Tiga tahun lalu, Lin Tian adalah jenius nomor satu di Kota Daun Merah sebelum takdir menghancurkan seluruh meridiannya. Menjadi sampah yang diinjak-injak semua orang tidak membuat pemuda ini menyerah pada nasib buruknya.
Keberuntungan berubah saat darahnya membangkitkan Mutiara Yin-Yang Primordial, pusaka kuno yang menyimpan jiwa Permaisuri Iblis seksi bernama Yue Chan. Di bawah bimbingan sang permaisuri, Lin Tian memulai jalan kultivasi ekstrem melalui pembantaian dan kultivasi ganda.
Dia bukan pahlawan suci, melainkan kultivator bermuka tebal yang sangat realistis. Jika musuh terlalu kuat, dia akan melarikan diri, menyebarkan racun, atau menikam dari belakang.
Namun, siapa pun yang berani menyentuh wanitanya akan menghadapi pembalasan paling kejam. Saksikan kisah Lin Tian menghancurkan surga dan menjadi penguasa tertinggi alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Malam Pembantaian (Bagian 2)
Debu pecahan batu giok masih melayang memenuhi udara pekat di dalam ruang paviliun rahasia. Udara terasa sangat mencekam akibat himpitan tekanan energi spiritual dari tiga sosok di depan.
Gu Tua melayang perlahan dengan jubah abu-abu yang berkibar tertiup oleh pusaran angin ciptaannya. Sepasang mata cekungnya menatap tajam ke arah Lin Tian layaknya malaikat maut pencabut nyawa.
“Menyerahlah sekarang juga dan aku akan membiarkan kakek tuamu itu mati tanpa rasa sakit.” Wang Teng melangkah maju dengan tawa sombong yang menggema di seluruh reruntuhan bangunan bawah.
Zhao Feng menatap Lin Tian dengan urat leher yang menonjol keras menahan luapan amarah. Dendam atas lumpuhnya Zhao Kun membuat matanya memerah laksana lautan darah yang mendidih ganas.
“Aku tidak akan membiarkan bocah keparat ini mati dengan cara yang terlalu mudah malam ini.” Zhao Feng menarik pedang besar bergigi gergaji dari sarung di punggungnya secara perlahan.
Lin Tian memposisikan Pedang Berat Hitam di depan dada dengan kuda-kuda bertahan yang kokoh. Otot-otot di kedua lengannya menegang hingga urat nadinya bermunculan laksana cacing tanah yang merayap.
Dia menyembunyikan Su-er di balik punggung lebarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membalas. Jari tangan kirinya diam-diam merogoh tiga buah bom asap beracun terakhir di dalam cincin.
Patriark Lin tiba-tiba melangkah maju melewati bahu cucunya dengan raut wajah yang sangat tenang. Tombak perak di tangan kanannya mulai memancarkan pendar cahaya elemen es yang sangat menyilaukan.
“Tian-er, bawa pelayan kecil itu pergi dari sini sejauh mungkin tanpa pernah menoleh kembali.” Suara pria tua itu terdengar berat namun memancarkan sebuah kehangatan yang tak bisa dilukiskan.
“Orang tua bangka yang keras kepala, beraninya kamu mencoba menghalangi jalan kematian kami bertiga.” Zhao Feng mengayunkan pedang gergajinya hingga menciptakan pusaran angin pemotong yang berdesing sangat tajam.
WUSSHH!
Bilah angin raksasa itu melesat cepat ke arah leher Patriark Lin dengan kecepatan kilat. Namun sebuah dinding es setebal satu meter tiba-tiba terbentuk dari ujung tombak perak kakeknya.
TRAANGG!
Bilah angin itu hancur berkeping-keping saat membentur permukaan es pembeku yang sangat padat tersebut. Patriark Lin memuntahkan seteguk darah hitam pekat ke atas ubin batu giok yang hancur.
Racun dingin di dalam tubuhnya yang sebelumnya ditekan kini sengaja dilepaskan sepenuhnya tanpa sisa. Dia secara paksa membakar esensi darah kelahirannya untuk memicu kekuatan ranah Pembentukan Inti palsu.
Rambut putih keperakannya seketika berubah menjadi sebening kristal es di bawah siraman cahaya bulan. Suhu udara di sekitar reruntuhan itu mendadak turun drastis hingga menciptakan embun beku tebal.
“Kakek, hentikan tindakan bunuh diri konyol itu sekarang juga sebelum meridianmu hancur secara total!” Lin Tian mengulurkan tangannya mencoba menghentikan aliran energi liar dari punggung pria tua itu.
Namun sebuah kubah energi es langsung terbentuk dan mendorong tubuh Lin Tian termundur jauh. Patriark Lin menoleh ke belakang dengan senyuman tulus yang sangat jarang diperlihatkannya selama ini.
“Klan Lin telah banyak mengecewakanmu selama bertahun-tahun, biarkan kakek menebus semua kesalahan itu malam ini.” Kakeknya memutar tombak peraknya lalu menerjang ganas ke arah Gu Tua dan Zhao Feng.
Lin Tian menggigit bibir bawahnya sangat keras hingga darah segar menetes membasahi kulit dagunya. Sepasang matanya yang biasanya sedingin es batu kini memerah pekat dipenuhi urat yang pecah.
Setetes air mata berwarna merah darah mengalir turun dari sudut mata kanannya membelah pipi. Tangan kanannya mencengkeram gagang Pedang Berat Hitam hingga kulit telapak tangannya ikut terkelupas perih.
“Zhao Feng, Wang Teng, dan sekte anjing yang mendukung kalian dari belakang punggung sana!” Suara Lin Tian bergema laksana raungan iblis purba yang merangkak naik dari dasar neraka.
“Aku bersumpah atas jiwaku akan membantai sembilan generasi keluarga kalian tanpa menyisakan satu pun. Tidak ada satu pun anjing di kediaman kalian yang akan kubiarkan hidup melihat fajar!”
Kalimat kutukan berdarah itu mengandung tekanan niat membunuh yang sangat masif menggetarkan rongga udara. Bahkan Gu Tua sempat menghentikan langkahnya sejenak akibat getaran psikologis dari sumpah mematikan tersebut.
DHUUMM!
Benturan energi yang sangat dahsyat meledak antara tombak es Patriark Lin dan serangan musuh. Gelombang kejutnya membuat struktur dinding lorong bawah tanah di belakang Lin Tian mulai runtuh.
Lin Tian tidak membuang waktu sedetik pun untuk meratapi tragedi yang sedang terjadi ini. Dia merangkul pinggang ramping Su-er lalu melesat masuk ke dalam kegelapan terowongan saluran air.
“Cepat kejar bocah keparat itu dan potong lidahnya sebelum dia lari terlalu jauh sekarang!” Wang Teng berteriak panik saat melihat bayangan hitam target utamanya mulai menghilang tertelan kegelapan.
Zhao Feng mencoba melompat mengejar ke arah mulut terowongan dengan pedang gergaji terhunus tajam. Namun Patriark Lin menahan kedua kaki pria itu menggunakan cambuk es dari atas lantai.
“Lawan kalian malam ini adalah aku, anjing-anjing pengkhianat kota yang tidak tahu balas budi!” Patriark Lin meledakkan sisa esensi darahnya menjadi ribuan jarum es pemusnah yang menyebar luas.
Batu-batu berukuran besar mulai berjatuhan menutup rapat mulut terowongan tepat di belakang pelarian Lin Tian. Suara dentuman dari pertarungan di atas sana terdengar semakin meredup tertutup oleh tebalnya tanah.
Lin Tian terus berlari kencang menyusuri lorong sempit yang dipenuhi air kotor setinggi betis. Napasnya terdengar memburu teratur namun ritme pergerakan langkah kakinya sama sekali tidak pernah melambat.
Su-er memeluk leher pemuda itu dengan sangat erat sambil menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi. Air mata gadis kecil itu terus mengalir deras membasahi bagian pundak jubah milik Lin Tian.
'Kamu tidak boleh membiarkan emosi murahan menguasai jalan pikiran akal sehatmu pada saat ini.' Suara Yue Chan terdengar memperingatkan dengan nada yang sangat dingin di dalam benak pikirannya.
'Tua bangka itu mengorbankan nyawanya agar kamu bisa hidup untuk menuntut balas di masa depan.' Permaisuri iblis itu mencoba menstabilkan fluktuasi jiwa Lin Tian yang sedang bergejolak sangat liar.
Lin Tian tidak menjawab ucapan permaisuri iblis itu melalui jalur komunikasi telepati batin mereka. Dia hanya mempercepat sirkulasi aliran qi di kakinya untuk menghindari reruntuhan atap yang labil.
Sepasang matanya terus menatap tajam ke arah kegelapan di depan tanpa sedikit pun keraguan. Setiap kali kakinya menginjak genangan air kotor, cipratan lumpur menodai celana kainnya tanpa henti.
Udara di dalam terowongan bawah tanah ini berbau sangat busuk akibat lumut mati yang menumpuk. Namun aroma menyengat itu tidak bisa mengalahkan bau darah khayalan yang membanjiri indra penciumannya.
“Kita akan bersembunyi di jalur pembuangan sisa limbah pertambangan lama di ujung perbatasan utara kota.” Lin Tian berbisik sangat pelan ke telinga Su-er untuk menenangkan tubuh gadis yang bergetar.
Jari tangan kirinya sesekali meraba dinding batu berlumut basah untuk memastikan arah persimpangan lorong. Terowongan gelap ini adalah jalur kuno rahasia yang sudah ditinggalkan ratusan tahun lalu.
Seekor tikus mutan bawah tanah sebesar anjing dewasa tiba-tiba melompat dari arah pipa pembuangan. Gigi taringnya yang berkarat mengarah tepat ke leher putih Su-er dengan kecepatan sangat mematikan.
Lin Tian bahkan tidak perlu menghentikan laju larinya untuk merespons serangan binatang buas tersebut. Dia hanya memutar gagang pedang di tangan kanannya ke arah atas dengan gerakan efisien.
ZRRTTT!
Tubuh tikus mutan raksasa itu langsung terbelah menjadi dua bagian yang sangat simetris berdarah. Potongan bangkainya terlempar ke dinding batu tanpa sempat mengeluarkan satu pun suara decitan kesakitan.
Tiba-tiba, suara retakan yang sangat keras terdengar dari arah dinding batu di sebelah kiri. Aliran air sungai bawah tanah menerobos masuk membawa tekanan arus pusaran yang mematikan.
BYUURRR!
Gelombang air kotor dan dingin itu menghantam tubuh Lin Tian hingga terdorong ke dinding. Dia segera menancapkan bagian tumpul Pedang Berat Hitam ke celah batu untuk menahan posisinya.
Tangan kirinya masih mendekap erat pinggang Su-er agar gadis itu tidak terseret arus pusaran. Otot punggung lebarnya berderak keras menahan beban ribuan liter air yang menekan secara konstan.
“Pegang erat pundakku dan jangan lepaskan napasmu sampai aku memberikan perintah mutlak selanjutnya padamu.” Lin Tian menarik napas panjang lalu mengalirkan energi spiritual untuk melindungi rongga dada gadis itu.
Dia mencabut pedang besarnya perlahan lalu membiarkan pusaran air membawa tubuh mereka berdua mengalir. Terowongan pembuangan sisa limbah ini bermuara langsung menuju ke arah jurang hutan alam liar.
Arus air bawah tanah memutar tubuh mereka dengan sangat kasar membentur lumut dinding batu. Lin Tian sengaja memposisikan punggungnya sebagai perisai daging untuk melindungi Su-er dari hantaman karang.
Setiap kali punggungnya menghantam batuan tajam, kain jubah hitamnya merobek kulit hingga berdarah segar. Namun giginya hanya menggigit rapat menahan rasa sakit tanpa melepaskan satu erangan lemah pun.
Mereka terseret arus deras yang mencekik itu selama hampir setengah jam penuh di dalam kegelapan. Su-er sudah hampir kehilangan kesadarannya karena kehabisan suplai oksigen di dalam air yang kotor.
Cahaya rembulan samar akhirnya mulai terlihat dari ujung lorong bundar yang tertutup akar gantung. Itu adalah ujung pipa pembuangan raksasa yang menjorok keluar di tebing air terjun buatan.
Lin Tian mengalirkan sisa qi ke telapak kakinya lalu menendang keras dinding pipa besi tersebut. Lontaran tenaganya membuat tubuh mereka melesat keluar dari dalam kurungan air yang sangat mematikan.
Dia memutar badannya di udara terbuka lalu mendarat dengan kasar di atas tumpukan daun kering. Tanah berlumpur di pinggiran sungai hutan tersebut menyambut pendaratan fisik mereka berdua dengan keras.
BRUUKK!
Mereka berdua berguling beberapa kali saling berpelukan di atas tanah basah pinggiran sungai hutan lebat. Lin Tian segera bangkit berdiri tegap tanpa mempedulikan rasa nyeri sendi di seluruh tubuhnya.
Dia menarik Su-er yang sedang terbatuk-batuk hebat mengeluarkan air kotor dari dalam paru-paru kecilnya. Lingkungan hutan belantara ini sangat pekat dan dipenuhi oleh dengungan serangga malam yang mengerikan.
Indra spiritual Lin Tian langsung menyebar membelah kegelapan sejauh ratusan meter untuk memindai setiap ancaman. Hutan Alam Liar adalah tempat berkumpulnya ribuan binatang buas tingkat rendah pemakan daging segar.
“Mereka pasti akan melacak jejak air sungai ini menggunakan anjing pelacak spiritual milik faksi kota.” Lin Tian mengeluarkan sebotol bubuk penghilang jejak beraroma belerang tajam dari dalam cincin spasialnya.
Dia menaburkan bubuk halus itu secara merata untuk menutupi jejak kaki mereka di atas lumpur. Bau belerang pekat ini akan membuat penciuman anjing pelacak manapun hancur dalam hitungan detik.
“Tuan Muda, apakah kakek benar-benar akan bisa bertahan hidup menghadapi monster kuat itu sendirian?” Su-er bertanya dengan suara parau di sela isak tangis ketakutan yang tertahan di kerongkongan.
Lin Tian tidak menolehkan kepalanya untuk menatap wajah gadis pelayan yang sangat setia kepadanya. Tangan kanannya mengayunkan pedang untuk menebas dahan berduri di depan pembukaan jalur jalan baru.
“Orang yang sudah bertekad mati tidak akan pernah bisa selamat dari dinginnya tanah kuburan mereka.” Jawaban rasional dan sangat kejam itu meluncur mulus dari bibir Lin Tian tanpa simpati.
Namun cengkeraman telapak tangannya pada gagang pedang justru semakin mengerat hingga buku jarinya memutih. Dia sedang mengolah seluruh rasa sakit dan penderitaan kehilangan itu menjadi sumber bahan bakar balas dendamnya.
Mereka berdua berjalan tertatih menyusuri lebatnya vegetasi hutan pinus di bawah kegelapan malam liar. Arah yang terus mereka tuju adalah bagian terdalam hutan yang selalu dijauhi banyak kultivator.
Suara lolongan panjang kawanan serigala malam terdengar bersahutan dari arah bukit batu di kejauhan. Angin malam bertiup kencang menembus pakaian basah mereka hingga menggigit pori-pori sumsum tulang terdalam.
Lin Tian memasukkan sebutir pil penghangat tubuh ke dalam mulut Su-er untuk mencegah serangan hipotermia. Dia sendiri hanya mengandalkan perputaran pasif energi spiritual elemen netral untuk menjaga suhu organ vitalnya.
Langkah kakinya tiba-tiba berhenti saat menemukan sebuah rongga gua kecil di balik akar pohon beringin. Gua beraroma apak itu tampaknya adalah bekas sarang beruang batu yang sudah lama ditinggalkan.
“Kita akan bersembunyi di dalam lubang ini selama dua jam penuh sebelum kembali melanjutkan pelarian.” Lin Tian memerintahkan Su-er masuk lebih dulu sementara dia memeriksa setiap sudut mulut gua.
Dia menyebarkan sisa bubuk beracun di sekitar area pintu masuk untuk menangkal kedatangan serangga berbisa. Setelah memastikan radius perimeter aman, dia duduk bersila di dekat Su-er yang masih menggigil.
Kegelapan sempit di dalam gua itu terasa mencekam namun memberikan sedikit rasa perlindungan dari kejaran. Lin Tian memejamkan matanya perlahan namun daun telinganya tetap siaga menangkap setiap pergesekan daun jatuh.
Bayangan wajah kakeknya yang rela membeku menjadi patung es terus berputar repetitif di dalam ingatannya. Dia mengeluarkan sebuah token giok berukir naga kuno yang merupakan simbol hierarki Patriark Klan Lin.
Token rapuh itu diam-diam dimasukkan oleh kakeknya ke dalam saku jubah Lin Tian sebelum pertempuran. Lin Tian mengusap permukaan giok yang sedingin es itu menggunakan ibu jarinya berulang kali tanpa henti.
'Sembilan generasi Klan Zhao pasti akan kubuat berlutut membayar lunas hutang lautan darah malam ini.' Sumpah itu terukir abadi di pusat kesadaran jiwanya laksana paku baja yang menancap dada.
Malam pembantaian ini telah secara paksa merenggut satu-satunya sisa keluarga sedarah yang peduli kepadanya. Kini pemuda itu sepenuhnya telah melepaskan belenggu moral fana untuk menjadi sang raja iblis.
Su-er secara perlahan menyandarkan kepalanya ke lengan tegap Lin Tian akibat rasa lelah yang ekstrem. Lin Tian tidak menolak beban tersebut dan membiarkan tubuh mungil itu mencari kehangatan di sisinya.
Aliran energi Yin yang sangat pekat di dalam hutan liar mulai meresap melalui pori-pori kulitnya. Lin Tian memutar metode kultivasi iblisnya secara diam-diam untuk menyerap seluruh energi negatif dari lingkungan.
Luka sayatan yang menganga di bagian punggung dan lengannya mulai menutup ajaib berkat kultivasi tersebut. Mutiara primordial di dalam dantiannya berputar sangat pelan untuk memurnikan hawa racun dari udara hutan.
'Kamu bertumbuh menjadi lebih kuat di setiap detik penderitaan fisik yang membasuh tubuh fanamu ini.' Yue Chan memberikan komentar yang terdengar setengah memuji di balik nada malas yang selalu ditunjukkannya.
'Penderitaan hanyalah sebuah batu loncatan bagiku untuk menginjak kepala orang-orang sombong di masa depan nanti.' Balas Lin Tian dalam pikirannya seraya membuka kedua matanya yang memancarkan pendar merah kehitaman.
Dia membelai rambut hitam Su-er yang masih basah kuyup dengan gerakan tangan yang sangat kaku. Gadis malang ini adalah satu-satunya jembatan kewarasan yang masih mengikatnya dengan sisa sisi kemanusiaan.
Di luar mulut gua, gerimis hujan mulai turun membasahi dedaunan kering di seluruh penjuru hutan. Tetesan air hujan ini seolah turun untuk mencuci bersih sisa kelemahan hati seorang pemuda fana.
“Tidurlah yang nyenyak untuk malam ini karena esok hari dunia tidak akan pernah sama lagi.” Lin Tian menggumamkan kalimat penutup itu menyatu dengan suara deru angin hutan yang semakin liar.
tapi ini kok aku rasa keterlaluan bersikap dingin kepada semuanya walaupun orang itu baik dan benar-benar setia kepada dia
bahkan terhadap orang yang berbuat baik kepadanya
tak perlu membuang-buang energi hanya untuk menyelamatkan orang yang pernah mencampakkanmu dan memandang rendah pada dirimu👍👍👍