NovelToon NovelToon
THE DEADLY BODYGUARD

THE DEADLY BODYGUARD

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Raja Tentara/Dewa Perang / Balas Dendam
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.

Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.

Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.

Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.

Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?

"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Hujan yang Tertunda

Aroma cengkih, aspal basah, dan sisa-sisa polusi udara langsung menyergap indra penciuman Nathan begitu ia melangkah keluar dari pintu kedatangan Sektor Utama Bandara Internasional Dirgantara. Ia berhenti sejenak, memejamkan mata, dan menghirup udara itu dalam-dalam.

Lima belas tahun.

Waktu yang sangat lama bagi seorang manusia untuk melupakan rumahnya. Namun bagi Nathan, ingatan tentang tanah air ini tidak pernah memudar. Ingatan itu justru mengkristal, membeku di sudut terdingin dalam benaknya, dijaga oleh rasa sakit yang tidak pernah sembuh.

Nathan mengembuskan napas perlahan. Ia hanya mengenakan jaket bomber hitam polos yang agak longgar, celana kargo gelap, dan sepasang sepatu bot taktis yang sudah tampak usang namun bersih. Di pundak kanannya, tersampir sebuah tas duffel kanvas berukuran sedang. Tidak ada koper besar, tidak ada barang mewah. Penampilannya sangat biasa, seperti pemuda usia dua puluh tujuh tahun kebanyakan yang baru saja pulang dari merantau di luar kota.

Namun, jika ada seorang ahli militer atau pembunuh bayaran profesional yang memperhatikannya dengan jeli, mereka akan menyadari sesuatu yang janggal. Cara Nathan berjalan sangat efisien—setiap langkahnya presisi, matanya terus bergerak secara halus memetakan setiap sudut ruangan, menyapu titik-titik buta, menghitung jumlah kamera pengawas, dan menilai potensi ancaman dari kerumunan orang yang lalu lalang. Postur tubuhnya tegak, dengan bahu yang rileks namun siap meledak menjadi gerakan mematikan dalam waktu kurang dari sepersekian detik.

Nathan berjalan menuju kedai Kopi Selaras di area luar terminal kedatangan. Ia memesan secangkir kopi hitam tanpa gula. Ketika pelayan menyodorkan cangkir plastik itu, Nathan menerimanya dengan gumaman terima kasih yang sangat pelan. Suaranya berat, dalam, dan membawa getaran yang dingin.

Ia duduk di meja paling sudut yang membelakangi dinding, memberinya pandangan penuh ke seluruh area luar kedai dan jalanan tempat mobil-mobil menjemput penumpang. Nathan menyesap kopinya. Rasanya manis secara alami, sangat berbeda dengan kopi pekat bercampur lumpur dan bubuk mesiu yang biasa ia minum di dalam parit-parit perlindungan di wilayah konflik luar negeri.

"Kopi di sini terlalu ramah untuk lidahmu, Jenderal."

Sebuah suara berbisik dari arah samping. Seorang pria mengenakan setelan jas abu-abu rapi tanpa dasi tiba-tiba saja sudah berdiri di dekat mejanya. Pria itu berusia awal tiga puluhan, berambut klimis, dan memiliki tatapan mata yang tajam namun selalu menyembunyikan senyum ramah yang profesional.

Nathan tidak terkejut. Ia bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari jalanan yang mulai diguyur gerimis halus. "Aku bukan Jenderal lagi, Rendra. Di kota ini, panggil aku Nathan."

Rendra tersenyum tipis, lalu menarik kursi di hadapan Nathan dan duduk dengan santai. Rendra adalah mantan perwira intelijen taktis di bawah komando Nathan saat perang di belahan dunia lain berkecamuk beberapa tahun lalu. Setelah terluka parah dan memutuskan pensiun dari medan tempur, Rendra kembali dan mendirikan sebuah agensi keamanan elit swasta yang kini menjadi salah satu yang paling disegani di ibu kota Megapura. Namun di balik layar, agensi itu adalah kedok bagi jaringan spionase pribadi yang sepenuhnya setia kepada satu orang: Nathan Wiratama.

"Selamat datang kembali di rumah, Bos—maksudku, Nathan," ujar Rendra dengan nada yang lebih rendah, hampir tenggelam oleh suara rintik hujan yang mulai menderas. "Bagaimana penerbanganmu?"

"Membosankan. Terlalu tenang," jawab Nathan datar. "Bagaimana situasinya?"

Rendra mengangguk paham. Bagi seorang pria yang menghabiskan lima belas tahun hidupnya di tengah desing peluru dan ledakan artileri, ketenangan memang bisa menjadi hal yang paling tidak nyaman. Rendra merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah tablet digital tipis, dan meletakkannya di atas meja, menggesernya ke arah Nathan.

"Semua informasi yang kamu minta sudah siap. Kita mulai dengan target utamamu," kata Rendra, suaranya berubah menjadi sangat serius.

Nathan melirik layar tablet tersebut. Di sana terpampang foto seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat anggun dan cantik di usianya yang menginjak akhir empat puluh tahunan. Rambutnya disanggul rapi, mengenakan perhiasan berlian yang elegan, dan memiliki senyum yang tampak sangat hangat di depan kamera media.

Elena Wijaya.

Di bawah namanya, tertera rentetan gelar dan jabatan: CEO Megantara Group, filantropis terkemuka, janda dari mendiang taipan properti, serta salah satu wanita terkaya di negara ini.

"Elena Wijaya," Nathan mengeja nama itu di dalam hatinya. Nama yang selama beberapa tahun terakhir ini terus muncul di ujung setiap benang merah penyelidikannya tentang siapa yang mendanai kelompok tentara bayaran hitam yang membantai keluarganya lima belas tahun lalu.

"Dia mengambil alih Megantara Group sepenuhnya lima tahun lalu setelah suaminya tewas dalam kecelakaan mobil misterius di tol luar kota," Rendra menjelaskan dengan suara berbisik. "Sejak saat itu, dia memimpin perusahaan dengan tangan besi di balik senyum ramahnya. Tapi, posisinya tidak seaman yang terlihat dari luar. Megantara Group terlalu besar, dan banyak serigala di dalam maupun di luar dewan direksi yang ingin menjatuhkannya."

"Dan ancaman itu nyata?" tanya Nathan, matanya menyipit menatap foto Elena.

"Sangat nyata. Tiga minggu lalu, iring-iringan mobilnya ditembaki oleh kelompok bersenjata tidak dikenal di area perumahan elitnya. Beruntung dia selamat karena mobilnya menggunakan lapisan antipeluru tingkat tinggi. Seminggu setelah itu, ada upaya racun di salah satu jamuan makan malam privatnya. Elena mulai paranoid. Dia memecat seluruh tim keamanan lamanya karena mencurigai adanya pengkhianat di dalam."

Rendra mengetuk layar tablet, mengganti gambar ke profil berikutnya. Kali ini, layar menampilkan foto seorang gadis muda yang tampak mengenakan gaun wisuda sederhana. Wajahnya cantik alami, mewarisi keanggunan Elena, namun memiliki sorot mata yang jauh lebih lembut dan tampak sedikit polos.

Clara Wijaya. Dua puluh dua tahun. Putri tunggal Elena.

"Ini Clara," lanjut Rendra. "Dia baru saja menyelesaikan kuliahnya di bidang seni. Berbeda dengan ibunya yang ambisius, Clara adalah gadis yang tenang dan cenderung menghindari publisitas. Namun, karena statusnya sebagai putri tunggal pewaris takhta Megantara, dia menjadi target empuk. Elena sangat protektif padanya. Dan itulah pintu masuk kita."

Nathan menggeser layar tablet kembali ke foto Elena. "Kapan perekrutan itu dimulai?"

"Besok pagi, pukul sembilan di Menara Adiwangsa, yang terletak di Distrik Bisnis Sentral Megapura. Elena mengadakan seleksi tertutup yang sangat ketat untuk mencari kepala pengawal pribadi baru bagi dirinya dan juga pengawal melekat untuk Clara. Agensiku, PT Bravo Satria, mendapatkan tiga slot undangan untuk mengirimkan kandidat. Aku sudah memasukkan namamu menggunakan identitas palsu yang sangat bersih sebagai 'Nathan', seorang mantan prajurit infanteri dengan rekam jejak disiplin tinggi namun memiliki catatan medis 'trauma ringan' pasca-tugas untuk menjelaskan sifat pendiammu."

Nathan mengangguk perlahan. "Sempurna."

"Nathan," Rendra menatap mantan komandannya itu dengan ragu-ragu. "Aku tahu seberapa mengerikannya kamu di medan perang. Tapi ingat, di sini kita berada di dunia sipil. Jika kamu melepaskan aura membunuhmu di sana, mereka akan langsung tahu bahwa kamu bukan pengawal biasa. Kamu harus menahannya."

Nathan menyesap sisa kopi hitamnya yang kini sudah mulai mendingin. Tatapan mata yang semula datar tiba-tiba berkilat sekejap—sebuah kilatan dingin yang membuat Rendra, seorang veteran perang, merasakan bulu kuduknya meremang tanpa sadar.

"Aku tahu cara bermain peran, Rendra," ucap Nathan lembut, namun nadanya sedingin es di puncak gunung. "Aku akan menjadi anjing penjaga yang paling setia di depan mereka. Aku akan membuka pintu mobil, membawakan tas belanja mereka, dan berdiri tegak di bawah terik matahari tanpa mengeluh. Aku akan membiarkan mereka merasa sangat aman di dekatku."

Nathan menjeda kalimatnya, lalu meletakkan cangkir plastiknya kembali ke meja dengan ketukan yang sangat pelan.

"Sampai saatnya tiba bagiku untuk menyeret mereka ke neraka yang sama dengan keluargaku."

Rendra menelan ludah. Ia tahu betul bahwa begitu Nathan menetapkan targetnya, tidak akan ada satu kekuatan pun di dunia ini yang bisa menghentikannya. Nathan adalah badai yang berjalan dalam keheningan.

"Mobil sudah siap di luar," kata Rendra akhirnya, mencoba mencairkan ketegangan yang tiba-tiba melingkupi meja mereka. "Aku akan mengantarmu ke safehouse kita di Apartemen Graha Kencana, di kawasan elit Sektor Kencana, untuk mempersiapkan segala kebutuhan besok pagi. Setelan jasmu, dokumen fisik, dan semua peralatan dasar sudah disiapkan di sana."

Nathan berdiri, menyampirkan tas duffel-nya kembali ke pundak. "Ayo jalan."

Mereka berdua berjalan keluar dari kedai kopi menuju area parkir di bawah guyuran hujan yang kini semakin deras. Air hujan yang dingin membasahi wajah Nathan, namun ia tidak peduli. Baginya, hujan ini terasa seperti sambutan dari tanah kelahirannya—sebuah simfoni pembuka bagi tarian kematian yang akan segera ia mulai.

Di dalam mobil SUV hitam yang melaju menembus kemacetan jalanan kota Megapura yang basah, Nathan hanya diam menatap ke luar jendela. Cahaya lampu-lampu jalanan dan gedung pencakar langit memantul di kaca mobil, menciptakan bayangan-bayangan abstrak di wajahnya yang kaku.

Pikirannya melayang kembali ke malam jahanam lima belas tahun lalu. Malam ketika rumah keluarganya dibakar habis setelah ayah, ibu, dan adik perempuannya yang masih berusia delapan tahun disiksa dan dieksekusi secara keji di depan matanya sendiri. Nathan yang saat itu masih berusia dua belas tahun berhasil selamat karena ayahnya mendorongnya ke dalam celah rahasia di bawah lantai kayu ruang kerja sebelum ditarik paksa oleh para pembunuh.

Selama lima belas tahun di pengasingan dan medan perang, Nathan hidup hanya untuk satu tujuan: hari ini. Hari di mana ia kembali sebagai pemangsa tertinggi untuk menuntut balas.

"Besok pagi akan menjadi langkah pertamamu, Nathan," suara Rendra memecah keheningan di dalam mobil. "Pesaingmu besok bukanlah orang sembarangan. Ada mantan anggota pasukan khusus domestik, mantan agen intelijen asing, hingga petarung jalanan profesional yang disewa oleh agensi-agency besar. Tes fisik dan psikologisnya akan sangat berat di Menara Adiwangsa nanti."

Nathan tidak mengalihkan pandangannya dari jendela. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat dingin—sebuah senyuman yang tidak membawa kehangatan sama sekali.

"Bagus," gumam Nathan sangat pelan. "Aku berharap mereka bisa memberikan sedikit hiburan sebelum aku memulai pekerjaan yang sesungguhnya."

Mobil SUV hitam itu terus melaju, membelah malam yang pekat di bawah guyuran hujan, membawa serta sang Raja Perang yang kini bersiap mengenakan jubah seorang pengawal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!