NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:25.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Good Bye, Masa Lalu

Pintu ruang CEO menutup perlahan.

Suara itu terdengar begitu pelan, tetapi entah mengapa terasa menggema di seluruh ruangan.

Keheningan seketika menyelimuti. Tak seorang pun berbicara.

Jovian masih duduk mematung di tempatnya. Tatapannya terpaku ke arah pintu yang baru saja dilewati Jena. Seolah berharap pintu itu kembali terbuka dan perempuan itu masuk sambil tersenyum seperti biasanya.

Namun tidak.

Yang tersisa hanyalah ruangan yang mendadak terasa begitu sunyi.

Tangan Jovian mengepal pelan di atas lutut. Rahangnya mengeras. Dadanya sesak hingga ia kesulitan menarik napas.

Ia ingin mengejar. Ingin memanggil nama Jena. Ingin mengatakan bahwa semua ini bukan kemauannya. Melainkan ia dipaksa oleh kedua orang tuanya untuk bertunangan dengan Michelle.

Namun tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Semuanya sudah terlambat. "Jena ... aku minta maaf. Aku tidak bisa mencegahmu pergi. Tapi aku janji, setelah pulang dari kantor nanti ... aku akan ke apart. Aku akan menjelaskan semuanya." Jovian hanya mampu membatin pilu.

Jika Jovian sibuk dengan suara batinnya, berbeda dengan Bimo yang perlahan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Tatapannya jatuh pada surat pengunduran diri yang masih tergeletak di atas meja.Ia mengembuskan napas panjang. "Gadis itu ..." gumamnya lirih. "Masih saja sok menjaga harga dirinya. Padahal Papa tahu, dia pasti sangat ingin mengambil cek ini." Bimo tersenyum sinis. "Seratus juta. Uang ini bisa menghidupinya lebih dari sembilan tahun," lanjutnya diiringi kekehan ejekan.

Jovian memejamkan mata. Ucapan ayahnya justru semakin menusuk dadanya. "Pa, jangan menghina Jena."

"Papa tidak menghina dia. Papa hanya mengatakan fakta. Tadi dia pasti hanya pura-pura menolak. Dia berharap kamu mengejar dia, dan memaksa dia menerima cek ini. Tapi sayang, harapannya itu tidak akan terjadi. Karena sekali dia menolak ... ya sudah, cek ini hangus. Berarti kita hanya perlu membayar gajinya bulan ini dan tunjangannya saja." Bimo mengambil surat pengunduran diri Jena, "Di dalam surat ini, pasti banyak makian yang ia tulis," desisnya sambil membukanya perlahan.

Namun matanya membeliak tipis membaca setiap baris yang ditulis Jena dengan tulisan tangan yang rapi dan formal.

Dugaannya meleset jauh. Tak ada satu pun kalimat yang menyiratkan kebencian, keluhan atau pun tuntutan. Yang ada hanyalah ucapan terima kasih dan permohonan maaf jika selama bekerja ia pernah melakukan kesalahan.

Bimo tertegun, mendadak dadanya sedikit sesak. Rasa bersalah datang tanpa diminta. Namun dengan cepat, Bimo segera menepis rasa itu. "Aku tidak boleh merasa kasihan pada gadis itu! Aku harus bersyukur karena dia sadar diri dan langsung resign. Itu suatu keberuntungan. Berarti dia tidak akan mengganggu hubungan Jovian dan Michelle." Bimo mengakhiri kecamuk batinnya, ia berdeham dan mengajak Jovian pergi ke ruang rapat.

***

Jena memeluk erat kotak kardus berisi barang-barang pribadinya. Sebuah bingkai foto kecil, mug putih bertuliskan Best Team, beberapa buku agenda, tanaman sukulen mungil, dan perlengkapan kerja yang selama ini menghiasi mejanya.

Pintu lift terbuka pelan. Ia melangkah masuk seorang diri. Saat pintu lift kembali menutup, Jena mengembuskan napas panjang. Ia membiarkan matanya terpejam beberapa detik. "Sudah selesai," bisiknya. Bukan hanya pekerjaannya. Melainkan juga harapan yang selama ini ia simpan.

Lift terus meluncur turun hingga akhirnya berhenti di lantai dasar. Saat pintu terbuka, beberapa karyawan yang sedang melintas langsung menoleh.

"Eh, Mbak Jena?"

"Lho, Bu Jena? Kok bawa kotak begitu?"

"Bu, mau pindah ruangan, ya?"

Sapaan demi sapaan datang silih berganti. Selama dua tahun bekerja di perusahaan itu, Jena memang dikenal ramah dan ringan tangan sehingga hampir semua divisi mengenalnya.

Jena menghentikan langkahnya. Senyum lembut kembali menghiasi wajahnya, meski kedua matanya masih menyimpan sisa kesedihan. "Saya bukan mau pindah ruangan," jawabnya pelan.

Beberapa orang saling berpandangan.

"Lalu?"

Jena menarik napas singkat. "Hari ini ... saya mengundurkan diri."

"Apa?"

"Mbak Jena resign?"

"Serius, Bu?"

Raut wajah mereka berubah kaget.

Salah seorang staf perempuan mendekat dengan wajah penuh kebingungan. "Kenapa, Mbak Jena tiba-tiba resign? Bukannya selama ini semuanya baik-baik saja?"

Jena tersenyum tipis. "Ada masalah kesehatan yang harus saya prioritaskan. Jadi saya memutuskan berhenti bekerja." Ia sengaja tidak ingin menyeret persoalan pribadinya menjadi bahan pembicaraan di kantor.

"Ya ampun ..." gumam salah satu karyawan dengan wajah sedih. "Padahal kami semua nyaman kerja sama Mbak."

"Iya, Bu. Kami pasti kehilangan."

Beberapa orang bahkan terlihat benar-benar kecewa mendengar kabar itu.

Jena menatap mereka satu per satu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Terima kasih ... selama dua tahun ini kalian sudah menerima saya dengan sangat baik." Ia sedikit membungkukkan badan. "Saya juga ingin minta maaf kalau selama bekerja pernah melakukan kesalahan, pernah mengucapkan kata-kata yang kurang berkenan, atau tanpa sengaja menyakiti hati kalian." Suasana mendadak menjadi hening. Tak sedikit yang ikut merasa haru. "Terima kasih atas kerja sama, bantuan, dan semua kenangan yang sudah kita lalui bersama. Saya tidak akan melupakan kalian."

Beberapa karyawan langsung menghampiri Jena.

"Mbak ... semoga cepat sehat, ya."

"Sekali-sekali, main ke sini lagi ya, Bu."

Jena menganggukkan kepala sambil tersenyum hangat. "Aamiin, insya Allah." Meski bibirnya tersenyum, hatinya terasa diremas. Ia menggenggam kotak itu sedikit lebih erat, lalu melangkah menuju pintu keluar perusahaan. "Permisi semuanya."

"Iya, Mbak!"

"Hati-hati, Bu!"

Suara beberapa karyawan itu menjadi pengiring kepergian Jena.

Setelah Jena menghilang, salah satu karyawan wanita bernama Siska berbisik. "Kok Pak Jovian nggak nganterin Bu Jena ya?"

"Sibuk kali. Kan hari ini ada rapat penting sama petinggi MS Fashion," jawab yang lain.

Delis melirik ke kanan dan kiri, memastikan tak ada atasan yang berada di sekitar mereka. Setelah merasa aman, ia menurunkan suaranya. "Kalian serius percaya kalau Bu Jena resign karena masalah kesehatan?"

Siska dan yang lainnya langsung mengangguk. "Ya iyalah. Tadi beliau sendiri yang bilang begitu."

"Iya. Masa Bu Jena bohong?"

Delis menggeleng pelan. "Bu Jena bohong."

"Apa?" Semua sontak menoleh kepadanya.

"Bohong gimana maksudmu, Delis?" tanya salah seorang staf dengan wajah bingung.

Delis menarik napas pelan. "Pacarku itu kan masih kerabatnya Pak Jovian." Semua langsung memasang telinga. "Semalam ada acara makan malam besar di rumah keluarga Ardhana, dan pacarku diundang sama kedua orang tuanya."

"Terus?" Siska mendesak.

"Nah, sebelum acara makan malam itu dimulai ... Pak Bimo menyampaikan pengumuman."

"Pengumuman apa?" sahut yang lain penasaran.

"Pengumuman rencana pertunangan Pak Jovian dengan Bu Michelle Ayu Suroso."

Ruangan lobi mendadak sunyi. Semua saling pandang tak percaya.

"Serius, Lis?" Siska dan yang lain nyaris memekik.

"Iya." Delis mengangguk pelan sebelum melanjutkan, "Dan ... Bu Jena juga hadir di sana."

"Hah?" Beberapa orang sampai membelalakkan mata.

"Iya. Kata pacarku, Bu Jena menyaksikan sendiri saat Pak Bimo mengumumkan hal itu. Dan wajahnya langsung kehilangan warna." Delis menelan ludah sebelum berkata lagi,

"Makanya aku yakin ... alasan Bu Jena resign bukan karena masalah kesehatan."

Semua saling berpandangan. Lalu menggeleng kompak.

"Ya Tuhan ..." bisik seorang karyawan perempuan sambil menutup mulutnya. Air matanya perlahan mengalir. "Berarti ... Bu Jena patah hati."

"Bukan patah lagi, Santi. Hancur pastinya," gerutu Delis.

Siska menimpali. "Bu Jena benar-benar perempuan yang luar biasa. Kalau aku ada di posisinya, mungkin aku tak akan kuat pergi ke kantor. Mending diam saja di rumah."

Nurdin, staf keuangan ikut bersuara pelan, tetapi nada geramnya tak bisa disembunyikan. "Betul, Sis. Aku setuju. Bu Jena benar-benar kuat. Di tengah luka hatinya, ia tetap tersenyum. Padahal bayangin aja ... sembilan tahun Bu Jena menemani Pak Jovian. Tapi yang dinikahi malah Bu Michelle." Ia menggeleng berkali-kali. "Gila memang ... keluarga Pak Jovian sungguh nggak punya hati."

Beberapa orang langsung mengangguk setuju. Delis kemudian mengembuskan napas panjang. "Namanya juga orang kaya, Nurdin." Ia mengecilkan suaranya. "Jarang yang mau punya menantu dari keluarga sederhana. Biasanya mereka nyarinya yang sederajat."

"Iya juga, sih."

"Kalau urusan keluarga konglomerat, cinta kadang bukan yang utama," tambah Siska.

Semua kembali mengangguk pelan.

Nurdin lalu menoleh ke arah Delis sambil mengangkat sebelah alis. "Kamu juga harus hati-hati, Delis."

"Hah? Kenapa aku?"

"Jangan terlalu berharap sama pacarmu yang masih kerabat Pak Jovian itu." Nurdin terkekeh kecil, berusaha mencairkan suasana. "Nanti ujung-ujungnya ditinggal juga kayak Bu Jena."

"Eh, jangan ngomong sembarangan!" Delis langsung menyela sambil memasang wajah sebal. "Amit-amit, Nurdin!"

Beberapa karyawan yang sejak tadi murung akhirnya terkekeh pelan melihat reaksi Delis.

"Ih, mulutmu tuh, Nur. Doain yang baik-baik kek," gerutu Delis.

Nurdin mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Ya, ya ... aku kan cuma mengingatkan."

Meski sempat diwarnai tawa kecil, suasana hati mereka tetap terasa berat.

Bayangan senyum tenang Jena saat berpamitan beberapa menit lalu masih terlintas jelas di benak masing-masing.

Kini mereka sadar, senyum itu bukan tanda bahwa Jena baik-baik saja.

Melainkan cara terakhirnya menjaga harga diri sebelum meninggalkan tempat sekaligus orang yang pernah ia harapkan menjadi jodohnya.

***

Jena mengayun langkah meninggalkan gedung Ardhana Group dengan hati yang jauh lebih ringan dibanding saat pagi tadi. Setiap ayunan kaki seolah meluruhkan satu per satu kenangan masa lalunya dengan Jovian.

Langkahnya perlahan melambat tepat di sebuah taman kecil yang berada tidak jauh dari kawasan perkantoran. Ia meletakkan kotak berisi barang-barangnya di samping bangku, lalu perlahan duduk.

Untuk beberapa saat, Jena hanya menatap kosong ke arah pepohonan yang bergoyang pelan diterpa angin.

Ia kemudian mengembuskan napas panjang, seolah sedang melepaskan beban yang sejak pagi menyesakkan dadanya.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Hebat, Jena ..." gumamnya lirih kepada diri sendiri. "Kamu benar-benar hebat." Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia segera mengedipkannya berkali-kali agar air mata itu tidak jatuh. "Tadi kamu bisa bertahan. Kamu bisa berpamitan tanpa menangis. Kamu bisa menjaga harga dirimu sampai akhir." Ia mengusap pelan dadanya. "Ayah, Bunda ... lihatlah aku dari atas sana. Putri kalian ini tidak memohon, tidak mengemis, dan tidak mempermalukan diri sendiri." Kalimat itu membuat dadanya semakin sesak.

Namun kali ini, Jena tidak lagi menahannya. Dua butir air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.

Ia menangis dalam diam, tanpa isak yang berlebihan. Hanya membiarkan luka yang sejak semalam ia pendam keluar perlahan bersama tetesan air mata. Rasa kecewanya pada Jovian sudah melampaui batas normal. "Jovian ... kamu benar-benar tidak mengucapkan sepatah kata pun kepadaku. Permintaan maaf pun tidak ada. Seolah aku ini tidak pernah ada dalam hidupmu." Air matanya makin menetes dengan deras. "Om Bimo juga sama saja. Mereka begitu kejam. Semoga setelah ini, aku tak pernah dipertemukan lagi dengan keluarga Ardhana maupun keluarga Suroso." Ia menunduk sambil menutup wajahnya yang basah.

Beberapa menit kemudian, Jena menarik napas dalam-dalam. "Cukup, Jena." Ia mengusap kedua pipinya dengan telapak tangan, lalu merapikan rambut dan pakaiannya. "Semua sudah usai. Sekarang waktunya pulang." Jena mengambil ponselnya dari dalam tas dan memesan taksi.

Tak sampai lima menit, sebuah mobil hijau berhenti tepat di depan taman.

Pengemudinya menurunkan kaca jendela. "Atas nama Mbak Jena?"

Jena menganggukkan kepala. "Iya, Pak." Ia mengangkat kotak berisi barang-barangnya, membuka pintu belakang, lalu masuk ke dalam mobil. "Ke Apartemen Blue Residence, ya, Pak."

"Baik, Mbak." Mobil pun melaju perlahan, meninggalkan kawasan perkantoran yang selama dua tahun menjadi tempat Jena menghabiskan sebagian besar waktunya.

Dari balik jendela, gedung Ardhana Group tampak semakin jauh. Jena memandanginya hingga bangunan itu akhirnya menghilang dari pandangan.

Bersamaan dengan itu, ia menutup mata perlahan. "Good bye, masa lalu." Sebuah bab dalam hidupnya telah berakhir. "Mulai hari ini, aku akan belajar hidup tanpa kamu, Jovian Ardhana."

1
Nining Sariningsih
good👍,,,,tuh si Jo gak punya malu kali ya dah tidur ma si michi juga masih mau ma jena jijik gua thoorrrrrr,kalo bisa cepat2 deh ada karma buat keluarga si Jo biar pada instrospeksi kelamaan dibiarkan malah entar menjadi2 mereka 😅😅😅
Ama Apr: haha sabar, biarkan mreka senang2 duyu
total 1 replies
Yeyet Rohaeti
dasar orang kaya sombong, semoga bangkrut perusahaan ny, biar keluarga nya jatuh miskin.
Ama Apr: iya pantes Allah tk mempersatukan jena dan jovian
total 1 replies
partini
ternyata sama kaya ortu nya suka menghina orang miskin
Ama Apr: ya, namanya juga turunan kk😂
baiknya selama ini cuma kedok
total 1 replies
nunik rahyuni
siapa sih..ganggu aja?klo jo yg datang simbur pakai banyu cucian j jena...orang g tau diri..😡
Ama Apr: hahaha mantap
total 1 replies
Nining Sariningsih
jangan sampai si jovian yang datang ganggu orang aja kalau bener,kalo bener si Jo tendang aja jena jangan kasih kesempatan orang gila itu tuk masuk lagi ke hidup mu,,,,,,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Inarrr Ulfah
waduh siapa.tuh apa si Jo
Ama Apr: besok ya🤭
total 1 replies
mama
kyk kerbau aj km jo jo nurut amat jdi laki..gk ada tegas2 ny sm sekali,gk sreg blas sm karakter ny di Jovian ..laki2 kok lembek amat
Ama Apr: anak mami
total 1 replies
nunik rahyuni
lgsg di buat part kawinan j thor...bosen sma micin nag g punya harga diri mau maunya jd tempat pembuangan limbah j..habis dipke lgsg di tinggal .mana merengek rengek supaya di masuki..kan g ada harga dirinya..murahan.....di obral.
Ama Apr: biarin kk😂, itu gambaran klo manusia nggk ada yg sempurna. Michelle boleh punya sglanya, tapi dia nggak punya malu🤭
total 1 replies
Kota Tegalan
nungguin part Jihan Toto Jena nihhh , apalagi Jihan ngarep banget di jodohkan sama anak tunggal dari keluarga milyader gongnya Toto Jena yg nikah padan muka tuh Ardhana family 🤣🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: wkwwk🤭
total 3 replies
Yeyet Rohaeti
iya sama, saya juga pas si jovian ama si Michelle aku skip sebel banget.
Ama Apr: hehe jng gitu kk😂
total 1 replies
partini
jujurly Thor kalau pas part si Jo aku skip kalau Jena aku baca
Ama Apr: jangan dong😂
total 1 replies
nunik rahyuni
toto anak ceo yg menyamar ya thor🤔🤔
yg di incer sifa buat jihan...
Ama Apr: hihi, tunggu sj kk
total 1 replies
nunik rahyuni
itu jatahnya jena thor...awas lo klo di kasihkn kutu kupret itu...😡
Ama Apr: hahaha🤭
total 1 replies
nunik rahyuni
ya mereka sangat cocok...yg satu g punya pendirian satunya tukang memaksakan kehendak
.cocok kan
Ama Apr: betul, klop
total 1 replies
falea sezi
buang berlian demi jalang 🤣🤣 tinggal nunggu penyesalan mu joo😒
Ama Apr: pastii itu😂
total 1 replies
Nining Sariningsih
jijik sama keluarga si jovian,tuhan masih sayang ma jena makanya segera dijauhkan sama keluarga tonik itu,Thor jangan2 Toto itu yang punya perusahaan taksinya🤭,,,,,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Eneng Farida
thor jangan bilang toto yg punya perusahaan taksi itu dia yg menyamar trus d jodohin sm jihan ngga rela smpqi itu terjadi
Ama Apr: belum tentu jg kk🤭
total 1 replies
partini
keluarga gila harta dan tahta mau jodohin juga bagus sih biar tambah kaya raya 👍👍👍👍
Ama Apr: kayknya semua negara y kk😂
total 5 replies
falea sezi
kuat Jena lupain laki bego bekasss itu mas toto siap menanti🤣
Ama Apr: iya hihi
total 1 replies
Nining Sariningsih
betul,,,banget jena lupakan orang2 serakah itu,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!