Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyamaran Terburuk dalam Sejarah Istana
Setelah jamuan berubah menjadi pertunjukan racun, surat ancaman, dan bangsawan kehilangan selera makan secara massal, penyelidikan resmi diperketat.
Lucien menutup dapur istana.
Cassian menyita daftar pelayan.
Aku menyita sisa kue.
Bukan untuk dimakan. Untuk bukti.
Mira menyita piring kecil karena katanya, “Bentuknya lucu dan bisa dipakai kalau Nona butuh camilan investigasi.”
Aku tidak punya tenaga untuk berdebat. Setelah semua yang terjadi, piring kecil terasa seperti kejahatan paling tidak berbahaya malam itu.
Istana berubah menjadi sarang lebah yang ditusuk tongkat. Penjaga berjaga di setiap lorong. Para pelayan diperiksa satu per satu. Para bangsawan yang sebelumnya sibuk berbisik kini berpura-pura tidak pernah menyebarkan rumor apa pun. Tentu saja, mereka gagal. Wajah bersalah bangsawan lebih mudah dikenali daripada parfum mahal di ruangan sempit.
Seraphina dibawa ke paviliun penyembuhan setelah hampir memakan kue berisi obat tidur kuat. Ia tidak pingsan, untungnya, meskipun aku curiga sebagian bangsawan tampak kecewa karena kehilangan adegan dramatis. Lucien memerintahkan semua hidangan dari dapur utama diperiksa. Cassian mengatur pemeriksaan silang antara daftar pelayan, jadwal pengiriman bahan makanan, dan posisi penjaga saat jamuan berlangsung.
Aku?
Aku duduk di ruang pengawasan sambil menatap potongan kue yang disimpan dalam kotak kaca.
Kue kecil itu tampak begitu polos. Putih, lembut, dihiasi kelopak gula mungil. Jenis makanan yang kalau dilihat sekilas akan membuat orang berkata, “Manis sekali.” Padahal, seperti kebanyakan hal di istana, yang manis biasanya hanya menunggu waktu tepat untuk membuat seseorang jatuh.
Mira berdiri di sebelahku dengan wajah serius.
“Nona,” katanya pelan.
“Apa?”
“Apakah hamba boleh menulis aturan baru?”
“Silakan.”
Ia membuka buku catatan kecil yang sejak kemarin diberinya judul Panduan Bertahan Hidup untuk Nona yang Terlalu Sering Dijebak.
“Jangan percaya kue putih.”
Aku menatapnya.
“Mira, itu agak diskriminatif terhadap kue.”
“Hamba tidak peduli. Kue putih sudah dua kali terlibat masalah.”
“Dua kali?”
“Pertama, kue jamuan. Kedua, kue pernikahan dalam drama yang hamba tonton dulu juga membawa kutukan.”
“Itu drama.”
“Drama sering lebih jujur daripada bangsawan.”
Aku tidak bisa membantah.
Pagi berikutnya, kami mendapat informasi bahwa pelayan yang menyiapkan kue untuk Seraphina terakhir terlihat memasuki lorong lama menuju kapel barat. Lorong itu sudah jarang dipakai sejak kebakaran kecil beberapa tahun lalu. Dalam dunia normal, tempat seperti itu akan dikunci, dibersihkan, lalu dilupakan. Dalam istana ini, tempat seperti itu jelas menjadi lokasi sempurna untuk menyembunyikan bukti, racun, rahasia keluarga, atau mungkin mayat kecil yang sangat tidak sopan.
“Jadi kita ke kapel barat,” kataku.
Mira langsung mengangkat tangan. “Nona, apakah boleh hamba bertanya?”
“Boleh.”
“Kenapa setiap tempat penting dalam hidup Nona selalu gelap, tua, dan berpotensi membunuh?”
Aku terdiam.
Itu pertanyaan yang bagus. Terlalu bagus.
Cassian, yang sedang memeriksa peta istana di meja, menjawab tanpa mengangkat kepala. “Karena tempat terang biasanya terlalu ramai untuk kejahatan rahasia.”
Mira mencatat dengan serius. “Pelajaran hari ini: penjahat suka hemat lilin.”
“Bukan itu inti kalimatnya,” kataku.
“Tapi tetap berguna, Nona.”
Kapel barat sedang dijaga karena setelah insiden jamuan, seluruh area lama istana diperiksa. Kami tidak bisa datang terang-terangan. Lucien memang memberi izin penyelidikan, tetapi jika semua orang tahu kami menuju kapel, siapa pun yang menyembunyikan bukti di sana akan punya waktu untuk membersihkan jejak.
Maka Cassian mengusulkan penyamaran.
Aku sempat membayangkan sesuatu yang elegan: jubah sederhana, penutup kepala, mungkin identitas palsu sebagai biarawati atau petugas arsip gereja. Sesuatu yang masuk akal, sunyi, dan tidak menarik perhatian.
Yang terjadi: Mira muncul mengenakan kumis palsu.
Aku menatapnya selama sepuluh detik penuh.
“Mira.”
“Ya, Nona?”
“Kamu menyamar jadi apa?”
“Pria tua penjaga lilin.”
“Kamu memakai gaun pelayan.”
“Tapi ada kumis.”
Aku menatap kumis itu. Kumisnya tebal, hitam, dan menempel miring di atas bibirnya. Alih-alih membuat Mira tampak seperti pria tua, benda itu membuatnya terlihat seperti pelayan muda yang diserang ulat berbulu saat sarapan.
Cassian menatap Mira datar. “Penyamaran Anda lebih menarik perhatian daripada wajah asli Anda.”
Mira tersentak. “Yang Mulia Duke, apakah itu kritik membangun?”
“Itu kritik penyelamatan nyawa.”
Mira memegang kumisnya dengan sedih. “Padahal hamba merasa sangat meyakinkan.”
“Kamu terlihat seperti anak kecil yang mencuri wajah pamannya,” kataku.
“Nona juga kejam.”
“Aku sedang menyelamatkanmu dari sejarah.”
Akhirnya Mira melepas kumis dengan ekspresi patah hati. Ia menyimpannya di saku seolah suatu hari kumis itu akan mendapat kesempatan kedua.
Aku memakai jubah cokelat sederhana, menutupi gaun dan rambut merah Evangeline yang terlalu mudah dikenali. Mira membawa keranjang berisi lilin sebagai alasan. Cassian memakai mantel gelap tanpa lambang keluarga North. Anehnya, meski tanpa lambang, ia tetap terlihat seperti bangsawan tinggi yang sedang pura-pura menjadi rakyat biasa dan gagal total.
Aku menatapnya dari kepala sampai kaki.
“Duke North, Anda tidak bisa menyamar.”
“Saya sudah melepas lambang.”
“Anda masih terlihat seperti bisa membeli kapel.”
“Itu sulit diubah.”
“Cobalah berjalan lebih miskin.”
Cassian menatapku. “Bagaimana cara berjalan lebih miskin?”
Aku berpikir sejenak. “Kurangi aura bisa memerintahkan eksekusi.”
Mira mengangguk. “Benar, Yang Mulia Duke. Saat Anda berdiri saja, orang seperti ingin menyerahkan pajak.”
Cassian memijat pangkal hidung. “Mari pergi sebelum penyamaran ini membunuh kita lebih dulu.”
Kami berjalan melalui lorong samping istana. Bagian ini lebih sepi daripada aula utama, dengan dinding batu tua dan jendela sempit yang membiarkan cahaya pagi masuk dalam garis tipis. Mira berjalan di depan dengan keranjang lilin, berusaha keras terlihat seperti pelayan biasa. Sayangnya, ia terlalu tegang, sehingga setiap beberapa langkah ia membungkuk kepada vas bunga, patung kecil, atau tirai.
“Mira,” bisikku. “Berhenti meminta maaf pada benda mati.”
“Hamba gugup.”
“Benda mati tidak bisa melaporkan kita.”
“Di istana ini, hamba tidak yakin.”
Poin itu masuk akal.
Di dekat kapel barat, dua penjaga berdiri. Salah satunya menguap. Yang lain tampak bosan, tetapi tetap cukup sadar untuk menghalangi jalan kami.
Mira maju dengan percaya diri yang jelas salah tempat.
“Kami membawa lilin pengganti.”
Penjaga menatapnya. “Siapa yang memerintahkan?”
Mira membeku.
Aku melangkah cepat sebelum ia menjawab sesuatu seperti “kumis saya”.
“Pendeta Ilarion,” kataku dengan nada paling lelah dan profesional yang bisa kutiru. “Beliau marah karena lilin di kapel miring tujuh derajat dari standar kesucian.”
Penjaga berkedip. “Ada standar itu?”
“Di istana ini, bahkan pingsan punya standar.”
Penjaga tampak bingung. Kebingungan adalah sekutu terbaik saat berbohong kepada orang yang tidak dibayar cukup untuk bertanya lebih jauh. Ia melihat keranjang lilin, melihat jubahku, lalu melihat Cassian.
Sayangnya, melihat Cassian justru masalah baru.
“Dia siapa?”
Aku menjawab cepat, “Pengawas api.”
“Pengawas api?”
“Setelah kebakaran kecil di kapel barat, setiap penggantian lilin harus diawasi.”
Penjaga menatap Cassian lagi. “Dia tampak seperti bangsawan.”
Cassian menjawab dengan suara datar, “Api tidak memandang status.”
Penjaga terdiam.
Aku juga hampir terdiam.
Itu kalimat paling Cassian yang pernah kudengar.
Akhirnya penjaga menyingkir dan membiarkan kami lewat.
Begitu kami masuk, Mira berbisik kagum, “Nona berbohong dengan sangat meyakinkan.”
“Aku menyebutnya adaptasi sosial.”
Cassian berkata, “Anda terlalu menikmati itu.”
“Saya hampir mati tiga kali. Biarkan saya menikmati bakat kecil.”
Kapel barat berbau lembap dan lilin tua. Ruangannya tidak besar, tetapi langit-langitnya tinggi. Cahaya masuk dari jendela kaca patri yang retak, memantulkan warna biru dan merah pudar di lantai batu. Patung malaikat di tengah ruangan tampak retak di bagian sayap, seolah bahkan makhluk suci pun pernah mencoba kabur dari tempat ini dan gagal.
Mira menatap patung itu.
“Nona, malaikatnya terlihat kecewa.”
“Mungkin dia juga membaca daftar keluarga kerajaan.”
Di lantai dekat altar, ada bekas goresan halus. Cassian berlutut dan menyentuh batu itu. Jarinya bergerak mengikuti garis yang nyaris tidak terlihat.
“Ada pintu bawah.”
Mira menelan ludah. “Tentu saja. Karena kapel biasa terlalu kurang menyeramkan.”
Cassian menemukan tuas tersembunyi di bawah pinggir altar. Dengan bunyi berat, sebagian lantai batu bergeser, memperlihatkan tangga sempit yang turun ke kegelapan.
Aku menatap tangga itu.
“Apakah ini saatnya orang waras kembali?” tanyaku.
Cassian menyalakan lentera. “Orang waras tidak masuk dunia politik istana.”
Poin bagus.
Kami turun. Lorong bawah tanah itu sempit, basah, dan dingin. Air menetes dari langit-langit. Dinding batunya dipenuhi lumut dan beberapa simbol kecil gagak yang diukir nyaris tersembunyi di sela batu. Semakin jauh kami berjalan, semakin kuat bau logam, ramuan, dan sesuatu yang manis menusuk hidung.
“Mira,” bisikku, “jangan sentuh apa pun.”
“Hamba bahkan tidak ingin menyentuh udara.”
Setelah beberapa menit, kami menemukan ruangan kecil berisi peti-peti tua. Beberapa tertutup kain. Beberapa sudah terbuka. Di salah satu peti, ada botol-botol kecil berlabel nama bunga: lili, mawar putih, iris biru, violet musim dingin.
Cassian mengambil satu botol, membuka tutupnya sebentar, lalu segera menutupnya kembali.
“Ini bahan pemicu pingsan.”
“Karena tentu saja bunga saja tidak cukup untuk menjadi romantis,” gumamku. “Mereka harus dibuat menjadi senjata.”
Aku membuka peti lain. Di dalamnya ada beberapa saputangan dengan bordir huruf S, juga beberapa surat palsu bertuliskan namaku. Tulisannya mirip gaya Evangeline, tetapi tidak sempurna. Cukup mirip untuk menipu orang yang ingin percaya. Terlalu ceroboh untuk orang yang benar-benar mencari kebenaran.
“Luar biasa,” gumamku. “Mereka punya gudang khusus untuk menjebakku. Aku merasa dihargai.”
Mira hampir menangis. “Nona, jangan merasa dihargai oleh kriminal.”
“Baiklah. Aku merasa tersinggung karena kualitas pemalsuannya buruk.”
“Itu lebih sehat.”
Di sudut ruangan, aku menemukan gaun putih robek dengan noda merah muda. Kainnya lembut. Bordirnya halus. Sekilas, gaun itu mengingatkanku pada gaya Seraphina. Tapi mungkin justru itu tujuannya. Tiruan, jebakan, atau sisa rencana yang gagal.
Sebelum kami bisa memeriksa lebih jauh, terdengar suara langkah dari lorong.
Cassian langsung mematikan lentera.
Ruangan jatuh dalam gelap.
Mira menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Aku hampir melakukan hal yang sama, bukan karena takut bersuara, tetapi karena ingin mencegah diriku mengumpat.
Suara dua orang mendekat.
“Barang-barang itu harus dipindahkan malam ini,” kata suara pria.
“Setelah jamuan gagal, mereka pasti mencurigai kapel,” jawab suara wanita.
Aku menahan napas.
Mereka masuk ke ruangan. Dalam gelap, aku hanya melihat bayangan. Salah satunya pelayan istana. Satu lagi mengenakan jubah pendeta.
Cassian bergerak lebih dulu.
Cepat. Nyaris tanpa suara.
Ia menahan si pelayan dari belakang, memutar lengannya, lalu menekannya ke peti sebelum pria itu sempat berteriak. Pada saat yang sama, pendeta itu berbalik untuk kabur.
Aku melakukan satu-satunya hal yang ada di tanganku.
Melempar buku doa.
Buku itu menghantam wajah pendeta dengan suara memuaskan.
Mira terpekik, “Nona menyerang dengan kitab suci!”
“Dalam kondisi darurat, semua literatur adalah senjata!”
Pendeta itu tersandung, tetapi masih mencoba berlari. Mira, entah mendapat keberanian dari mana, melempar keranjang lilin ke kakinya. Lilin-lilin berguling ke mana-mana. Pendeta itu terpeleset, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh dengan bunyi keras.
“Aku berhasil!” Mira berseru. “Hamba menjadi berguna!”
“Kamu selalu berguna,” kataku, lalu menatap pendeta yang mengerang. “Kadang secara tidak terduga.”
Cassian menyalakan lentera lagi.
Wajah pendeta itu terlihat jelas.
Pendeta muda dari paviliun penyembuhan. Orang yang kemarin menolak menyerahkan saputangan Seraphina.
Aku berjongkok di depannya. “Halo. Standar kesucian lilin tujuh derajat, bukan?”
Wajahnya pucat.
Cassian menemukan surat di balik jubah pendeta. Isinya daftar jadwal pengiriman bahan racun dan nama-nama penerima. Beberapa memakai kode. Beberapa memakai inisial. Namun satu nama ditulis jelas.
Terlalu jelas.
Marquess Arvella.
Aku memegang surat itu erat.
Mira menatapku khawatir. “Nona...”
Pendeta itu tertawa lemah. “Kau pikir keluargamu tidak tahu? Lady Evangeline, kau lahir dari darah pengkhianat. Kau hanya sedang kembali ke tempat seharusnya.”
Cassian menekan pedangnya ke leher pendeta itu. “Hati-hati.”
Aku berdiri perlahan.
Lucu. Biasanya kalimat seperti itu seharusnya membuatku marah atau hancur. Tapi yang kurasakan justru dingin. Dingin yang jernih. Dingin yang membuat pikiranku lebih tajam daripada sebelumnya.
Kalau keluarga Arvella terlibat, aku harus tahu sampai mana.
Kalau ibuku difitnah, aku harus membersihkan namanya.
Dan kalau ayahku menjualku untuk menyelamatkan dirinya sendiri...
Aku tersenyum.
Mira mundur setengah langkah. “Nona, senyum itu agak menakutkan.”
“Bagus,” kataku.
Aku menatap pendeta itu. “Mulai sekarang, mari berhenti menganggap saya korban yang lucu.”
Aku mengambil surat dari tangan Cassian.
“Karena jika mereka ingin villainess, saya akan memberi mereka villainess yang benar-benar merepotkan.”
Pendeta itu tersenyum dengan bibir berdarah.
“Sudah terlambat.”
Dari balik dinding ruangan, tiba-tiba terdengar bunyi klik.
Cassian langsung menarikku.
Tapi tidak cukup cepat.
Lantai di bawah kaki kami terbuka.
Mira menjerit paling keras. Pelayan yang ditahan Cassian ikut berteriak. Pendeta itu tertawa, lalu suaranya terputus saat tubuhnya ikut jatuh ke lubang gelap bersama kami.
Angin dingin menghantam wajahku. Tanganku meraih sesuatu, tetapi hanya menangkap udara. Cassian memegang pergelangan tanganku sepersekian detik, lalu gaya jatuh menarik kami turun bersama.
Dan sambil jatuh ke lorong gelap, satu-satunya pikiranku adalah:
Aku benar-benar harus menambahkan aturan kelima.
Jangan percaya kapel yang punya lantai rahasia kedua.