Selama bertahun-tahun, Bee Catleen hidup sebagai putri kesayangan keluarga Luwis. Meskipun berstatus anak angkat, Bee selalu menerima cinta dan kasih sayang yang membuatnya merasa tidak pernah berbeda dari anggota keluarga lainnya.
Namun semuanya berubah ketika Jelita, putri kandung keluarga Luwis yang hilang selama lima belas tahun, akhirnya kembali.
Perlahan, perhatian yang dulu menjadi miliknya mulai beralih. Bee hanya bisa tersenyum dan berpura-pura bahagia demi melihat keluarganya kembali utuh. Di balik tawa ceria dan sifat humorisnya, Bee menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
Hari demi hari, Bee hidup dengan topeng kebahagiaan, hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang mampu melihat kesedihan yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memilihnya tanpa ragu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 JELITA
Di meja makan sudah tersedia sarapan hangat.
Jelita terlihat bangga. "Aku yang masak."
"Wah..." Bee langsung duduk. "Hebat banget."
Jelita tersenyum malu. "Aku membuat bubur sup udang."
Senyum Bee membeku sesaat. " Udang Lagi. " Namun hanya sepersekian detik.
Setelah itu Bee kembali tersenyum seperti biasa.
"Wah pasti enak."
Jelita langsung mengambil mangkuk. "Bee harus coba."
Bee ingin menolak, Sangat ingin. Namun melihat mata Jelita yang penuh harap membuat kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. "Sedikit ya."
"Iya."
Bee mengambil beberapa sendok kecil. Dalam hati ia sudah berencana minum obat alergi setelah ini.
Mamah Lana ikut mencicipi. "Enak sekali."
Papah Prans mengangguk. "Jelita ternyata berbakat memasak."
Wajah Jelita langsung berbinar.
Darius ikut tersenyum. "Nanti Kakak yang jadi pelanggan tetap."
Bee ikut bertepuk tangan. "Wah, kalau buka restoran aku dapat diskon kan?"
Jelita tertawa "Tentu."
Di tengah sarapan, Mamah Lana tiba-tiba berbicara. "Oh iya Bee."
"Hm?"
"Mulai hari ini Jelita kuliah di kampusmu."
Bee tersenyum. "Serius? Wah selamat." seru Bee
Jelita tampak senang.
Papah Prans menambahkan. "Karena itu mulai sekarang kalian berangkat bersama."
Bee mengangguk. "Baik, Pah." Jawab Bee
"Lalu..." lanjut Mamah Lana. "Tolong jaga Jelita ya."
"Tentu."
Darius ikut menimpali. "Kalau ada yang mengganggu Jelita, kamu harus melindunginya."
Bee tertawa kecil. "Kak, memangnya aku satpam?"
"Kamu lebih galak dari satpam."
"Fitnah lagi." Kesal Bee memanyunkan bibirnya kesal.
Darius terkekeh.
Lalu ekspresinya berubah lembut. "Jelita masih beradaptasi dengan kehidupan kota."
Bee mengangguk patuh "Bee mengerti."
Jelita langsung tersenyum bahagia. "Terima kasih."
Bee membalas senyuman itu. "Santai saja."
Tak lama kemudian mereka berangkat ke kampus.
Sepanjang perjalanan, Jelita terlihat sangat bersemangat.
Jelita terus bercerita tanpa henti. "Bee tahu tidak? Kemarin aku senang sekali."
"Hm?"
"Kami tidak cuma makan malam."
Bee tersenyum. "Oh ya?"
"Iya!"
Jelita tampak sangat antusias. "Kak Darius juga membelikanku hadiah."
Bee menoleh. "Hadiah?"
Jelita langsung menunjukkan kalung berlian yang melingkar di lehernya. Berlian kecil itu berkilauan terkena sinar matahari. "Bagus tidak?"
Bee terdiam sesaat, Kalung itu sangat cantik. "Bagus sekali."
"Kan?" Jelita tersenyum lebar. "Aku sangat menyukainya."
Bee ikut tersenyum, Meski entah kenapa dadanya terasa sedikit sesak.
Dulu Darius juga sering memberinya hadiah Namun sekarang... Bee buru-buru membuang pikiran itu.
Jelita tidak salah.
Jelita hanya sedang bahagia Dan Bee tidak ingin merusak kebahagiaan itu.
Sesampainya di kampus, Cristal langsung berlari menghampiri Bee. "Bee!"
Bee tersenyum "Pagi."
Cristal langsung memeriksa wajah Bee. "Gimana keadaanmu?"
"Masih hidup."
"Bee!"
"Aku bercanda."
Cristal menghela napas lega. "Jangan bikin aku panik."
Barulah Cristal menyadari ada seorang gadis berdiri di samping Bee. "Eh?" Matanya berpindah antara Bee dan Jelita.
"Siapa dia?"
Bee tersenyum "Oh iya."
Bee merangkul bahu Jelita. "Kenalkan." Kata Bee "Ini Jelita."
Jelita tersenyum ramah "Halo."
Bee melanjutkan "Dia putri kandung Mamah Lana dan Papah Prans."
Cristal langsung membeku "Apa?"
Bee mengangguk pelan. "Jelita baru kembali ke keluarga kami."
Cristal menatap Bee.
Lalu menatap Jelita.
Lalu menatap Bee lagi.
Ada rasa sedih yang tiba-tiba muncul di matanya.
Karena Cristal tahu.
Bee bukan anak kandung keluarga Luwis Dan sekarang... Putri kandung mereka telah kembali.
Sementara itu Jelita terlihat bangga.
"Halo semuanya."
Beberapa teman Bee mulai mendekat.
"Aku Jelita Luwis." Jelita tersenyum lebar "Aku putri kandung keluarga Luwis yang baru ditemukan."
Teman-teman Bee langsung terlihat terkejut. "Oh begitu."
"Wah..."
"Selamat ya."
Jelita terus tersenyum tanpa menyadari perubahan ekspresi Bee.
Bee tetap berdiri di sana Tersenyum, Mendengarkan semuanya. Meski setiap kali mendengar kata putri kandung keluarga Luwis, ada sesuatu yang terasa menusuk di hatinya.
Jelita terus menempel di samping Bee Bahkan menggandeng lengannya Seolah tidak menyadari apa pun.
Saat Jelita pergi sebentar untuk mengurus administrasi kampus, Cristal langsung menarik Bee.
"Bee."
"Hm?"
"Kalau kamu sudah tidak betah tinggal di keluarga Luwis..."
Bee menoleh.
"Kamu pindah saja ke rumahku."
Bee tertawa kecil "Cristal."
"Aku serius."
Tatapan Cristal terlihat sungguh-sungguh.
Bee merasa hangat, Sangat hangat.
Di saat dirinya berusaha terlihat kuat, masih ada seseorang yang memikirkan perasaannya, Bee lalu tersenyum lembut. "Terima kasih, sahabatku."
Cristal mendengus "Aku tidak suka gadis itu."
"Jangan begitu." Keluh Cristal "Dia membuatku kesal."
Bee menggeleng sambil tertawa "Itu memang kenyataannya."
"Kenyataan apa?"
Bee menatap langit sejenak.. Bahwa dirinya memang bukan anak kandung keluarga Luwis, Namun ia tidak mengucapkannya.
Sebaliknya, Bee kembali tersenyum ceria. "Sudah, jangan marah."
Cristal memeluk lengan Bee. "Aku tetap di pihakmu."
Dan untuk pertama kalinya pagi itu... Senyuman Bee terlihat sedikit lebih tulus. Karena setidaknya ia tahu, ada seseorang yang memilih berdiri di sisinya tanpa perlu alasan apa pun.
Suasana kelas yang awalnya tenang mendadak menjadi ramai ketika dosen meminta mahasiswi baru untuk memperkenalkan diri.
Jelita berdiri dari kursinya dengan wajah penuh percaya diri. "Halo semuanya. Namaku Jelita Luwis."
Beberapa mahasiswa langsung memperhatikan.
"Aku mahasiswa baru yang pindah ke kampus ini."
Jelita tersenyum lebar. "Lalu... mungkin ada yang belum tahu."
Bee yang sedang membuka bukunya perlahan mengangkat kepala.
"Aku adalah putri kandung keluarga Luwis yang baru kembali setelah terpisah selama lima belas tahun."
Kelas langsung dipenuhi bisikan kecil. "Putri kandung?"
"Keluarga Luwis yang itu?"
"Wah..."
"Terus Bee siapa?" Bisik mereka
" Jangan-jangan Bee anak angkat keluarga luwis? "
Beberapa pasang mata mulai melirik ke arah Bee.
Tatapan penasaran.
Tatapan heran.
Bahkan ada yang terlihat iba.
Bee pura-pura tidak mendengar. Ia kembali membuka bukunya dan membaca materi kuliah.
Namun Cristal yang duduk di sampingnya langsung memasang wajah kesal.
Sementara itu, Jelita masih tersenyum bangga tanpa menyadari suasana yang mulai berubah.
Setelah Jelita duduk kembali, Cristal langsung berbisik pelan. "Apa maksud dia ngomong seperti itu?"
Bee tetap fokus pada bukunya. "Hm?"
"Apa dia gak bisa menghargai perasaan kamu, Bee?"
Bee tersenyum kecil. "Sudah, biarkan saja."
"Tapi... "
"Cristal."
Bee menoleh. "Aku baik-baik saja."
Cristal mendengus. Ia tahu Bee sedang berusaha terlihat kuat Dan justru itu yang membuatnya semakin kesal.