Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.
Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.
"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."
Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Yasmin... Kamu dari mana pagi-pagi begini?" Tanya pak Darman tetangga kontrakkan, dua pria anak dan bapak itu sedang joging setelah subuh.
"Ya Allah... Pak Darman... saya kira siapa..." Yasmin bukan menjawab pertanyaan si bapak, justru mengusap dadanya yang masih deg degan. Dia pikir dua orang malam tadi masih berkeliaran di tempat itu.
"Kamu kenapa takut gitu Yasmin?" lanjut pak Darman lalu mendekati Yasmin diikuti Fikri anaknya.
Yasmin menceritakan seperti apa yang ia lihat dini hari tadi. Tidak lama kemudian, ibu Endang istri pak Darman pun keluar dan ikut mendengarkan penuturan Yasmin.
"Masa sih, Yas..." bu Endang tidak begitu percaya karena sudah bertahun-tahun tinggal di kontrakkan itu tapi aman-aman saja.
"Tapi memang begitu Bu... Bu, saya titip anak-anak ya..."
"Tentu saja Yasmin," bu Endang akhirnya mengerti kegelisahan Yasmin.
Yasmin sedikit lega lalu masuk, shalat subuh terlebih dahulu sebelum akhirnya memasak dengan cepat khawatir terlambat lagi tidak mau menambah masalah.
Pagi itu setelah sarapan, seperti biasanya Yasmin dan anak-anak berangkat bersama dan berpisah di depan sekolah.
"Selamat belajar anak-anak Bunda..." Yasmin mencium si kembar bergantian dengan mata berkaca-kaca. Hari ini ia banyak berpesan, setelah pulang sekolah tidak boleh keluar dari kontrakkan. "Jika ada apa-apa minta tolong bu Endang ya, Nak," lanjutnya. Pagi ini Yasmin terasa berat meninggalkan mereka.
Anak seusia mereka seharusnya masih diantar jemput seperti anak-anak yang lain, bahkan ditunggui, tapi Yasmin harus tega demi masa depan mereka.
"Dada Bunda... hati-hati ya..." Fatir dan Fathia melambaikan tangan, dalam hati mereka berdoa semoga bunda pulang tidak terlambat seperti malam tadi.
Mereka masuk kelas begitu Yasmin sudah jauh meninggalkan tempat itu.
"Kak, kamu tahu tidak kenapa Bunda tadi menangis?" Tanya Fathia menoleh wajah Fatir di sebelahnya.
"Pasti Bunda di marahi bu Retno lagi kan?" Tanya Fatir menebak.
Fathia menggeleng, lalu menceritakan penyebab bundanya menangis. Ketika Yasmin baru bangun, rupanya Fathia pun sudah bangun karena haus. Lalu mengikuti Yasmin ke dapur dan mendengar gumaman beliu yang tidak punya beras.
"Tapi kok Bunda tadi masak, Dek?" Fatir kaget dan kasihan mendengar cerita Fathia.
"Aku nggak tahu Kak, setelah itu bunda keluar sambil menangis.
Mendengar cerita Fathia, Fatir bertekad ketika pulang sekolah nanti akan mencari uang. Mereka pun masuk kelas dan belajar seperti biasanya hingga jam 10 pagi dan akhirnya pulang.
"Mulai hari ini kita harus bantu Bunda, Dek" ucap Fatir ketika sudah ganti seragam sekolah, tidak bisa menunda lagi.
"Bagaimana caranya Kak?" Fathia tidak tahu caranya mencari duit.
"Ikut aku," Fatir ke dapur ambil kotak peralatan semir di lemari kayu yang sudah tidak bisa ditutup karena lapuk. Sikat, sepatu bekas dan semir entah milik siapa. Fatir tahu kegunaan peralatan itu, karena pernah melihat bapak tua yang sering menyemir di depan mushola.
"Iya Kak, aku mau, tapi kalau bunda tahu bagaimana?" Fathia bingung, karena bundanya selalu berpesan, tidak boleh kemana-mana setelah pulang sekolah.
"Jangan sampai tahu, Dek. Sebelum Bunda pulang, kita harus sudah di rumah," jawabnya. Anak itu memang luar biasa. Pikiranya sering kali melebihi usianya.
Tanpa berpikir panjang, mereka mengambil kardus yang sudah dilipat, kain bekas yang bersih dan kotak peralatan semir, kemudian berangkat. Jantung mereka berdebar karena merasa sudah melanggar janji kepada bundanya, bukan diam di dalam kontrakkan seperti yang Yasmin selalu tekankan, tapi rasa sayang pada bunda lebih besar dari rasa takut dimarahi.
Sesampainya di emperan toko yang ramai pengunjung, mereka menggelar kardus untuk alas. Setiap ada orang yang datang menggunakan sepatu pantofel, mereka berdiri lalu menawarkan jasanya.
"Semir sepatu, Pak, Bu... Murah loh, hasilnya pasti mengkilap!" Ujar Fatir seperti sudah yakin dengan hasil pekerjaannya.
"Supaya sepatunya bersih dan bagus! Kami bantu, Om.." Fathia pun ikut promosi.
Beberapa pria pun rela melepas sepatunya, dan tidak marah walau hasilnya tidak seperti yang anak-anak itu janjikan. Wajah Fatir dan Fathia pun cemong-cemong hitam kerena tangannya yang kotor mengusap keringat di dahinya.
Ada juga Ibu-ibu yang meletakkan uang di depannya hanya karena kasihan.
"Tidak mau Bu, kami bukan mau minta-minta," tolak Fatir dan Fathia ingat kata-kata Yasmin. "Hidup itu tidak boleh meminta-minta, jika ingin sesuatu harus bekerja."
"Tidak apa-apa, Nak," jawab si ibu sambil video dan ambil foto Fatir dan Fathia. Saat itu juga ia upload di medsos dan dia beri tulisan.
"Siang-siang begini dibuat bengong. Ada si kembar dari negara asing, menawarkan diri untuk menyemir sepatu saya. Jelas saya menolaknya, kasihan kan? Tapi begitu saya kasih uang secara cuma-cuma anak itu menolak. Kata mereka jika mau uang tidak boleh meminta-minta tapi harus kerja." Ketik si ibu dan dia tutup dengan emoji menangis.
.
Selama dua jam dua bocah itu sudah pintar menyemir. Fatir dengan teliti mengoleskan semir, sementara Fathia mengelap dan menggosok dengan kain hingga benar-benar bersih. Kecerdasan mereka terlihat jelas, hanya dengan mengamati dan meniru yang pernah mereka lihat dari tukang semir tidak jauh dari rumahnya dan akhirnya berhasil bekerja dengan rapi.
Banyak orang yang tersentuh melihat Fatir dan Fathia. Wajah tampan dan cantik tidak seperti orang Indonesia itu sungguh menggemaskan "Kalian ini masih kecil sekali, kenapa sudah cari uang?"
Fatir hanya tersenyum sambil menyimpan uang hasil jerih payahnya ke dalam saku baju, lalu menjawab dengan jujur.
"Kami mau bantu Bunda. Bunda bekerja keras untuk kami, sekarang giliran kami bantu Bunda," jawab Fatir polos.
Hingga menjelang solat dzuhur mereka tak kenal lelah. Tapi ia harus pulang untuk shalat terlebih dahulu, keringat menetes di dahi, tapi senyum tak pernah lepas dari bibir mereka. Setiap kali menerima uang koin atau lembaran kecil, hati mereka berbunga-bunga.
"Nanti Bunda pasti senang, Dek" ucap Fatir, sembari merapikan uang koin dan pecahan 10 ribu ke bawah.
"Tapi jangan sekarang kasih uangnya Kak, sebaiknya kita simpan dulu," Fathia yakin bundanya akan bertanya ini itu dari mana uang ini mereka dapat.
Di pinggir jalan tidak jauh dari mereka, kendaraan berlalu lalang. Salah satunya mobil mewah berwarna hitam mengkilap seorang pria yang duduk di kursi belakang tiba-tiba menegakkan badan. Matanya yang tajam menangkap pemandangan tak biasa di emperan toko, dua anak kecil tapi sibuk menyemir sepatu.
"Berhenti," Perintahnya kepada supir, tapi netranya tidak berpaling dari wajah anak-anak itu.
"Baik Tuan," jawab supir melambatkan kendaraan lalu terparkir di tepi jalan. Supir tahu kemana arah pandangan pria itu, lalu cepat turun dan membuka pintu tanpa bertanya.
Benar saja, pria yang ia panggil tuan itupun akhirnya turun dengan langkah wibawa mendekati Fatir dan Fathia, matanya meneliti wajah kedua bocah itu dengan perasaan heran sekaligus tertarik.
"Sepatunya mau kami semir juga, Om? Ini yang terakhir, loh, soalnya kami mau pulang sholat dzuhur," Fatir bukan menatap pria itu tapi lebih ke arah sepatu kelimis yang berhenti di hadapannya.
...~Bersambung~...
sbar dong Marco dia itu GK mudah percaya ma orang tau yass itu orang nya hati2 percaya ma orang..
hadeh siapa tuh cewe jangan jangan yang nyari marco lagi😌
entah lah hanya emak yg tau