“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”
Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Pindah
Tin! Tin! Tin!
Alia terus membunyikan klakson mobilnya tanpa henti, memaksa menerobos kemacetan yang memenuhi jalan. Beberapa pengendara bahkan sempat memakinya karena ulahnya.
Namun, Alia tidak memedulikannya. Tatapannya tetap lurus ke depan. Hanya ada satu tujuan di benaknya, secepat mungkin tiba di kantor Nathan.
Ciiit!
Mobil Alia berhenti mendadak di depan lobi Regen Corporation.
"Maaf, Bu. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang satpam yang segera menghampirinya begitu ia turun dari mobil.
"Minggir!" bentak Alia sambil mendorong bahu satpam itu hingga pria tersebut terhuyung selangkah.
Tanpa menoleh lagi, Alia berjalan cepat menuju meja resepsionis.
"Aku ingin bertemu dengan bos kalian."
Kedua resepsionis saling berpandangan sebelum salah seorang dari mereka akhirnya angkat bicara.
"Maaf, Bu. Apakah Ibu sudah membuat janji sebelumnya?"
"Katakan pada Nathan, Alia ingin bertemu dengannya." Suara Alia bergetar, bercampur amarah yang berusaha ia tahan.
Salah satu resepsionis segera mengangkat telepon di meja dan menghubungi sekretaris pribadi Nathan.
Tak lama kemudian, panggilan itu berakhir. "Bu Alia, mari saya antar."
Tanpa menjawab, Alia langsung mengikuti resepsionis menuju lantai tempat kantor Nathan berada.
Begitu tiba, ia melangkah lurus ke depan. Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu ruang kerja Nathan hingga terbuka lebar. Tindakannya membuat sekretaris Nathan dan resepsionis yang mengantarnya sama-sama terkejut.
Pandangan Alia langsung tertuju pada Nathan yang masih duduk tenang di balik meja kerjanya. Pria itu sedang menandatangani beberapa dokumen, seolah tidak terusik oleh kedatangannya.
Alia menghampirinya dengan langkah cepat hingga berhenti tepat di depan meja.
Barulah Nathan mendongak menatapnya sekilas. Namun, alih-alih berbicara, ia kembali mengalihkan perhatian pada berkas-berkas di tangannya. Satu per satu dokumen itu ia tanda tangani tanpa memedulikan keberadaan Alia.
"Apa kau yang menyebarkan berita itu?" tanya Alia. Suaranya bergetar, antara marah dan takut.
Nathan akhirnya mendongak. Tatapannya bertemu dengan Alia sejenak sebelum ia meletakkan berkas di tangannya. Tubuhnya kemudian bersandar tenang pada kursi.
"Apa Tuan Dison sedang diperiksa polisi?" tanyanya dengan senyum tipis.
Semalam, setelah mengantar Arin kembali ke apartemen, Nathan langsung menemui Victor.
Ia meminta seluruh informasi yang dimiliki ayahnya mengenai Dison.
Sebagai keluarga yang telah puluhan tahun berada di puncak dunia bisnis, Regen Corporation menyimpan jauh lebih banyak daripada sekadar laporan keuangan. Selama beberapa dekade, banyak tokoh politik, bahkan pejabat tertinggi negara, pernah menerima dukungan dana dari keluarga Regen demi kepentingan mereka. Tanpa sepengetahuan para penerima, Victor dan pendahulunya telah menyimpan jejak setiap transaksi itu.
Karena itulah, tidak butuh waktu lama bagi Victor menemukan catatan keuangan Dison yang bermasalah. Begitu informasi itu bocor ke publik, semuanya berbalik menjadi bumerang bagi Dison dan keluarganya.
"Ayahku tidak ada hubungannya dengan apa yang kulakukan," ucap Alia lirih.
Air matanya mulai jatuh satu per satu. Untuk pertama kalinya sejak datang ke gedung ini, kemarahan di wajahnya berubah menjadi kepanikan.
Alia melangkah mendekati Nathan hingga berhenti tepat di depan kursinya.
Perlahan, ia menjatuhkan diri berlutut.
"Maafkan aku... A-aku minta maaf."
Tangisnya pecah. Air mata mengalir deras di kedua pipinya, sementara kepalanya tertunduk di hadapan Nathan.
"Berdiri."
Suara Nathan tetap tenang. Tatapannya tertuju pada Alia yang masih berlutut dengan kepala tertunduk di hadapannya.
Sesaat, percakapannya dengan Aldo dan Leon, teman lamanya semasa kuliah di Harvard, kembali terlintas di benaknya.
Nathan memang sempat menceritakan kejadian di kantor Alia pada mereka melalui sambungan telepon. Aldo terkejut mendengar cerita itu. Namun, Leon justru tidak menunjukkan reaksi yang sama.
{Waktu kita masih kuliah di Harvard, Alia beberapa kali memintaku mengenalkannya padamu,} ujar Leon. {Aku bahkan pernah mempertemukan kalian. Aku juga sempat berusaha membantu Alia mendekatimu, tapi kau sama sekali tidak pernah meliriknya.}
Baru saat itulah Nathan mengetahui semua itu. Ia baru menyadari bahwa perasaan Alia ternyata telah tumbuh jauh sebelum kedua keluarga mereka merencanakan pertunangan.
"Aku mohon..." suara Alia kembali menarik Nathan dari lamunannya. "Ayah tidak bersalah. Tolong... bantu dia."
Nathan menatap wanita yang masih berlutut di hadapannya.
"...Baiklah."
Alia langsung mendongakkan kepala. Mata mereka bertemu.
"Aku... aku hanya tidak terima. Aku... aku hanya..."
"Berdiri."
Nathan memotong ucapannya sebelum Alia sempat melanjutkan.
Dengan air mata yang masih mengalir, Alia perlahan berdiri. "Nathan... aku salah."
Nathan terdiam. Jemari telunjuk tangan kirinya mengetuk permukaan meja dengan irama pelan, sementara tatapannya tidak pernah lepas dari Alia. Ia tampak sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Tadi... saat menuju kemari, aku sangat marah." Suara Alia terdengar serak. "Aku bahkan ingin membunuhmu."
Mendengar itu Nathan sedikit tersenyum.
"Tapi... begitu melihatmu, aku hanya bisa menangis."
Ruangan kini kembali hening.
"Bagaimana kau akan membantu Ayahku?" tanya Alia hati-hati.
Nathan mengangkat pandangannya.
"Apa aku pernah mengatakan akan membantunya?" tanyanya datar. "Aku hanya memintamu berdiri."
Kedua tangan Alia perlahan mengepal.
"Lalu... apa yang kau inginkan dariku?" Suaranya kembali bergetar. "Nathan, aku salah. Aku benar-benar salah. Ayahku tidak bersalah."
Nathan melirik jam di pergelangan tangannya. Setelah beberapa saat, ia bangkit dari kursinya, mengambil jas yang tergantung di sandaran kursi, lalu mengenakannya.
Melihat Nathan hendak pergi, Alia refleks menggenggam lengannya dengan kedua tangan.
"Nathan... aku mohon." Air matanya kembali mengalir. "Katakan apa yang harus kulakukan. Apapun akan kulakukan. Tapi tolong... selamatkan Ayahku. Kami akan sangat berguna untukmu."
Meski Nathan telah berhenti melangkah, Alia tidak juga melepaskan genggamannya.
"Berguna untukku?" ulang Nathan pelan sambil menatap Alia lekat.
Alia segera mengangguk. "Iya... kami akan sangat berguna untukmu."
Nathan terdiam beberapa saat.
Perlahan, ujung jarinya menyentuh pipi Alia, menghapus sisa air mata yang masih membekas. Sentuhan itu hanya berlangsung sesaat sebelum ia menarik tangannya kembali.
"Seharusnya kau mengatakan itu sejak awal," ucap Nathan tenang.
"Aku akan membereskannya."
Nathan kemudian melepaskan tangan Alia yang masih menggenggam lengannya.
"Berapa lama?" tanya Alia cepat.
"Malam ini."
Nathan melangkah melewatinya. Namun, sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sejenak.
"Sebagai peringatan... salah satu anggota keluargamu akan menggantikan posisinya."
Wajah Alia seketika memucat.
"Jangan... Abram."
Nathan menoleh sekilas ke arahnya. "Kau sangat mencintai kakakmu."
Tanpa menunggu jawaban, Nathan kembali melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Alia yang masih berdiri mematung. Tatapannya terus mengikuti kepergian Nathan hingga pintu ruang kerja itu tertutup.
...*****...
{Hari ini,} jawab Arin melalui sambungan telepon.
Ia melirik jam di layar ponselnya.
{Seharusnya sebentar lagi Nathan sampai.}
{Apa vila itu cukup jauh?} tanya Intan setelah mendengar bahwa Arin akan pindah.
{Aku belum begitu hafal jalannya. Rasanya memang cukup jauh, tapi kalau naik mobil seharusnya tidak terlalu lama,} jawab Arin. {Aku baru sekali ke sana.}
{Kapan kau sudah boleh keluar? Apa masih lama?}
{Nathan bilang sekitar tiga bulan. Tapi nanti akan kutanyakan lagi padanya.}
{Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu? Maksudku, apa nanti kau akan kembali bekerja?}
Pertanyaan itu membuat Arin terdiam sejenak. Ia memang sangat ingin kembali bekerja.
Namun, sejak menikah dengan Nathan, ia belum pernah benar-benar memikirkan bagaimana kelanjutan pekerjaannya. Kini pertanyaan itu justru berubah menjadi pertanyaan untuk dirinya sendiri.
Tok... tok...
Suara ketukan pintu membuat Arin menoleh.
{Intan, nanti aku menghubungimu lagi. Nathan sudah sampai.}
{Baik. Hati-hati, ya.}
Setelah berpamitan, Arin mengakhiri panggilan.
Ia segera berjalan menuju pintu. Begitu membukanya, Nathan sudah berdiri di sana.
"Kita pergi."
Hanya itu yang diucapkannya.
Arin mengangguk pelan, lalu mengikuti Nathan.
— — —
Dalam perjalanan menuju vila, keheningan kembali menyelimuti mereka.
Beberapa saat kemudian, Nathan mengambil sebuah amplop cokelat dari samping kursinya dan menyerahkannya kepada Arin.
"Buka."
Arin menerimanya tanpa bertanya. Saat isi amplop itu dikeluarkan, ia seketika terdiam.
Di dalamnya terdapat tiga kartu.
Dua di antaranya adalah American Express Centurion Card (Black Card) dan American Express Platinum Card.
Sementara kartu terakhir adalah Regen Group Private Family Debit Card, kartu eksklusif yang hanya dimiliki anggota keluarga besar Regen Corporation. Kartu itu memberikan akses ke seluruh hotel, properti, dan fasilitas milik Regen Group tanpa perlu melakukan reservasi terlebih dahulu.
Arin mengenali ketiga kartu tersebut.
Selama bertahun-tahun bekerja di hotel, ia tahu betul bahwa kartu-kartu itu bukan sekadar alat pembayaran, melainkan simbol status yang hanya dimiliki segelintir orang.
Arin perlahan mengangkat pandangannya.
"Ini..."
"Semuanya milikmu," jawab Nathan singkat. Tatapannya tetap lurus ke jalan.
Arin tidak bertanya lagi. Ia menyimpan kembali ketiga kartu itu ke dalam amplop, lalu memegangnya di pangkuannya.
Sekitar satu jam kemudian, Nathan memecah keheningan.
"Kita sudah dekat."
Arin menoleh ke luar jendela.
"Aku kira masih jauh."
"Tidak. Vila kita tidak terlalu jauh dari apartemen."
Mobil perlahan memasuki kawasan vila.
Sesampainya di depan rumah, Nathan dan Arin turun dari mobil. Beberapa pelayan yang telah menunggu langsung menyambut kedatangan mereka dengan membungkukkan badan.
Nathan membalasnya dengan anggukan singkat. Pemandangan seperti itu sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
Sebaliknya, Arin yang belum terbiasa justru ikut membungkukkan badan kepada para pelayan sebagai balasan.
Nathan sempat memperhatikannya, tetapi tidak mengatakan apa pun. Ia hanya mengangkat tangan memberi isyarat agar Arin berdiri di sampingnya.
Arin segera menghampiri Nathan hingga berdiri sejajar di sisinya.
Nathan memandang seluruh pelayan yang berdiri rapi di hadapan mereka.
"Perkenalkan."
Suasana seketika menjadi hening.
"Ini istriku, Arin Regen."
Nathan berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Mulai hari ini, dia adalah nyonya rumah ini. Apa pun yang ingin kalian lakukan, mintalah persetujuannya terlebih dahulu. Perintahnya adalah perintahku."
"Baik Tuan," jawab para pelayan serempak.
Nathan lalu menoleh kepada Arin.
"Ayo."
Bersama, mereka melangkah masuk ke dalam vila yang mulai hari itu menjadi rumah mereka.