NovelToon NovelToon
Balas Dendam Nyonya Cha

Balas Dendam Nyonya Cha

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.

​Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPILOG: Rumah di Atas Bukit Lavender

​Empat tahun berlalu sejak malam penangkapan terakhir di basemen Menara Gangnam.

​Bagi dunia luar, Cha Group kini telah bertransformasi menjadi gurita bisnis yang tak tertandingi di Asia Timur, bersih dari faksi-faksi korporasi lama yang korup. Namun, bagi sang perajut takhta yang sesungguhnya—Han Ji-an—kemenangan terbesar bukanlah angka-angka di lantai bursa, melainkan kedamaian murni yang akhirnya melingkupi kediaman baru mereka di kawasan perbukitan eksklusif Seongbuk-dong.

​Sore itu, wangi bunga lavender yang sengaja ditanam di sepanjang taman samping berembus lembut, terbawa angin musim panas yang sejuk.

​Di teras belakang yang beralaskan kayu jati hangat, Ji-an duduk di kursi rotan panjang. Rambut hitamnya dibiarkan terurai, melambai pelan setiap kali angin lewat. Di pangkuannya, sebuah buku sketsa besar terbuka. Ji-an tersenyum kecil melihat pemandangan beberapa meter di depannya.

​Cha Hyun-woo, yang kini sudah beranjak menjadi remaja belia dengan sorot mata cerdas mirip ayahnya, sedang telaten mengajari Seo-ah melukis dengan cat air. Sementara itu, di atas rumput hijau yang bersih, seorang balita laki-laki berusia tiga tahun—Cha Min-jun, anak ketiga yang dulu melewati badai di dalam kandungan—sedang sibuk mengejar seekor anak anjing golden retriever dengan tawa riang yang mengalun merdu.

​Tap. Tap.

​Langkah kaki yang senyap namun kokoh terdengar dari arah pintu kaca yang terbuka. Ji-an tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Aroma maskulin perpaduan mint dan kayu cendana yang familier seketika menyelimuti indra penciumannya.

​Cha Jin-wook melangkah keluar. Jas tiga potong Savile Row-nya sudah ditinggalkan di ruang kerja bawah. Pria tegap itu kini hanya mengenakan kemeja linen putih longgar dengan lengan yang digulung kasar hingga siku, serta celana kain hitam. Garis-garis ketegangan yang dulu selalu mengunci wajah tampannya saat menghadapi musuh, kini telah sepenuhnya mencair, digantikan oleh gumpalan kelegaan seorang pria yang telah berhasil mengamankan dunianya.

​Jin-wook berjalan mendekat, lalu tanpa ragu mengambil posisi duduk di lantai teras, tepat di samping kursi rotan Ji-an. Ia menyandarkan punggung kokohnya pada lengan kursi, lalu mendongak menatap istrinya.

​"Anak-anak tidak mau berhenti bermain bahkan setelah dipanggil pelayan?" tanya Jin-wook, suara beratnya yang serak terdengar begitu santai dan intim.

​"Biarkan saja, sayang. Cuaca sore ini sangat bagus," Ji-an meletakkan jemari lentiknya di atas bahu lebar Jin-wook, memberikan remasan lembut yang instan membuat bahu suaminya itu semakin rileks. "Bagaimana dengan laporan audit triwulanan yayasan? Aku dengar kau memeriksanya lagi siang tadi."

​Jin-wook terkekeh rendah. Suara tawa seksinya menggetarkan dada bidangnya. Ia meraih tangan Ji-an dari bahunya, membawanya ke depan bibir untuk memberikan kecupan hangat di punggung tangan itu, tepat di atas cincin pernikahan mereka yang berkilau terkena pendar matahari senja.

​"Nyonya Besar Cha sudah menyusun sistem akuntansi yang begitu ketat. Bahkan tim auditor terbaikku pun tidak menemukan satu sen pun selisih," goda Jin-wook, matanya berkilat penuh kekaguman yang jujur. "Kau membuat pekerjaan para direkturku menjadi terlalu mudah."

​Ji-an merona tipis, memukul pelan dada Jin-wook dengan tangan satunya. "Aku hanya memastikan tidak ada celah bagi tikus lain untuk merayap masuk ke rumah kita."

​Jin-wook terdiam sejenak. Pandangannya beralih pada ketiga anaknya yang sedang tertawa di atas rumput, lalu kembali mengunci manik mata Ji-an. Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh kehati-hatian, Jin-wook menggeser tubuh tegapnya naik, duduk di tepi kursi rotan yang sama, lalu melingkarkan lengan kekonnya ke pinggang Ji-an, menarik tubuh anggun istrinya ke dalam dekapan posesif yang kini terasa begitu damai—bukan lagi dekapan siaga penuh kecemasan seperti masa lalu.

​Ji-an menyandarkan kepalanya di bahu bidang Jin-wook, menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya yang selalu menjadi penenang terbaiknya.

​"Terima kasih, Ji-an," bisik Jin-wook parau, bibirnya menyentuh pelipis Ji-an, memberikan kecupan lama yang sarat akan rasa syukur yang tak terhingga. "Terima kasih karena tidak pernah menyerah pada badai kita. Terima kasih karena telah berdiri di sampingku hingga hari ini."

​Ji-an memejamkan mata, menikmati kehangatan selimut tak kasat mata yang diberikan oleh pelukan Jin-wook. "Kita saling menyelamatkan, Jin-wook ya. Kau adalah bentengku, dan aku adalah jangkarmu."

​Di bawah langit Seongbuk-dong yang perlahan berubah warna menjadi jingga keemasan, Jin-wook mencondongkan wajahnya. Dengan sisa pendar matahari sore sebagai saksi, ia meraup bibir manis Ji-an dalam sebuah ciuman yang lambat, dalam, dan dipenuhi oleh seluruh komitmen suci yang telah teruji oleh waktu. Tidak ada lagi tuntutan balas dendam, tidak ada lagi ketakutan akan hari esok. Ciuman itu adalah segel mutlak dari akhir sebuah perjuangan—sebuah tanda bahwa sang nyonya besar kini telah bertakhta dengan sempurna di dalam hati sang penguasa korporasi.

​Saat pautan bibir mereka terlepas, Min-jun kecil tiba-tiba berlari mendekat sambil berteriak gembira, "Ayah! Ibu! Lihat anjingnya!"

​Jin-wook dan Ji-an saling melempar senyum penuh cinta, sebelum Jin-wook merentangkan tangannya yang bebas untuk menyambut anak bungsu mereka ke dalam pelukan hangat keluarga yang kini utuh dan tak tertembus badai mana pun.

1
Mutia Kim🍑
Seneng banget deh Ji-An dapat pengganti yg jauh lebih baik🥰
Mutia Kim🍑
Memang lebih baik kamu pergi saja dari keluarga toxic itu Ji-an😌
Mayraa_Tapaa: makasih ka udah mampir
total 1 replies
Mayraa_Tapaa
Mampir ya readers readers yg baik dan keren-keren, udah up banyak episode loh jadi enak bacanya...setiap hari juga bakal up min 4 episode sehari ya....
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!