Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FESTIVAL APEL
Keheningan menyelimuti halaman belakang sesaat setelah ledakan emosi Akira mereda. Akira masih menunduk, menatap tanah dengan bahu yang naik turun tidak beraturan.
"Kau ingat saat pertama kali kita bertemu?" bisik Yukari lembut. Akira mendongak, menatap mata Yukari yang jernih. "Kau memandangku penuh kebencian. Kau marah karena kami menyelamatkanmu dari sungai. Saat itu tubuhmu remuk, Akira-san. Butuh waktu yang sangat lama bagi tubuhmu untuk bisa sembuh, sampai akhirnya kau bisa tersenyum padaku dan tubuhmu cukup kuat untuk menghajar Hiroshi semalam—padahal dulu, ke kamar mandi saja kau harus kupapah."
Yukari tersenyum, senyum yang paling menenangkan yang pernah Akira lihat. "Semua butuh waktu. Jika kau belum siap menghubungi mereka sekarang, kau tidak perlu melakukannya. Jangan paksa dirimu."
Akira terdiam. Ia tidak menjawab, namun kepalan tangannya perlahan mengendur.
***
Waktu bergulir hingga menjelang sore. Yukari mengenakan pakaian santai Rambut panjangnya ia kepang ke samping, dihiasi pita berwarna maron yang manis di ujungnya. Ia memadukan kemeja putih dengan cardigan maroon serta rok plisket abu-abu dengan motif bunga kecil
Saat ia keluar dari kamar, Akira sudah menunggunya di ruang tengah.
Yukari terkesiap. Ia telah membongkar lemari mendiang ayahnya dan memberikan pakaian itu pada Akira: kemeja flanel yang pas di bahu tegapnya, lengan nya digulung hingga ke siku, kaus putih sebagai dalaman, dan celana cargo hitam.
"Apa... apa ini aneh?" tanya Akira, sedikit menarik ujung kemeja itu dengan wajah yang tampak agak canggung. "Aku khawatir kau minder karena harus memakai baju mendiang Ayahku," jawab Yukari jujur, menatap Akira dengan tatapan menilai.
Akira justru tersenyum lebar—senyum pertama yang benar-benar lepas hari ini. "Minder? Sama sekali tidak. Ayahmu ternyata sangat fashionable. Baju ini nyaman sekali, dan rasanya... aku jadi merasa lebih percaya diri."
Yukari tertawa renyah, tawa yang membuat suasana hati Akira seketika menjadi ringan.
"Ya... mungkin karena kau sudah cukup sering memakai baju Ayah selama ini"
"terkadang saat menatapmu, aku seperti melihat sosok Ayah kembali," ucap Yukari tanpa sadar dalam hati, matanya menyiratkan kehangatan yang mendalam.
Mereka pun beranjak meninggalkan rumah. Karena balai desa tidak terlalu jauh, mereka memilih untuk berjalan kaki menyusuri jalan setapak desa yang mulai ramai.
Semakin dekat mereka ke tujuan, suara keriuhan musik tradisional dari balai desa mulai terdengar sayup-sayup, disusul oleh aroma manis apel yang terbawa angin.
Suasana desa yang biasanya sepi dan tenang, sore ini mendadak berubah drastis menjadi lautan manusia yang sangat ramai dan meriah. Warga lokal hingga wisatawan dari luar daerah tampak memadati setiap sudut lapangan.
Di tengah lapangan ada sebuah panggung musik besar telah berdiri kokoh, mengalunkan lagu-lagu riang yang dibawakan oleh band lokal untuk membakar semangat pengunjung. Lampion-lampion gantung berbentuk apel merah mulai menyala satu per satu di sepanjang jalur, berpadu dengan deretan stan dekoratif yang menjual berbagai macam pernak-pernik dan segala olahan berbahan dasar apel.
Saat Akira dan Yukari masih terpukau memandangi keriuhan di sekitar mereka, tiba-tiba seorang gadis manis melangkah riang mendekati mereka. Penampilannya tampak sangat modis, kasual, dan memancarkan aura aktif; rambutnya sebahu , ia mengenakan jaket denim dengan tanktop hitam di dalamnya, serta rok denim senada yang modis.
Gadis itu tersenyum lebar penuh energi, lalu menyodorkan selembar kertas berwarna cerah kepada Yukari.
"Halo! Selamat datang di Festival Apel!" sapa gadis itu ramah dengan suara yang lantang dan ceria. "Supaya kalian tidak tersesat di tengah keramaian, ini brosur acaranya ya! Di dalam sudah lengkap ada denah lokasi stan makanan, pameran, dan juga jadwal acara hari ini. Selamat menikmati!"
"Ah, iya... terima kasih banyak," jawab Yukari sambil menerima brosur tersebut dengan sopan. Gadis denim itu mengangguk ceria lalu segera berbalik untuk membagikan brosur kepada pengunjung lain.
Yukari segera mendekat ke sisi Akira, membuka lipatan brosur tersebut agar mereka bisa melihat petanya bersama-sama. "Wah, seru sekali... Kita mau ke mana dulu, Akira-san?" tanya Yukari mendongak, matanya berbinar antusias.
Akira melirik gadis di sampingnya itu sembari menyunggingkan senyuman tipis yang menggoda. "Bagaimana kalau kita mencari apel karamel yang sangat kau banggakan itu?"
Mendengar kata 'apel karamel', wajah Yukari langsung berseri-seri. "Ah, benar! Ayo!"
Yukari mulai berjalan mendahului Akira dengan mata yang masih fokus membaca lembar peta di brosur. Langkahnya agak tergesa karena terlalu bersemangat. "Em... kalau lihat dari petanya, lokasi stan makanan manis ada di sebelah sana..."
Yukari mengangkat tangannya, bermaksud menunjuk ke arah depan. Namun, karena berjalan sambil menunduk menatap brosur, ia tidak memperhatikan jalan dengan benar. Ujung jari telunjuk Yukari justru hampir mengenai wajah seorang pria asing yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya.
"Ah! Gomen nasai! Maafkan saya...!" Yukari terperanjat kaget, langsung menarik tangannya kembali dan menundukkan kepalanya berkali-kali dengan panik.
Pria asing itu mendengkus kesal, menatap Yukari dengan tatapan tajam. "Lain kali lihat-lihat jalan kalau sedang berjalan!" omel pria itu sebelum akhirnya berlalu pergi menembus kerumunan.
Melihat kecerobohan gadis ini Akira yang berdiri di belakangnya tidak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh pelan. Akira mengambil langkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Tanpa peringatan Dia mengulurkan tangan besarnya, meraih jemari lentik Yukari, lalu menggenggamnya dengan sangat erat dan hangat.
Deg.
Yukari seketika mematung di tempatnya. Pandangannya perlahan turun, menatap tangannya yang kini telah tenggelam sepenuhnya di dalam genggaman tangan Akira. Hawa hangat dari telapak tangan pria itu mengalir cepat, membuat wajah Yukari seketika memerah sempurna sewarna buah apel matang.
"A-Akira-san... Tapi ini..." Yukari terbata-bata, lidahnya mendadak kelu karena rasa salah tingkah yang menyerang hebat.
Pria itu tetap menatap lurus ke depan, menyembunyikan debaran aneh di dadanya sendiri dengan memasang wajah setenang mungkin.
"Tempat ini sangat ramai, Yukari-san," potong Akira dengan nada suara rendah namun terdengar begitu protektif. "Aku tidak ingin Daiki mengomeliku semalaman nanti karena aku tidak menjagamu dengan baik di sini."
Sebuah senyuman tipis yang sangat menawan terukir di bibir duda ganteng itu saat ia berbisik pelan, "Dan... ini jangan dimasukkan ke dalam misi buku memo kuningmu, ya."
Akira langsung menarik lembut tangan gadis itu, membimbingnya membelah kerumunan orang menuju area stan makanan, Yukari yang hanya bisa mengekor pasrah dengan wajah yang terasa terbakar.
Mereka tiba di depan stan yang dituju. Gadis itu memesan dua buah kepada sang penjual.
Sembari menunggu penjual membungkus pesanan mereka, Yukari melirik ke beberapa stand disamping stand apel karamel, ia sudah mulai mengincar barang apa lagi akan dibeli.. " aku tidak melihat daiki dimana pun,, kemana dia?" akira juga ikut melihat ke sekeliling "setelah ini kita akan menelpon dia " yukari mengangguk, gadis itu masih menuntun pandangannya untuk bergerak menyapu ke arah kerumunan orang di seberang stan.
Detik itu juga, senyum di bibir Yukari membeku. Wajahnya seketika memucat pasi kehilangan rona darah.
Tepat di antara lautan manusia yang sedang bersuka ria, mata Yukari menangkap siluet seorang pria yang berdiri diam, mematung memandangnya dengan tatapan intens yang sangat dingin. Pria itu mengenakan hoodie hitam tebal dengan tudung yang sengaja ditarik agak rendah untuk menyembunyikan sebagian wajahnya.
Hiroshi-san?!
Nama itu menjerit histeris di dalam benak Yukari. Perdebatan hebat langsung berkecamuk di dalam hatinya, saling hantam dengan logika.
Tidak... gak mungkin itu Hiroshi. Dia sudah pergi jauh semalam... akira-san sudah mengusirnya! Tapi... tapi wajah itu... Aku ingat jelas wajah pria tadi!
Napas Yukari memburu. Ada satu detail mengerikan yang membuat seluruh sendi tubuhnya lemas seketika. Pria ber-hoodie hitam di seberang sana memiliki bekas luka lebam yang masih segar di wajahnya—tepat di bagian pipi yang dihantam oleh kepalan tinju Akira semalam.
Dengan tubuh yang mulai bergetar hebat, Yukari secara refleks menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Rasa takut yang teramat sangat memaksanya untuk mundur beberapa langkah demi menjauh. Namun, karena fokusnya terkunci pada sosok ber-hoodie hitam tersebut, Yukari kehilangan keseimbangan dan menabrak pengunjung lain di belakangnya.
"Ah... go-gomen nasai... (Maafkan saya)..." bisik Yukari dengan suara bergetar tanpa berani menoleh ke belakang.
Yukari kembali mengedarkan pandangannya ke seberang jalan, mencoba mencari kembali sosok tadi. Namun, pria misterius ber-hoodie hitam itu telah menghilang, melebur bersama kerumunan orang yang berlalu-lalang seolah-olah ia hanyalah hantu di siang bolong.
"Ada apa, Yukari-san?"
Suara berat Akira mendadak memecah kepanikan Yukari. Pria itu tampak sangat kaget menyadari perubahan drastis pada gadis di sampingnya. Akira segera memutar tubuhnya, memegang kedua bahu Yukari yang terasa dingin dan gemetar hebat.
Yukari mendongak pelan, menatap lekat-lekat sepasang mata Akira dengan pandangan yang dipenuhi ketakutan mendalam dan air mata yang mulai mengenang di pelupuknya.
"Aku... aku seperti melihat..." kalimat Yukari menggantung di udara, bibirnya terlalu kelu untuk melanjutkan.