Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.
Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?
Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?
Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?
Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Saat gerobak yang dikendalikan Bai Dashan memasuki desa Qingshan, secara kebetulan berpapasan dengan para pria keluarga Chen yang berniat kembali keladang setelah istirahat makan siang.
Alhasil, niat bertani pun diurungkan. Semua kembali kerumah untuk menyambut anggota keluarga yang lumayan cukup lama tak berkunjung.
"Nenek, bibi...!" teriak Bai Jinyu, melompat dari gerobak.
"Hati-hati..!" seru nenek Chen, menangkup tubuh kecil cucunya.
Bai Jinyu terkekeh, memeluk kaki sang nenek terkasih.
Nyonya tua Chen mengusap lembut surai Jinyu, lalu menatap putri dan menantunya.
"Ibu, kakak ipar pertama, kakak ipar kedua...!" seru Bai Dashan dan Muwan bebarengan.
"Adik, adik ipar, kalian datang..!" sapa Chang Yuwen.
Pelukan yang sarat akan kerinduan, Chen Muwan berikan pada sang ibu tercinta.
Para keponakan, serta Li Yuning turut ambil bagian. Menyapa dengan ramah dan senyuman lebar.
"Apa yang kalian bawa itu..? kenapa banyak sekali..?" pekik nenek Chen melotot, melihat lima keranjang besar penuh terisi.
Chen Muwan tersipu, membantu sang suami "hanya sedikit hasil dari berburu bu..!"
Chen Yongzi dan Junyi, turut membantu.
"Berburu dimana yang bisa mendapatkan kapas dan gulungan kain..?" sarkas kakek Chen, menyibak tutup keranjang.
Bai Dashan Dan Chen Muwan terkekeh.
"Ya Dewa, Wan'er...!"
Nenek Chen linglung, melihat sembako berharga mahal serta daging dan lemak babi, kelinci, burung pegar, juga banyaknya alas kaki.
"Dari mana kalian mendapatkan semua ini..?" tanya gemas bercampur cemas nenek Chen seraya menepuk pahanya.
"Setelah Shu'er bangun, dia pergi kehutan bersama A-zi, mereka menggali ginseng juga herbal berharga lalu menjualnya ke menera Chenceng dikota." jelas Bai Dashan.
"Mereka mendapatkan ginseng..?" tanya kaget semua orang dewasa keluarga Chen, dengan mata membeliak sempurna.
Dashan dan Muwan mengangguk.
"Memangnya mereka bisa mengenali tanaman herbal..?" tanya Chen Yeping.
"Bukan hanya mengerti soal ramuan, Shu'er bahkan sekarang memiliki keahlian medis." sahut senang Chen Muwan bangga.
"Benarkah..?"
Bai Dashan membuka perban dikakinya, menunjukkan luka yang mulai kering tertutup.
"Baru beberapa hari tapi lukaku sudah seperti ini, padahal selama sebulan tidak juga ada kemajuan walau diberi obat oleh tabib."
Anggota keluarga Chen turut melongo takjub, mereka pun akhirnya percaya.
"Shu'er berencana membuatkan tonik kesehatan untuk ayah, ibu, dan yang lainnya. Setelah semua bahan lengkap, kami akan mengirimkannya." adu Muwan.
"Ah, cucuku sungguh sangat perhatian." puji tulus nenek Chen bahagia.
"Shu'er juga sekarang bisa membaca dan menulis, dia sudah mulai mengajari kedua adiknya." kata antusias Muwan.
"Sungguh..?"
Bai Dashan mengiyakan.
"Masih ingat ceritaku tentang ucapan tabib Yong tempo lalu..?" tanya balik Muwan.
Anggota keluarga Chen kompak mengangguk.
"Beruntung, saat Shu'er bangun tidak berubah bodoh, tapi justru malah diberi keberkahan dengan banyak keterampilan dan pengetahuan."
Chen Muwan mengambil sabun, menunjukkan pada semua keluarganya.
"Ini namanya sabun-----
Tanpa titik koma, serta antusiasme yang tinggi, Chen Muwan memaparkan fungsi dari sabun serta siapa pelopor yang menciptakannya.
"Ya Dewa, ini sungguh keajaiban, terimakasih..!" ucap nenek Chen dengan netra berembun.
Kakek Chen tergelak bahagia, cucunya sadar tanpa mengalami kecacatan tapi justru menjadi insan dengan banyak bakat.
Bai Dashan mengeluarkan talas, menjelaskan bagaimana cara mengolahnya.
"Sekarang penduduk desa Huanshan sedang pergi kehutan untuk belajar langsung apa saja yang bisa dimanfaatkan bersama Shu'er dan A-zi." beritahu Muwan.
"Selain itu, Shu'er juga mengajari penduduk desa cara mengolahnya." sambung Bai Dashan, menunjuk keranjang berisi aneka bumbu dan sayuran liar yang selama ini terabaikan.
Chen Muwan membagikan alas kaki kesemua anggota keluarga yang membuat tawa riang penuh haru menguar disana.
Untuk gulungan kain katun halus serta kasar diserahkan kepada nenek Chen dan kedua kakak ipar, untuk nanti diubah menjadi busana bagi masing-masing orang.
Sesi acara selanjutnya adalah Chen Muwan mengajari Ibu, kedua kakak ipar dan dua keponakan perempuan, mengolah hasil hutan.
"Kalau seperti ini, meski cuma bubur sayuran dan akar liar yang ada diatas meja, kita akan makan dengan lahap sebab rasanya enak karena banyak bumbu." komentar antusias bercampur senang Li Yuning, kala Muwan membuat sup talas daging.
"Benar, apa lagi dengan adanya tambahan bawang liar ini membuat masakan menjadi harum." Zhang Yuwen menimpali.
Bukan cuma memasak, Muwan pun mengajari cara mengenal tanaman seperti yang dikatakan oleh putrinya.
Sementara itu diluar, obrolan para lelaki juga tak kalah seru. Terlebih saat Bai Dashan memberi peluang bagi keponakan lelakinya untuk mendapatkan uang tambahan.
"Paman sedang tidak bercanda kan..?" tanya tak percaya Junyi, kala Dashan mengatakan mau membeli bunga pinus, kerang air tawar, serta bahan-bahan pembuatan sabun lainnya.
"Tentu saja..!" jawab Dashan.
"Paman tidak tega melihat Shu'er dan A-zi, bolak-balik kehutan untuk mengumpulkan semua itu. Makanya akan lebih baik jika ada yang membantu kami mencarinya." sambung Dashan.
"Kapan paman memerlukan semuanya..?" tanya bersemangat Chen Zhuan.
"Besok..! jelasnya setiap dua hari sekali kami membutuhkannya."
Junyi, Chen Zhuan dan Yenji, berseru riang. Mereka bisa mendapatkan uang dengan cara mudah tanpa harus menerima cercaan yang melukai harga diri, atau penolakan dari para orang kaya.
Cukup bermodal berani dan hati-hati.
"Kalau kalian ingin menjadikan sabun itu sebagai bisnis keluarga, kau harus mulai mempersiapkan tempatnya." saran kakek Chen.
"Rencananya dengan menggunakan sisa uang hasil penjualan ginseng, aku akan membeli tanah dan memperbaiki rumah dimusim gugur nanti ayah." sahut Bai Dashan.
"Itu bagus..!"
"Jangan lupa untuk mengabari kami." kata Chen Yongzi.
"Baik kakak ipar kedua..!"
Kakek Chen menghela nafas, pikirannya menerawang jauh.
Selama ia hidup, tak ada satu pun keturunannya yang melek huruf. Kondisi mereka juga lebih sering susah kekurangan materi.
Kali ini ada satu cucunya yang mendapatkan anugerah, kakek Chen berharap semua yang terjadi adalah pertanda baik.
Semoga saja Bai Anshu mampu membawa perubahan bagi keluarga besar Bai dan Chen. Sebuah doa yang digaungkan oleh pria berusia enam puluh tahun itu.
Tanpa terasa waktu cepat berlalu, sudah saatnya untuk makan malam.
Melihat hidangan berminyak diatas meja, membuat para lelaki keluarga Chen melelehkan liur mereka.
Apa lagi ada daging, dan nasi putih pulen, makinan saja berselera.
Aliran pujian dengan decak kagum mengalir deras bagi Bai Anshu, karena berhasil menemukan banyak bumbu serta mewariskan beberapa resep menu masakan.
Sup talas, panekuk akar kudzu, tumis Yan liar, menjadi perhatian utama.
Anggota keluarga Chen tak menyangka, tanaman yang dianggap gulma ternyata harta karun yang tersembunyi didalam tanah.
Selama ini banyak orang mengira jika Yan liar dan kudzu cuma sekedar akar biasa tak berguna. Nyatanya dugaan mereka salah besar.