Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Tidak Sabar
Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu Nezha tiba juga. Dengan gerakan cepat, Nezha segera melepas rompi anti pelurunya, menyampirkannya ke dalam loker, dan menyambar tas kecilnya. Gerakannya tergesa-gesa, bahkan hampir menyenggol tumpukan berkas di meja sebelah. Pikirannya sama sekali tidak berada di ruangan ini, pikirannya sudah melesat jauh ke kamar apartemen Carson di lantai dua belas.
Begitu ia melangkah keluar dari pintu kaca kantor, sebuah teriakan familier menghentikan langkahnya.
"Kak Nezha! Tunggu dulu!"
Nezha menoleh dan mendapati Bylla sedang berlari kecil mengejarnya dari koridor dalam, sambil sibuk merapikan tas bahunya yang hampir merosot.
"Astaga, Kakak cepat banget jalannya. Kakak sedang dikejar debt collector atau bagaimana sih?" canda Bylla sambil terengah-engah, lalu menyamakan langkah di samping Nezha. "Saya pulang bareng, boleh Kak? Mumpung searah juga."
Nezha memaksakan senyum tipis, mencoba menyembunyikan kepanikan yang bergemuruh di dadanya. "Ah, iya, boleh. Maaf, aku... agak buru-buru tadi, mau istirahat."
"Kelihatan banget, kok Kak. Muka Kakak sekarang agak pucat tahu. Kakak masih sakit atau bagaimana?" tanya Bylla penasaran sembari mereka berjalan menyusuri trotoar menuju stasiun.
"Hm, sepertinya. Angin malam kemarin agak dingin soalnya," sahut Nezha seadanya, mengangguk-angguk agar Bylla tidak curiga.
Sepanjang jalan, Bylla terus mengoceh tentang keluhan-keluhan kecil di divisinya, mulai dari sistem pemindai yang sering eror hingga anggota di timnya yang semakin cerewet. Nezha hanya menanggapi dengan gumaman pendek atau anggukan pelan. Fokusnya benar-benar teralihkan. Matanya terus melirik ke arah jam digital di pergelangan tangannya.
Hingga tidak terasa, mereka sudah tiba di apartemen. Nezha menghembuskan napas lega. Begitu mereka masuk ke dalam lobi apartemen yang remang-remang, mereka langsung berjalan menuju lift di sudut ruangan. Tanpa perlu aba-aba, Bylla segera menekan tombol panah ke atas. Kemudian menunggu pintu lift tersebut terbuka dalam diam.
Setelah beberapa menit, pintu lift logam tebal itu bergeser terbuka.
Seorang pria berjas lab putih yang agak kusut melangkah keluar dari dalam lift dengan pandangan yang masih tertuju pada layar tablet digital di tangannya.
Nezha seketika membeku. Ia langsung mengenali pria itu. Itu adalah pria yang memapah Carson di tangga lobi tadi siang.
Jantung Nezha berdegup kencang. Ia buru-buru memalingkan wajah, berpura-pura sibuk merapikan tali tasnya. Ia bersikap seolah-olah Avnan hanyalah warga asing biasa yang kebetulan lewat.
Avnan berjalan melewati mereka begitu saja, terlalu asyik dengan data di tabletnya hingga tidak memperhatikan sekitar.
Namun, tepat saat pintu lift hampir menutup kembali setelah mereka berdua masuk, Nezha melirik ke arah Bylla yang berdiri di sampingnya. Detik itu juga, Nezha menangkap sesuatu yang ganjil.
Ekspresi wajah Bylla mendadak berubah aneh. Matanya terpaku pada punggung Avnan yang semakin menjauh di lobi. Tatapannya sulit diartikan, ada sedikit keterkejutan, kerutan di dahi, dan riak emosi yang tertahan. Namun, ekspresi itu hanya bertahan selama beberapa detik sebelum Bylla dengan cepat mengerjapkan mata dan kembali memasang wajah cerianya seperti biasa.
Pintu lift tertutup rapat, dan perlahan kotak logam itu bergerak naik.
"Eh, Kak Nezha," Bylla memecah keheningan, suaranya terdengar berusaha dibuat se-kasual mungkin, namun Nezha bisa mendengar sedikit nada penasaran di sana. "Kakak kenal laki-laki yang keluar dari lift barusan? Siapa, ya? Sepertinya aku belum pernah lihat dia di apartemen ini sebelumnya."
Nezha meremas tali tasnya diam-diam. "Aku tidak tahu, Byll. Aku juga belum pernah melihatnya. Mungkin dia petugas medis atau staf laboratorium dari sektor lain yang lagi bertamu."
'Oh, jadi Bylla hanya bingung karena ada orang asing berjas lab masuk ke lingkungan apartemen ini,' batin Nezha. Masuk akal, mengingat pengawasan di Sektor Empat cukup ketat belakangan ini.
Bylla mengangguk-angguk kecil, pandangannya lurus menatap lampu indikator lantai yang terus bergerak naik. "Iya juga sih, Kak. Jas labnya tadi ada logo dari Distrik Pusat."
Ting.
Lift berhenti di lantai sebelas. Pintu terbuka.
"Kak Nezha, aku duluan ya. Kakak jangan lupa istirahat yang benar," ujar Bylla sambil melambaikan tangan, lalu melangkah keluar menuju koridor lantainya.
"Iya, Byll. Makasih," sahut Nezha pelan.
Begitu pintu lift kembali tertutup dan bergerak menuju lantai dua belas, Nezha langsung menyandarkan tubuhnya ke dinding lift. Napasnya memburu. Begitu lift terbuka di lantainya, ia setengah berlari menuju apartemennya sendiri.
Ia membuka pintu, masuk, dan tanpa membuang waktu satu detik pun, ia langsung menuju kamar tidurnya. Lemari pakaian dibuka, panel kayu rahasia digeser dengan gerakan cepat. Nezha masuk melewati celah dinding beton yang gelap dan mendorong panel di ujung seberang, langsung menembus ke dalam kamar tidur Carson.
Suasana di dalam kamar Carson sangat hening. Cahaya sore yang temaram masuk dari jendela yang tirainya tertutup sebagian.
Di atas ranjang, Carson sedang berbaring terlentang dengan selimut yang menutupi setengah dadanya. Matanya terpejam, napasnya terdengar berat dan teratur.
Nezha melangkah mendekat dengan sangat pelan, seolah takut suara langkah kakinya akan memecah keheningan. Begitu ia berdiri di tepi ranjang, air mata yang sejak siang tadi ia tahan sekuat tenaga akhirnya luruh juga.
Melihat dari dekat, kondisi Carson jauh lebih mengerikan daripada yang ia lihat dari kejauhan tadi siang. Rahang kiri pemuda itu membengkak dengan warna ungu kemerahan yang pekat. Sudut bibirnya yang robek tampak dilapisi gel obat bening, dan wajahnya yang biasa datar kini terlihat begitu sayu dan kelelahan, menyiratkan trauma fisik yang hebat yang baru saja ia lalui semalaman.
'Apa yang mereka lakukan padamu, Carson?' jerit Nezha dalam hati. Tubuhnya gemetar hebat, tangannya terangkat di atas wajah Carson, ingin sekali menyentuh luka itu, namun ia takut akan membangunkan atau menyakitinya.
Ratusan pertanyaan langsung berjubel di kepala Nezha, menuntut jawaban saat itu juga. Kenapa Carson ada di Sektor Militer? Kenapa kemarin Cardon tidak pulang? Siapa yang melakukan ini kepada Carson?
Namun, melihat bagaimana dada Carson naik turun dengan berat, memperlihatkan betapa pemuda itu benar-benar butuh istirahat tanpa gangguan. Nezha tahu, ego dan rasa penasarannya harus mengalah. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dan tidak boleh ia tanyakan sekarang. Carson butuh istirahat, bukan dijejali berbagai pertanyaan.
Nezha menghapus air matanya dengan punggung tangan, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya. Ia berbalik pelan, melangkah ke kamar mandi Carson untuk mengambil baskom kecil berisi air hangat dan selembar kain bersih.
Kembali ke tepi ranjang, Nezha duduk dengan perlahan di sisi tempat tidur yang kosong. Dengan gerakan yang teramat lembut dan penuh kehati-hatian, ia memeras kain hangat itu, lalu mulai menempelkannya pada dahi Carson yang terasa agak demam.
Sentuhan lembut kain hangat itu membuat kelopak mata Carson bergerak samar. Perlahan, sepasang mata datar itu terbuka, memancarkan sisa keletihan yang mendalam. Ketika matanya menangkap sosok Nezha yang sedang duduk di sampingnya dengan mata yang sembab, tatapan Carson melembut.
"Nezha..." suara Carson terdengar sangat parau, hampir habis.
Nezha langsung menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya Carson, menggelengkan kepala pelan dengan tatapan mata yang penuh kehangatan dan rasa bersalah.
"Jangan bicara dulu," bisik Nezha lembut, tangannya yang bebas menggenggam erat jemari Carson yang terasa kaku. "Jangan memikirkan apa-apa dulu. Aku di sini. Kamu aman sekarang. Biar kuobati dulu, ya?"
Carson menatap sepasang mata Nezha yang berkaca-kaca selama beberapa detik, lalu perlahan mengangguk pasrah. Ia membiarkan Nezha menyeka pelipis dan lehernya dengan kain hangat, merasakan kedamaian yang begitu magis merayap di tengah rasa sakit tubuhnya.
i ini panglima berbuat baik