NovelToon NovelToon
The Wiragata Legacy

The Wiragata Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Mafia
Popularitas:932
Nilai: 5
Nama Author: Mellsqueen

​Sepuluh tahun lalu, orang tua Halra Wiragata tewas mengenaskan setelah sistem mobil listrik mereka diretas secara sadis oleh Dinasti Joharo. Kini, tepat di usianya yang ke-17, takdir mempermainkan Halra dengan cara yang paling kejam: ia dipaksa menikah dengan Sano Joharo, putra bungsu dari pembunuh orang tuanya.
​Terjebak di dalam mansion siber milik Sano yang serba otomatis, paranoia Halra memuncak. Demi melindungi diri dari sang suami yang dingin dan berbahaya, Halra nekat menyewa Tazam, pengawal pribadi tampan untuk berpura-pura menjadi kekasih gelapnya demi memicu kecemburuan Sano.
​Namun, permainan api itu justru membongkar konspirasi berdarah yang jauh lebih besar. Saat topeng-topeng mulai runtuh di bawah satu atap, Halra harus menghadapi kenyataan mengerikan: Siapakah yang sebenarnya menjadi tameng terakhirnya, dan siapa musuh dalam selimut yang siap melenyapkannya dari balik server?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellsqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi baik

​Suasana ruang makan utama kediaman Wiragata malam itu jauh dari kesan kaku yang biasa mendominasi. Meja panjang berlapis kayu mahoni yang biasanya diselimuti keheningan mencekam kini mendadak hidup, dipenuhi oleh suara dentingan alat makan dan celoteh riang tanpa henti dari Zoeya.

​Di ujung meja, Sano duduk dengan kepala terangkat, matanya mengawasi sang adik bungsu yang tengah sibuk mengunyah makanan sambil bercerita dengan gestur tangan yang ekspresif. Sementara di sisi lain, Halra duduk dengan dagu bertumpu pada tangan, awalnya memasang tampang sinis namun perlahan-lahan luluh oleh kepolosan gadis remaja itu.

​"Sumpah ya, Kak, hidupku di asrama itu bener-bener kayak tahanan politik!" cerocos Zoeya dengan mulut penuh makanan, menatap bergantian ke arah Sano dan Halra.

Ia meneguk air putihnya sebelum melanjutkan dengan nada dramatis.

"Sejak Ibu meninggal, Kak Sano tega banget ngurung aku di asrama terpencil itu di Kota Isenberg. Mau pulang ke rumah utama nggak dibolehin sama sekali karena wilayah kita benar-benar dalam jangkauan dan cengkeraman penuh Ayah Joharo! Sekalinya ketemu Kak Sano, cuma pas musim dingin itu pun dia yang nyamperin aku secara diam-diam supaya nggak diendus sama ayah tua bangka itu!"

​Halra melirik tajam ke arah Sano, mengangkat sebelah alisnya penuh protes.

"Wah... jadi suamiku yang terhormat ini bukan cuma suka mengatur hidupku, tapi juga menyembunyikan adiknya rapat-rapat karena takut terseret jangkauan kekuasaan ayahnya sendiri?" sindir Halra telak, sengaja melirik Sano dengan senyum miring penuh kemenangan.

​Sano mendengus pelan, meletakkan garpunya dengan anggun seraya menatap Zoeya lewat tatapan memperingatkan.

"Kau tahu betul seberapa luas pengaruh Joharo di luar sana, Zoeya. Wilayah utara dan asrama itu adalah satu-satunya tempat di mana jangkauan mata dan tangan ayahmu tidak bisa menyentuhmu sebebas di sini."

​"Aman dari jangkauan ayah, tapi tersiksa sama kesepian, Kak!" balas Zoeya cemberut, sengaja memajukan bibirnya. "Pas liburan panjang kemarin, aku bahkan cuma diizinkan dititipin ke rumah Bibi Florence—yang kerjanya tiap hari cuma ngomel nyuruh aku merajut syal rajutan nenek moyang! Makanya, kali ini aku nekat kabur beneran ke sini, membobol batas jangkauan pengawasan ayah.

Soalnya aku penasaran banget sama Kakak ipar yang sering banget difotoin pelayan buat dikirim ke Kak Sano!"

​Mendengar kalimat terakhir itu, Halra langsung tersedak ludahnya sendiri. Ia terbatuk-batuk kecil sambil meraih serbet untuk menyeka bibirnya, sementara pipinya mendadak merona merah karena malu.

​"T-tunggu... Fotonya dikirim ke siapa?!" seru Halra kaget, langsung memelototi suaminya tajam. "Sano! Kau diam-diam menyuruh pelayan memotretiku?!"

​Sano yang tadinya berusaha mempertahankan ekspresi dinginnya seketika salah tingkah. Pria itu berdehem pelan, mengalihkan pandangannya ke arah gelas wine di depannya, berusaha menyembunyikan seringai tipis yang nyaris lolos dari bibirnya.

"Itu... bagian dari laporan operasional rumah tangga, Halra."

​Melihat ekspresi Sano yang biasanya angkuh kini mendadak salah tingkah, tawa renyah langsung lepas dari bibir Halra. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pernikahan mereka, Halra tertawa lepas bukan karena meremehkan, melainkan karena gemas melihat suaminya tertangkap basah.

​Zoeya yang melihat momen langka itu langsung bertepuk tangan riang.

"Tuh kan! Kak Sano ketahuan grogi sendiri! Jarang-jarang lho aku lihat Kakak bisa pasang muka salah tingkah begitu. Biasanya kerjanya cuma pasang wajah datar kayak tembok pabrik!"

​Tawa Halra semakin menjadi-jadi, bahkan bahunya sampai bergetar hebat.

Sano yang melihat istrinya tertawa lepas—pemandangan paling indah yang jarang sekali ia saksikan—akhirnya menyerah pada pertahanannya sendiri. Sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum lebar yang tulus, bahkan suara tawanya yang rendah ikut mencairkan suasana malam itu.

​"Sudah, makanlah yang benar, Zoeya. Jangan membuat kakak iparmu tertawa sampai tersedak begitu," ujar Sano lembut, meski matanya memancarkan kehangatan saat melirik Halra.

​Malam itu, di balik dinding tinggi kediaman Wiragata yang lepas dari jangkauan langsung sang ayah tiran Joharo, benteng es di antara Sano dan Halra runtuh seketika, lebur bersama tawa renyah dan keceriaan seorang gadis remaja bernama Zoeya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!