SMA Pertiwi dan STM Rajawali bagaikan langit dan bumi yang dipaksa berdampingan. Hanya terpisah oleh satu tembok tinggi, Pertiwi adalah istana bagi putri-putri konglomerat yang dipimpin oleh Roseanna Vallerian, sang Ratu Es yang perfeksionis. Sementara di sebelahnya, Rajawali adalah medan perang bagi Fattah Maverick, legenda jalanan yang memimpin pasukannya dengan kepalan tangan dan loyalitas tanpa batas.
Selama tiga tahun, "Perjanjian Batas" menjaga gencatan senjata di antara mereka: Jangan sentuh wilayah kami, dan kami tidak akan menyentuh kalian.
Namun, kedamaian itu hancur dalam semalam. Serangkaian teror misterius menghantam kedua sekolah. Mobil-mobil mewah siswi Pertiwi dirusak dengan lambang Rajawali, dan markas Rajawali dibakar oleh sosok berseragam Pertiwi. Fitnah menyebar lebih cepat dari api. Tawuran pecah di perbatasan, dan kedua sekolah terancam ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeraphinSky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: STEAK WAGYU DAN PELAYAN PREMAN
Kamis Sore, Pukul 17.00 WIB
Ruang VVIP Restoran "Le Grande" (Hotel Bintang 5)
Malam ini adalah jadwal makan malam bulanan antara Keluarga Vallerian (Roseanna) dan Keluarga Adhitya (Julian). Agenda resminya: Membahas pertunangan bisnis dan proyek properti. Agenda rahasianya: Operasi Maling Data.
Di dapur restoran yang super sibuk, lima cowok dengan postur tegap sedang berbaris rapi. Mereka memakai seragam pelayan: Rompi hitam, kemeja putih, dan dasi kupu-kupu.
Masalahnya, mereka terlihat seperti... bouncers klub malam yang salah kostum.
Fattah Maverick menarik kerah kemejanya yang terasa mencekik. "Sumpah, gue lebih milih dikejar polisi daripada pake baju ginian. Gatel."
Ilham Mahendra (masih botak licin) terlihat paling mencolok. Kepala plontosnya memantulkan cahaya lampu dapur. Dia mencoba menyembunyikan tato kecil di lengannya dengan menarik manset kemeja.
Harry (rambut botak toge) sedang ngaca di panci sup. "Ganteng juga gue pake dasi kupu-kupu. Udah kayak James Bond kearifan lokal."
Mohan (Raksasa) bajunya kekecilan. Kancing kemejanya seakan berteriak minta tolong setiap kali dia napas. Hap... hap...
"Inget tugas kalian," suara Lia terdengar dingin lewat earpiece yang terpasang di telinga mereka masing-masing.
Lia sedang berada di dalam mobil van hitam di parkiran basement bersama Naura dan Oliver (Tim IT).
"Fattah, lo Head Waiter. Lo yang ngelayanin meja Roseanna langsung. Ilham, lo Busboy (tukang angkat piring kotor), jangan banyak omong nanti ketahuan preman-nya. Harry sama Mohan, kalian Runner (antar makanan). Jangan sampe tumpah. Kalau tumpah, gue potong gaji kalian... yang sebenernya nggak ada."
"Siap, Bos Galak," gumam Ilham pelan. Sejak kejadian Lia banting orang di pasar, Ilham jadi respect campur ngeri. Dia nggak berani macem-macem lagi.
"Target dateng," lapor Oliver dari mobil. "Ferrari Merah masuk lobi."
Ruang Makan VVIP
Pintu kayu jati berukir terbuka. Masuklah Julian Adhitya dengan setelan jas armani abu-abu yang pas badan. Di belakangnya, kedua orang tuanya berjalan angkuh.
Roseanna sudah duduk di meja bundar besar bersama Papa dan Mamanya. Dia memakai cocktail dress merah marun. Wajahnya dipoles make-up sempurna untuk menutupi kantung mata akibat kurang tidur dan stres.
"Selamat malam, Om, Tante," sapa Julian sopan santun (palsu), mencium tangan orang tua Roseanna. Lalu dia beralih ke Roseanna.
Julian menunduk, hendak mencium pipi Roseanna.
Roseanna menahan napas. Bau parfum Julian... sama persis dengan bau kertas ancaman di bengkel kemarin. Bau Sandalwood mahal.
"Malam, Julian," Roseanna memiringkan kepala sedikit, membuat ciuman Julian mendarat di udara dekat kuping.
Julian tersenyum miring, menyadari penolakan halus itu. Dia duduk di kursi tepat di sebelah Roseanna.
"Kamu cantik malam ini, Rose," bisik Julian. "Tapi kelihatan tegang. Kenapa? Masih mikirin 'sampah' di sebelah sekolah?"
Roseanna tersenyum kaku. "Biasa. Urusan OSIS. Kamu tau sendiri kan anak-anak itu susah diatur."
"Tenang aja," Julian meletakkan HP-nya di atas meja (Target terkunci!). "Sebentar lagi mereka bakal ilang. Papah aku udah urus surat penggusurannya. Minggu depan rata tanah."
Tangan Roseanna mengepal di bawah taplak meja. Ingin rasanya dia menancapkan garpu ke tangan Julian.
"Permisi, Tuan dan Nyonya."
Suara bariton yang berat menginterupsi.
Fattah berdiri di samping meja, memegang buku menu dengan satu tangan di punggung (gaya pelayan profesional yang dia pelajari dari YouTube 10 menit lalu). Rambut cepaknya disisir rapi.
"Ini daftar menunya. Spesial hari ini: Wagyu A5 dengan saus Truffle," kata Fattah datar, matanya sempat melirik Roseanna sekilas. Tatapan yang berarti: 'Gue di sini. Tenang aja.'
Roseanna menghembuskan napas lega yang tak kentara. Kehadiran Fattah, meski dengan baju pelayan kekecilan, membuatnya merasa aman.
Julian menatap Fattah. Dia mengernyit.
"Lo..." Julian menyipitkan mata. "Muka lo familiar."
Jantung Roseanna berhenti berdetak.
Fattah tetap tenang. Wajahnya sedatar tembok beton.
"Pasaran, Tuan. Muka saya emang rata-rata orang susah. Mungkin Tuan pernah liat saya di lampu merah atau di berita kriminal," jawab Fattah sarkas tapi sopan.
Julian tertawa meremehkan. "Hahaha. Lucu juga lo. Oke, gue pesen yang paling mahal. Dan buat tunangan gue, kasih Salmon."
"Siap."
Fattah mencatat, lalu mundur.
"Rose," panggil Lia lewat earpiece. "Rencana B. Kita butuh sidik jari Julian buat buka HP-nya. Fattah, pas nuang minum, pastiin Julian megang gelasnya. Ilham, lo ambil gelas itu pake serbet, jangan disentuh tangan lo."
"Copy," bisik Fattah.
Misi: Mengambil Gelas
Makanan mulai keluar. Harry dan Mohan membawa nampan besar dengan gemetar.
"Aduh... berat banget..." bisik Mohan.
"Tahan napas, Han. Jangan sampe jatoh. Itu daging harganya seharga motor gue," bisik Harry.
Harry meletakkan piring Wagyu di depan Julian. "Silakan, Bos... eh Tuan."
Julian menatap Harry curiga. "Lo ngomong apa barusan?"
"Bosteak! Maksud saya Bistik Tuan! Hehe," Harry nyengir kuda, kumis tipisnya bergerak-gerak.
Julian menggeleng heran. "Pelayan di sini aneh-aneh."
Fattah datang membawa botol wine. Dia menuangkan cairan merah itu ke gelas Julian dengan hati-hati.
"Silakan," kata Fattah.
Julian mengangkat gelas itu, memegangnya dengan mantap (sidik jari nempel sempurna!), lalu menyesapnya.
"Lumayan," Julian meletakkan kembali gelas itu.
Sekarang giliran Ilham.
Ilham (si Botak) datang membawa nampan kotor. Dia harus mengambil gelas itu tanpa ketahuan kalau dia mau ngambil sidik jarinya.
"Permisi, Tuan. Gelasnya kotor, saya ganti yang baru," kata Ilham kaku.
"Belom abis, bego!" bentak Julian. "Lo buta ya? Isinya masih setengah!"
Ilham mengepalkan tangan. Sabar Ham... sabar... kalau gue tonjok sekarang, misi gagal.
"Maaf Tuan. Standar prosedur. Kalau sudah 10 menit, suhu wine berubah, harus diganti biar rasanya tetap premium," Ilham ngarang bebas (diajarin Oliver).
Julian mengangkat alis. "Oh ya? Baru tau gue."
"Iya. Di Eropa begitu," tambah Roseanna cepat, membantu alibi Ilham. "Biarin dia ganti, Julian."
Julian akhirnya melepaskan gelas itu. Ilham mengambilnya dengan hati-hati menggunakan jepit khusus (biar nggak ngerusak sidik jari), menaruhnya di nampan, dan langsung kabur ke dapur.
Di dapur, Naura (yang nyusup lewat pintu belakang) sudah menunggu dengan alat scanner sidik jari portable.
Bip.
"Dapet!" bisik Naura. "Sekarang tinggal HP-nya. Rose, lo harus bikin Julian buka HP-nya, terus alihin perhatian dia biar kita bisa mirroring datanya."
Misi: Cloning HP
Di meja makan, Roseanna mulai beraksi.
"Julian," panggil Roseanna lembut (akting level Oscar). "Aku denger kamu baru beli villa di Bali? Mana fotonya? Aku mau liat dong."
Julian, yang haus pujian, langsung semangat. Dia mengeluarkan HP-nya, membuka kunci layar (Naura di mobil mencatat pola kuncinya lewat kamera kancing baju Roseanna), dan menunjukkan foto villa.
"Nih. Bagus kan? Ada private pool-nya," pamer Julian.
"Wah, bagus banget," Roseanna memegang HP Julian (pura-pura liat foto).
"Rose, colok alatnya sekarang," perintah Lia di kuping.
Di tangan Roseanna, tersembunyi sebuah flashdisk kecil penyedot data (buatan Oliver). Slot charger HP Julian ada di bagian bawah.
Tapi Julian memegang HP-nya erat.
"Fattah, distraction!" perintah Roseanna (lewat kode mata).
Fattah yang berdiri di belakang Julian langsung bergerak. Dia memberi kode pada Mohan.
Mohan, yang sedang membawa nampan berisi sup panas, berjalan mendekat.
"Permisi..." kata Mohan gugup.
Sengaja atau tidak (kayaknya sih sengaja), kaki Mohan "kesandung" kaki kursi Julian.
"WADUH!"
BYUUURRR!
Semangkuk sup jagung panas tumpah tepat ke pangkuan Julian (tepat di celana mahalnya).
"AAARGHHH! PANAS!!" Julian menjerit, refleks berdiri dan melepaskan HP-nya ke meja.
Kekacauan terjadi. Orang tua Julian panik.
"Maaf Tuan! Maaf!" Mohan pura-pura panik membersihkan celana Julian pake serbet (padahal malah nambahin noda).
Di tengah keributan itu, Roseanna dengan cepat mencolokkan alat penyedot data ke HP Julian yang tergeletak di meja.
Lampu indikator alat itu berkedip biru. Transferring data...
"KAMU GIMANA SIH?!" bentak Julian ke Mohan, mendorong tubuh raksasa itu. "Liat celana saya! Ini harganya 20 juta!"
"Maaf Tuan... saya ganti..." cicit Mohan takut.
"Ganti pake apa?! Ginjal lo?!" Julian mengangkat tangan mau menampar Mohan.
GREP.
Tangan Julian ditahan di udara.
Fattah menahan tangan Julian. Cengkeramannya kuat, menahan amarah yang luar biasa. Dia nggak terima temannya (Mohan) diperlakukan kasar, walau ini cuma akting.
"Maaf, Tuan," kata Fattah dingin, matanya menatap Julian tajam. "Kecelakaan bisa terjadi. Jangan main fisik."
Julian menatap Fattah. Mata mereka terkunci.
"Lo..." Julian menyipitkan mata. "Lo bukan pelayan biasa kan?"
Situasi genting. Roseanna melihat lampu indikator alatnya masih berkedip. 90%... 95%...
"Lepasin tangan saya," desis Julian.
"Lepasin," perintah Roseanna tegas (tapi matanya memohon). "Jangan kasar sama tamu."
Fattah melepaskan tangan Julian dengan kasar.
"Silakan ke toilet, Tuan. Saya bawakan celana ganti," kata Fattah kaku.
Julian mendengus marah, lalu berjalan cepat ke toilet sambil mengumpat.
Bip. Lampu alat di tangan Roseanna berubah hijau. Transfer Complete.
Roseanna mencabut alat itu dengan kecepatan cahaya, menyembunyikannya di dalam tas clutch-nya, tepat sebelum Julian menoleh lagi.
"Maaf ya, Om, Tante," kata Roseanna pada orang tua Julian dengan senyum manis. "Pelayannya ceroboh banget."
Pukul 21.00 WIB - Parkiran Basement
Misi selesai. Makan malam bubar lebih cepat karena insiden celana basah.
Di dalam mobil van hitam Oliver, anak-anak Royals dan Vanguards berkumpul, berdesak-desakan.
Oliver sedang mendekripsi data dari HP Julian.
"Dapet apa, Ver?" tanya Fattah yang sudah melepas dasi kupu-kupunya, kancing kemejanya dibuka lega.
"Banyak, Bos," mata Oliver bergerak cepat membaca data. "Chat WhatsApp, log panggilan, email..."
Oliver membuka satu folder Secure Folder.
"Bingo," kata Oliver.
Di layar laptop, terpampang foto-foto chat antara Julian dan kontak bernama "Ular Kobra" (Kairos).
Isi chatnya jelas:
"Bakar bengkel Fattah. Bikin seolah-olah Roseanna yang nyuruh."
"Lempar darah ke Aqeela. Pake jaket Vanguards."
"Transfer 50 juta sudah masuk. Lakukan kerusuhan di Pensi."
Dan yang paling parah... ada dokumen PDF: "Rencana Penggusuran Tanah Jalan Anggrek & Pencucian Uang Yayasan Pertiwi".
"Bajingan," desis Roseanna. "Dia bukan cuma mau ngadu domba kita. Dia mau ngegunain Yayasan buat cuci uang bisnis ilegal bokapnya."
"Ini bukti kuat," kata Ilham, menepuk pundak Fattah. "Kita bisa jeblosin dia ke penjara."
Lia duduk di pojok, menatap layar laptop. Wajahnya datar, tapi matanya dingin.
"Belum cukup," kata Lia tiba-tiba.
Semua menoleh ke Lia.
"Kenapa belum cukup, Li? Ini udah jelas banget," tanya Aqeela.
"Ini bukti digital, bisa disangkal. Dia bisa bilang HP-nya di-hack atau chat itu palsu," Lia menyilangkan kaki. "Kalau kita mau ngejatuhin orang sekuat Julian... kita butuh dia ngaku sendiri. Di depan publik."
"Gimana caranya?" tanya Fattah.
Roseanna dan Lia saling pandang. Dua ratu sekolah itu tersenyum miring bersamaan.
"Pensi Pertiwi kemarin gagal," kata Roseanna. "Tapi minggu depan... ada Turnamen Basket Antar Sekolah (DBL). Final Pertiwi vs Cakrawala (sekolahnya Julian)."
"Kita bikin dia ngaku di tengah lapangan," sambung Lia. "Di depan ribuan penonton. Di depan kamera TV."
Fattah menyeringai. "Suka nih gue. Mainnya skala nasional."
Ilham menatap Lia kagum (dan takut). "Otak lo ngeri juga ya, Nona Manja."
Lia melirik Ilham sinis. "Otak gue emang mahal. Nggak kayak lo, isinya cuma koplo."
Ilham cuma nyengir. Dia udah mulai kebal sama hinaan Lia. Malah, dia mulai ngerasa kalau dihina Lia itu bentuk perhatian.
"Oke," Fattah mengangkat tangannya. "Operasi berikutnya: The Final Slam Dunk. Kita ancurin Julian di lapangan basket."
Malam itu, di parkiran basement yang gelap, rencana penghancuran terakhir disusun. Bukan dengan otot, tapi dengan strategi yang akan mempermalukan sang Pangeran Palsu di tahtanya sendiri.