"Aku akan menjadi perisaimu, meski seluruh dunia menentang kita."
Menjadi satu-satunya manusia di antara kawanan serigala membuat hidup Luna selalu terancam. Tapi berada di dekapan sang Alpha tampan berhati dingin, dia menemukan perlindungan yang tak pernah ia duga. Akankah cinta mereka bertahan di tengah kutukan dan perebutan kekuasaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Festival dan Keajaiban Altar Perak
Malam yang dinanti-nantikan pun akhirnya tiba. Langit di atas wilayah Silver Moon sangat bersih tanpa ada satu pun awan yang menghalangi jalannya sinar bulan purnama. Bulan bulat sempurna itu bersinar dengan sangat terang, memancarkan cahaya keperakan yang magis, seolah-olah sedang memberikan restu langsung dari Dewi Bulan untuk perayaan malam itu.
Seluruh halaman kastil telah bertransformasi total menjadi sebuah tempat yang sangat indah dan menakjubkan. Altar batu kuno yang biasanya terkesan dingin dan angker kini tampak sangat hangat. Ratusan lampion kain sutra berwarna merah muda lembut digantung di sepanjang koridor batu dan pepohonan di sekitar halaman, memancarkan pendar cahaya yang lembut dan romantis. Di atas lantai batu, jutaan kelopak bunga mawar pink disebarkan, menciptakan karpet alam yang menebarkan aroma harum yang menenangkan ke udara.
Seluruh anggota kawanan mulai dari para tetua, prajurit, hingga pelayan dan anak-anak kecil—telah berkumpul di halaman dengan mengenakan pakaian terbaik mereka. Banyak di antara mereka yang mengenakan syal atau jubah kecil berwarna merah muda yang dibagikan oleh Luna sebelumnya. Suasana malam itu benar-benar penuh dengan tawa, canda, dan suka cita yang belum pernah dirasakan selama berabad-abad di wilayah tersebut.
Di dalam kamar menara selatan, Luna sedang berdiri di depan sebuah cermin besar. Ia mengenakan gaun malam berbahan satin lembut berwarna pink pucat yang dirancang khusus oleh para penjahit terbaik kastil atas petunjuknya sendiri. Gaun itu melekat sempurna di tubuh mungilnya, dengan sulaman benang perak berbentuk bulan sabit di bagian dada yang menandakan status resminya sebagai Luna dari kawanan Silver Moon. Rambut lavendernya yang indah dibiarkan terurai sebagian dengan gelombang alami, sementara sebagian lagi dijalin rapi dengan hiasan jepit rambut berbentuk bunga mawar kecil dari perak.
"Anda benar-benar sangat cantik, Nona Luna," puji Maya yang berdiri di belakangnya setelah selesai merapikan bagian bawah gaun Luna.
"Saya yakin Alpha tidak akan bisa mengalihkan pandangannya dari Anda sedetik pun malam ini."
Luna menatap pantulan dirinya di cermin, jantungnya berdegup kencang karena rasa gugup yang tiba-tiba menyerang. Malam ini adalah pertama kalinya ia akan tampil secara resmi di hadapan seluruh kawanan sebagai pendamping Yudha setelah pertempuran besar berakhir. Meskipun ia tahu mereka semua sudah menerimanya, rasa cemas sebagai seorang manusia di antara bangsa predator pemakan daging tetap saja tersisa sedikit di sudut hatinya.
*Tok, tok, tok.*
Suara ketukan pintu yang lembut mengalihkan perhatian mereka. Pintu terbuka, memperlihatkan sosok Yudha yang berdiri dengan gagah. Malam ini, sang Alpha mengenakan kemeja hitam formal dengan sulaman perak di bagian kerah, dipadukan dengan celana panjang hitam dan jubah kebesaran yang senada. Penampilannya memancarkan aura kepemimpinan yang mutlak, berwibawa, namun sekaligus sangat tampan.
Yudha terpaku di ambang pintu selama beberapa saat. Pandangan matanya yang tajam mengunci sosok Luna dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kilat kekaguman dan pemujaan yang mendalam terpancar jelas dari sepasang netra emasnya. Serigala di dalam dada Yudha melolong rendah, penuh rasa bangga karena memiliki belahan jiwa yang begitu indah luar dan dalam.
Maya yang mengerti situasi segera membungkuk hormat dan berjalan keluar ruangan dengan langkah pelan, menutup pintu di belakangnya untuk memberikan privasi bagi kedua pemimpin mereka.
Yudha melangkah masuk ke dalam kamar dengan perlahan, seolah-olah takut kehadirannya yang besar akan mengejutkan pengantin indahnya. Ia berdiri tepat di belakang Luna, menatap pantulan mereka berdua di cermin besar. Kontras di antara mereka sangat jelas Yudha yang besar, tegap, penuh dengan aura kegelapan dan kekuatan mutlak, bersanding dengan Luna yang mungil, lembut, memancarkan cahaya kehangatan berwarna merah muda dan lavender. Namun, kontras itulah yang membuat mereka terlihat sebagai pasangan yang paling sempurna yang pernah diciptakan oleh takdir.
"Apakah ada kata yang lebih tinggi dari kata 'cantik' di duniamu, Luna?" bisik Yudha dengan suara berat yang serak, meletakkan kedua tangan besarnya di atas bahu terbuka Luna.
"Karena kata cantik saja sama sekali tidak cukup untuk menggambarkan betapa indahnya dirimu malam ini."
Luna menoleh, mendongak untuk menatap sepasang mata emas Yudha yang kini berkilat penuh dengan cinta yang tulus. "Aku sempat merasa gugup, Yudha. Aku takut penampilanku yang menggunakan warna merah muda ini akan terlihat aneh di mata kawananmu."
Yudha membalikkan tubuh Luna agar menghadap ke arahnya sepenuhnya. Ia menangkup wajah lembut Luna dengan kedua tangannya, mengusap pipi gadis itu dengan penuh kelembutan. "Jangan pernah meragukan dirimu sendiri, Lunaku. Lihatlah ke bawah sana. Seluruh kawanan telah menunggumu. Warna merah muda ini bukan lagi warna yang asing bagi kami. Ini adalah warna kedamaian kita. Warna yang dibawa oleh gadis manusia yang telah menyelamatkan Alpha mereka dari kegelapan."
Yudha mengulurkan lengan kekarnya, dan Luna dengan natural melingkarkan jemari lentiknya di lengan sang Alpha. Mereka berdua melangkah keluar dari kamar menara selatan, berjalan menyusuri koridor batu menuju aula utama yang terhubung langsung dengan halaman kastil.
Ketika pintu aula besar terbuka dan sosok Yudha serta Luna muncul di balkon atas, seluruh halaman kastil yang tadinya bising oleh suara tawa dan obrolan mendadak menjadi hening seketika. Ratusan pasang mata bangsa serigala langsung tertuju ke arah atas.
Namun, keheningan itu bukanlah keheningan yang mencekam atau penuh ketakutan seperti di masa lalu. Satu per satu, mulai dari para prajurit berpangkat tinggi hingga warga biasa, menundukkan kepala mereka dalam-dalam dengan penuh rasa hormat, kepatuhan, dan rasa syukur yang luar biasa. Saat Luna melangkah turun di samping Yudha, melewati anak tangga batu yang ditaburi kelopak mawar pink, aura kehangatan dan kedamaian seakan menyebar ke seluruh penjuru ruangan.
Beberapa anak serigala kecil yang mengenakan jubah bulu domba merah muda hangat berlarian mendekat tanpa rasa takut. Mereka tidak lagi melihat Luna sebagai manusia yang lemah yang harus dijauhi, melainkan sebagai sosok ibu kawanan yang sangat mereka cintai. Salah satu anak perempuan kecil dengan berani mendekati Luna, mengulurkan setangkai bunga mawar merah muda yang baru dipetiknya dari taman belakang.
"Terima kasih karena telah memberikan jubah yang hangat untuk kami, Nona Luna. Ini untuk Anda," ucap anak kecil itu dengan suara cadel yang malu-malu sebelum kembali berlari bersembunyi di balik kaki ibunya.
Luna menerima bunga itu dengan mata yang berkaca-kaca karena haru yang luar biasa. Air mata bahagianya hampir saja menetes jika ia tidak segera menahannya. Yudha yang melihat hal itu langsung merapatkan dekapannya di pinggang Luna, menarik tubuh mungil itu agar lebih dekat ke sisinya. Aura protektif sang Alpha menguar kuat, memberikan perlindungan mutlak bagi belahan jiwanya dari segala pandangan luar.
"Lihatlah, Luna," bisik Yudha di dekat telinga gadis itu, suaranya dipenuhi oleh rasa bangga yang tidak terkira. "Kamu bukan lagi orang asing di dunia ini. Kamu adalah jantung dari Silver Moon. Tanpamu, tempat ini hanyalah hamparan tanah dingin yang penuh dengan darah. Namun bersamamu, tempat ini menjadi sebuah rumah yang penuh dengan kehidupan."
Luna mendongak, menatap sepasang mata gelap Yudha yang kini berkilat penuh pemujaan. "Aku sangat mencintaimu, Yudha. Terima kasih karena telah mempercayai seorang manusia biasa seperti diriku untuk berdiri di sisimu."
"Aku yang harus berterima kasih kepadamu, Lunaku. Karena telah memilih untuk tetap tinggal di sisiku meskipun aku adalah seorang monster yang menakutkan pada awalnya," jawab Yudha dengan tulus.
---
Sumpah di Bawah Bulan Purnama
Yudha kemudian menuntun Luna menuju altar batu kuno di tengah halaman yang kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi Altar Perak karena pendaran cahaya bulan purnama dan dekorasi kain sutra pink. Di atas altar tersebut, telah disiapkan sebuah cawan perak berisi air suci dari mata air suci perbatasan utara sebuah ritual kuno bangsa serigala untuk mengikat sumpah kesetiaan abadi di antara Alpha dan Luna mereka.
Seluruh kawanan berdiri membentuk lingkaran besar di sekeliling altar, menyaksikan dengan khidmat jalannya ritual suci tersebut. Yudha berdiri berhadapan dengan Luna, memegang kedua tangan kecil gadis itu di atas cawan perak.
"Di bawah saksi Dewi Bulan yang agung, dan di hadapan seluruh darah daging kawanan *Silver Moon*," ucap Yudha dengan suara baritonnya yang menggelegar ke seluruh penjuru halaman kastil, memancarkan aura kepemimpinan yang mutlak.
"Aku, Yudha, Alpha sejati dari Silver Moon, dengan ini mengumumkan sumpah mutlakku. Aku menerima Luna sebagai belahan jiwaku yang sah, pendamping hidupku, dan satu-satunya penguasa di dalam hatiku. Darahku adalah darahnya, kekuatanku adalah kekuatannya, dan jiwaku adalah jiwanya. Aku bersumpah akan melindunginya dari segala bahaya yang ada di dunia ini, menjadikannya perisai utama, dan tunduk pada kelembutan hatinya hingga ajal menjemputku."
Mendengar sumpah yang begitu sakral dan penuh dengan komitmen mutlak dari sang Alpha, air mata Luna akhirnya menetes melewati pipi mulusnya. Namun, itu adalah air mata kebahagiaan yang sangat