Terbangun di masa lalu, tepat sebelum jerat takdir Daniel menjebaknya, Erica menolak menjadi korban untuk kedua kalinya.
Mengubah alur permainan adalah satu-satunya pilihan. Jika Daniel menggunakan nama besar Megantara untuk menghancurkannya, maka Erica akan menduduki takhta tertinggi di keluarga itu.
Ketika bidak catur mulai digerakkan dan rahasia satu per satu terkelupas, siapakah yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Dosa Megantara dan Hangatnya Keluarga Fiorenza
Hujan gerimis membilas kaca-kaca jendela berukir di rumah utama klan Megantara di kawasan Menteng.
Di dalam ruang keluarga yang serba mewah, kedamaian semu yang selama puluhan tahun dibangun oleh Benny runtuh tak tersisa.
Piring keramik porselen hancur berhamburan di atas karpet Persia yang mahal. Terpantul bayangan dua manusia yang sedang berada di puncak keputusasaan.
"Ini semua gara-gara kau dan anakmu yang tidak berguna itu, Bianca!" raung Benny Megantara, suaranya bergetar hebat menahan amarah dan rasa takut yang mencekik dadanya.
Pria tua itu mencengkeram erat tongkat naga peraknya, matanya yang memerah menatap benci ke arah istrinya.
Bianca yang biasanya tampil anggun sebagai sosialita kelas atas di Menteng kini tampak mengenaskan. Rambut sasaknya sedikit berantakan, dan wajah cantiknya tercoreng oleh bekas air mata yang mengering.
"Kenapa kau malah menyalahkan aku, Mas?!" balas Bianca dengan jeritan melengking.
"Daniel melakukan semua itu karena ingin membuktikan padamu bahwa kelak dia bisa memimpin Megantara Corp! Kau yang selalu membanding-bandingkannya dengan Eshar! Kau yang membuat anakku terdesak!"
"Tapi dia bodoh! Kau juga bodoh!" bentak Benny, melangkah maju dengan napas memburu.
"Putusan Kejaksaan Militer tadi pagi bukan hanya memenjarakan Daniel dan membekukan asetnya. Eshar menggunakan wewenangnya untuk mengaudit seluruh jalur distribusi garmen cabang Megantara Corp yang kita dirikan! Kau tahu apa artinya itu, Bianca?!"
Benny mencengkeram bahu Bianca dengan kasar, memaksa wanita itu menatap matanya yang diliputi rasa takut.
"Jika tim audit Eshar dan Erica menggali terlalu dalam, mereka tidak hanya akan menemukan transaksi gelap Daniel. Mereka akan menemukan berkas-berkas lama... berkas hasil otopsi kematian Viona! Eshar tidak pernah lupa, Bianca! Dia kembali ke Jakarta bukan cuma untuk mengambil alih perusahaan, tapi untuk menuntut balas atas kematian kakaknya!"
Mendengar nama Viona disebut, Bianca tersentak.
Rasa dingin yang membekukan seketika menjalar di sepanjang tulang belakangnya.
Pengaruh dan status sosial yang dia nikmati selama puluhan tahun ini dibangun di atas fondasi darah Viona.
"Tidak... itu tidak boleh terjadi," bisik Bianca dengan suara gemetar, matanya berkilat rasa panik.
"Eshar tidak punya bukti! Kejadian itu sudah dua puluh tujuh tahun yang lalu, Mas! Dokumen medis dan sisa racun itu sudah kubakar!"
"Tapi Eshar adalah Jenderal Intelijen sekarang!" raung Benny, melepaskan cengkeramannya hingga Bianca terhuyung.
"Dia punya seluruh jaringan militer di tangannya! Jika kau sampai meninggalkan jejak sekecil apa pun di rumah ini atau di kantor, aku tidak akan melindungimu, Bianca. Aku tidak sudi kehilangan jabatan dan nama baikku di Megantara Corp demi menyelamatkan lehermu!"
Benny berbalik dan melangkah pergi dengan napas terengah-engah, meninggalkan Bianca yang berdiri sendirian di tengah kemewahan yang kini terasa seperti penjara.
Bianca mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya yang bercat merah menancap ke dalam kulit. Di dalam benaknya yang kelam, dia bersumpah harus segera membakar dan memusnahkan seluruh catatan lama yang tersimpan di brankas tersembunyi sebelum orang-orang Eshar menyitanya.
Sementara di kediaman keluarga Fiorenza, sangat berbanding terbalik dengan kediaman di Menteng yang sedang kacau. Suasana di kediaman Fiorenza justru terasa sangat hangat.
Jip militer hitam milik Eshar terparkir rapi di halaman rumah bergaya kolonial tropis yang asri tersebut.
Pramono Fiorenza, ayah kandung Erica, menyambut kedatangan anak dan menantunya dengan wajah berbinar-binar penuh kebanggaan.
Pria paruh baya yang berhati hangat itu bahkan sengaja mengenakan celemek masak di atas kemeja batiknya, menyingsingkan lengan bajunya hingga ke siku.
"Erica! Eshar! Ayo masuk, Nak! Kebetulan sekali, Papa baru saja selesai menggoreng ikan gurame dan membuat sambal terasi kesukaanmu!" seru Pramono riang dari arah dapur bersih, suaranya bergaung penuh semangat.
Erica Fiorenza tersenyum manis, senyuman yang tulus terpancar sempurna. Ia melepaskan blazer biru dongkernya dan menggantungnya di kapstok kayu dekat pintu depan.
Erica yang biasanya sangat tegar dan penuh siasat, hari ini berubah menjadi seorang putri yang rindu akan rumah masa kecilnya.
"Papa masak sendiri lagi?" tanya Erica seraya melangkah ke dapur, diikuti oleh Eshar yang berjalan tegap di belakangnya.
"Kan sudah Erica katakan, kalau kami mau datang, Papa minta tolong Bibi saja di dapur. Jangan capek-capek."
"Ah, capek apa?! Justru Papa sangat senang bisa memasakkan makanan untuk menantu Jenderal Papa ini!" Pramono tertawa lebar, menepuk-nepuk pundak tegap Eshar dengan akrab.
"Eshar, bagaimana lukamu? Erica bilang di telegraf kemarin kau sempat tertembak di perbatasan? Papa sampai tidak bisa tidur memikirkannya!"
Eshar menatap mertuanya dengan sepasang mata coklatnya yang melembut. Di hadapan Pramono yang begitu sabar dan penyayang, dinding pertahanan sang Jenderal yang biasanya setebal beton perbatasan perlahan meleleh. Rasa hormat Eshar pada sosok Pramono sangat tinggi.
"Luka saya sudah sembuh total, Papa," jawab Eshar, suaranya yang berat dan dalam terdengar sangat sopan dan hangat.
"Erica merawat saya dengan sangat sabar dan telaten di barak."
Pramono terkekeh puas, melirik Erica yang pipinya seketika merona merah muda.
"Baguslah kalau begitu! Memang anak Papa ini bisa diandalkan. Ayo, duduk-duduk dulu! Papa mau mengangkat sop buntutnya dari kompor!"
Di tengah aroma masakan yang menggugah selera dan tawa riang Pramono, suasana yang ganjil justru datang dari lantai atas.
Pramono sempat menghentikan kegiatannya sejenak, memandang ke arah tangga kayu yang sepi, lalu berteriak dengan suara keras,
"Delia! Delia! Erica dan Eshar sudah sampai ini! Ayo turun, kita makan bersama!"
Tapi, tidak ada sahutan sama sekali dari balik pintu kamar utama di lantai dua.
Di dalam kamar yang berpendingin udara itu, Delia, ibu kandung Shofia sekaligus istri kedua Pramono sedang asik bersandar di atas ranjang empuknya.
Dia mengenakan daster sutra mahal, matanya tertuju penuh pada layar televisi hitam putih yang sedang menayangkan acara musik ibu kota. Tangan Delia santai mengunyah buah anggur dari piring kristal, sama sekali tidak peduli pada teriakan suaminya dari bawah.
Delia sudah mendengar kedatangan Erica dan Eshar dari deru mesin jip di halaman tadi. Tapi rasa dengki dan malu yang membebani dadanya membuat dia enggan menampakkan diri.
Berita tentang skandal Shofia dan Daniel di kamar hotel semalam sudah menyebar luas di kalangan keluarga besar, dan ketahuannya niat busuk mereka telah mencoreng mukanya habis-habisan.
"Cuma anak tiri yang berlagak jadi istri Jenderal," gumam Delia sinis, membesarkan volume televisinya untuk menutupi suara keramaian dari bawah.
"Biar saja, aku tidak sudi melayani mereka."
Di meja makan lantai bawah, Pramono menghela napas pendek, merasa agak tdak enak hati pada menantunya.
"Maaf ya, Eshar, Erica... Ibumu, Delia sepertinya sedang kurang enak badan atau tertidur di atas, jadi tidak mendengar teriakan Papa."
Erica mengulas senyum tipis, mengangguk karena paham. Dia tidak ambil pusing dengan sikap dingin ibu tirinya itu. Ia tahu betul Delia sedang bersembunyi karena malu atas kelakuan Shofia.
"Tidak apa-apa, Papa," ujar Erica lembut, meraih mangkuk berisi sop buntut hangat dan menuangkannya ke piring Eshar dengan gerakan yang sangat perhatian.
"Yang penting kita bertiga bisa menikmati masakan buatan Papa malam ini."
Eshar menatap perlakuan lembut Erica padanya, lalu melirik pada Pramono. Tangan kirinya yang besar bergerak di bawah meja, kemudian menggenggam jemari lentik Erica.
Di rumah yang sederhana terasa dengan ketulusan ini, Eshar merasakan kehangatan keluarga yang sesungguhnya, tidak sama dengan istana busuk klan Megantara di Menteng yang kini tinggal menunggu waktu untuk hancur.
semoga msalaah yg ad bisa selesai satu persatu termasuk kematian viona
sperti ny mereka terlalu meremehkan sang jendral dan istrinya ,, 😒😒😒😒
😂😂😂😂
lanjut kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
syok gx tuh mata2ny ,, 😂😂😂😂