NovelToon NovelToon
Faristya

Faristya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Bad Boy
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Disclaimer: No plagiat, no boom like❗

Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.

Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.

"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"

"Gue juga gak mau."

"Bagus. Berarti kita sepakat."

Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."

Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?

Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Mau kabur ke mana?

Kejar-kejaran yang sempat menghebohkan koridor lantai tiga itu akhirnya berakhir ketika bel masuk berbunyi nyaring di seluruh penjuru SMA Harapan.

Murid-murid yang sejak tadi menjadi penonton perlahan kembali masuk ke kelas masing-masing. Sementara Faris berdiri dengan nafas memburu, kedua tangan bertumpu di lutut. Di hadapannya, Dhyo juga sama lelahnya, meski senyum jahilnya masih belum sepenuhnya hilang.

"Oke-oke," ujar Dhyo di sela nafasnya. "Gue hapus."

Faris langsung menegakkan tubuh. Tatapannya masih tajam, seolah memastikan sahabatnya itu tidak sedang bermain-main. "Serius?"

Dhyo mengangguk. Dengan santai, ia membuka galeri ponselnya, lalu menekan tombol hapus tepat di depan mata Faris. "Nih. Udah."

Faris memperhatikan hingga video itu benar-benar menghilang dari layar. Setelahnya, ia menghela nafas panjang. "Untung aja masih punya hati."

Namun, belum sempat Faris merasa lega, Lex tiba-tiba berdehem sambil mengangkat ponselnya. "Ekhem."

Faris menoleh. Di layar ponsel Lex video yang sama kembali diputar. "Halo, bro," ujar Lex dengan senyum penuh kemenangan.

Mata Faris langsung membulat. Andre yang berdiri di sampingnya pun ikut mengangguk. "Punya gue juga masih ada."

Dhyo menyeringai tanpa dosa sambil memasukkan kembali ponselnya ke saku. "Gue kan cuma hapus yang ada di hp gue." Ujarnya santai. "Sebelum lo rebut tadi, videonya udah gue kirim ke mereka berdua."

"DHYOOOO!" Faris refleks mengacak rambutnya sendiri dengan frustasi. Ia mendongak ke langit-langit koridor sampai memejamkan mata rapat, seolah sedang memohon kesabaran tambahan. "Kenapa sih gue punya temen modelan kalian?"

Dhyo, Lex, dan Andre justru saling tos dengan wajah puas. Sementara Faris hanya bisa menghela nafas pasrah. Mengejar Dhyo sampai setengah sekolah ternyata sia-sia saja.

Rasanya benar-benar melelahkan menghadapi tingkah tiga sahabatnya itu. Bahkan, untuk sekali saja, mereka tidak memberi Faris kesempatan menang. Yang ada, mereka justru membuat hidupnya semakin kacau.

Faris memijat pelipisnya pelan. Rasanya percuma berdebat dengan tiga manusia di hadapannya. Semakin diladeni, semakin menjadi-jadi. Ia menghela nafas panjang, lalu menatap mereka satu per satu dengan wajah datar.

"Terserah kalian!" Nada suara Faris terdengar pasrah, tapi jelas menyimpan kekesalan. "Mau upload kek, simpan kek. Gue udah capek ngurusin kalian!"

"Ketua pasrah, cuy!" Ujar Dhyo sembari menyeringai lebar.

"Dasar minus akhlak," gerutu Faris sambil menggeleng. "Bener-bener gak ada yang waras."

"Lo juga gak waras berarti," timpal Lex. "Kan lo ketuanya."

Dhyo terkekeh sambil menepuk-nepuk punggung Faris. "Woi bro, kami ini pelengkap agar hidup lo gak ngebosenin."

Faris mengusap wajahnya sekilas, "Yang ada malah bikin umur gue makin pendek." Balasnya ketus.

Andre hanya menepuk pundak Faris pelan sambil tersenyum tipis. "Sabar, bro."

"Sabar jidat lo."

Tanpa berniat memperpanjang perdebatan yang tiada ujungnya, Faris berbalik begitu saja. Kedua tangannya kembali masuk ke saku celana. Kakinya kembali melangkah menuju ruang kelasnya.

Di belakangnya, gelak tawa tiga sahabatnya kembali pecah memenuhi koridor. Faris hanya bisa berdecak tanpa menoleh sedikit pun.

"Entah dosa apa gue sampai dipertemukan sama tiga manusia begini," gumam Faris.

Dengan wajah yang masih ditekuk kesal, Faris terus melangkah menuju kelasnya. Ia memilih menyerah daripada kembali meladeni tingkah tiga sahabatnya yang sulit diajak waras.

Begitu tiba di kelasnya, suasana kelas yang semula riuh mendadak berubah canggung. Beberapa pasang mata langsung tertuju pada Faris.

Ada yang menahan tawa, ada yang saling menyikut pelan, bahkan ada yang masih membahas aksi kejar-kejaran di koridor beberapa menit yang lalu. Bagaimanapun juga, pemandangan ketua GMA mengejar anggotanya sendiri memang termasuk momen langka.

Faris menangkap tatapan-tatapan itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menyapu seluruh kelas dengan sorot mata tajam. Seketika, beberapa murid yang tadi masih menahan tawa langsung mengalihkan pandangannya masing-masing. Ada yang pura-pura sibuk membuka buku, ada pula yang mendadak memperhatikan jendela.

Faris kemudian melangkah menuju bangkunya. Namun, baru beberapa langkah, sebuah suara terdengar dari belakang. Faris langsung menghentikan langkahnya dan menoleh.

"Gak capek apa bikin rusuh terus?"

Tya baru saja memasuki kelas bersama dua sahabatnya. Ekspresinya terlihat biasa saja, seolah pertanyaan tadi hanyalah komentar singkat tanpa maksud memperkeruh keadaan.

"Yang rusuh gue, kenapa lo yang ribet?" Balas Faris dengan nada nyolot.

Tya hanya melirik sekilas. Entah sedang malas berdebat atau memang sedang tidak ingin meladeni, ia sama sekali tidak menanggapi lagi. Dengan santai, ia berjalan melewati Faris begitu saja, lalu berjalan menuju bangkunya.

Megan yang berdiri di samping Starla hanya diam. Ia hanya melirik Faris sekilas, lalu mengikuti Tya tanpa berkomentar.

Berbeda dengan Starla. Sesaat sebelum berjalan, gadis itu sengaja berhenti di depan Faris beberapa saat. Ia menjulurkan lidah, lalu menarik pelan kulit di bawah salah satu matanya sambil memasang wajah mengejek. "Wlee!"

Setelah berhasil melancarkan aksinya, Starla langsung berlari kecil menyusul Tya sambil menahan tawa.

Faris mematung beberapa saat, tatapannya mengikuti tiga gadis itu. "Kurang ajar," gumamnya pelan.

Faris menghela nafas kasar, lalu menggeleng pelan. Ia memilih tidak memperpanjang. Karena baginya, emosinya saja belum turun setelah Dhyo, Lex, dan Andre mengerjainya.

Faris akhirnya berbalik dan melangkah menuju bangkunya. Di sisi lain, Starla yang berhasil menyusul Tya akhirnya tak mampu lagi menahan tawanya.

Megan hanya menggeleng geli melihat tingkah sahabatnya itu. Sementara Tya menoleh sekilas ke arah Starla yang masih cekikikan tanpa rasa bersalah. Sudut bibir Tya ikut terangkat tipis sebelum akhirnya ia menggeleng pelan. "Ada-ada aja lo, Star."

...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...

Bel pulang akhirnya menggema nyaring, memecah kejenuhan para murid di menit-menit terakhir. Di dekat jendela, Tya tengah memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Starla dan Megan sudah berdiri di samping mejanya, menunggu Tya selesai berkemas.

"Eh, jangan lupa, ya," ujar Megan sambil memeluk buku sejarahnya. "Hari Minggu ngerjain tugas kelompok di rumah gue."

Tya mengangguk kecil. "Iya, gue ingat kok, Gan."

Starla menghela nafas panjang. "Tugas sejarah ini bikin pusing juga, ya. Banyak banget yang harus dicari."

"Makanya dikerjain bareng," sahut Tya sambil menutup resleting tasnya. "Untung kita bertiga satu kelompok."

Megan tersenyum tipis. "Iya, Pak Said kayaknya udah hafal formasi kita."

Starla langsung mengangguk setuju, "Nah, itu. Kita ini kan trio solid."

Tya terkekeh sambil menggeleng kecil, "Solid apanya? Orang tiap ngerjain tugas yang paling banyak ngoceh juga lo."

"Eh, itu namanya penyemangat suasana," bela Starla cepat.

Megan ikut tertawa pelan. "Itu mah pengalih fokus kali, Star."

"Lah, kalau sepi kan ngantuk," jawab Starla spontan.

Tya dan Megan saling berpandangan, lalu menggeleng bersamaan melihat percaya diri Starla.

"Btw, jam berapa kita kumpul?" Tanya Tya sambil menyampirkan tas ke bahu.

"Jam sembilan aja," jawab Megan. "Gue juga masih bantu-bantu ibu dulu di rumah."

"Siap," Tya mengangguk mantap. "Jam sembilan di rumah lo."

Starla ikut mengacungkan jempol. "Iya, duduk di bawah pohon mangga adem tuh." Ujarnya. "Kali aja ada mangga yang jatuh, kan lumayan."

Tya dan Megan terkekeh bersamaan setelah mendengar penuturan Starla. Bagi mereka, tidak ada perbedaan untuk mengerjakan tugas kelompok di rumah siapa. Yang terpenting, mereka selalu berkumpul, saling membantu, dan menyelesaikan tugas bersama seperti yang sudah mereka lakukan sejak lama.

"Eh, Ty," panggil Starla kemudian. "Lo hari ini pulang sama siapa?"

"Sama Faris," jawab Tya pelan.

"APA?!" Suara Starla sontak menggema di dalam kelas hingga beberapa murid spontan menoleh.

Tya langsung mendelik kecil. "Ssstt! Jangan keras-keras, ih."

Starla buru-buru menutup mulutnya sendiri. Sementara Megan masih berkedip beberapa kali, seolah memastikan dirinya tidak salah mendengar.

"Mulai hari ini, gue berangkat dan pulang sekolah bareng Faris," lanjut Tya pelan.

"Lah, kok bisa?" Tanya Megan heran.

Tya hanya menghela nafas panjang sambil berjalan dari lorong bangku. "Tante Mira yang nyuruh," jawabnya pasrah. "Katanya sekalian gue ngawasin Faris biar gak keluyuran kemana-mana sepulang sekolah."

Starla langsung menoleh dengan mata membulat. "Hah? Lo disuruh ngawasin Faris?" Ujarnya. "Gimana ceritanya?"

Tya mengangkat bahu kecil. "Gue juga gak ngerti," ujarnya sambil menggeleng pelan. "Kalau bukan Tante Mira yang minta, gue juga ogah. Emang siapa yang betah ngurus manusia nyebelin kayak dia."

Megan dan Starla saling bertukar pandang. Sesaat kemudian, keduanya hanya bisa terkekeh geli membayangkan bagaimana jadinya Tya dan Faris harus pulang-pergi bersama setiap hari. Mereka sudah bisa menebak, sudah pasti timbul keributan baru.

Sementara itu, di area parkiran motor, suasana jauh lebih lengang dibanding beberapa menit sebelumnya. Sebagian murid sudah mulai meninggalkan sekolah.

Di salah satu sudut parkiran, empat motor sport berjajar rapi. Faris, Dhyo, Lex, dan Andre berdiri mengelilinginya. Berbeda dari biasanya, kali ini tidak ada gelak tawa ataupun saling meledek. Wajah keempatnya jauh lebih serius, bahkan seolah lupa keisengan GMA dan kekesalan Faris beberapa waktu lalu.

Dhyo menyandarkan tubuhnya pada motor sambil melipat kedua tangan di dada. "Ris," ucapnya pelan. "Anak-anak Black Venom semalam nyariin lo."

Faris yang baru saja mengeluarkan kunci motornya menoleh sekilas. "Buat apa?"

Lex menghela nafas pelan. "Ketuanya ngajak duel."

Kalimat itu membuat area parkiran kembali sunyi. Andre yang sejak tadi diam akhirnya ikut angkat bicara. "Malam ini, bro."

Faris tetap tenang. Ia memasukkan kedua tangan ke saku jaketnya. "Di mana?"

"Jalur biasa," jawab Dhyo singkat. "Jam sebelas malam."

"Katanya udah terlalu lama GMA pegang nama di jalur itu," sahut Lex. "Mereka pengen nentuin siapa yang paling layak jadi pengusaha jalur."

Faris terdiam beberapa saat. Tatapannya lurus ke arah motornya, seolah sedang mempertimbangkan ajakan itu. Hening, hanya terdengar semilir angin sore yang sesekali berhembus melewati area parkiran sekolah.

Beberapa saat kemudian, Faris akhirnya mengangguk pelan. "Oke," ujarnya singkat. "Gue datang."

Dhyo menghela nafas lega. "Sip."

Lex menyeringai tipis. "Gue udah duga lo gak bakal nolak."

Andre hanya mengangguk kecil. "Jangan telat, bro."

Meski beberapa jam yang lalu Faris dibuat naik darah oleh ulah mereka bertiga, kekesalan itu ternyata tidak pernah bertahan lama. Begitulah persahabatan mereka, saling mengerjai bahkan saling mengumpat. Namun beberapa saat kemudian, mereka sudah kembali berdiri di satu lingkaran, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tanpa perlu meminta maaf atau menjelaskan apa pun, mereka sudah sama-sama mengerti.

Tak lama kemudian, satu per satu mesin motor mulai meraung pelan. Dhyo lebih dulu melajukan motornya keluar dari area parkiran, disusul Lex dan Andre.

Sementara Faris masih terlalu santai di motornya. Ia menghela nafas pelan, tangannya meraih helm yang tergantung di spion.

"Aww!"

Baru saja hendak mengenakannya, sebuah jeweran mendarat tepat di telinga kirinya. Faris spontan meringis sambil menoleh cepat ke samping.

"Mau kabur ke mana?"

Di sampingnya, Tya berdiri dengan sebelah tangan masih menjewer telinga Faris, ekspresinya begitu datar. Faris langsung menepis pelan tangan Tya dari telinganya. Wajahnya berkerut kesal.

"Sakit, woi!" Gerutu Faris. "Apaan, sih?! Main jewer aja!"

Tya sama sekali tidak terlihat merasa bersalah. Ia justru menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Gue yang harusnya nanya," jawab Tya ketus. "Mau ke mana, lo?"

Faris langsung berdecak, "Emang urusan lo?"

"Urusan gue sekarang," jawab Tya sambil menunjuk motor Faris dengan dagunya. "Lo mau nongkrong, kan?"

Faris langsung mengernyit. "Siapa bilang?"

"Halah," Tya mendengus pelan. "Muka lo aja udah ketahuan."

"Mending lo pulang, cil," balas Faris dengan sorot mata tajam.

"Gue bukan bocil!" Tya menghela nafas kasar. "Lo gak ingat nasihat nyokap lo?"

"Nasihat apaan?"

"Jangan keluyuran terus!"

Faris hanya menatap Tya sepersekian detik. Bukannya membantah, ia justru menjawab singkat. "Oh."

"Oh?" Ulang Tya, nada suaranya langsung naik satu tingkat. "Serius? Cuma 'oh'?"

Faris mengangkat bahu dengan wajah datar. Tya mengusap dahinya pelan, berusaha menahan kesal. Tadi ia sudah berniat berbicara baik-baik, berharap Faris akan mendengarnya sekali saja. Nyatanya, cowok di depannya justru terlihat santai, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Faris," ujar Tya sambil menghela nafas panjang. "Gue lagi serius."

"Gue juga lagi serius."

Rahang Tya sedikit mengeras. "Pokoknya lo pulang."

"Kalau enggak?"

Tya menatap Faris lurus, nada suaranya terdengar penuh ancaman serius. "Kalau enggak, gue telepon Om Novan dan Tante Mira sekarang juga. Bilang anak kesayangannya masih mau keluyuran. Sekalian gue usul, motornya dijual aja biar gak dipakai kabur terus."

Mata Faris langsung membulat. "Woi! Jangan ngawur!"

"Coba aja."

Faris mengacak rambutnya frustasi. Bibirnya komat-kamit menggerutu pelan, entah mengeluh atau justru mengumpat. "Ck!" Ia berdecak kesal. "Iya, iya! Gue pulang!" Ujarnya dengan nada yang sangat tidak rela.

Tya memutar bola mata. "Gitu kek dari tadi!" Ujarnya. "Ngabisin waktu aja debat sama lo."

^^^Bersambung...^^^

1
RahmaYesi
Tya, kamu memang kehilangan ibu mu. Tapi tuhan ganti dengan sosok ibu mertua yang sangat tulus sayang sama kamu.
RahmaYesi
Walau memang saat kondisi seperti ini, perut benaran tidak terasa lapar sama sekali. Tapi tetap harus makan sih Tya....
RahmaYesi
Sedih banget pastinya....
M. T🌻
sumpah, aku sampe nangis di tempat kerja thor😭
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Tapi kamu egois bu😭
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
aku dah terbiasa baca novel perjodohan anak Sma. tapi cuma ini yang paling nyesek sih
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
tapi ini semua atas kemauan kalian
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
sedih sekali
Mingyu gf😘
yang tabah ya tya😭
Mingyu gf😘
kasihan banget kamu tyz😭
Europa.
Tya sudah terlalu kosong pikirannya akan semua hal yang begitu cepat terjadi/Frown/
Europa.
kamu terlalu muda untuk mengerti semua ini faris/Frown/
Europa.
nooo Tya juga ikutan meningsoy dan dibacain yasin😭😭
Alia Chans
Kasihan Tya... Tapi yang penting permintaan terakhir mamanya sudah dia lakukan..
THE GIRL COOL😑
semangat😘
RahmaYesi
Huwaaaa 😭😭😭😭😭
RahmaYesi
Yang kuta ya Tya. Kehilangan seorang ibu seperti dunia telah hancur.... 😭😭
RahmaYesi
Alam bawah sadar Faris, ingin melindungi Tya. Lanjutkan ya dek. semoga kamu jadi suami yang bertanggung jawab dan menjaga Tya selamanya hingga maut memisahkan kalian berdua.
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
tetep ga percaya ya dhyo. siapa pun pasti ga percaya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
karena sayang Ris.. 😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!