NovelToon NovelToon
Istri Jenderal Yang Mencuri Hatinya

Istri Jenderal Yang Mencuri Hatinya

Status: tamat
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Era Kolonial / Mengubah Takdir / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:3.5M
Nilai: 5
Nama Author: ICHA Lauren

Aku membuka mata di sebuah ranjang berkelambu mewah, dikelilingi aroma parfum bunga yang asing.
Cermin di depanku memantulkan sosok wanita bertubuh besar, dengan tatapan garang dan senyum sinis—sosok yang di dunia ini dikenal sebagai Nyonya Jenderal, istri resmi lelaki berkuasa di tanah jajahan.

Sayangnya, dia juga adalah wanita yang paling dibenci semua orang. Suaminya tak pernah menatapnya dengan cinta. Anak kembarnya menghindar setiap kali dia mendekat. Para pelayan gemetar bila dipanggil.

Menurut cerita di novel yang pernah kubaca, hidup wanita ini berakhir tragis: ditinggalkan, dikhianati, dan mati sendirian.
Tapi aku… tidak akan membiarkan itu terjadi.

Aku akan mengubah tubuh gendut ini menjadi langsing dan memesona.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidur Satu Ranjang

Setiba di kamar, Nateya langsung membuka lemari kayu jati besar yang berbau harum kapur barus. Di pojok bawah, ia menarik keluar sebuah koper kuno dari kulit cokelat tua. Koper itu tampak berat meski kosong, seperti menyimpan banyak cerita perjalanan masa lampau.

Dengan hati-hati, Nateya lantas membuka isi lemari. Deretan gaun lebar ala Belanda bergelantungan rapi, dengan renda-renda putih dan rok bertumpuk yang mengembang. Nateya hanya menarik satu gaun saja—warna biru laut dengan kerah tinggi, cukup untuk dipakai jika ada acara resmi.

Sisanya, ia lebih memilih pakaian yang praktis, seperti beberapa gaun tidur sutra, serta satu set baju berkuda. Tak lupa, Nateya menyelipkan kebaya halus berwarna pastel, lengkap dengan kain jarik bermotif parang.

“Ini lebih masuk akal,” gumamnya, sambil menaruh satu per satu ke dalam koper. “Sisanya bisa kubuat sendiri dari imajinasi.”

Dari laci meja kerja kayu mahoni, Nateya mengeluarkan alat tulis zaman Hindia Belanda. Sebuah botol tinta hitam kecil dengan pena bulu logam, serta buku catatan kulit berwarna merah. Ia tahu, kadang menulis akan menjadi satu-satunya pelipur kesepiannya di Gunung Arunika.

Tiba-tiba mata Nateya jatuh pada sebuah bingkai foto berwarna sepia. Ia mengangkatnya sembari mengusap wajah cantik mendiang sang ibu, Ny. Sulastri.

"Ibu, aku akan membawa fotomu bersamaku,” bisiknya lirih, jemarinya membelai kaca foto.

Di sampingnya, juga ada foto Anelis dan Julian saat ulang tahun ketujuh. Wajah mungil si kembar tampak sumringah diapit balon dan kue tart besar.

Nateya tersenyum hangat. “Kalian akan selalu bersamaku, setidaknya lewat gambar ini.”

Foto-foto itu ia sisipkan hati-hati di antara lipatan kain dalam koper, agar tidak mudah pecah.

Namun, tanpa sadar, tangannya meraih sebuah bingkai lain yang tergeletak di atas meja rias. Foto pernikahan Seruni dengan Elias. Elias tampak gagah dalam seragam militer, sementara Seruni dalam gaun putih renda yang menjuntai panjang.

Sekilas dada Nateya terasa sesak. Jemarinya refleks ingin membawanya, tetapi kemudian ia tersentak dan menarik tangannya menjauh.

“Tidak…” bisiknya dengan suara serak. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin, lalu berbicara lirih untuk menyapa jiwa Seruni yang ada dalam tubuhnya.

“Seruni, dengarkan aku. Foto ini tidak usah dibawa. Kita pergi justru agar kau bisa menjauh dari lelaki ini. Ingat, Elias hanyalah suamimu di atas kertas," tukas Nateya.

"Suatu hari nanti, dia tega menceraikanmu, bahkan membiarkanmu dijatuhi hukuman atas sesuatu yang bukan salahmu. Jangan lagi kamu dibutakan oleh cinta."

Nateya mengepalkan tangan, nadanya semakin tegas.

“Setelah misi penurunan berat badan selesai, kau harus berpisah dari Elias selamanya. Demi hidupmu sendiri. Demi kebahagiaanmu sendiri.”

Tanpa ragu, ia meletakkan kembali foto pernikahan itu di atas meja, membaliknya menghadap ke bawah agar tak terlihat. Lalu ia merapikan isi koper, memastikan semua sudah lengkap.

Dengan satu tarikan napas panjang, Nateya menutup koper kuno itu. Suara kunci kuningan yang berklik, seolah menjadi tanda bahwa semua telah siap.

Ia berdiri, menatap koper di hadapannya. “Akhirnya, rencanaku akan terlaksana,” gumamnya penuh semangat.

***

Tak terasa malam mulai merambat turun. Angin lembut dari jendela berembus masuk ke kamar si kembar.

Nateya tengah sibuk membantu Julian membereskan isi tas yang akan ia bawa ke Gunung Arunika—kemeja, celana panjang, juga buku gambar dan beberapa buku catatan sekolah.

Setelah selesai, ia mendampingi Anelis yang sedang tekun menuliskan deretan angka di buku tugas matematika. Meski tidak bisa bicara, Anelis sesekali menoleh dengan tatapan meminta kepastian. Nateya sabar mengangguk, memberi isyarat bahwa jawabannya sudah tepat.

Usai semuanya rampung, Nateya menggandeng tangan keduanya menuju meja makan. Namun, langkah mereka terhenti ketika di ruang makan Elias sudah duduk. Lelaki itu rupanya pulang lebih awal sesuai janjinya tadi siang.

Wajah Nateya menegang, tetapi ia memilih mengabaikan. Dengan gaya anggun, Nateya mengajak si kembar duduk bersamanya di meja makan.

Makan malam berlangsung singkat, hingga tiba-tiba Julian bersuara.

"Papa, aku dan Mama sudah selesai berkemas. Apa besok pagi Papa bisa mengantar kami ke Gunung Arunika?”

Elias tampak tertegun, alisnya naik, jelas tak menduga akan mendengar itu. Namun sebelum sempat membuka mulut, Nateya sudah lebih dulu menyahut dengan tenang.

“Bukan Papa, tapi Mayor Ragnar yang akan mengantar kita. Gendis juga akan ikut menemani.”

Sekilas Elias melirik Nateya dengan tajam, tetapi ia menahan diri. Pria itu hanya mengelus pucuk kepala Julian, lalu berkata dengan suara yang dalam.

“Papa tidak bisa mengantar besok, Nak. Papa harus menghadap Gubernur Jenderal Roderick. Empat hari lagi, Papa akan menjemputmu untuk pulang dan kembali ke sekolah.”

Nateya segera menimpali dengan nada sinis, “Silakan. Tapi, aku tidak mengizinkan kau masuk ke rumahku. Jemput saja di teras.”

Rahang Elias semakin mengeras. Namun ia tak membalas dengan kata apa pun, hanya memilih bangkit lebih dulu dari meja makan.

Usai makan malam, Nateya mengecup pipi Anelis dan Julian, sebelum menyuruh mereka masuk ke kamar ditemani Bi Warti. Dirinya sendiri bergegas menuju kamar tidur, ingin segera beristirahat dari segala kesibukan.

Ketika Nateya hampir sampai di kamar, terdengar langkah kaki lain yang mengikutinya dari belakang. Suara langkah itu berat dan tegas, jelas milik Elias.

Nateya mengernyit. Awalnya ia tak peduli, sampai akhirnya Elias masuk melewati pintu kamar tanpa permisi.

“Mau apa kau kemari? Apa kau lupa di mana letak kamarmu, Jenderal?" tanya Nateya, dingin.

Elias yang sudah mengenakan piyama tidur biru muda, menjawab dengan santai, “Aku akan tidur di kamar ini. Supaya kau ingat bahwa kita masih suami istri.”

Mata Nateya terbelalak, jantungnya berdegup keras.

Tak peduli dengan reaksi Nateya, Elias malah berjalan seenaknya menuju ranjang. Dengan tenang, ia merebahkan tubuh tegapnya di sana. Kedua tangan pria itu bertaut di belakang kepala, seolah ranjang itu memang miliknya sejak semula.

Elias menoleh sebentar dan menyapa Nateya dengan ekspresi datar.

“Kau akan berdiri di sana semalaman?"

1
Ntaaa___
Jangan lupa mampir di karya baruku ya kak😇
Ntaaa___
Menarik kak😇
Shyfa Andira Rahmi
👍👍👍
sweetpurple
cool!
Evy
Ada saja nih akal akalan pasien manja...
Evy
Astaga Aldrich...
Evy
Kebetulan banget nih Seruni ..pas benar sang Gubernur bertanya...biar cepat kelar urusan perceraian mu..
Evy
Hadiahnya pasti bukan kaleng kaleng...
Evy
Cerdik banget...
Evy
Mungkin dimasa lalu sewaktu Aldrich suka membeli Seruni.. sebenarnya dia suka tapi malu untuk mengungkap kan perasaan nya.. makanya Seruni selalu dibully demi menutupi perasaan nya itu.
Eroh Maesaroh
lanjooot
Eroh Maesaroh
lnjooooot
Sartin Gusasi
mantap ceritanya seru
Rini Yusnani
gimana soal sepasang penghianat itu kk,aku mau mereka di santet jarak jauh kayaknya...
Lily Miu
ya Elias juga salah karena memberi celah pada obsesi amara
hot sauce
lebih ke capek sih karena ga di hargai
hot sauce
dengan kemampuan cheatnya masa Mami Seruni ga bisa, tanpa Cheat pun Mami Seruni bisa terkenal jenius di dunianya
hot sauce
kebiasaan zaman modern
Antik Handayani
sangat bagus sekali.... aq suka🥰
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
eeiii tak malunya... bangang!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!