NovelToon NovelToon
Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Angst
Popularitas:32.4k
Nilai: 5
Nama Author: Newbee

Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.

Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.

Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.

Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.

Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 15

Kemegahan gedung pencakar langit milik Chamron berdiri gagah, memotong langit pagi dengan puluhan lantai yang menjulang angkuh.

Dinding-dinding kacanya yang membalut seluruh bangunan memantulkan kilau keemasan matahari, memancarkan pesona kuasa dan kemewahan yang intimidatif.

Tepat di depan lobi utama, sebuah mobil mewah berhenti dengan mulus. Seorang petugas dengan sigap membukakan pintu, menunduk hormat bahkan sebelum penumpangnya turun.

Riven melangkah keluar terlebih dahulu. Gerakan tubuhnya tenang, disusul oleh Oakley yang mengekor beberapa langkah di belakang dengan sikap waspada yang profesional.

Begitu siluet Riven melewati pintu kaca otomatis, atmosfer di dalam lobi mendadak berubah. Barisan karyawan yang memenuhi area lobi serentak menundukkan kepala dalam posisi hormat yang kaku.

Hari ini rapat direksi, dan kehadiran sang pewaris utama ibarat magnet yang menyedot seluruh atensi di perusahaan.

Riven mengabaikan bisik-bisik yang mulai menjalar. Ia melangkah dengan ritme yang konstan dan tenang. Terakhir kali ia menginjakkan kaki di lantai marmer Chamron, ia hanyalah seorang remaja belasan tahun.

Kini, waktu telah menempa pria itu menjadi sosok eksekutif muda yang matang dan berkarisma. Di sudut-sudut lobi, beberapa karyawan wanita diam-diam menahan napas, terpesona oleh perpaduan paras rupawan dan aura keberhasilan yang memancar dari dirinya.

Dengan langkah panjang dan mantap, Riven menuju lift khusus yang akan membawanya ke ruang rapat besar di lantai dua.

Ting!

Pintu lift berdenting lembut saat terbuka di lantai tujuan. Seketika itu juga, keheningan yang mencekam menyergap indra pendengaran. Semua pasang mata menoleh serentak.

Desas-desus mengenai kembalinya pewaris tunggal keluarga Chamron ternyata telah menjadi bola salju yang panas di kalangan para petinggi perusahaan.

Bahkan sebelum rapat resmi dimulai, hawa kompetisi dan intrik politik sudah terasa pekat.

Puluhan pasang mata para direktur senior mengikuti setiap jengkal pergerakannya. Namun, Riven terus berjalan dengan penuh percaya diri. Aura wibawanya begitu kuat, mengintimidasi siapa saja yang berniat meremehkannya.

Melihat putranya telah tiba, Thomas Chamron melangkah mendekat. Ia menepuk pelan punggung Riven, sebuah gestur yang tampak hangat di mata publik, namun terasa seperti tuntutan dan peringatan bagi Riven.

“Kau tidak pulang semalam," ucap Thomas dengan suara rendah, sarat akan nada menyelidik.

“Maaf, Ayah. Semalam aku menginap di rumah Nana.” jawab Riven, berusaha menjaga suaranya tetap datar.

Thomas mengangkat sebelah alisnya, senyum sinis tipis terkembang di bibirnya. “Tapi laporan yang ku terima dari informanku tidak mengatakan begitu.”

Jantung Riven berdegup kencang. Ia menelan ludah dengan susah payah, menahan ketegangan yang mendadak mencekik lehernya. Beruntung, Thomas memilih untuk tidak memperpanjang interogasi itu di depan umum. Pria paruh baya itu mengalihkan pandangan.

“Jack membuka cabang usahanya lagi?”tanya Thomas kemudian.

“Ya.”

“Ayahnya memang memberikan dukungan finansial yang cukup besar. Tidak heran bisnisnya bisa bertahan sampai sekarang,” komentar Thomas, jelas sedang meremehkan sahabat Riven.

Riven menggeleng pelan, merasa perlu membela sahabatnya. “Kurasa itu lebih karena kerja keras Jack sendiri, Ayah. Bukan semata-mata karena privilege keluarganya.”

Thomas tersenyum tipis, jenis senyuman yang meremehkan anak muda. “Mungkin. Untuk sementara ayahnya memang mengizinkannya bermain-main di jalur itu. Namun cepat atau lambat, Jack tetap harus tunduk pada aturan main keluarganya dan menggantikan posisi sang ayah.”

Thomas menatap lurus ke depan, ke arah pintu ruang rapat yang tertutup rapat, sebelum melanjutkan dengan nada dingin yang mutlak.

“Begitulah tugas seorang anak laki-laki di keluarga-keluarga besar seperti kita.” Kalimat itu seketika membuat tenggorokan Riven terasa sekering padang pasir. Sebuah hantaman telak yang kembali mengingatkannya pada satu rahasia besar yang selalu ia sembunyikan rapat-rapat.

Ada sebuah dunia yang sangat ia cintai. Dunia yang bagi orang lain mungkin hanya sekadar hobi pengisi waktu luang, tetapi bagi Riven, adalah satu-satunya tempat ia bisa bernapas bebas.

Menulis. Ia suka merangkai sajak dan puisi.

Di balik setelan jas mahal dan topeng angkuh sebagai pewaris Chamron, Riven kerap diam-diam menuangkan gemuruh pikiran dan jiwanya ke dalam sebuah blog yang ia buat.

Menulis adalah caranya meredakan badai dan tekanan yang terus berputar di dalam kepalanya. Sisi rapuh sekaligus jujur yang tidak diketahui oleh siapa pun. Terutama oleh ayahnya. Mungkin hanya melalui itulah Riven masih memiliki kewarasannya hingga saat ini.

Riven tahu persis, di mata Thomas Harrison, hal itu adalah pemborosan waktu, memalukan, dan tidak berguna.

Jika sang ayah sampai mengendus rahasia ini, Thomas tidak akan ragu untuk merenggut dunia kecil itu darinya. Dan bagi Riven, larangan dari seorang Thomas Harrison hampir setara dengan hukuman mati bagi jiwanya.

Pintu ganda berbahan kayu mahogani pekat itu akhirnya terbuka, menandakan babak baru yang mendebarkan dimulai.

Satu per satu peserta rapat melangkah masuk ke dalam ruang konferensi utama. Ruangan itu begitu luas, didominasi oleh dinding kaca masif yang menampilkan lanskap kota dari ketinggian, berpadu dengan arsitektur modern yang mewah namun dingin.

Sebuah meja panjang berbahan marmer hitam membentang dari ujung ke ujung ruangan, memantulkan pendar lampu kristal di langit-langit. Di sekelilingnya, kursi-kursi eksekutif berlapis kulit premium segera ditempati oleh para direktur senior dan petinggi perusahaan.

Suara gesekan kursi dan bisikan rendah menciptakan dengung kecemasan yang samar.

Hari ini, Chamron hadir untuk menegaskan dominasi mereka yang absolut.

Thomas Chamron melangkah masuk dengan aura intimidasi yang pekat, memimpin barisan bagai seorang raja yang memasuki ruang takhta. Ia mengambil posisi di kursi utama yang berada di ujung meja, poros dari segala keputusan besar perusahaan.

Tepat di sebelah kanannya, sebuah kursi kosong telah disiapkan.

Semua orang di dalam ruangan itu tahu persis apa arti dari sepotong kursi tersebut.

Itu adalah kursi panas. Sebuah posisi krusial yang sengaja dikosongkan dan dijaga selama bertahun-tahun oleh Thomas, khusus untuk sang pewaris tunggal.

Kursi itu adalah simbol hak istimewa, sekaligus sasaran empuk bagi anak panah kecemburuan dan intrik politik korporasi. Para petinggi perusahaan tentu tidak buta akan latar belakang Riven.

Mereka tahu bagaimana pemuda itu ditempa dengan sangat keras sejak kecil, diisolasi dari masa muda yang normal demi dijejali ilmu bisnis dan strategi.

Namun, dunia korporasi adalah rimba yang kejam. Di balik senyum formal mereka, tidak sedikit direktur senior yang masih meragukan kapasitas Riven. Bagi mereka, Riven hanyalah anak muda kemarin sore yang belum mencicipi darah dan air mata di lantai bursa.

Mereka menunggu Riven melakukan kesalahan kecil, bersiap menerkam begitu sang pewaris menunjukkan tanda-tanda kelemahan.

Setelah seluruh peserta rapat duduk dalam keheningan yang kaku, Thomas berdiri. Postur tubuhnya tegak, menyapu seluruh ruangan dengan tatapan matanya yang setajam elang. Atmosfer seketika membeku.

“Perkenalkan,” ucap Thomas. Suaranya tidak keras, namun ketenangan dan wibawa yang terkandung di dalamnya sanggup membungkam setiap sudut ruangan. “Riven Daylon Chamron.”

Hening. Udara di dalam ruang konferensi seolah tersedot habis.

Bersambung

1
Hanima
Lanjut Rivvv
Hanima
😍😍
evanindia
paham, paham tpi d blkang lain lagii nihh c angie....
evanindia
iya wajar klo loyal am adek sndri mh....
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
afifah
Seru
evanindia
panggilan utk kaka.a luar biasa nii elana 😄
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor
wiliss
salting kk?
wiliss
😅😅
wiliss
perhatian bgt ya riv...
Rudy satria
nama "musang"begitu cocok untuk riven emak kelakuannya kaya musang🤣🤣🤣
Rahmat Soiku: bls apaan sih g terbaca dilayar hp
total 11 replies
Rudy satria
antara Maruk dan rakus beda dikit ya Riv,tapi entah kenapa dari awal nggk respek Ama pasangan yang satu ini,bang author bisa nggk sih di ganti alurnya tentang Gavin dengan cwe yang di jodohkan 😔😓
evanindia: wow baru tau gue sejak kapan dy ilang arah 🤣
total 26 replies
Rudy satria
boleh nggk si bilang" KAMU ITU MURAHAN RIF DUAKALI KETEMU DI RAYU DIKIT LANGSUNG BILANG SAYANG" kesel aku😓
afifah: aku mengakak so hard denger kata murahan🙏🤣
murahan itu kalau gonta ganti pasangan terus cowo nya mokondo miskin . ini gentle gini dikata murahan. tolong ya allah lulusan apa kak sskolahnya? 🙏🙏🙏
lagi pula ini cerita tidak tahu alurnya di percepat atau nggak. terus kalau boleh tanya kenapa lama kelamaan komenn nya nggak nyambung dan nggak mutu? nggak berdasar 🥲
total 4 replies
wiliss
merasa di cintai bgt sm riven aku klo jd angie
wiliss
😋😘😘😘😘
wiliss
gk papaa bang santae aja
Hanima
Lanjuttt
evanindia
Riven kerja² jgn kokopan trus am angie 🙊🙊
evanindia
ps tmen q juga samaa wehh 0 4x 😵😵😵
Hanima
🔥🔥
Hanima
Lanjut Akak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!