Dinginnya malam di puncak musim dingin menampar Gu Mingyue dengan kenyataan yang kejam. Alih-alih kehangatan, sang suami justru menyuguhkan cawan berisi racun demi bisa bersanding dengan perempuan lain. Di ambang kematiannya yang tragis, Mingyue menyadari bahwa ketulusannya selama ini hanyalah sebuah kesia-siaan.
Kini, takdir memberinya kesempatan kedua. Terlahir kembali di masa lalu, Gu Mingyue bersumpah demi sisa napasnya: ia tidak akan pernah lagi menjadi istri penurut yang mencintai Adipati Yu'an, Zhao Yuchen.
Langkahnya kali ini membawa Mingyue bertemu dengan Shen Mufeng—Jenderal Perang Penakluk Utara yang terkenal dingin, tegas, tajam, dan anti-wanita. Menolak mengulang tragedi yang sama, Gu Mingyue membulatkan tekad: ia akan menikahi sang Jenderal Agung dan membiarkan mantan suaminya hancur dalam penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DuaPuluh—Kamar Pengantin
Pintu kayu itu dibuka lebar. Langkah kaki Shen Mufeng terasa begitu tegap sembari menggendong tubuh istrinya yang sejak tadi masih tampak tenang. Dalam diam membisu, sang Jenderal Agung melangkah mendekati ranjang, lalu mendudukkan gadis itu dengan teramat hati-hati di tepi ranjang sutra merah.
Gu Mingyue mengernyit pelan ketika Shen Mufeng tiba-tiba menyibakkan jubah besarnya, lalu merendahkan tubuh tegapnya untuk duduk di hadapan kaki gadis itu.
Refleks, Gu Mingyue melakukan sedikit gerakan mundur demi menarik kakinya. "Tuan Shen, ini tidak sopan," bisiknya, mencoba mengingatkan status pria di hadapannya sebagai seorang Jenderal Agung Kekaisaran Yu'an yang disegani. Tidak seharusnya seorang panglima tertinggi berlutut di kaki seorang wanita.
Namun, alih-alih mendengarkan protes tersebut, tangan Shen Mufeng yang besar—penuh dengan kapalan tebal akibat memegang senjata bertahun-tahun—justru menarik lembut kaki istrinya. Gerakannya terasa perlahan dan lembut, namun secara absolut mengunci mati pergerakan Mingyue agar tidak bisa menghindar lagi.
Dengan ketelatenan yang tak terduga, Shen Mufeng mulai membuka sepatu satin merah yang dikenakan oleh Mingyue. Darah segar tampak masih merembes pekat di kaus kaki kain putihnya. Beberapa serpihan kaca lembut bahkan terlihat menempel rekat di sana, seolah-olah darah itu berfungsi sebagai lemnya.
Dengan sangat hati-hati, ia melepaskan alas kaki tersebut, menyingkap sepasang kaki Mingyue yang semula putih bersih namun kini bersimbah darah di bagian telapaknya. Shen Mufeng kemudian mengambil sebuah kain lap dari dalam baskom perunggu berisi air hangat, yang sebelumnya telah disiapkan oleh pelayan di dekat ranjang.
Ia membasuh luka-luka itu dengan sangat telaten. Sentuhan jemarinya yang hangat dan penuh perhatian seketika meninggalkan debaran halus yang asing di dalam dada Gu Mingyue. Untuk pertama kalinya setelah kembali dari kematian, ada perasaan hangat yang menyusup di hatinya—perasaan bahwa kali ini, ia tidak salah memilih suami.
"Kau tahu ada sesuatu di balik karpet itu," pria itu akhirnya memecah keheningan. Suaranya rendah dan berat, sementara tangannya masih sibuk mengelap sisa-sisa darah di kaki Mingyue dengan gerakan konstan. "Namun, kau tetap melangkah melewatinya seolah tidak terjadi apa-apa."
"Jika aku berhenti, tentu seluruh orang di sana akan menilaiku tidak pantas berada di kediaman ini," jawab Gu Mingyue tenang.
Shen Mufeng mendongakkan kepalanya, menatap mata Mingyue lurus, lekat, dan dalam. "Kediaman Shen tidak menerima wanita naif."
Mingyue menggeleng pelan. Ia tersenyum lembut. "Aku tidak berniat hanya bertahan di sini. Aku ingin menguasainya bersama Anda."
Shen Mufeng mengangkat satu sudut bibirnya. Ia meletakkan kaki Mingyue yang telah bersih dengan hati-hati. "Nyonya Besar begitu ambisius," ucapnya sambil berdiri tegak.
Pria itu sempat menatap lama ke arah kaki telanjang Mingyue yang baru saja diperban. Sebelum ia sempat berkata lebih jauh, suara He Si tiba-tiba terdengar memanggilnya dari balik pintu luar. "Tuan, Bibi Liu ingin bertemu dengan Anda."
Shen Mufeng mengernyit samar. "Untuk apa?"
"Membela para pelayan yang baru saja Anda hukum."
Seketika, Shen Mufeng mengeraskan rahangnya. Rahangnya bergemertak samar menahan amarah yang kembali tersulut. "Baik."
Pria itu menoleh kembali pada sang istri. "Aku harus pergi mengurus mereka," ucapnya, yang langsung dibalas oleh senyuman lembut dari Mingyue.
"Tentu."
Dan begitu saja, Shen Mufeng menghilang dari balik pintu yang ditutupnya kembali, meninggalkan sang istri sendirian di kamar pada malam pengantin mereka. Mingyue menundukkan kepalanya, memandangi dengan saksama luka yang baru saja dibalut dengan rapi oleh Shen Mufeng.
Wangi dupa di ruangan itu lambat laun terasa kian pekat, menyebarkan keharuman yang aneh dan sedikit memabukkan. Mata Mingyue sesekali berkedip berat menahan kantuk; ia tahu ia harus tetap terjaga demi menunggu suaminya kembali. Dengan langkah tertatih menahan denyut nyeri, gadis itu beranjak menuju meja. Ia mengambil cangkir berisi air yang disediakan di sana, lalu meminumnya satu hingga dua tegak. Seketika, rasa panas yang asing menjalar dari dalam tubuhnya, serasa membakar tenggorokan.
Ada yang salah dengan dupa dan air ini, batinnya waspada, namun kesadarannya mulai sedikit berkabut.
Tepat saat itu, derap langkah kaki yang kasar terdengar mendekat. Bersamaan dengan itu, bau tajam minuman keras yang pekat menyengat indra penciumannya. Mingyue mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha keras menjernihkan pandangan demi memastikan siapa yang baru saja menyelinap masuk.
Namun, belum sempat ia mengenali sosok tersebut, pergelangan tangannya dicengkeram kasar. Tubuhnya diseret paksa ke arah ranjang, menimbulkan bunyi debam saat ia dihempaskan ke kasur sutra.
Punggungnya terasa sakit dan matanya seketika membelalak sempurna sewaktu instingnya berteriak bahaya. Seorang pria asing bertubuh besar dengan pakaian hitam compang-camping kini telah berada di atasnya, tengah menindih tubuhnya dengan seringai menjijikkan.
Pria itu berusaha membuka jubah pengantin Gu Mingyue. Dengan sisa kesadarannya yang kian menipis, gadis itu mencengkeram kuat pakaiannya sendiri agar tidak robek. Kakinya yang terluka berdenyut hebat saat ia berusaha menendang ke depan. "Singkirkan tangan kotormu!" desisnya tegas, namun suaranya terdengar lirih karena harus menahan hawa panas yang membakar tubuhnya.
Namun, pria itu mengabaikannya. Dengan seringai menjijikkan, ia mencoba merangsek maju ke arah ceruk leher Mingyue. Rasa muak dan jijik seketika menjalar sempurna ke seluruh tubuh Gu Mingyue. Mengumpulkan sisa kekuatan terakhir yang ia miliki, gadis itu menyentak lengannya dan mendorong dada pria antah-berantah itu sekuat tenaga.
Plak!
Tamparan keras mendarat tepat di wajah sang penyusup, meninggalkan jejak merah di pipinya. Hal itu justru membuat kemarahan pria tersebut kian memuncak hingga wajahnya memerah padam. Dengan gerakan yang jauh lebih kasar, ia kembali meraba dan berusaha merobek pakaian Mingyue.
Di tengah kepungan hawa sesak, pendengaran tajam Gu Mingyue menangkap suara derap langkah kaki yang samar dari arah luar. Gadis itu tersadar sepenuhnya bahwa ini adalah jebakan instan untuk menghancurkan reputasinya. Menggunakan seluruh kesadaran terakhirnya, tangan kanan Mingyue bergerak secepat kilat ke atas kepala, mencabut tusuk konde perak penyangga rambutnya dan membiarkan mahkotanya terurai berantakan di atas kasur sutra.
Jleb!
Tanpa ragu sedikit pun, ia menghunjamkan tusuk konde perak itu tepat ke bahu pria di atasnya. Pria itu seketika membeku. Matanya melebar liar menatap tidak percaya pada Gu Mingyue, sementara darah segar mulai menetes deras, mengotori gaun pengantin serta menyiprat ke paras pucat milik Mingyue.
Mengernyit jijik, Mingyue segera mendorong tubuh kekar yang melemah itu ke samping hingga terjatuh dari ranjang. Dengan napas terengah-engah, ia memaksakan dirinya untuk berdiri. Kedua kaki yang baru diperban itu bergetar hebat menahan sakit, tubuhnya terasa lemas akibat pengaruh obat, sementara tangan kanannya kini bersimbah darah merah pekat.
Derap langkah di koridor luar terdengar kian cepat dan mendekat. Tepat pada detik berikutnya, pintu kamar pengantin didorong terbuka lebar dari luar.
Jantung Gu Mingyue rasanya hampir terlepas saat melihat sosok yang kini berdiri tegak di ambang pintu. Di bawah temaram lilin merah, Gu Mingyue berdiri dengan kaki yang gemetar halus, rambut panjangnya terurai berantakan, kerah pakaiannya sedikit terbuka, dan noda tetesan darah segar tampak kontras menghiasi wajah serta gaun pengantinnya.
...----------------...
Iseng aja bikin karena lagi suka nonton drachin 🦭
Semoga kalian menyukainya