Lima tahun lalu, Indri Izanami dibuang saat hidupnya berada di titik terendah. Dikhianati, dihina, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah ia cintai, ia menghilang tanpa jejak dari Jakarta.
Kini, ia kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diinjak-injak,tapi sebagai sosok misterius yang memesona, berkuasa, dan berbahaya. Kehadirannya mengguncang para konglomerat yang pernah menghancurkannya.
Ardika, mantan kekasih yang dulu membuangnya, kini terobsesi untuk memilikinya kembali.
Surya Rabinson, cinta pertama yang menjadi sumber luka terdalamnya, mendadak terjebak dalam hasrat dan penyesalan yang membara.
Dan ketika Hisoka Adicambra, sang kaisar bisnis yang paling ditakuti di Jakarta, menunjukkan ketertarikan padanya, permainan balas dendam berubah menjadi perang kekuasaan yang mematikan.
Namun di balik senyum dinginnya, Indri menyimpan satu tujuan:
Membuat mereka semua berlutut di hadapannya.
Karena kali ini, yang menjadi mangsa bukan lagi dirinya.
Melainkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Jakarta
Malam itu, Adicambra Tower menjulang tinggi di langit Jakarta, menembus kabut malam yang dingin. Bangunan itu, yang pernah menjadi simbol kekuasaan Hisoka, kini terasa sunyi, seolah meratapi kejatuhannya. Indri menyelinap masuk melalui pintu samping, menghindari kamera pengawas yang masih berfungsi. Ia mengenakan pakaian serba hitam, bergerak lincah seperti bayangan, bahunya yang terluka berdenyut nyeri, namun ia mengabaikannya. Setiap langkahnya terasa seperti melangkah menuju takdir.
Lift khusus membawa Indri naik ke lantai teratas, menuju ruang kerja pribadi Hisoka. Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh cahaya remang-remang dari lampu jalan di bawah. Debu tipis menyelimuti meja kerja besar Hisoka, dan kursi kulitnya yang megah tampak kosong. Indri merasakan aura dingin yang menusuk, kenangan akan Hisoka dan intrik-intriknya kembali menyeruak. Di sinilah ia harus mengakhiri semuanya.
Tepat saat jam menunjukkan tengah malam, pintu ruang kerja itu terbuka perlahan. Sesosok pria jangkung masuk, siluetnya samar di ambang pintu. Ren Adicambra. Wajahnya yang dingin dan tajam kini dihiasi seringai tipis, matanya memancarkan kegilaan yang sama dengan kakaknya, namun lebih licik. Ia tidak sendirian. Dua pengawal bertubuh besar masuk bersamanya, mata mereka menyapu ruangan dengan waspada.
"Kau datang, Indri," Ren berkata, suaranya tenang, nyaris seperti bisikan, namun penuh ancaman. "Aku tahu kau tidak akan mengecewakanku. Kau selalu menyukai permainan yang berbahaya, bukan?"
Indri tidak gentar. Ia berdiri tegak di tengah ruangan, tangannya tersembunyi di balik punggungnya, memegang pisau kecilnya. "Kau yang terlalu percaya diri, Ren. Permainanmu sudah berakhir."
Ren tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke matanya. "Oh, Indri. Kau masih saja berpikir kau bisa mengalahkanku. Kau menghancurkan Hisoka, kau menjebak Ardika, kau menyingkirkan Kalinda. Tapi mereka semua hanyalah pion. Aku adalah raja di papan catur ini."
"Raja yang bersembunyi di balik bayangan," balas Indri, suaranya tajam. "Raja yang memerintahkan kematian orang tuaku. Raja yang mengendalikan perdagangan manusia. Raja yang akan jatuh malam ini."
"Beraninya kau bicara begitu!" Ren berteriak, amarahnya tiba-tiba meledak. Ia memberi isyarat kepada kedua pengawalnya. "Cari data itu! Dan bawa dia kepadaku. Aku ingin dia merasakan penderitaan yang tak terhingga."
Kedua pengawal itu menerjang. Indri dengan sigap menghindar, memanfaatkan kegelapan dan tata letak ruangan. Dia melompat ke atas meja Hisoka, menendang tumpukan kertas yang berhamburan. Salah satu pengawal mencoba meraihnya, namun Indri menyabetkan pisaunya ke tangannya. Pria itu menjerit kesakitan.
Indri tidak membuang waktu. Dia berlari menuju sudut ruangan, tempat Hisoka pernah menyimpan miniatur kota Jakarta. Dia memanjatnya, menggunakannya sebagai pijakan untuk melompat ke arah Ren.
"Kau tidak akan pernah mendapatkanku, Ren!" teriak Indri.
Ren terkejut, namun dengan cepat ia mundur. "Dasar wanita gila!" Dia mengeluarkan pistol kecil dari balik jasnya. "Kau tidak akan bisa lari!"
Pertarungan fisik dan mental yang intens terjadi di ruang kerja Hisoka. Indri menghindari setiap tembakan yang Ren lepaskan, setiap pukulan dari pengawalnya. Dia tahu dia harus mendekat, harus menjatuhkan Ren secara langsung. Dia tidak bisa membiarkannya lolos.
"Ayahku meninggalkan bukti," Indri berteriak, suaranya tercekat. "Semua tentangmu, Ren. Bagaimana kau mengendalikan sindikat ini, bagaimana kau membunuh ibuku dengan racun. Semuanya!"
Mata Ren membelalak. "Omong kosong! Hisoka tidak punya bukti apa pun!"
"Bukan Hisoka!" Indri membalas, melompat di antara tembakan. "Ayahku! Dia whistleblower. Dia mengungkap semuanya. Dan aku punya salinannya. Di tempat yang tidak akan pernah kau duga."
Ren membeku sesaat, sebuah celah yang Indri manfaatkan. Dia menerjang ke depan, menggunakan pengawal yang terluka sebagai tameng. Pistol itu terlepas dari tangan Ren.
"Kau akan mati!" Ren meraung, matanya dipenuhi kegilaan. Dia menerjang Indri, mencengkeram lehernya. Tenaganya brutal, jauh melebihi Hisoka.
Indri merasakan napasnya tercekat, paru-parunya terbakar. Dia menendang lutut Ren, lalu meninju rahangnya sekuat tenaga. Ren terhuyung, cengkeramannya mengendur.
Mereka berdua berada di dekat jendela kaca raksasa yang menghadap langsung ke kota Jakarta. Angin malam berdesir kencang, seolah alam semesta menyaksikan pertarungan hidup dan mati ini.
"Kau tidak akan pernah bisa menghentikanku!" Ren berteriak, matanya menatap Indri dengan kebencian murni. Dia mencoba mendorong Indri menembus kaca.
Namun, Indri terlalu cepat. Dia memanfaatkan momentum dorongan Ren, memutar tubuhnya, dan dengan sisa tenaga yang ia miliki, dia mendorong Ren balik. Sebuah dorongan yang penuh amarah dan dendam. Dorongan yang menyalurkan seluruh penderitaannya selama lima tahun terakhir.
Ren terhuyung ke belakang, kehilangan keseimbangan. Wajahnya dipenuhi keterkejutan dan ketakutan saat ia menyadari betapa dekatnya ia dengan tepi jendela. Tubuhnya menabrak kaca tempered. Kaca itu retak.
"Tidak!" Ren berteriak, mencoba meraih Indri.
Namun, Ren sudah terlalu ceroboh. Ia mengira Indri lemah. Ia meremehkan tekad Indri. Dengan sebuah jeritan keras, Ren Adicambra, dalang di balik sindikat perdagangan manusia, terjatuh dari puncak Adicambra Tower, melesat ke bawah seperti batu yang dilemparkan, menghilang di kegelapan malam Jakarta.
Suara dentuman keras terdengar dari bawah, jauh di kejauhan. Keheningan tiba-tiba menyelimuti ruangan. Hanya suara alarm yang berbunyi samar-samar di kejauhan. Dua pengawal Ren yang tersisa, melihat pemimpin mereka jatuh, melarikan diri dengan panik.
Indri berdiri di tepi jendela yang retak, napasnya terengah-engah, tubuhnya gemetar. Rasa sakit di bahunya kembali menyeruak, namun kali ini, ada sesuatu yang lain. Keringanan yang luar biasa. Beban yang selama ini menimpanya, beban balas dendam, beban mencari keadilan, kini terangkat.
Ia melihat ke bawah, ke arah kota Jakarta yang kini tampak tenang dan damai, seolah tidak pernah ada kekejaman yang bersembunyi di baliknya. Kilauan lampu-lampu kota yang kerlap-kerlip tampak seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi.
"Sudah selesai," Indri berbisik, suaranya serak, namun di dalamnya terkandung sebuah kelegaan yang mendalam. Kebencian yang membakar dirinya selama ini seolah lenyap bersama Ren, meninggalkan kekosongan yang membingungkan.
Namun, saat Indri menatap ke arah langit malam yang gelap, sebuah layar hologram kecil tiba-tiba muncul di hadapannya, memproyeksikan dari jam tangan saku Ren yang entah bagaimana masih utuh dan terhubung. Di layar itu, terpampang logo sindikat yang tak asing lagi, dan di bawahnya, sebuah pesan singkat yang menusuk.
"Permainan tidak akan pernah selesai, Indri. Kita akan bertemu lagi. Segera."
Pesan holografik itu menghilang secepat kemunculannya, meninggalkan Indri sendirian di puncak Adicambra Tower yang dingin. Kota Jakarta membentang di bawahnya, bermandikan cahaya lampu yang berkilauan, tampak tenang dan tak terjamah oleh badai yang baru saja mereda. Ren Adicambra, dalang di balik semua kekejaman ini, telah jatuh. Ia jatuh dari ketinggian yang sama tempat Hisoka memilih mengakhiri hidupnya. Kebenaran yang mengerikan, bahwa ayahnya pun menjadi korban permainan yang lebih besar, kini terasa seperti luka lama yang baru saja terbuka.
Indri berdiri di sana, napasnya tersengal. Rasa sakit di bahunya terasa tumpul, tertelan oleh gelombang kelegaan yang luar biasa. Kebencian yang membakarnya selama bertahun-tahun kini terasa seperti abu dingin. Ia telah menyelesaikan misinya, misi balas dendam yang dimulai dari kehancuran hidupnya, hingga kini menemukan keadilan untuk orang tuanya. Jakarta yang ia lihat kini terasa berbeda. Bukan lagi medan perang, melainkan sebuah kota yang telah ia taklukkan, satu per satu, setiap orang yang menghancurkannya.
Silakan berkomentar untuk memberikan masukan demi meningkatnya mutu karya saya di masa yang akan datang.
Terima kasih.