NovelToon NovelToon
The Duchess Of Silent Tears

The Duchess Of Silent Tears

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

Mata Kaelen menyipit. Tatapannya turun ke tangan kanan Elara yang bertumpu di pagar.

Jari-jari Elara bersih, tapi jika dilihat sangat dekat, ada garis tipis tanah hitam yang tertinggal di bawah kukunya—sisa dari penggalian pagi ini yang belum sempat ia bersihkan sempurna.

Jantung Elara berdegup kencang. Apakah dia melihatnya?

Kaelen menatap tangan itu lama. Lalu, dengan gerakan yang mengejutkan, ia meraih tangan kanan Elara.

Ia mengangkatnya, mendekatkannya ke wajahnya seolah sedang memeriksa luka. Ibu jari Kaelen yang kasar mengusap punggung tangan Elara, lalu dengan sengaja menekan ujung jari istrinya.

Tanah hitam itu terlihat jelas bagi mata seorang pemburu jejak.

Elara menahan napas, siap menerima ledakan amarah. Kaelen tahu tanah pot. Kaelen tahu tidak ada pot tanaman di dalam kastil selain di satu tempat terlarang.

Kaelen menatap mata Elara. Tatapannya intens, penuh dengan pengetahuan yang tidak terucap. Dia tahu. Dia tahu Elara melanggar perintahnya. Dia tahu Elara pergi ke Sayap Selatan.

Namun, dia tidak berteriak.

"Kuku yang kotor tidak pantas untuk seorang Duchess yang akan memimpin perjamuan," kata Kaelen pelan, suaranya serak. "Bersihkan ini sebelum malam tiba. Aku tidak mau tamu—atau arwah leluhur—berpikir kau menggali kuburan di waktu luangmu."

Itu adalah peringatan. Aku tahu apa yang kau lakukan. Berhenti, atau setidaknya, jangan sampai ketahuan.

Kaelen melepaskan tangan Elara, lalu berbalik badan. "Aku akan mandi. Siapkan baju formalku. Jika kita akan melakukan sandiwara pesta ini, kita akan melakukannya dengan benar."

Elara terpaku di tempat, memegangi tangannya yang baru saja dilepaskan. Kaelen membiarkannya lolos. Untuk kedua kalinya, pria itu memilih untuk memalingkan muka dari pelanggaran Elara.

Apakah itu tanda kelemahan? Atau tanda bahwa dia, diam-diam, ingin Elara berhasil menghidupkan kembali apa yang telah mati?

Malam itu, Aula Besar Kastil Blackiron bersinar.

Tiga ribu lilin dinyalakan serentak. Cahaya keemasan membanjiri ruangan raksasa itu, memantul pada piring-piring perak, gelas-gelas ale, dan mata-mata ratusan prajurit yang duduk berjejer di meja panjang.

Kehangatan dari perapian raksasa di kedua ujung aula melawan dinginnya malam di luar. Aroma daging panggang, rempah-rempah, dan ale memenuhi udara.

Elara duduk di meja utama di atas podium, di sebelah kanan Kaelen. Ia mengenakan gaun beludru merah marun—warna yang berani, warna kehidupan—dengan hiasan perak sederhana. Rambutnya disanggul elegan, memperlihatkan leher jenjangnya.

Di sebelahnya, Kaelen tampak seperti raja dalam kegelapan. Ia mengenakan tunik hitam formal dengan sulaman benang perak berbentuk serigala Draxos, jubah beludru hitam di bahunya. Ia tampak agung, menakutkan, namun malam ini, pedangnya tidak ada di pinggangnya.

Brom, mewakili para prajurit dan pekerja, berdiri di tengah aula, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.

"Untuk Tuan Duke!" serunya, suaranya menggelegar. "Pahlawan Perbatasan! Pelindung Utara!"

"UNTUK TUAN DUKE!" ratusan suara menjawab serentak, mengguncang dinding batu. Gelas-gelas beradu.

Kaelen mengangguk kaku, mengangkat gelasnya sedikit sebagai balasan, lalu meminumnya. Wajahnya tetap datar, tidak nyaman dengan pujian itu.

Lalu Brom mengangkat gelasnya lagi. "Dan untuk Nyonya Duchess! Yang membawa... kehangatan kembali ke Blackiron!"

Kali ini, sorakannya berbeda. Tidak sekeras dan sedisiplin sorakan untuk Kaelen, tapi lebih hangat, lebih tulus.

"UNTUK NYONYA DUCHESS!"

Elara tersenyum, pipinya merona. Ia melirik Kaelen, takut suaminya tersinggung karena popularitasnya.

Tapi Kaelen tidak melihat ke arah prajurit. Dia sedang melihat Elara.

Di bawah meja, tersembunyi dari pandangan ratusan orang, tangan Kaelen bergerak. Tangan besarnya mencari tangan Elara di atas pangkuan istrinya.

Ia menggenggamnya. Erat.

Elara tersentak kecil, menoleh cepat. Kaelen menatap lurus ke depan, wajahnya tak berekspresi seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi genggaman tangannya hangat, kokoh, dan posesif.

"Jangan besar kepala," bisik Kaelen tanpa menoleh, suaranya hanya bisa didengar Elara di tengah kebisingan pesta. "Mereka bersorak karena kau memberi mereka makan enak, bukan karena mereka mencintaimu."

"Mungkin," balas Elara, juga berbisik, jari-jarinya membalas genggaman itu. "Tapi kau memegang tanganku, Kaelen. Apakah itu karena makanannya juga?"

Sudut bibir Kaelen terangkat sedikit—sangat sedikit.

Tiba-tiba, pintu samping terbuka. Silas masuk, diikuti oleh seorang pria tua kurus yang membawa sebuah alat musik. Lute (kecapi).

Kaelen menegang. Genggaman tangannya mengerat hingga menyakitkan.

"Elara," desisnya. "Aku bilang tidak ada musik."

"Kau bilang satu setengah gelas ale," Elara mengoreksi cepat, jantungnya berpacu. "Kau tidak secara spesifik melarang musik instrumental yang tenang. Itu Bard (penyair) tua dari desa lembah. Dia butuh uang untuk kayu bakar, Kaelen. Dia tidak akan menyanyikan lagu mabuk."

Kaelen menatap pemusik tua itu dengan tatapan membunuh. Musik adalah pemicu kenangan. Lyra suka menari. Musik di aula ini selalu mengingatkannya pada tarian yang tidak pernah terjadi.

Pemusik itu, gemetar di bawah tatapan sang Duke, mulai memetik senarnya.

Bukan lagu pesta yang riuh. Melainkan sebuah melodi lambat, sedih, namun indah. Lagu kuno Utara tentang angin yang berhembus di antara pohon pinus.

Tring... tring...

Suara petikan itu mengalun di udara, menyelinap di antara percakapan para prajurit. Perlahan, suara gaduh mereda. Orang-orang mulai mendengarkan. Melodi itu menyentuh hati mereka yang keras, mengingatkan mereka pada ibu, pada kekasih, pada kedamaian yang hilang.

Kaelen tidak melepaskan tangan Elara. Malah, ia menariknya lebih dekat, meletakkan tangan mereka yang bertautan di atas pahanya sendiri.

Ia memejamkan mata sejenak, mendengarkan musik itu. Wajahnya yang tegang perlahan rileks (emotional beat focus). Musik itu menyakitkan, ya. Tapi rasa sakit itu bercampur dengan kehangatan tangan Elara, dengan aroma makanan, dengan tawa prajuritnya.

Rasa sakit itu tidak lagi terasa seperti pisau yang mengiris sendiri. Rasanya seperti luka lama yang sedang dibasuh air hangat.

"Kau curang," bisik Kaelen akhirnya, membuka matanya dan menatap Elara. Ada kelembutan yang langka di mata abu-abunya, kelembutan yang membuat napas Elara tercekat.

"Aku harus curang," jawab Elara lembut. "Kalau tidak, kau tidak akan pernah membiarkan dirimu merasakan apa pun."

Malam itu, Festival Titik Balik Matahari menjadi titik balik bagi Blackiron. Di bawah cahaya tiga ribu lilin, diiringi petikan kecapi yang melankolis, Duke dan Duchess duduk berdampingan, tangan saling bertautan, menyaksikan musim dingin perlahan kehilangan cengkeraman mematikannya pada rumah mereka.

Namun, di tengah kehangatan itu, Elara tidak tahu bahwa di luar sana, di jalan bersalju menuju gerbang, sebuah kereta kuda lain sedang mendekat. Kereta tanpa lambang, membawa seseorang dari masa lalu Kaelen yang jauh lebih berbahaya daripada kenangan hantu mana pun.

Seseorang yang masih hidup.

1
Yuii Klp
ceritanya menarik dan menegangkan
Jinan 2
ok
Jinan 2
ceritanya bikin ketagihan, alurnya cepat dan konflik terus berkembang
Kalong Super
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
Kalong Super
👍👍👍👍👍👍gassss
Kalong Super
lanjuttttt 💪👍👍
rizky r
cerita seru menarik, langsung ke inti penulisannya juga mudah dibaca dan dipahami
Kalong Super
mantap and good
merry
gampar ajj org kyk gt el,, pcr bukn bini bukn klurga juga bukn cm mntn calon adik ipar donk mn pyn gak ngmg in itu,, kealen juga lemah bgtt
kiu kiu
kpn vespera hancur...mulutnya minta di masukin cabai.biar kepedesan .thor...bener bener bikin org pengen nampol vespera aja...org lagi di rumah mantan calon ipar.udah seperti penguasa aja.
kiu kiu
sebenarnya yg menjadi racun itu adalah keluarga lira sendiri.semoga elara bisa membuktikan ada kejahatan dan konspirasi dlm keluarga elara.
Ysya Jeje
menarik
Lucy Sandy
romantis banget
Roy Kkk
seru banget ceritanya
King Salman
🙏👍
King Salman
ayo lady aku mendukungmu
Vita Detty
apa jangan2 lyra msih hdup
merry
istana dingin hitam kyk kastil penyihir x ya rumh ya kalen
merry
td gudang skrg perpus,, dan kmar tamu lm lm kmu pindh ke kmr iblis itu el😆😆😆
merry
mkn sisa prajurit lg emng jht lki mu el,, buat dri mu berguna untuk dr mu sndri el ketika kmu di butuhkan minta byrann setimpal ell🙏🙏🙏
Kalong Super: jadi ikut sedih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!