NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#31

...ooOoo...

Hembusan angin kering dari arah padang rumput Texas menerpa dinding kaca sebuah vila terpencil yang berdiri kokoh di pinggiran Austin.

Berbeda dengan hawa dingin Frankfurt atau gemerlap malam Los Angeles yang penuh kepalsuan, tempat ini menawarkan kesunyian yang mutlak.

Kesunyian yang sengaja dibangun untuk menyembunyikan sebuah rahasia besar yang telah terkubur rapi selama satu dekade.

Di dalam ruang kerja yang didominasi kayu oak gelap, atmosfer mendadak turun hingga ke titik beku.

Sebuah suara yang barusan terdengar rendah namun memiliki penekanan yang menggelegar memecah keheningan ruangan.

"Bisakah kau selidiki dengan baik? Apapun itu?" ucap suara itu, dingin dan tak tersentuh.

Itu adalah suara Issabelle von Reichenbach.

Di usianya yang kini menginjak dua puluh enam tahun, pesona mawar es itu tidak memudar sedikit pun; ia justru menjelma menjadi sosok wanita yang teramat matang, dengan sepasang mata abu-abu yang semakin dalam, setajam belati, dan memancarkan otoritas yang absolut.

Jude, asisten pria setianya yang baru saja menyerahkan map dekripsi digital, membungkuk hormat.

"Saya memahami kemarahan Anda, Nona Muda. Laporan intelijen medis terbaru mengonfirmasi bahwa Sloane—ibu kandung Anda, saat ini sedang menderita sakit yang cukup serius di salah satu fasilitas medis di Los Angeles. Kondisinya dilaporkan terus memburuk dalam beberapa minggu terakhir."

Mendengar nama Sloane disebut, rahang Issabelle mengetat.

Seorang wanita muda bernama Kara, yang berdiri tegap di dekat pintu dengan tampang patung dingin tanpa ekspresi, melangkah maju satu tapak.

Sebagai tangan kanan sekaligus kepala pengawal pribadi Issabelle, Kara selalu membaca situasi dengan presisi militer.

"Apakah kita akan menjenguknya, Nona? Apa saya perlu menyiapkan jet pribadi kita untuk terbang ke Los Angeles sekarang?" tanya Kara, suaranya sedatar dinding semen.

Issabelle tidak langsung menjawab.

Ia memutar kursi kerjanya, membelakangi kedua bawahannya dan menatap hamparan padang rumput Texas di balik jendela besar.

Jemari lentiknya yang dulu pernah melepuh akibat rantai besi kini tampak bersih, menyentuh tepi meja dengan ritme yang teratur.

Keheningan yang ia ciptakan terasa mencekam, sebuah indikasi bahwa ia sedang menimbang variabel di dalam kepalanya.

Melihat kebingungan sang Nona Muda, Kara kembali bersuara, menggeser topik ke arah sosok yang selama sepuluh tahun ini menjadi tabu untuk diucapkan di kediaman ini.

"Lalu... bagaimana dengan Tuan Navarro, Nona? Jika kita ke Los Angeles, risiko bersinggungan dengan wilayah kekuasaannya akan meningkat tajam."

DEG.

Nama itu. Nama yang selalu berhasil memicu getaran tak kasat mata di dalam pusat kesadaran Issabelle.

Sebuah kedutan tipis muncul di sudut mata abu-abu Issabelle, namun dengan cepat ia menguasai dirinya kembali.

Ia memutar kursinya, menatap Kara dengan tatapan santai seolah nama pria paling ditakuti di Pantai Barat itu tidak lebih dari sekadar debu jalanan.

"Bukankah dia sudah hancur saat ini?" sahut Issabelle, sebuah senyuman sinis yang teramat tipis terukir di bibirnya.

"Dia adalah manusia paling mengenaskan yang pernah ada di dunia ini."

Cara Issabelle membalas dendam pada dirinya sendiri—atas kebodohannya yang telah jatuh dan menyerahkan seluruh kesucian serta tubuhnya pada Navarro sepuluh tahun yang lalu—adalah dengan menanamkan kebencian yang murni.

Setiap kali laporan intelijen masuk mengabarkan bahwa Navarro menghabiskan malam-malamnya dengan meminum alkohol hingga fajar di penthouse-nya, meratapi abu kosong di Frankfurt, Issabelle selalu merayakannya dalam keheningan.

Baginya, melihat sang singa Riccardo mati perlahan dalam kubangan rasa bersalah dan kecanduan alkohol adalah hukuman yang jauh lebih kejam daripada sebutir peluru di kepala.

Soal dendam darahnya pada seluruh klan yang terlibat dalam pembantaian keluarganya, Issabelle telah menuntaskannya dengan sangat brutal.

Hanya dalam waktu tiga bulan setelah kebakaran besar di kastil Frankfurt, ia bersama lima loyalisnya memburu dan membantai habis beberapa klan kecil yang terbukti membantu logistik Taylor Swift.

Darah dibayar darah.

Hingga akhirnya, setelah misi pembalasan terakhirnya selesai di daratan Eropa, tubuh remaja enam belas tahunnya kolaps.

Issabelle pingsan di dalam markas persembunyiannya karena kelelahan fisik dan mental yang ekstrem sepuluh tahun lalu.

Dan tahukah apa yang terjadi saat tim medis memeriksanya?

Issabelle yang pernah bersumpah di samping jasad ayahnya untuk menghabisi seluruh garis keturunan darah Riccardo, justru mendapati kenyataan paling ironis dalam hidupnya: rahimnya dinyatakan sedang mengandung janin berusia 18 minggu.

Dan tentu saja anak siapa? Darah murni Riccardo adalah jawabannya.

Janin itu adalah hasil dari satu malam panas penuh gairah dan penyerahan mutlak bersama Navarro sebelum tragedi Frankfurt pecah.

Kenyataan itu sempat menghancurkan seluruh logika Issabelle.

Bagaimana mungkin ia akan membunuh garis darah Riccardo jika darah pria itu kini mengalir dan tumbuh di dalam tubuhnya sendiri?

Sejak saat itu, di bawah tekanan batin yang luar biasa, Issabelle mengambil keputusan mutlak.

Ia berpikir bahwa saling membalas dendam ini tidak akan pernah ada ujungnya; hal itu hanya akan menyeret anak di dalam kandungannya ke dalam neraka yang sama.

Ia memutuskan untuk mengakhiri semua lingkaran setan tersebut, memilih untuk mundur sepenuhnya dari radar dunia bawah tanah, dan menjalani hidup normal yang tenang tanpa harus terus dipenuhi rasa takut akan kejaran musuh.

Hingga akhirnya, setelah memalsukan kematiannya dengan sempurna, ia memilih fokus membangun bisnis keluarga di jalur legal—bukan bisnis perusahaan konglomerasi besar yang berisiko menarik perhatian media.

Issabelle sengaja mematangkan bisnis properti lokal di Texas yang skalanya tidak akan pernah bersinggungan dengan gurita bisnis The Riccardo Holding.

BRAK!

"Wah, sialan! Siapa yang menaruh pintu ini tepat di depanku... Aduwh!"

Sebuah suara cempreng bernada protes yang teramat nyaring mendadak memotong atmosfer dingin di dalam ruang kerja tersebut.

Pintu ganda ruangan itu terbuka sedikit, memperlihatkan seorang anak perempuan berusia sembilan tahun yang sedang memegangi dahinya yang sedikit memerah karena tidak sengaja menabrak daun pintu yang belum terbuka penuh.

Anak perempuan itu bernama Cassandra Von-Reichenbach. Ia memiliki rambut hitam legam yang lebat, struktur rahang yang tegas, dan sepasang mata gelap yang teramat tajam—sebuah cetakan genetika yang luar biasa identik dengan Navarro Von-riccardo.

Ya, Cassandra adalah anak kandung Issabelle.

Anak yang ia kandung saat dirinya sendiri masih berusia enam belas tahun.

Bisa dibayangkan betapa hancurnya segala rencana taktis dan masa muda yang telah Issabelle susun dengan matang; di usianya yang baru menginjak tujuh belas tahun, di saat remaja lain sedang menikmati masa sekolah, Issabelle justru harus berjuang di atas meja bersalin, melahirkan seorang bayi perempuan cantik di sebuah klinik terpencil di pinggiran Texas.

Saat itu, tidak ada kemewahan, tidak ada nama besar Dubois yang melindunginya, dan tentu saja tidak ada sosok Navarro yang menggenggam tangannya.

Perjuangan hidup dan mati remaja tujuh belas tahun itu hanya didampingi oleh kepala pelayan barunya yang teramat setia, seorang wanita paruh baya bernama Bibi Beatrice.

Tanpa didampingi siapapun lagi, Issabelle merawat lukanya sendiri, menyusui bayinya dengan sisa-sisa tenaganya, dan terus bertarung melawan trauma masa lalu.

Perjuangan masa remajanya yang teramat berat, ditambah pikiran paranoid tentang keselamatan bayinya dari endusan klan Riccardo, akhirnya membuat Issabelle memutuskan untuk menetap selamanya di Texas, membangun benteng pertahanannya sendiri di sini.

Namun, satu hal yang mencerminkan keangkuhan klan Dubois yang tersisa: Issabelle sama sekali tidak mengganti nama belakangnya atau nama anaknya.

Ia tetaplah Issabelle Reichenbach, dan putrinya adalah Cassandra Von-Reichenbach. Jika dunia bawah tanah mengira ia sudah mati, maka nama itu hanyalah nama dari sebuah hantu bagi mereka.

"Cassandra," panggil Issabelle, suaranya seketika melunak, meski ekspresi wajahnya tetap datar saat menatap putrinya yang kini cemberut di ambang pintu.

"Berapa kali Mommy katakan, jangan berlari di koridor."

Cassandra berjalan masuk dengan langkah yang menghentak, mengabaikan keberadaan Jude dan Kara yang langsung membungkuk hormat padanya.

Bocah sembilan tahun itu melompat ke atas sofa kulit, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan gaya yang teramat angkuh—sebuah gestur yang entah mengapa selalu mengingatkan Issabelle pada cara Navarro duduk saat mengintimidasi dirinya di Oakridge High school dulu.

"Bukan salahku, Mommy! Pintu itu yang bergerak menutup sendiri!" protes Cassandra, matanya yang gelap berkilat penuh kecerdikan.

"Bibi Beatrice sedang membuat pai apel di dapur, dan aku kemari hanya ingin bertanya... kapan kita akan pergi berburu ke hutan lagi? Senapanku sudah selesai dibersihkan oleh Jude."

Issabelle menatap putrinya lekat-lekat.

Di dalam diri Cassandra, mengalir kombinasi genetik yang mengerikan: darah militer dari klan Dubois dan insting predator alami dari klan Riccardo.

Di usianya yang baru sembilan tahun, Cassandra sudah mampu mengoperasikan senapan ringan dengan akurasi yang menakutkan.

Issabelle menghembuskan napas pelan, lalu menoleh kembali ke arah Jude dan Kara.

Kehadiran Cassandra di ruangan ini adalah pengingat mutlak mengapa ia harus tetap berdiri kokoh dan mengapa ia tidak boleh membiarkan masa lalu menyentuh hidupnya lagi.

"Jude, Kara, tinggalkan kami berdua," perintah Issabelle dingin. "Mengenai urusan di Los Angeles... tunda dulu keberangkatan kita. Biarkan wanita tua itu bertahan sedikit lebih lama di sana. Kita tidak akan bergerak."

"Baik, Nona," jawab Jude dan Kara serempak sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan dengan senyap, menutup pintu ganda itu dengan rapat, meninggalkan sang mawar es bersama darah daging Riccardo yang kini sedang tersenyum ceria menatapnya.

1
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
Mia Camelia
visual nya sempurna banget 🥰🥰👍
Ros 🌷🦋: huhu ma'aciww kak 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
bucin akut nih navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkwkw 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!