NovelToon NovelToon
Menyesal Telah Selingkuh

Menyesal Telah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.

Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.

Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.

Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.

Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.

Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.

Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9_Amarah seorang kakak

"Berry, aku akan ikut bersama Kak Edgar ke Amerika untuk sementara waktu," ucap Elvara kepada asistennya dengan suara pelan namun tegas. Dengan wajah tenang, tetapi mata menyimpan kegelisahan yang sulit disembunyikan.

Berry yang sedang memeriksa jadwal kerja langsung mengangkat kepalanya. Ia tampak terkejut mendengar keputusan mendadak itu.

"Apa? Amerika? mendadak sekali, Nyonya. Apa terjadi sesuatu?" tanya Berry dengan wajah penasaran.

Elvara menghela nafas panjang. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman belakang rumah.

Angin sore berhembus lembut, menggoyangkan tirai putih yang menjuntai hingga lantai.

"Nyonya Elvara, apa Anda yakin? Semua pekerjaan di sini bagaimana?" tanyanya penuh kekhawatiran. kening berkerut, tatapan cemas.

Elvara menghela napas panjang. Ia menatap keluar jendela, memandangi langit sore yang mulai berubah jingga.

"Aku sudah memikirkannya baik-baik. Untuk saat ini, aku harus pergi. Ada banyak hal yang harus diselesaikan." Jawab Elvara dengan senyum tipis, namun sorot matanya terlihat sedih.

Beberapa bulan terakhir sebenarnya menjadi masa paling damai dalam hidup Elvara.

Setelah melewati berbagai badai dan luka, akhirnya ia bisa menikmati kebersamaan bersama keluarganya. Hari-harinya terasa lebih tenang dibanding sebelumnya.

Namun kedamaian itu perlahan berubah menjadi ancaman ketika sebuah rahasia besar terungkap. Rahasia yang selama ini berusaha disembunyikan Elvara dari kakaknya.

Rahasia tentang Arsenio.

Saat Edgar mengetahui bahwa Arsenio pernah mengkhianati Elvara dan terlibat dalam perselingkuhan yang menghancurkan hati adiknya, amarahnya meledak tak terkendali.

Siang itu, suasana ruang kerja Edgar terasa mencekam. Suara gelas pecah menggema di seluruh ruangan.

Brak!

Edgar menghantam meja dengan kepalan tangannya hingga semua orang yang berada di sana terdiam ketakutan.

seorang pria tinggi dengan wajah tampan, namun dipenuhi amarah melangkah masuk.

Edgar. Kakak laki laki Elvara.

Tatapan nya begitu tajam hingga membuat suasana ruangan mendadak terasa dingin.

Berru langsung berdiri.

" Tuan Edgar..." Ucap Berry terkejut dan gugup.

Namun Edgar bahkan tidak menoleh. Fokusnya hanya tertuju kepada satu orang.

Elvara.

"Kita perlu bicara, sekarang." kata Edgar dengan tatapan dingin, rahangnya mengeras menahan emosi.

Jantung Elvara langsung berdegup kencang.

Ada sesuatu yang tidak beres.

Mereka masuk ke ruang kerja pribadi Elvara. Begitu pintu ditutup, Edgar membuka pembicaraan.

"Di mana Arsenio sekarang?" tanyanya dengan suara rendah yang justru terdengar lebih mengerikan. Rahangnya mengeras, mata dipenuhi amarah.

Elvara menundukkan kepalanya dalam-dalam, jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Bibirnya bergetar pelan, tetapi tak satu pun kata keluar dari mulutnya. Seolah ada beban besar yang menahan dirinya untuk menjawab pertanyaan sang kakak.

Keheningan yang tercipta justru membuat suasana semakin mencekam.

Edgar terus menatap Elvara, menunggu jawaban yang tak kunjung datang. Semakin lama adiknya terdiam, semakin besar amarah yang berkecamuk di dalam dadanya. Ia tahu ada banyak hal yang masih disembunyikan Elvara darinya.

"Jawab aku, Elvara!" bentak Edgar dengan suara yang mulai bergetar karena emosi.

Namun Elvara tetap membisu. Ia hanya menundukkan kepala, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

Melihat sikap Elvara yang terus memilih diam, kesabaran Edgar akhirnya runtuh. Dengan penuh emosi, ia menghantam meja di depannya sekuat tenaga.

Brak!

Suara benturan keras itu menggema di seluruh ruangan, membuat suasana yang sudah tegang menjadi semakin mencekam.

Berkas-berkas di atas meja berhamburan, sementara tatapan Edgar dipenuhi amarah, kekecewaan, dan rasa sakit yang selama ini ia pendam sebagai seorang kakak yang merasa gagal melindungi adiknya.

"Kak Edgar, hentikan!" serunya panik, napas memburu, wajah pucat ketakutan.

Edgar menoleh cepat. Tatapan matanya yang dingin membuat suasana semakin menegangkan.

"Hentikan? Setelah semua yang dia lakukan padamu?" bentaknya. mata membelalak, urat leher menegang karena emosi.

Elvara menggigit bibirnya.

Ia tahu cepat atau lambat kakaknya pasti akan mengetahui semuanya. Namun ia tidak pernah membayangkan reaksinya akan sebesar ini.

"Kak, aku bisa menyelesaikannya sendiri." Ucap Elvara dengan mata berkaca-kaca, berusaha tetap tegar.

Edgar tertawa sinis. Tawa yang sama sekali tidak mengandung kebahagiaan.

"Sendiri?" katanya tajam, dengan senyum miring penuh kekecewaan.

Kemudian ia melangkah mendekati Elvara.

"Selama ini, kau benar-benar bodoh, Elvara! Mengapa kau menyembunyikannya dariku?" teriak Edgar dengan penuh emosi. Mata memerah, wajah dipenuhi kemarahan dan rasa sakit.

Elvara terdiam.

Dadanya terasa sesak. Bukan karena teriakan itu. Melainkan karena ia tahu kemarahan Edgar muncul karena rasa sayang yang begitu besar kepadanya.

"Aku tidak ingin Kakak khawatir..." jawab Elvara lirih. Kepala menunduk, air mata mulai menggenang di pelupuk mata.

"Khawatir?" Ulang Edgar kembali meninggikan suaranya. Alis bertaut tajam, napas memburu.

"Aku adalah kakakmu! Tugas aku melindungimu. Tapi kau malah menanggung semua penderitaan itu sendirian!" Kata Edgar, tatapan penuh luka dan kekecewaan.

Ruangan kembali hening.

Untuk pertama kalinya, Elvara melihat kemarahan yang bercampur dengan rasa bersalah di wajah Edgar.

Pria itu merasa gagal menjaga adiknya.

Perlahan Elvara mendekat.

"Kak..." panggilnya pelan. Suara bergetar, mata berkaca-kaca.

Edgar memalingkan wajahnya. Ia berusaha menyembunyikan emosinya. Namun Elvara tetap bisa melihat bagaimana kedua tangan kakaknya mengepal kuat.

"Aku baik-baik saja sekarang," lanjut Elvara. Senyum lemah, berusaha menenangkan.

"Tidak. Kau tidak baik-baik saja." Bantah Edgar dengan tatapan tajam namun penuh kepedulian.

Edgar menghela napas panjang sebelum melanjutkan.

"Karena itulah kau ikut denganku ke Amerika. Aku ingin memastikan kau benar-benar aman dan bisa memulai hidup yang baru." Lanjutnya dengan wajah serius, nada suara tegas.

Elvara terdiam cukup lama. Mungkin memang sudah saatnya ia menjauh sejenak dari semua kenangan yang pernah menghancurkan hidupnya.

Meninggalkan luka. Meninggalkan pengkhianatan. Dan meninggalkan Arsenio.

Akhirnya ia mengangguk pelan.

"Baik, Kak. Aku akan ikut." Jawab Elvara, senyum tipis dengan mata yang masih basah oleh air mata.

Mendengar jawaban itu, Edgar sedikit mengendurkan rahangnya. Untuk pertama kalinya malam itu, amarah di wajahnya mulai mereda.

"Bagus. Mulai sekarang, tidak ada lagi yang boleh menyakitimu." Kata Edgar dengan tatapan lembut, penuh tekad untuk melindungi adiknya.

Sementara di luar sana, Arsenio sama sekali tidak menyadari bahwa kepergian Elvara ke Amerika akan menjadi awal dari penyesalan terbesar dalam hidupnya.

 Dan kali ini, Edgar tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan kebahagiaan adiknya lagi.

1
Anne Soraya
lanjut
Ifana
sok²an selingkuh eh ternyata punya jabatan krn istri nya
Sulati Cus
hrsnya g kaget dr awal kan udah tau, istrinya akan mencabut semuanya aneh bgt
Sulati Cus
lah kata nya semua aset di cabut trus di usir kok msh takut 🤔cerita rada nggak nyambung
Sulati Cus
kok gak nyambung udah di usir pdhl🤔msh mencintaimu tp sanggup berkhianat omong kosong👿
sunaryati jarum
Arsenio hanya akan meratapi nasibnya
sunaryati jarum
Hidup dari kekayaan istri saja belagu, selingkuh .Edgar adikmu sudah dewasa dan berumah tangga,sudah bukan tanggung jawab sepenuhnya,namun jika kamu masih merasa itu kewajiban kamu melindunginya baguslah,biar Arsenio tahu siapa yang dikhianatinya.
sunaryati jarum
Sokoor
sunaryati jarum
Kok masih di rumah Elvara
sunaryati jarum
Bukankah Arsenio sudah di usir
sunaryati jarum
Baru mampir semoga suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!