Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Terjebak di Labirin Bawah Tanah
Bab 15: Terjebak di Labirin Bawah Tanah
Dingin yang menggigit langsung menyergap pori-pori kulit begitu Aline melangkah menuruni anak tangga semen yang menuju ke sayap barat bawah tanah Mansion Dirgantara. Langkah kakinya sengaja dibuat sedikit ragu-ragu dan mengeluarkan bunyi desit karet sandal yang canggung di atas permukaan lantai yang lembap. Di tangannya, selembar papan klip kayu berisi daftar inventaris fisik botol pelayan digenggamnya erat-erat di depan dada, seolah benda itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya di dalam kegelapan.
Di balik saku apron kremnya, jari-jari Aline menyentuh permukaan dingin kunci perunggu kuno pemberian Keira semalam.
Monster-monster kecil itu beneran tidak main-main, batin Aline, matanya menyipit tajam di balik lensa kacamata tebal yang sengaja ia buat sedikit beruap karena perbedaan suhu yang drastis.
Gudang bawah tanah ini adalah area penyimpanan koleksi minuman kuno milik keluarga Dirgantara yang didesain dengan standar arsitektur bunker militer. Suhunya dijaga konstan pada angka 12 derajat celsius untuk menjaga kualitas penyimpanan, namun bagi pelayan biasa yang hanya mengenakan kemeja katun tipis seperti Aline, ruangan ini terasa tak ubahnya seperti kotak pembeku raksasa.
Aline melangkah melewati lengkungan pintu baja tebal yang terbuka lebar. Di dalam sana, deretan rak kayu ek raksasa setinggi tiga meter berjejer rapi bagai labirin kuno, menampung ribuan botol kaca gelap yang diselimuti debu tipis estetis.
Di ujung koridor rak ketiga, berdiri sesosok pria tegap yang punggungnya tampak begitu kokoh di bawah siraman lampu gantung kuning yang temaram.
Adrian Dirgantara.
Pria itu telah menanggalkan jas wol mahalnya, menyisakan kemeja putih bersih yang melekat pas di punggung bidangnya, memperlihatkan siluet tubuh atletis yang terlatih di balik kain premium tersebut. Jemari tangannya yang panjang dan kokoh sedang memutar sebuah botol kaca berlabel tahun 1945 dengan keheningan yang tak terusik.
"T-Tuan Besar Adrian...?" cicit Aline dengan suara yang sengaja dibuat bergetar halus dan parau karena hawa dingin. Ia membungkukkan tubuhnya dalam-dalam di antara bayangan rak kayu. "M-Maaf mengganggu... Saya diutus Pak Yusuf untuk mengantarkan data fisik inventaris tahunan pelayan yang harus ditandatangani secara manual..."
Adrian tidak langsung memutar tubuhnya. Ia meletakkan kembali botol kuno itu ke tempatnya dengan gerakan yang sangat pelan, namun getaran otoritas yang memancar dari tubuhnya sanggup membuat atmosfer di sekitar mereka mendadak terasa lebih menekan daripada suhu dingin ruangan.
"Letakkan di atas meja kerja di sudut kanan," ucap Adrian, suara baritonnya yang berat terdengar bergema rendah di antara dinding-dinding beton kedap suara.
"B-Baik, Tuan Besar..."
Aline melangkah maju dengan kepala menunduk. Namun, tepat ketika jemari tangannya menyentuh permukaan meja kayu di sudut ruangan, sebuah suara dentuman mekanis yang sangat berat tiba-tiba berdentang keras dari arah pintu masuk utama.
BUMMM!!!
Suara itu disusul oleh bunyi desis hidrolik baja yang mengunci secara otomatis dengan kecepatan tinggi. Klak! Klak! Klak!
Aline tersentak kaget, papan klip di tangannya sengaja ia jatuhkan hingga kertas-kertasnya berserakan di lantai marmer, menciptakan reaksi kepanikan yang sangat natural. "A-Astagfirullah! Gusti... itu suara apa Tuan?!"
Adrian memutar tubuhnya dengan kilat mata yang mendadak berubah menjadi sangat tajam dan berbahaya. Insting mafianya langsung bangkit. Dalam satu gerakan lincah yang teramat taktis, ia menerjang ke arah pintu baja utama dan mencoba menarik tuas darurat mekanis yang berada di samping dinding.
Tuas itu keras membatu. Lampu indikator digital di atas gerendel pintu yang biasanya berwarna hijau kini telah berubah menjadi warna merah padam, berkedip-kedip konstan berbarengan dengan matinya seluruh sinyal komunikasi di area tersebut.
Sistem penguncian bunker telah diisolasi secara total dari luar.
Adrian mendengus geram, rahang tegasnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menegang. Ia meraba saku celananya, mengeluarkan ponsel satelit militer miliknya, namun layar perangkat super canggih itu hanya menampilkan logo silang merah tanpa bar sinyal tunggal pun.
"Sialan. Sistem hidrolik pintu ini telah dipotong jalurnya dari server pusat," gumam Adrian dengan suara yang teramat dingin, matanya bervibrasi penuh amarah.
Di sudut ruangan, Aline menunduk sembari pura-pura gemetar ketakutan, namun di dalam hatinya, ia sedang mengagumi pekerjaan super rapi dari Kenzo. Bocah lima tahun itu beneran meretas protokol keamanan tingkat militer milik ayahnya sendiri hanya untuk mengurung mereka berdua di dalam ruangan kedap suara ini.
"T-Tuan Besar... kita diculik penjahat ya, Tuan? P-Pintunya ndak bisa dibuka? S-Saya takut... di sini dingin sekali..." isak Aline, bahunya naik turun dengan dramatis sembari memeluk kedua lengannya sendiri.
Hawa dingin 12 derajat celsius yang terus berembus dari celah ventilasi atas mulai bekerja secara nyata. Kulit lengan Aline yang hanya terbungkus kain kemeja tipis mulai memucat, dan bibirnya bergetar tanpa perlu dibuat-buat. Tubuhnya yang mungil tampak begitu ringkih di balik apron kremnya.
Adrian memutar tubuhnya, menatap pelayan desanya yang sedang duduk meringkuk di sudut lantai dengan pandangan yang sulit diartikan. Kejengkelannya terhadap situasi ini bercampur aduk dengan pemandangan janggal di depannya. Pria itu mengembuskan napas panjang, menciptakan kepulan uap putih tipis dari mulutnya akibat suhu yang terus menurun di dalam bunker yang kini terkunci rapat tanpa sirkulasi pemanas.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Adrian melangkah mendekat dengan langkah kaki yang besar dan berat. Bayangan tegapnya kembali mengurung tubuh Aline sepenuhnya di bawah keremangan lampu kuning.
Dengan satu gerakan tangan yang tegas namun tidak kasar, Adrian melepas kancing manset lengannya, lalu meraih jas wol hitam mahalnya yang sebelumnya tergantung di sandaran kursi meja kerja. Ia mengibaskan kain tebal berkualitas tinggi yang masih menyimpan sisa kehangatan aroma tubuhnya itu, lalu menyelimutkannya secara paksa ke atas bahu kecil Aline yang sedang menggigil.
"Diam dan jangan berisik jika kau tidak ingin mati beku di sini, Nona Sanyoto," ucap Adrian rendah, suaranya terdengar begitu dekat di samping telinga Aline.
Sebelum Aline sempat merespons dengan akting udiknya, sebuah tarikan kuat dari tangan Adrian membuat tubuh Aline bergeser, memaksa punggung kecil gadis itu bersandar langsung pada dada bidang Adrian yang hangat dan kokoh di sudut dinding marmer—satu-satunya titik di dalam ruangan yang tidak terkena embusan angin dari sirkulator udara dingin. Kedekatan fisik yang teramat intim ini terjadi begitu cepat, mengunci keduanya di dalam perangkap romantis yang dirancang oleh dua iblis kecil di atas sana.