NovelToon NovelToon
NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU

NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Arenna Noir

"Lima tahun pengabdianku dibalas dengan pengkhianatan menjijikkan di atas ranjang hotel."
​Gaby Fritzyara hancur saat memergoki Gavin, tunangannya, berselingkuh dengan Luna adik kandungnya sendiri. Bukannya dibela, sang Ayah justru membuangnya dan menyebut Gaby sebagai anak tidak berguna.

​Namun, badai besar datang menjemputnya. Edgar Emiliano Addison, sang Iblis Korporat sekaligus ayah kandung Gavin, mengulurkan tangan. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menjadikannya seorang Ratu.

​"Jadilah istriku, Gaby. Mari kita buat mereka merangkak di bawah kakimu."

​Kini, Gaby kembali sebagai Nyonya Besar Addison. Ia bukan lagi wanita penurut yang bisa diinjak-injak. Ia kembali untuk melakukan audit berdarah pada hidup Gavin dan menghancurkan masa depan Luna.

​Bagi Gaby, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat mantan tunangannya bersimpuh, mencium tangannya, dan memanggilnya dengan satu sebutan baru: "MAMA."

bukan buku ****-****...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arenna Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU

​Kabar tentang pernikahan megah antara sang CEO tertinggi, Edgar Emiliano Addison, dengan mantan analis bisnis muda mereka, Gaby, sebenarnya bukan lagi rahasia baru di Menara Addison. Berita gempar itu sudah meledak beberapa minggu lalu, tepat setelah Gavin didepak secara tidak hormat dan foto-foto eksklusif bulan madu mewah mereka di Paris tersebar di kalangan internal korporasi.

​Namun, mengetahui sebuah kabar lewat desas-desus tentu rasanya sangat berbeda dengan melihat langsung sang Nyonya Besar melangkah masuk ke dalam gedung.

​Pagi itu, atmosfer di lobi utama Menara Addison mendadak senyap seketika. Seluruh staf, mulai dari resepsionis, jajaran manajer tingkat atas, hingga petugas kebersihan yang sedang berlalu-lalang, mendadak menghentikan aktivitas mereka. Pandangan semua orang tertuju pada pintu kaca otomatis yang baru saja terbuka lebar.

​Gaby melangkah masuk dengan keanggunan yang mutlak. Hari ini, ia tidak lagi datang dengan taksi daring, membawa tumpukan map audit yang berat, atau mengenakan setelan blazer murah berbahan kaku seperti saat dirinya masih menjadi analis biasa.

​Nyonya Besar Addison yang baru itu tampil memukau dengan mengenakan dress formal berpotongan sabrina berwarna hitam pekat dari rumah mode ternama Paris, dipadukan dengan sepatu hak tinggi bertatahkan kristal yang senada. Rambut hitam panjangnya ditata sanggul modern yang rapi, mengekspos leher jenjangnya yang kini dihiasi sebuah kalung berlian berdesain minimalis namun bernilai miliaran rupiah. Di tangan kanannya, sebuah tas kulit pesanan khusus melingkar anggun, memancarkan aura kelas atas yang tidak bisa dibeli dengan uang instan.

​Tidak ada lagi sisa-sisa Gaby yang dulu bisa direndahkan, disindir, atau disudutkan oleh rekan kerjanya. Yang berdiri di sana adalah seorang ratu yang memegang kendali penuh atas separuh napas finansial Menara Addison.

​Di sebelah kanannya, Kafi berjalan dengan langkah tegap, memegang sebuah dokumen tebal berstempel emas. Sementara di belakang Gaby, empat orang pengawal pribadi berbadan tegap bersetelan jas hitam legam berjalan dengan formasi barikade, memastikan jarak aman agar tidak ada satu pun orang kantor yang bisa mengganggu kenyamanan sang Nyonya Besar.

​"Selamat pagi, Nyonya Besar Addison. Selamat datang kembali di Menara Addison," ucap kepala resepsionis dan seluruh staf lobi yang langsung membungkuk hormat hampir sembilan puluh derajat. Suara mereka bergetar, dipenuhi rasa takjub sekaligus ketakutan yang mendalam.

​Gaby menghentikan langkahnya sejenak di depan meja resepsionis utama. Ia menurunkan sedikit kacamata hitamnya, lalu memberikan senyuman tipis yang sangat tenang namun sarat akan keangkuhan yang elegan.

​"Pagi. Terima kasih," jawab Gaby singkat, suaranya terdengar lembut namun memiliki gaung intimidasi yang sangat kentara sebuah pembawaan yang ia serap sempurna dari suaminya, Edgar.

​Lift privat berlapis emas yang hanya boleh digunakan oleh Edgar kini bergerak mulus membawa Gaby dan Kafi menuju lantai tertinggi gedung, tempat ruang rapat pleno utama berada. Hari ini bukan sekadar kunjungan santai. Atas perintah mutlak dari Edgar yang hari ini memilih memantau dari rumah, Gaby datang untuk menghadiri rapat serah terima jabatan barunya sebagai Kepala Dewan Pengawas Internal Korporasi.

​Posisi ini adalah posisi paling krusial di Addison Group. Jabatan ini memiliki kekuasaan mutlak untuk mengaudit, memecat, bahkan menyeret ke jalur hukum siapa saja yang terindikasi melakukan kecurangan dana, termasuk posisi Direktur Operasional yang dulu dipegang oleh Gavin.

​Begitu pintu lift terbuka di lantai eksekutif, jajaran direksi dan kepala divisi sudah berbaris rapi di sepanjang koridor, menunggu kedatangan Gaby. Di antara barisan itu, tampak beberapa mantan rekan kerja satu divisi Gaby dulu saat ia masih menjadi analis bisnis muda.

​Wajah orang-orang itu tampak pucat pasi. Tubuh mereka gemetar hebat. Mereka adalah orang-orang bermuka dua yang dulu, saat Gavin masih menjabat, selalu menjilat Gavin dan ikut menyindir Gaby di kubikel kerja. Mereka yang dulu tertawa paling keras saat Gavin membawa Luna masuk ke kantor sebagai model utama dan menginjak-injak harga diri Gaby.

​Gaby melangkah melewati mereka tanpa menoleh sedikit pun. Baginya, manusia-manusia bermuka dua itu bahkan tidak lebih penting dari sebutir debu di atas sepatu hak tingginya.

​Pintu ruang rapat pleno terbuka. Gaby melangkah masuk dan langsung berjalan menuju kursi utama di ujung meja panjang marmer kursi yang biasanya ditempati oleh Edgar sendiri. Di atas meja tersebut, papan nama mewah berbahan akrilik hitam dan emas sudah terukir rapi Gaby Yamzie Addison Kepala Dewan Pengawas Internal.

​Kafi berdiri di sebelah Gaby, lalu mengetukkan pulpennya ke meja untuk memulai rapat. Suasana ruangan seketika menjadi senyap, bahkan suara napas para direktur pun terdengar tertahan.

​"Selamat pagi, rekan-rekan direksi sekalian," buka Kafi dengan nada suaranya yang terkenal dingin dan tanpa ekspresi. "Hari ini, atas instruksi langsung dan surat keputusan mutlak yang ditandatangani oleh CEO Utama kita, Tuan Besar Edgar Emiliano Addison, posisi Kepala Dewan Pengawas Internal resmi diambil alih oleh Nyonya Besar Gaby Yamzie Addison."

​Kafi membuka dokumen di tangannya, lalu menatap tajam ke arah Kepala Divisi Keuangan dan Manajer Operasional yang dulu merupakan kaki tangan dekat Gavin.

​"Tugas pertama Nyonya Besar hari ini adalah melakukan audit total terhadap seluruh laporan keuangan divisi operasional selama tiga tahun terakhir, yang sebelumnya sengaja dimanipulasi oleh mantan direktur operasional, Gavin Geraldi," lanjut Kafi menohok, langsung menusuk ke inti masalah tanpa basa-basi.

​Seorang direktur keuangan yang dulu sering ikut memotong anggaran demi memberikan fasilitas mewah pada Luna sebagai model, langsung menelan ludah dengan susah payah. Ia mencoba memberanikan diri untuk angkat bicara dengan suara yang terbata-bata.

​"Ma-maaf, Nyonya Besar Gaby... maksud saya, Nyonya Besar Addison. Apakah audit ini tidak terlalu mendadak? Laporan tahunan kami sebenarnya sudah disetujui oleh... oleh pihak Gavin dulu."

​Gaby perlahan memperbaiki posisi duduknya. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan yang jemarinya dihiasi cincin berlian besar, lalu menatap direktur tersebut dengan pandangan mata yang begitu menusuk dan dingin, persis seperti cara Edgar menatap musuh bisnisnya.

​"Mendadak?" tanya Gaby dengan nada bicara yang teramat tenang namun menohok jantun pertiwi orang-orang di ruangan itu. "Tuan Hardi, jika saya tidak salah ingat, dua bulan yang lalu saat saya masih duduk di kubikel lantai bawah sebagai analis bisnis muda, saya pernah menyerahkan draf analisis mengenai pembengkakan dana fiktif di divisi operasional kepada Anda. Dan apa yang Anda katakan saat itu?"

​Direktur bernama Hardi itu seketika membeku. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya.

​"Anda bilang saat itu, analisis saya sampah dan tidak akurat. Anda bahkan mengancam akan memecat saya jika saya berani mengusik pengeluaran Gavin dan Luna, bukan?" lanjut Gaby dengan senyuman sinis yang sangat tipis.

"Sekarang, mari kita lihat, siapa yang analisisnya sampah. Kafi, serahkan dokumen pembekuan aset operasional yang baru."

​Kafi dengan cekatan membagikan lembaran dokumen hasil temuan forensik digital terbaru yang dibantu oleh tim ahli Edgar. Di dalam dokumen itu, tertera dengan jelas aliran dana korporasi yang mengalir ke rekening pribadi Gavin, termasuk aliran dana terlarang yang digunakan untuk membelikan fasilitas apartemen dan mobil mewah untuk Luna selama mereka berselingkuh.

​"Mulai detik ini," ucap Gaby tegas, suaranya menggelegar penuh otoritas mutlak di dalam ruang rapat yang kedap suara itu. "Seluruh pengeluaran di bawah divisi operasional lama dibekukan tanpa pengecualian. Dan untuk Anda, Tuan Hardi, serta tiga manajer di sebelah Anda... surat penonaktifan jabatan kalian sudah ditandatangani oleh suami saya sejak pukul delapan pagi tadi. Silakan kemasi barang-barang kalian, karena tim hukum Addison Group di bawah pimpinan Kafi akan mendampingi pihak kepolisian untuk memeriksa kalian atas pasal persekongkolan penggelapan dana."

​"Nyonya Besar! Tolong kasihanilah kami! Kami hanya mengikuti perintah Gavin saat itu!" teriak salah satu manajer langsung bangkit dan bersujud di lantai ruang rapat, memohon belas kasihan.

​Namun, Gaby bahkan tidak mengedipkan matanya. Ia bangkit dari kursi utamanya, merapikan gaun hitamnya yang elegan, lalu menatap manusia-manusia yang dulu ikut menginjaknya itu dengan pandangan penuh penghinaan.

​"Saat kalian bekerja sama dengan Gavin untuk menginjak harga diri saya dan memanipulasi uang perusahaan demi memuaskan ego seorang pelakor seperti Luna, apa kalian pernah memikirkan belas kasihan?" tanya Gaby dingin, kata-katanya menohok langsung ke dasar hati mereka yang paling dalam. "Kalian salah memilih kubu. Dan di dalam kamus hidup keluarga Addison, tidak ada tempat bagi pengkhianat dan parasit."

​Gaby berbalik, melangkah anggun meninggalkan ruang rapat pleno, diikuti oleh Kafi dan barisan pengawalnya yang dengan tegas menutup pintu rapat, membiarkan tangisan dan jerit histeris dari para mantan pejabat kantor yang kini telah runtuh total dari takhta palsu mereka.

​Rapat selesai dengan kemenangan mutlak bagi Gaby. Langkah kakinya membawa dirinya menuju ke area kantor lama tempat kubikel analis bisnisnya dulu berada. Gaby sengaja ingin lewat sana sebelum pulang, hanya untuk melihat bagaimana reaksi lingkungan yang dulu menjadi saksi bisu air matanya.

​Begitu Gaby tiba di koridor divisi analis, seluruh mantan rekan kerjanya langsung berdiri tegak di samping meja masing-masing. Suasana mendadak hening, persis seperti suasana pemakaman. Manajer divisi yang dulu kerap memberikan tumpukan pekerjaan lembur tanpa bayaran kepada Gaby, kini berdiri membungkuk dengan wajah yang pucat pasi.

​Gaby menghentikan langkahnya tepat di depan kubikel lamanya yang kini sudah kosong. Ia mengusap permukaan meja sekat tersebut dengan ujung jarinya yang memakai kuteks merah marun mewah.

​"Tempat ini... mengingatkan saya pada banyak hal," ucap Gaby lirih namun bisa didengar oleh seluruh ruangan. Ia menoleh, menatap lurus ke arah manajer divisinya dulu. "Terima kasih atas semua tekanan dan lemburan yang Anda berikan dulu, Pak Heru. Karena jika Anda tidak memperlakukan saya seburuk itu, saya mungkin tidak akan pernah menyadari bahwa tempat saya yang sesungguhnya bukan di balik kubikel sempit ini... melainkan di lantai teratas gedung ini, mengawasi hidup kalian semua."

​Manajer itu hanya bisa mengangguk pasrah dengan tubuh gemetar, tidak berani mengeluarkan satu patah kata pun untuk membela diri.

​Gaby kembali memasang kacamata hitamnya, membalikkan tubuhnya dengan kibasan gaun yang anggun, lalu berjalan mantap menuju lift privat eksekutif. Di luar gedung, mobil Porsche kelabu hadiah dari Edgar sudah bersiap menjemputnya untuk kembali ke rumah, ke dalam dekapan hangat sang suami matang yang telah berhasil merubah nasibnya dari seorang analis yang terbuang menjadi penguasa tertinggi Menara Addison yang tidak akan pernah bisa digoyahkan lagi oleh siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!