NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Tamu mengerikan.

Kelas terakhir di sore itu akhirnya selesai. Begitu ia melangkah keluar dari gedung fakultas, embusan angin sore menyambutnya. Akhirnya, Prisha bisa pulang dan meninggalkan medan perang tak kasatmata itu untuk sejenak.

Ia berjalan lumayan jauh menyusuri trotoar kampus menuju area parkir luar tempat mobil jemputannya sudah menunggu.

Di dalam mobil sedan mewah hitam yang terparkir rapi itu, sudah ada Bora yang duduk siaga di kursi penumpang depan, dan tentu saja Pak Riski yang duduk di balik kemudi.

Pak Riski adalah sopir pribadi kepercayaan kediaman Tanubrata. Pria berusia 44 tahun itu bukan sekadar pengemudi biasa; selain mahir mengendalikan mobil di jalanan kota yang padat, Pak Riski juga memiliki lisensi resmi untuk menjadi pilot helikopter dan pesawat jet pribadi.

Fakta tersebut bukanlah hal yang aneh. Memang, semua pekerja di kediaman Tanubrata dipilih berdasarkan kualitas tinggi, memiliki latar belakang yang bersih, dan wajib bersertifikat profesional di bidangnya masing-masing. Standar tinggi yang diterapkan oleh almarhum Tuan Besar memastikan tidak ada satu pun pelayan amatir yang bisa menginjakkan kaki di sana.

Begitu Prisha mendudukkan dirinya di kursi belakang, Bora segera menoleh dengan raut wajah yang tampak sangat lega. "Bagaimana hari pertama Anda, Nona? Anda baik-baik saja?" tanya Bora, matanya dengan teliti memeriksa apakah ada luka atau noda di pakaian blus polkadot milik Prisha.

Bora merasa lega karena Prisha kembali dalam keadaan utuh tanpa kurang suatu apa pun. Melalui laporan singkat dan instingnya sendiri, Bora pasti sudah menyadari kalau musuh sang nona muda di kampus ini begitu banyak.

Prisha menyandarkan punggungnya ke bantalan kursi yang empuk, lalu membetulkan posisi tasnya. "Kita langsung ke kantor saja," ucap Prisha, memberikan perintah dengan nada suara yang tidak menerima bantahan.

"Baik, Nona," jawab Pak Riski dari balik kemudi. Pria itu segera menyalakan mesin mobil, menginjak pedal gas, dan membawa kendaraan mewah itu membelah jalanan kota menuju gedung pencakar langit Tanubrata Group.

Satu jam perjalanan berlalu, mobil berhenti tepat di depan lobi utama gedung Tanubrata Group yang megah. Prisha melangkah turun, diikuti oleh Bora yang berjalan satu langkah di belakangnya dengan sikap protektif.

Sampai di dalam kantor, kehadiran Prisha langsung memicu kepanikan massal di meja resepsionis. Sang resepsionis yang melihat kedatangan Prisha dan Bora seketika membelalakkan mata. Ia tahu betul siapa gadis yang sedang berjalan ke arahnya ini—sang 'Putri Gila' yang menjadi alasan bos besarnya sakit kepala.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, resepsionis itu buru-buru meraih telepon interkom dan menghubungi Adrian yang berada di lantai atas.

"Pak Adrian! Nona Prisha ada di lobi! Dia sedang berjalan ke arah lift!" bisik resepsionis itu dengan nada panik yang tertahan.

Di seberang telepon, Adrian yang sedang merapikan berkas langsung tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan pulpennya. "Apa?! Oke, dengar...," Adrian meminta resepsionis mengulur waktu sementara ia akan turun secepatnya menggunakan lift khusus.

"B-baik, Pak!"

Setelah memutuskan sambungan telepon, resepsionis itu menarik napas dalam-dalam, mencoba memasang senyum paling ramah yang ia miliki. Ia bergegas keluar dari balik meja dan menghampiri Prisha yang baru saja akan melewati gerbang sensor keamanan. "Nona Prisha, selamat sore," sapanya dengan membungkuk sopan.

Prisha menghentikan langkah, menatap lirik resepsionis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sebelah alis yang terangkat. "Hm? Ada apa denganmu?" tanya Prisha heran, merasa aneh melihat sikap sang resepsionis yang mendadak mencegat jalannya dengan wajah yang tampak sangat gugup.

"Nona ... saya ingin menawarkan cokelat yang sangat enak untuk Anda," ucap resepsionis itu, melontarkan alasan pertama yang melintas di kepalanya demi menjalankan perintah Adrian untuk mengulur waktu.

"Cokelat?" Prisha membeo, mengerutkan keningnya tidak mengerti. Ia memandangi Bora yang berdiri di sampingnya, namun Bora cuma tersenyum tipis, memilih untuk tidak ikut campur dalam interaksi tersebut.

"Benar, Nona," lanjut si resepsionis, mencoba meyakinkan dengan ekspresi wajah yang dibuat seantusias mungkin. "Cokelat ini saya dapatkan sebagai hadiah dari salah satu klien besar yang datang siang ini. Rasanya begitu enak dan premium, saya tidak tahan untuk membuat Nona merasakannya juga. Tolong terimalah."

Prisha mendengus pelan, menatap kotak cokelat yang disodorkan dengan pandangan malas. "Aku tidak mau."

"Tapi Nona, cokelat ini benar-benar langka dan—"

"Nona Prisha!" sebuah suara familier yang sarat akan napas terengah-engah mendadak menyambar percakapan mereka dari arah belakang. Syukurlah, Adrian datang tepat waktu. Pria itu berlari kecil keluar dari pintu lift dengan kemeja yang sedikit berantakan akibat terburu-buru.

Prisha memutar tubuhnya, menatap sang asisten pribadi dengan tatapan menilai. "Hm?"

"Nona mau cokelat?" Adrian yang mendadak ngeblank alias kehilangan fokus ketika melihat Prisha menoleh dengan tatapan matanya yang tajam, justru secara tidak sadar melontarkan tawaran yang sama persis dengan sang resepsionis. Pikirannya benar-benar buntu untuk mencari alasan lain.

Prisha melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Adrian dan resepsionis itu bergantian dengan pandangan jengkel. "Apa-apaan kalian ini? Emangnya di kantor ini lagi ada event chocolate day, huh? Aku tidak peduli dengan cokelat, aku ingin bertemu Kak Saka."

Adrian menelan ludah dengan gugup, mencoba menghalangi jalan Prisha dengan tubuhnya yang tinggi. "A-ah, Tuan Saka. Maaf sekali, Nona. Hari ini Tuan Saka sangat sibuk, jadwalnya padat dari pagi sampai malam dan dia tidak bisa diganggu oleh siapa pun."

Prisha tidak langsung marah. Ia justru melempar senyuman manis yang membuat bulu kuduk Adrian meremang. "Benarkah? Jadi maksudmu, dia ada di ruangannya sekarang, kan?"

"Itu ... anu, Nona ..." Adrian terbata-bata, merutuki kebodohan mulutnya sendiri yang secara tidak langsung mengonfirmasi keberadaan bosnya.

"Menyingkir dari jalanku! Aku akan ke sana dan aku berjanji tidak akan mengganggu pekerjaannya," tegas Prisha, kehilangan kesabarannya. Dengan satu gerakan tak terduga, Prisha mendorong bahu Adrian dengan cukup kuat hingga pria itu terhuyung ke samping.

Tanpa membuang waktu lagi, Prisha berjalan maju dengan langkah seribu menuju lift eksekutif, diikuti oleh Bora yang berjalan dengan patuh di belakangnya.

"No-nona! Nona Prisha, tunggu dulu! Anda tidak bisa langsung masuk ke atas!" teriak Adrian panik. Ia meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi, menatap pintu lift yang sudah tertutup rapat menampilkan angka lantai yang bergerak naik. Setelah ini, ia pasti akan dimarahi habis-habisan oleh Saka karena gagal menjalankan tugas sebagai tameng pelindung.

Si resepsionis yang berdiri di sebelah Adrian hanya bisa mengembuskan napas panjang dengan raut wajah pasrah yang teramat dalam. Ia menepuk pundak sang asisten dengan simpati. "Sudahlah, Pak Adrian. Kita tidak bisa menang melawannya."

Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!