NovelToon NovelToon
Buy 1 Get 1

Buy 1 Get 1

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Setelah selesai menghabiskan sarapan mereka tanpa sisa, Arka segera mengajak Sari untuk pulang.

Perjalanan kembali ke kontrakan terasa lebih tenang, diiringi sinar matahari pagi yang mulai menghangatkan persada.

Sesampainya mereka di dalam rumah, gurat kelelahan di wajah Arka sudah tidak bisa disembunyikan lagi.

"Aku istirahat dulu ya, Mbak. Mbak Sari juga harus istirahat, matamu sudah merah begitu," ucap Arka sambil berjalan gontai menuju kamarnya.

Sari hanya menganggukkan kepalanya dengan patuh.

Namun, begitu pintu kamar Arka tertutup rapat, Sari tidak langsung menuju kamar tamu.

Ia berdiri di tengah ruangan, memandangi sekeliling rumah kontrakan yang tampak berantakan sisa aktivitas masak besar mereka tadi malam.

Tepung yang tercecer, wadah-wadah kosong yang menumpuk di wastafel, hingga lantai yang kusam berdebu.

Ego kebangsawanan Sari sudah luntur. Melihat Arka yang bekerja keras demi menghidupi diri dan bahkan merawat lukanya semalam, muncul dorongan kuat di hati Sari untuk membalas kebaikan pria itu.

Sari melangkah ke sudut ruangan, mengambil sapu ijuk yang bersandar di sana.

Dengan memegang gagang sapu menggunakan sela-sela jarinya agar tidak menekan luka lepuh yang terbalut kasa, ia mulai menyapu lantai semen itu dengan perlahan namun telaten.

Setelah urusan menyapu selesai, tatapan Sari tertuju pada gunungan wadah kotor di dapur.

Ia berjalan ke sana, lalu mengambil sebuah kantong plastik bening dari atas meja.

Dengan hati-hati, Sari membungkus kedua belah tangannya yang sakit dengan plastik tersebut, mengikat bagian pergelangan kuat-kuat agar air tidak bisa menyusup masuk.

Sari belum pernah mencuci piring seumur hidupnya. Namun, ia sering memperhatikan bagaimana para pelayan di rumah mewahnya bekerja.

Mengingat memori itu, Sari mulai membasahi spons dengan sabun, lalu menggosok wadah-wadah aluminium dan mika sisa kue satu per satu dengan gerakan yang agak kaku namun penuh kesabaran.

Satu jam berlalu, dapur dan ruang tengah kini sudah tampak jauh lebih bersih.

Sari menyeka keringat di dahinya dengan lengan atas.

Pandangannya kemudian beralih pada selambu atau gorden pembatas ruang tamu yang sudah tampak kusam dan berdebu.

Teringat sesuatu, Sari berjalan ke arah koper pakaian yang ia bawa dari rumah.

Untungnya, ia sempat membawa beberapa kain dekoratif dan syal katun lebar bermotif elegan yang biasa ia gunakan.

Dengan menjinjitkan kaki di atas kursi, Sari melepas selambu lama Arka yang kotor dan menggantinya dengan kain katun bersih miliknya.

Seketika, atmosfer rumah kontrakan itu terasa lebih segar dan estetik.

Merasa masih ada yang kurang untuk kenyamanan mereka, Sari berjalan ke teras rumah yang sepi.

Ia merogoh ponselnya dari saku celana, lalu mengetik pesan singkat untuk asisten setianya.

[Nanda, belikan dua selimut tebal yang baru dan nyaman sekarang juga. Antarkan ke alamat kontrakan ini secara diam-diam. Taruh saja di depan teras, jangan sampai mengetuk pintu atau membuat suara.]

[Baik, Bu Sari. Segera saya laksanakan.]

Sari memasukkan kembali ponselnya dengan senyuman puas.

Sambil menunggu, ia kembali masuk ke dalam rumah, duduk di atas amben yang kini sudah bersih, menanti kedatangan paket kenyamanan kecil yang ia siapkan untuk membalas budi sang perajin kue.

Tak berselang lama, terdengar suara langkah kaki yang teramat pelan di luar rumah, diikuti bunyi gesekan halus benda yang diletakkan di atas lantai semen teras.

Sari yang sejak tadi menunggu di balik jendela segera mengintip.

Ia melihat siluet Nanda yang baru saja berbalik dan berjalan cepat meninggalkan halaman kontrakan setelah memastikan paketnya aman.

Nanda benar-benar menjalankan perintah rahasia ini dengan profesionalitas tinggi tanpa menimbulkan suara berisik.

Setelah memastikan keberangkatan asistennya, Sari membuka pintu depan dengan hati-hati agar engselnya tidak berderit.

Di atas lantai teras, sebuah kantong kain besar yang tampak eksklusif sudah tergeletak rapi.

Sari membawa kantong itu masuk dan membukanya di ruang tengah.

Dua lembar selimut bulu yang tebal, lembut, dan sewarna abu-abu hangat langsung menyapa pandangannya.

Selimut pilihan Nanda memang tidak pernah mengecewakan; kualitasnya premium namun tidak tampak terlalu mencolok untuk ukuran sebuah rumah kontrakan.

Sari mengambil selimut pertama. Dengan langkah super pelan, ia mendekati kamar Arka dan mendorong pintunya yang ternyata tidak dikunci rapat.

Di dalam kamar yang remang-remang itu, Arka tampak tertidur pulas dengan posisi telentang, masih mengenakan kaus dan celana panjangnya.

Wajah lelah pria itu tampak begitu damai dalam lelapnya yang singkat.

Sari melangkah mendekat ke tepi ranjang. Sambil menahan napas agar tidak membangunkan sang pemilik kamar, ia membentangkan selimut baru itu dengan lembut, menutupi tubuh tegap Arka hingga sebatas dada.

"Selamat istirahat, Arka," bisik Sari teramat lirih di dalam hatinya.

Setelah berhasil menjalankan misi pertamanya, Sari keluar dari kamar Arka dan menutup pintunya kembali dengan sangat rapat.

Ia membawa selimut kedua menuju kamar tamu tempatnya beristirahat.

Karena lemari kayu di kamarnya masih memiliki ruang kosong yang bersih, Sari melipat selimut tersebut dengan rapi dan menyimpannya di sana, bersanding dengan sisa pakaiannya.

Kini, dengan rumah yang sudah bersih berkilau, piring-piring yang tertata rapi di rak, serta selambu baru yang menjuntai estetik.

Rasa lelah yang teramat sangat ternyata membuat Sari tak sempat melangkah hingga ke atas kasur kamar tamu.

Baru saja ia duduk di kursi kayu panjang ruang tengah untuk meluruskan kaki, kelopak matanya sudah terasa seberat seonggok jangkar.

Wanita tangguh itu akhirnya tumbang, tertidur pulas dengan posisi menyandar yang agak canggung.

Tik... tok... tik... tok...

Jarum jam dinding terus merayap maju hingga akhirnya bertengger tepat di angka dua siang.

Di dalam kamarnya, Arka perlahan membuka mata.

Kesadarannya terkumpul dengan cepat berkat tidur beberapa jam yang terasa sangat berkualitas.

Namun, saat hendak mengeliat dan menegakkan tubuhnya, Arka merasakan ada sesuatu yang berbeda.

Sebuah kain tebal, bertekstur sangat lembut, dan beraroma harum mewah tengah membungkus tubuhnya dari perut hingga ke dada.

Arka mengernyitkan dahi. Ia meraih ujung kain tersebut dan memperhatikannya dengan saksama.

Ini bukan kain jarik kusam miliknya. Ini selimut bulu berkualitas premium.

"Siapa yang menyelimuti aku?" gumam Arka lirih, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.

Pikiran Arka langsung tertuju pada satu nama. Ia bangkit dari tempat tidur, melangkah dengan rasa penasaran yang membuncah, lalu membuka pintu kamar.

Begitu kakinya melangkah keluar, Arka seketika terpaku di ambang pintu.

Matanya membelalak menatap sekeliling ruang tengahnya.

Lantai semen yang tadinya penuh noda tepung dan debu kini tampak bersih mengkilap.

Pandangannya beralih ke arah dapur, dan ia mendapati wastafelnya kosong melompong—semua wadah kue kotor telah dicuci bersih dan tertata rapi di rak.

Bahkan, selambu pembatas ruangan yang tadinya kusam kini telah berganti dengan kain katun bersih bermotif elegan.

Arka menggeleng tak percaya. "Mbak Sari..."

Pandangan Arka kemudian berputar mencari keberadaan wanita itu, hingga akhirnya netranya menangkap sosok Sari yang tengah terduduk di kursi kayu panjang di sudut ruangan.

Kepala Sari terkulai ke samping dengan posisi yang tampak tidak nyaman, dan kedua tangannya yang terbalut kasa putih diletakkan di atas paha.

Arka melangkah mendekat dengan sangat pelan. Namun, begitu jarak mereka hanya tinggal dua langkah, Arka mendadak menghentikan gerakannya.

Kedua sudut bibirnya perlahan tertarik ke atas, menahan senyum dan tawa yang hampir meledak.

Dari bibir tipis seorang Sari Maheswara—sang CEO dingin yang disegani di dunia bisnis ibu kota—terdengar suara dengkur halus yang konstan.

Krrsshh... fffuuu... krrsshh... fffuuu...

Sari tertidur dengan begitu pulasnya sampai-sampai ia mendengkur kecil karena saking kelelahannya.

Wajahnya yang polos tanpa riasan tampak begitu menggemaskan saat tertidur tanpa beban seperti itu.

Arka melipat kedua tangannya di dada, menatap pemandangan langka di depannya dengan sorot mata yang kian melembut.

Rasa kagum dan hangat perlahan menyusup ke dalam hatinya, meruntuhkan sisa-sisa prasangka buruknya terhadap sang wanita kota.

1
nunik rahyuni
lagian klo baru pertama kerja itu jgn lgsung dilepas di beri bimbingan dlu..suruh melihat dlu atau sambil di kasih aba aba apa dlu urutanya dan cara kerjanya..sdh tau orang kota kaya nyata ae g pernah tau bab dapur..melepuh kh tangan org..lgsg terjadi kecelakaan kerja
nunik rahyuni
thor sepanjang cerita aq masih bingung..bagaimana mereka lgsg serumah seatap tanpa ada ikatan pernikahan.....yg satu duda satunya wanita dewasa lho thor..mereka hidup di negara mana..pasti punya norma dan adat istiadat kan✌️✌️
nunik rahyuni
klo di dunia kita g ada ya thor modelan sari kya ini...yg ada sih sarimin🤣🤣🤣
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎
nunik rahyuni
mampir ya thor...perdana ni di lapak author..✌️✌️✌️
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Gege
cepetan kek arka disambar petirnya..🤣 trus diinjek sistem trilyuner gitu...🤭😄🤣
Gege
semua yang namanya sari selalu keras kepala ego tinggi suka bermain perasaan 🤣🤭😄kenyataan...
Rian Moontero
mampiiirr👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!