kilat yang berada jauh di luar nalar makhluk biasa.

Pergerakannya melintasi halaman luar terasa begitu samar, seolah-olah menyatu dengan angin bising, hingga membuat para Beta yang sedang berjaga ketat di depan gerbang utama sama sekali tidak menyadari ada sekelebat bayangan yang baru saja melompati kepala mereka dengan anggun.

Di dalam pelukan jubah hangat itu, Elara hanya bisa merutuki takdirnya, berharap kecepatan Zephyr mampu membawanya sejauh mungkin dari cengkeraman Edgard dan dunia daratan yang kejam ini.

Edgard seketika didera rasa frustrasi yang luar biasa karena telah kehilangan jejak Elara sepenuhnya. Sementara itu, setelah menempuh perjalanan kilat, Elara dan Zephyr akhirnya tiba di area pelabuhan, tepatnya di sebuah sudut dermaga sepi yang tersembunyi.

Zephyrion masih berpikiran waras. Ia sengaja memilih rute membelah jalur hutan lebat alih-alih melewati jalan raya kota. Memaksakan diri berlari dengan kecepatan kilat di jalur manusia hanya akan memancing perhatian para manusia fana, atau lebih buruk lagi, memicu perburuan dari para Ghost Hunter (Pemburu Hantu). Oleh karena itu, jalur bawah tanah berkedok belantara adalah pilihan yang paling tepat dan aman.

Begitu Zephyr menghentikan pergerakannya, Elara perlahan turun dari punggung tegap pria itu. Namun, begitu sepasang matanya menangkap pemandangan hamparan air asin di depan mereka, alisnya langsung bertaut rapat.

"Kenapa kau malah membawaku ke tempat ini? Kau ingin menyuruhku untuk kembali masuk ke lautan?"

1
falea sezi
lanjutt donk
falea sezi
🤣🤣 anak siapa nanti anak raja vampir apa srigala 🤣🤣 jd lacur aja murahan sih
falea sezi
kenapa semua ngira elara jodohnya🤣 bkin haremm mau nyaingin Elisa kah bersuami banyak🤣🤣
falea sezi
novel fiksi sebagus ini kenapa baru nemu🤭
falea sezi
bejat lu elgar
falea sezi
wah Siapakah jodoh elara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!