Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Sapa dan Penilaian Tersembunyi
Begitu melangkah masuk ke dalam aula utama yang luas dan megah, suasana hangat serta aroma rempah dan bunga segar segera menyambut kehadiran mereka. Di tengah ruangan yang diterangi cahaya lampu gantung berkilauan, duduklah para nyonya dan tamu terhormat yang telah berkumpul sejak tadi. Melihat kedatangan Yanfei dan Yan Xumin, keduanya segera melangkah mendekat ke arah tempat duduk keluarga inti, mengangkat tangan sedikit memberi salam dengan sikap yang sangat sopan dan anggun.
“Bibi, Ibu, Nenek,” sapa Yanfei dengan suara lembut namun jelas, membuat suasana di sekitarnya terasa semakin akrab.
“Fei Fei, akhirnya kau datang juga,” jawab Nyonya Wei dengan nada yang terasa lebih hangat dibandingkan saat menyapa tamu lain.
Mengikuti jejak sahabatnya, Yan Xumin pun membungkukkan badannya dengan sikap penuh penghormatan, menyapa satu per satu wanita yang duduk di tempat kehormatan itu. “Saya menyapa Nyonya Wei, Nenek, dan Bibi Duan. Semoga hari ini selalu dalam keadaan sehat dan bahagia.”
Namun, jawaban yang diterimanya tidak sehangat yang ia harapkan. Nyonya Wei hanya melambaikan tangan dengan wajah datar dan nada bicara yang terdengar acuh tak acuh. “Sudah, jangan terlalu sungkan dan berlebihan.”
Sejak pertama kali mengenal Yan Xumin, Nyonya Wei memang tidak pernah memiliki perasaan yang baik terhadap gadis itu.
Di matanya, gadis yang berasal dari keluarga pedagang ini hanyalah sosok yang pandai bersandiwara dan penuh tipu daya. Bagaimana mungkin seseorang yang berasal dari latar belakang biasa bisa dengan mudah mendekati dan menjadi teman dekat serta sahabat belajar putri dari keluarga Menteri Kanan yang paling berkuasa? Menurut penilaiannya, hal itu tidak mungkin terjadi tanpa adanya rencana yang matang atau sifat licik yang tersembunyi.
Ia selalu berpikir bahwa keramahan dan senyum lembut yang ditunjukkan Yan Xumin selama ini hanyalah topeng belaka untuk menutupi niat aslinya.
Yang membuat Nyonya Wei semakin kesal adalah melihat betapa tulusnya anggota keluarganya sendiri menyayangi gadis itu. Ibu Yanfei, kakak-kakaknya, adik-adiknya, bahkan para ipar dan keponakan kecil di kediaman Duan semuanya terlihat begitu percaya dan menyayangi Yan Xumin seolah ia bagian dari keluarga sendiri. Semua orang itu seolah tidak melihat kebalikannya, tertipu oleh penampilan lembut dan sikap manisnya, hal itu membuat hati Nyonya Wei merasa tidak tenang dan terus merasa curiga.
Namun, di sisi lain, terdapat Nyonya Tua—nenek tertua keluarga Wei—yang memiliki pandangan yang sangat berbeda. Mendengar sapaan Yan Xumin, wajahnya segera berseri-seri dan tersenyum lebar hingga kerutan di sudut matanya terlihat jelas. Ia melambaikan tangan dengan penuh kasih sayang. “Anak yang baik, kita ini sudah seperti keluarga sendiri. Tidak perlu terlalu sopan dan kaku seperti itu, duduklah di dekatku.”
Setiap kali melihat Yan Xumin, hati Nyonya Tua selalu merasa puas dan senang. Menurutnya, gadis itu memiliki sikap yang lembut, pandai menjaga tutur kata, dan tahu cara menghormati orang yang lebih tua. Jika saja Kaisar tidak mengeluarkan perintah untuk menjodohkannya menjadi selir Putra Raja Xiao, Nyonya Tua sudah berniat menjodohkan gadis itu dengan salah satu cucu laki-lakinya sendiri. Sungguh disayangkan menurutnya, gadis muda yang memiliki sifat sebaik itu sudah terlebih dahulu diatur nasibnya oleh pihak istana.
Namun, di dalam hatinya pun tetap terselip rasa penasaran yang tidak bisa dihilangkan. Seorang gadis yang awalnya hanya putri pedagang yang dianggap rendah, mampu menarik perhatian Kaisar hingga diangkat menjadi putri dan kemudian dijadikan calon selir seorang raja yang sangat berkuasa dan disegani. Pencapaian yang begitu luar biasa itu membuatnya bertanya-tanya dalam hati: seberapa besar kemampuan dan seberapa licikkah pikiran gadis ini sebenarnya?
Sementara itu, Nyonya Wei mengalihkan pandangannya dari Yan Xumin dan menatap penuh kasih sayang ke arah keponakan kesayangannya, Yanfei. Ia segera menepuk-nepuk kursi kosong di sebelah kanannya, memberi isyarat agar gadis itu mendekat.
“Fei Fei, kemarilah dan duduklah di sisi Bibi. Biarkan Bibi melihatmu lebih dekat dan memastikan kondisimu,” ujar Nyonya Wei dengan nada lembut yang sangat kontras dengan nada bicaranya tadi.
Yanfei tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat sambil menoleh sekilas ke arah tempat duduk di seberang sana, di mana ibunya—Nyonya Duan—sedang duduk dengan tenang. Melihat tatapan putrinya, Nyonya Duan hanya mengangguk perlahan dengan senyum bangga, memberi isyarat agar ia merasa nyaman dan tidak perlu canggung.
Begitu Yanfei duduk di sampingnya, Nyonya Wei segera meraih tangan gadis itu dan memegangnya dengan lembut, lalu menatap wajah Yanfei dari dekat seolah ingin mengamati setiap perubahan yang terjadi selama ia pergi meninggalkan ibu kota selama enam tahun itu.
“Sudah sangat lama kita tidak bertemu, Nak. Lihatlah dirimu sekarang, kulitmu semakin halus dan cerah, wajahmu semakin cantik berseri, serta postur tubuhmu semakin anggun dan sempurna,” puji Nyonya Wei dengan tulus. Baginya, keponakan ini tetaplah gadis yang sama seperti enam tahun lalu, memiliki kelembutan hati yang sama, serta sifat manja dan tulus yang selalu membuatnya merasa disayangi.
Yanfei hanya tersenyum mendengar pujian itu, lalu berpura-pura mengerutkan kening dan memasang wajah sedikit cemberut, membuat suasana menjadi lebih santai. “Bibi, bicaramu itu seolah-olah aku baru saja menjadi cantik saat ini saja. Apakah Bibi lupa bagaimana penampilan aku saat masih kecil dan remaja? Meskipun sekarang terlihat lebih dewasa, saat muda pun aku tidak kalah menariknya, bukan?”
Mendengar ucapan itu, Nyonya Wei tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. “Dasar anak nakal, sudah besar tapi masih pandai memuji dirinya sendiri.”
Namun, di balik candaannya itu, Nyonya Wei merasa sangat lega dan tenang. Selama 7 tahun terakhir, ia selalu khawatir mendengar kabar bahwa tubuh Yanfei sering sakit-sakitan dan harus berjuang memulihkan kesehatannya jauh dari rumah. Kini melihat gadis itu kembali dengan wajah segar, tatapan mata yang cerah, dan aura yang lebih kuat serta tenang, hatinya merasa sangat puas dan bersyukur. Keponakan kesayangannya itu akhirnya pulang dalam keadaan sehat, dan kehangatan di dalam keluarga pun terasa kembali seperti sedia kala.
Di sisi lain, meskipun suasana di antara mereka terasa hangat dan akrab, namun di sudut hati masing-masing masih tersimpan pandangan yang berbeda. Bagi Nyonya Wei, perbedaan antara Yanfei dan Yan Xumin terasa sangat jelas. Ia melihat Yanfei sebagai bagian dari darah daging keluarga yang dapat dipercaya sepenuhnya, sedangkan Yan Xumin hanyalah orang luar yang meskipun dekat, tetaplah memiliki asal-usul dan maksud yang sulit untuk dipahami sepenuhnya.
Namun, Yanfei yang duduk di tengah-tengah itu menyadari perbedaan sikap yang diberikan kepada sahabatnya. Ia tidak memperlihatkan hal itu secara terang-terangan, namun diam-diam ia mengulurkan tangannya di bawah meja dan menyentuh lengan Yan Xumin yang duduk tidak jauh dari situ, memberi isyarat dukungan agar gadis itu tidak merasa terasing atau tersinggung oleh sikap orang lain.
Yan Xumin yang merasakan sentuhan itu hanya mengangguk pelan dan tersenyum tipis, menyembunyikan rasa tidak nyaman di dalam hatinya. Ia sudah terbiasa dengan pandangan seperti ini sejak lama—dianggap rendah karena asal-usulnya, dicurigai karena kedudukannya yang naik secara tiba-tiba. Namun, selama ia memiliki dukungan dari sahabat terbaiknya dan berusaha berperilaku sebaik mungkin, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa pada akhirnya waktu akan membuktikan siapa dirinya yang sebenarnya.
Sementara itu, Nyonya Tua yang melihat interaksi di antara mereka hanya mengamati dengan tatapan bijak. Ia tahu betul bahwa di dalam lingkungan keluarga besar dan bangsawan, tidak ada yang benar-benar sederhana. Setiap orang memiliki pandangan, prasangka, dan harapannya masing-masing. Namun, ia berharap malam ini acara berjalan lancar tanpa pertengkaran atau kesalahpahaman, agar suasana tetap terjaga baik dan keharmonisan antar keluarga tetap terpelihara.