NovelToon NovelToon
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mandul / Konflik etika
Popularitas:624
Nilai: 5
Nama Author: Vitamaya

Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.

Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.

Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Mobil melaju membelah jalanan malam yang lengang. Lampu-lampu kota berpendar samar di kaca jendela, memantulkan bayangan wajah Fathiya yang kini tak lagi setenang sebelumnya.

Di dalam mobil itu, bukan hanya ada Yevi dan Fathiya. Ada Sofia dan juga Rian, anak-anak Yevi yang juga turut serta. Namun suasana tetap hening. Tak seorang pun berani memulai percakapan, seolah masing-masing larut dalam pikirannya sendiri.

Keheningan itu terasa menekan. Di sampingnya, Yevi terdiam, namun diamnya berbeda. Bukan sekadar menunggu melainkan mengamati. Hingga akhirnya, mobil yang dikemudikan Rian memasuki pelataran rumah megah milik Yevi. Pintu pagar terbuka perlahan, menyambut mereka dengan sunyi yang terasa dingin.

Mobil berhenti. Rian mematikan mesin mobil. Namun tak satu pun dari mereka langsung bergerak. Akhirnya Rian membuka pintu lebih dulu, membantu ibunya ke luar dari mobil. Di susul oleh Fathiya dan juga Sofia.

"Rian pamit pulang dulu, Ma," ucapnya, memecah keheningan. 

Yevi mengangguk pelan. "Iya. Salam untuk istrimu. Jangan lupa... ajak anak-anakmu ke sini besok. Biar mereka bisa bertemu dengan tantenya yang baru pulang ke Indonesia." Nada suaranya kembali terdengar hangat seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

"Iya, Ma," jawab Rian singkat. Rian harus segera pulang untuk menemui istri dan kedua anaknya yang baru pulang dari luar kota. Tak lama, Rian melangkah pergi, meninggalkan rumah masa kecilnya dan suasana yang masih menyisakan ketegangan.

Di dalam rumah, Sofia langsung menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Ia memilih menghindar mungkin juga karena lelah, atau mungkin karena enggan terlibat dalam sesuatu yang terasa semakin rumit.

Kini tinggal Fathiya dan Yevi. Fathiya melangkah pelan menuju ruang tamu, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Ia bersandar, menatap kosong ke depan. Rumah itu megah namun malam ini terasa asing. Dadanya masih terasa berat. Seolah ada sesuatu yang mengendap dan belum menemukan jalan keluar. Pikirannya kembali pada kejadian di rumah Farah. Tatapan Zulfa. Nada suara Arslan.

Dan kalimat yang begitu jelas mengguncang segalanya—

"...kalau dulu kamu tidak menolak lamaran Arslan..."

Fathiya memejamkan mata. Dadanya sesak.

Seolah masa lalu yang selama ini ia kubur rapat, tiba-tiba dipaksa bangkit kembali.

"Fath..." Suara itu akhirnya memecah keheningan. Tapi mengandung sesuatu yang membuat Fathiya tanpa sadar menegang.

"Ada yang ingin tante bicarakan." Fathiya mengernyit pelan. Perasaannya mulai tidak enak. 

"Apa yang ingin tante bicarakan?" Tanyanya dengan jantung yang berdebar.

"Soal hubunganmu dan Arslan." 

"Apa maksud Tante?" Suara Fathiya terdengar pelan, namun jelas menyimpan keterkejutan yang tak bisa ia sembunyikan. Kedua matanya menatap lurus ke arah Yevi, mencoba mencari jawaban dari sorot wajah wanita itu. Yevi tersenyum tipis. Senyum yang kini tak lagi terasa hangat.

"Sudah waktunya kamu menata ulang hidupmu lagi. Merebut sesuatu yang sejak awal sudah menjadi milikmu." Ucapnya kemudian. 

"Tante mau menyuruhku jadi orang jahat dengan merebut Arslan dari istrinya?" Suaranya bergetar takut sekali jika dugaannya benar.

"Tante hanya ingin yang terbaik untuk kamu."

"Yang terbaik?" ulang Fathiya lirih. "Dengan cara seperti itu?" Ia menggeleng pelan.

"Aku sudah melewati banyak hal, Tante. Aku sudah kehilangan cukup banyak dalam hidupku. Aku tau rasanya di khianati dan dikecewakan. Tolong, jangan paksa aku jadi penyebab luka orang lain." Kalimat itu tegas namun rapuh di saat yang sama.

Cahaya lampu ruang tamu memantul di wajah mereka—merah, tajam, seolah menegaskan ketegangan di antara keduanya.

"Kamu masih menyimpan perasaan untuk Arslan, bukan?" Pertanyaan itu langsung menusuk membuat Fathiya terdiam. Tak menjawab. Namun diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

Yevi tersenyum tipis. "Memangnya tante tidak tau kalau diam-diam kamu sering menanyakan kabar Arslan lewat Rian. Kamu masih menyimpan penyesalan karna pernah menolak lamaran Arslan, bukan?" Jantung Fathiya terasa merosot dari tempatnya, ia tak menyangka kalau sepupunya itu bercerita pada Ibunya. 

"Hanya sebatas menanyakan kabar bukan berarti masih menyimpan perasaan." Ucap Fathiya menyangkal.

"Kamu boleh menyangkal, tapi Tante tahu, perasaan itu tidak mungkin hilang begitu saja."

"Saya memang pernah menolak lamaran Arslan demi mewujudkan cita-cita saya menjadi seorang dokter spesialis, tapi sekarang, Arslan sudah memiliki kehidupan lain yang tidak seharusnya saya ganggu. Perasaan saya pada Arslan sudah benar-benar selesai." Ucap Fathiya yang masih kekeh dengan pendiriannya.

"Benarkah?"  Satu kata itu terasa seperti tamparan. Yevi Menatap Fathiya dalam-dalam.

"Kalau kamu benar-benar sudah selesai," lanjutnya pelan, "kenapa kamu masih menangis tadi?"

Fathiya membeku. Tak mampu langsung menjawab. Yevi menyandarkan punggungnya, namun tatapannya tak lepas sedikit pun.

"Kamu pikir Tante tidak melihat?" bisiknya. "Cara kamu menatap Arslan... cara kamu menahan diri..." yevi menggeleng pelan.

"Kamu belum selesai dengan masa lalu mu, Fath." Air mata Fathiya jatuh lagi. Kali ini tanpa bisa ia tahan.

"Tapi bukan berarti aku harus merebut dia dari istrinya." Nada suaranya bergetar, namun tegas.

"Aku tidak akan melakukan itu. Itu perbuatan tidak benar."

Keheningan jatuh sejenak. Namun kali ini lebih berat, lebih terasa menekan. Yevi tersenyum lagi. Namun senyum yang ia tampakkan begitu dingin.

"Kamu terlalu naif." Fathiya menatapnya. Ada sesuatu yang mulai terasa tidak nyaman.

"Kamu pikir hidup selalu tentang benar dan salah?" lanjut Yevi. 

Ia mendekat sedikit. Suaranya merendah. "Ini bukan benar atau salah" Yevi menjeda ucapannya, "tapi siapa yang paling kuat merebut hati seseorang."

Fathiya menggeleng pelan. "Kalau itu artinya aku harus menyakiti orang lain aku tidak mau menjadi sekuat itu. Arslan sudah menjadi milik Zulfa dan itu tidak akan merubah apapun." Jawabannya tegas.

Namun justru itu yang membuat ekspresi Yevi seketika berubah, rasa kesalnya mulai muncul.

"Jangan keras kepala, Fathiya," ucapnya lebih tajam. "Ingat kamu masih punya hutang banyak pada tante!! Dan sudah waktunya kamu membayarnya!!"

"Hutang?" Fathiya mengernyit bingung. 

"Iya." Yevi menatapnya lurus.

"Kamu punya utang budi pada Tante."

Kalimat itu terasa menyesakkan. Dan untuk sesaat membuat Fathiya kehilangan suara. Sepanjang hidupnya, Tante Yevi tidak pernah menuntut apapun darinya, dan kini ia menuntutnya.

"Kamu ada di posisi sekarang karena siapa?" lanjut Yevi tanpa jeda. "Karena Tante." Perkataannya penuh penekanan membuat Fathiya tersentak.

"Kalau bukan tante yang ngurus kamu dulu, mungkin sekarang kamu sudah jadi gembel di jalanan, atau mungkin ...  Wujudmu yang masih bayi itu sudah di kubur hidup-hidup oleh ibumu yang mungkin sedang tersiksa di neraka Jahanam!!"

Air mata Fathiya mengalir deras. Ia kembali mengingat tentang siapa dirinya. Seorang anak yang tidak pernah diharapkan kehadirannya karna hubungan terlarang yang dilakukan oleh orang tuanya yang pada akhirnya harus meregang nyawa karna kecelakaan lalu lintas yang mereka alami.

"Apa yang sebenarnya Tante inginkan dari ku...?" suaranya nyaris tak terdengar. Yevi menatapnya dalam. Dan kali ini ia tidak lagi menyembunyikan maksudnya.

"Rebut Arslan kembali. Lahirkan generasi penerus untuk Arslan." Sebuah kalimat yang begitu mengguncang hidupnya dan seketika membuat dunia Fathiya kembali runtuh. 

"Tante ingin kamu ada di hidupnya lagi."

Fathiya menggeleng cepat.

"Tidak... aku tidak bisa—"

"Kamu bisa!!" Nada suara Yevi kini tak lagi lembut. Melainkan memaksa dan menyentak.

"Dan kamu harus melakukannya atau ..."

Sunyi. Hanya suara napas Fathiya yang tak beraturan, menunggu kalimat lanjutan dari tantenya.

"Atau karirmu yang menjadi taruhannya ..." Wajah Yevi seketika berubah menjadi iblis yang menjelma menjadi manusia. Wajah Yevi kian mendekat lalu berbisik di telinganya, "Ingat Fath, kamu harus bisa mencontoh perbuatan mendiang ibumu yang pernah sukses menjadi Gundik."

 Dadanya bergemuruh keras, rasanya Fathiya ingin sekali berontak tetapi tertahan karna keadaan, hingga yang mampu Fathiya lakukan hanya diam dengan air mata yang kian berlinang. Aib keluarga ini berhasil Yevi tutupi sehingga tidak ada yang tau kalau Fathiya merupakan keponakannya yang terlahir dari hubungan yang salah.

Disana Yevi nampak bersedekap santai melihat kehancuran di wajah Fathiya. "Kamu tau kan siapa itu keluarga Ardiwilaga, mereka memiliki kekuasaan yang bisa menghancurkan siapa pun, termasuk kamu!!" Dadanya terasa sesak, napasnya tertahan. Kata-kata itu menggema di kepalanya, menghantam sisa-sisa kekuatan yang Fathiya miliki.

"Apa yang tante lakukan ini juga atas perintah dari tante Farah. Dia yang lebih dulu memaksa  tante agar bisa berbuat sejauh ini." Walau demikian, Yevi juga memiliki perasaan tak tega melihat keponakan yang pernah ia rawat, kini berdiri di ambang kehancuran, jelas bukan sesuatu yang mudah. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa saat Farah sudah memerintahnya. 

Namun di sisi lain ia juga melihat kesempatan. Kesempatan untuk mengubah nasib. Kesempatan untuk mengikat kembali masa lalu yang sempat terlepas. Jika Fathiya bisa melahirkan anak Arslan, maka segalanya akan berubah.

Bagi mereka.

Bagi keluarga.

Dan mungkin... bagi dirinya sendiri.

"Jangan jadi wanita bodoh lagi!! Arslan itu pewaris tunggal dari kerajaan bisnis keluarganya. Sudah saatnya kamu merubah nasib keluarga kita. Rebut Arslan kembali, kamu masih punya kesempatan untuk merubah segalanya dari rasa sesalmu dulu, dari hancurnya hatimu saat melihat Arslan menikah dengan wanita lain." 

Air mata Fathiya terus mengalir tanpa henti. Ia tak lagi mencoba menahannya. Di dalam dadanya, sebuah pertempuran besar tengah berlangsung—antara hati yang menolak, dan kewajiban yang dipaksakan. Antara kebenaran dan tekanan yang semakin menghimpit.

Dan malam itu untuk pertama kalinya, Fathiya benar-benar menyadari, bahwa dirinya telah masuk terlalu jauh. Ia benar-benar terjebak dalam keadaan yang salah dan tak tahu bagaimana cara keluar.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!