NovelToon NovelToon
Faristya

Faristya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Bad Boy
Popularitas:764
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.

Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.

"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"

"Gue juga gak mau."

"Bagus. Berarti kita sepakat."

Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."

Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?

Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Lengkap sudah

Motor yang dikendarai Faris melaju membelah jalanan sore yang perlahan mulai dipenuhi kendaraan dari berbagai arah. Langit di ufuk barat telah berubah jingga, menandakan waktu magrib sudah semakin dekat.

Namun, suasana di atas motor itu sama sekali tidak setenang pemandangan sore yang terbentang di depan mereka.

"Nyebelin banget sih, lo!" Omel Tya tanpa henti dari jok belakang. "Siapa juga yang nyuruh lo gendong gue?!"

Faris hanya menatap lurus ke depan. Kedua tangannya tetap mantap menggenggam stang motor.

"Terus berani-beraninya lo bilang gue anak SMP! Mata lo minus, ya?!"

Sebuah pukulan kembali mendarat di punggung Faris. Cowok itu menarik nafas pelan, berusaha mengabaikannya.

"Mana maksa lagi! Gue udah bilang gak mau naik!!"

Bukk! Bukk!

Dua pukulan lagi menyusul tanpa ampun. Rahang Faris perlahan mengeras. Urat di pelipisnya bahkan mulai terlihat samar, sementara sebelah alisnya terangkat tipis. Suara cempreng Tya terus mengalun tanpa jeda, seolah tidak mengenal tombol pause.

"Dasar nyebelin! Tukang nyolot! Tukang maksa! Badboy nyusahin orang!"

Satu pukulan lagi mendarat di punggung Faris yang entah untuk kesekian kalinya. Sepanjang perjalanan, telinga Faris dipaksa mendengarkan omelan Tya yang tak kunjung selesai. Belum lagi kepalan kecil gadis itu yang terus mendarat di punggungnya berulang kali.

"Nih cewek galak, baterainya gak habis-habis apa?" Batin Faris.

Awalnya, Faris berusaha cuek. Lama kelamaan, punggungnya mulai terasa ngilu. Ia menarik nafas panjang, mencoba menahan diri agar tidak ikut terpancing emosi. Sementara di belakang, Tya masih saja mengomel tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Gue paling males ketemu sama lo! Baru liat muka lo aja udah bikin tekanan darah naik!"

Faris memejamkan mata beberapa saat. "Cerewet."

Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya, datar namun terdengar jelas di tengah deru kendaraan yang berlalu-lalang.

Tya yang semula masih mengomel sontak mendelik. "Apa hah?!" Seru Tya tak terima. "Lo bilang gue cerewet?!"

Refleks, tangan mungil Tya kembali terangkat, siap melayangkan satu pukulan lagi ke punggung Faris. Namun, Faris lebih dulu bersuara dengan nada tak kalah ketus.

"Heh! Jangan pukul lagi!" Seru Faris.

"Emang kenapa?!" Balas Tya tak kalah ketus.

"Punggung gue udah sakit!" Jawaban itu terlontar begitu saja dari mulut Faris.

Tya sempat terdiam sesaat, lalu kembali mendengus kesal. "Rasain!"

"Rasain apanya?!" Balas Faris tak kalah nyolot. "Dari tadi tangan lo kerjaannya bakk bukk bakk bukk! Gue lagi bawa motor, bukan jadi samsak tinju!"

"Salah sendiri nyebelin!"

"Lo juga, galaknya gak ketulungan! Dasar, cerewet."

"Fariss!!"

"Iya, iya!" Sahut Faris cepat sebelum Tya kembali mengangkat tangannya. "Pokoknya jangan mukul lagi! Tenaga lo jadi naik satu tingkat. Tadi double kill, sekarang triple kill!"

Tya mendengus kasar, tetapi kali ini ia mengurungkan niatnya untuk memukul lagi. Meski begitu, tatapan tajamnya tetap tidak lepas dari punggung cowok itu.

Faris menghembuskan nafas panjang. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya tetap fokus pada jalan di depan.

"Sumpah," gumam Faris lirih. "Pengen gue tinggalin nih bocil."

Karena suara deru mesin motor, Tya tidak mendengar ucapan itu dengan jelas. Namun, ia menangkap samar-samar beberapa kata.

"Apa?" Tanya Tya curiga sambil memicingkan mata. "Ngomong apa lo barusan?!"

Faris refleks berdehem kecil. Wajahnya tetap datar, seolah tidak terjadi apa-apa. "Apaan sih?! Gue gak ngomong apa-apa!"

Tya masih menatap punggung Faris dengan tatapan curiga. "Gue denger, ya."

"Salah denger, kali." Sahut Faris cepat.

"Perasaan lo ngomong bocil tadi." Ujar Tya memastikan.

"Ngawur!"

Tya menghela nafas kasar. "Ih, rese banget sih, lo!" Gerutunya kesal.

Sementara Faris hanya bisa berdecak. Faris mengucapkan kalimat terakhir yang Tya lontarkan tanpa suara, ekspresinya jelas mengejek. Untung saja Tya tidak mendengar jelas gumamnya tadi. Jika Tya mendengarnya, bisa-bisanya punggungnya kembali menjadi sasaran bogem mentah sepanjang sisa perjalanan mereka.

Tak lama kemudian, motor itu akhirnya memasuki halaman rumah. Faris memperlambat laju motornya, lalu mengarahkannya ke garasi. Karena motor yang dipakainya adalah milik Dhyo, ia memarkirkannya dengan lebih hati-hati sebelum akhirnya mematikan mesin.

Suasana mendadak hening. Faris baru saja menghela nafas lega. Namun, kelegaan itu hanya bertahan beberapa saat.

Buggh!

Sebuah tas ransel menghantam bagian belakang kepala Faris. "Aduh!" Ia spontan memegangi kepalanya sambil menoleh cepat. "Apa-apaan sih?!"

Pelakunya sudah pasti Tya. Gadis itu baru saja menurunkan tasnya dari bahu, lalu tanpa rasa bersalah ia mengayunkannya tepat ke kepala Faris sebelum turun dari motor.

"Nah! Bonus buat yang tadi!" Ketus Tya.

Tanpa memberi kesempatan untuk Faris membalas, Tya langsung membetulkan posisi tasnya di bahu. Lalu, ia melangkah santai menuju pintu rumah seolah tidak terjadi apa-apa.

Faris masih memegangi kepalanya dengan wajah tidak terima. "Woi!" Pekik Faris kesal. "Main pukul aja, lo!"

Tya bahkan tidak menoleh, langkahnya tetap santai memasuki teras rumah. Hal itu membuat Faris semakin kesal. Ia hanya bisa berdecak sambil mengusap bagian belakang kepalanya yang masih terasa nyut-nyutan akibat serangan terakhir gadis keras kepala itu.

"Dikasih bonus attack, sialan!" Gerutu Faris sambil menatap punggung Tya yang perlahan menghilang di balik pintu rumah. "Fix..." Gumamnya. "Nih cewek bukan manusia. Ini final bos."

Sementara itu, Tya melangkah memasuki rumah dengan langkah yang jauh lebih tenang dibanding beberapa menit yang lalu.

Baru saja melewati ambang pintu, seorang wanita paruh baya segera keluar dari ruang tengah. Wajahnya yang semula dipenuhi kekhawatiran seketika berubah lega saat melihat Tya berdiri di hadapannya.

"Tya," panggil ibu Faris lembut. "Alhamdulillah, kamu sudah pulang."

Tanpa menunggu lebih lama, Tya segera menghampiri dan menundukkan badan. Ia menyalami tangan ibu Faris dengan penuh takzim sebelum menciumnya hormat — suatu kebiasaan yang diajarkan oleh orang tuanya.

"Maaf ya, Tante," ucap Tya pelan. "Tya pulangnya kesorean, jadi bikin Tante khawatir."

Ibu Faris mengusap lembut pucuk kepala Tya sambil tersenyum hangat. "Gak apa-apa, sayang," ujarnya menenangkan. "Oh, tadi pulangnya bareng Faris, kan?"

Tya mengangguk pelan. "Iya, Tante."

Mendengar jawaban itu, raut wajah ibu Faris benar-benar terlihat lega. "Syukurlah," gumamnya lirih. "Mama jadi lebih tenang. Soalnya udah hampir magrib, Mama gak mau kamu pulang sendirian. Makanya, Mama tadi suruh Faris."

Tya terdiam sesaat. Mendengar kekhawatiran ibu Faris membuat hatinya sedikit hangat. Perlahan, sudut bibirnya terangkat tipis.

"Kalau gitu, Tya ke atas dulu ya, Tante. Mau bersih-bersih," ujar Tya.

Ibu Faris mengangguk pelan. "Iya, sayang. Habis itu turun, ya. Sebentar lagi kita makan malam."

"Iya Tante."

Setelah perbincangan singkat itu, Tya pun berbalik. Langkahnya perlahan menaiki anak tangga menuju lantai dua, lalu menghilang di balik lorong yang mengarah ke kamar.

Tak lama kemudian, Faris melangkah masuk ke dalam rumah. Langkahnya santai, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, tangannya sesekali mengusap bagian punggung dan belakang kepalanya yang baru saja menjadi korban emosional Tya. Tanpa menyapa siapa pun, ia melenggang melewati ruang tamu.

Sementara ibu Faris hanya memandang putranya tanpa berkedip. Perlahan, kedua tangannya terlipat di dada. Ujung kakinya mengetuk-ngetuk lantai dengan ritme yang pelan, diselingi dengan gelengan kepala.

"Faris!"

Langkah Faris otomatis terhenti. Ia memejamkan mata sesaat sebelum menoleh perlahan. "Apa, Mah?"

Ibu Faris menatap putranya dari kepala sampai ujung kaki. Semakin diperhatikan, semakin panjang helaan nafasnya.

"Kamu tuh gak liat ada Mama berdiri di sini?" Tanya ibunya sambil mengangkat sebelah alis. "Keluyuran dari mana aja? Terus ini seragam kamu, kenapa kusut begini? Rambut juga berantakan. Habis ngapain? Dan satu lagi..." Tatapannya berpindah ke tangan Faris yang sesekali mengusap punggung dan kepalanya. "Kenapa dari tadi pegang kepala sama punggung? Berantem lagi?"

Rentetan pertanyaan itu meluncur tanpa jeda, membuat Faris hanya bisa menggaruk tengkuknya pelan. Lalu, ia menghela nafas panjang.

"Mah," ujar Faris pasrah. "Satu-satu napa, sih? Pertanyaannya ditembak semua gitu. Faris bingung mau jawab yang mana dulu."

Ibunya mendengus pelan, tetapi sorot matanya masih menyiratkan rasa kesal sekaligus khawatir. "Ya udah," ujarnya. "Jawab dari yang pertama."

Faris menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memasang wajah berpikir. Ibunya menunggu dengan sabar, meski alisnya sudah mulai bertaut.

"Kenapa diam?" Tanya ibunya.

Faris mengangkat bahu santai. "Lupa, Mah." Ujarnya tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Pertanyaan Mama kebanyakan, Faris udah gak ingat."

Ibunya langsung memejamkan mata sesaat sambil menghela nafas panjang, kesabarannya benar-benar sedang diuji. "Ya Allah..."

Wanita itu membuka mata, lalu menggeleng pelan. "Kamu ini benar-benar ya, Faris. Kakakmu itu gak pernah bikin Mama pusing begini."

"Kakakmu gak pernah keluyuran tanpa kabar, apalagi sampai bikin Mama khawatir." Tatapan ibunya kembali jatuh pada seragam Faris yang kusut. "Lah, kamu?" Lanjutnya. "Pulang selalu seperti pulang syuting film anak nakal. Keluyuran terus, seragam berantakan, rambut acak-acakan. Mama sampai heran, kamu ini sebenarnya sekolah apa latihan bikin tensi Mama naik setiap hari?"

Faris menghela nafas panjang. Rahangnya sedikit mengeras mendengar nama sang kakak kembali disebut. "Mah," ujarnya dengan nada yang tertahan. "Jangan bandingin Faris sama kakak terus."

Ibunya mengangkat sebelah alis. "Gimana gak Mama bandingin?" Balasnya. "Kalian dibesarkan di rumah yang sama, di didik dengan cara yang sama. Tapi sifat kalian beda banget."

Faris menghembuskan nafas pelan sambil mengalihkan pandangan. "Ya, Faris kan Faris. Kakak ya kakak."

Ibu Faris menatap putra bungsunya itu beberapa saat. Pada akhirnya, ia hanya bisa menggeleng pelan. Wajahnya masih menyisakan rasa gemas sekaligus pasrah menghadapi keras kepala Faris yang seolah sudah menjadi sifat bawaan.

"Udah, sana," ujar ibunya sambil menghela nafas panjang. "Mama capek ngomong sama kamu."

Tanpa menunggu jawaban, ibunya berbalik dan melangkah menuju dapur. Tak lama kemudian, sosoknya menghilang di balik pintu, kembali menyiapkan persiapan makan malam.

Begitu ibunya tidak terlihat lagi, Faris berdecak pelan. "Kakak terus yang dibanggain," gerutunya lirih sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. "Emangnya gue anak pungut, apa?"

Faris menggeleng kecil, lalu mulai menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan langkah malas. "Satu hari..." Gumamnya pelan. "Dihajar bocil, diomelin Mama. Lengkap sudah."

Lengkap sudah penderitaan Faris hari itu. Semua yang terjadi hari itu benar-benar terasa seperti rentetan cobaan yang datang tanpa jeda.

Faris sudah sampai di depan pintu kamarnya. Tangannya bahkan sempat menggenggam gagang pintu. Namun, entah mengapa ia mengurungkan niatnya untuk masuk.

Cowok itu menghembuskan nafas panjang, lalu berbalik arah. Dengan langkah malas, ia menghampiri sofa yang berada di lorong lantai dua sebelum menjatuhkan tubuhnya begitu saja ke atas bantalan empuk itu.

"Hadeehh..." Keluh Faris sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.

Faris memejamkan mata beberapa saat, lalu kembali teringat pada sosok gadis mungil yang sejak siang pagi tadi tak henti membuat emosinya naik turun.

"Dasar bocil galak," gerutu Faris pelan. "Gara-gara dia, gue kena omelan double."

Faris mengacak rambutnya sekilas. "Ck! Padahal kalau bukan demi motor, ogah banget gue ngurusin tuh cewek."

Beberapa saat berlalu, Faris masih duduk diam di sofa. Setelah pikirannya mulai sedikit lebih tenang, ia menghela nafas pelan lalu bangkit dari duduknya.

"Udahlah," gumam Faris lirih. "Mandi aja."

Dengan langkah santai, ia berjalan menyusuri koridor lantai dua menuju kamarnya. Tiba di depan pintu, tanpa berpikir panjang, Faris langsung meraih gagang pintu.

Ceklekk!

"Aaaaaaaa!!"

Suara teriakan nyaring langsung menggema dari dalam kamar. Refleks, Faris membelalakkan mata. Bahkan sebelum sempat melihat apa pun yang terjadi di dalam, ia buru-buru kembali menutup pintu kamarnya.

Brakk!

Faris berdecak sambil mengusap wajahnya. Baru beberapa detik kemudian ia teringat bahwa kamar itu kini bukan lagi sepenuhnya miliknya. "Sumpah, gue lupa," gumamnya.

^^^Bersambung...^^^

1
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 🤭🤭
Enz99
bagus banget
xuer jinghao
dan sehat selalu 💪💪
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih kak, semoga kakaknya juga sehat selalu😄
total 1 replies
xuer jinghao
kak lanjut semangat terus kak 😍😍
Shintara
Faris : Dari sekian banyak cewek di dunia ini, kenapa harus lo?
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Hehehe bener banget kak🤭
total 1 replies
Shintara
❤️❤️❤️
Shintara
lanjut kak..
jangan lupa mampir juga ya. ❤️
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Siap kak, terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!