NovelToon NovelToon
Pegasus From Diamond Planet

Pegasus From Diamond Planet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Teman Baru

"Ayah... siapa dia sebenarnya?" tanya Justin pelan setelah menduduki kursi kayu di samping Jacob. Jarinya menunjuk sedikit ke arah anak lelaki di seberang meja yang kini menghentikan kunyahannya.

Alan buru-baru menelan makanan di dalam mulutnya hingga tenggorokannya bergerak kasar. Dia menatap Justin selama beberapa detik, menilai penampilan anak berambut hitam itu, sebelum akhirnya beralih menatap Jacob untuk meminta kepastian statusnya.

"Dia adalah pelancong yang berasal dari planet lain, Justin. Dialah entitas yang berada di dalam kristal merah pembawa ledakan di danau belakang kastil tadi sore. Mulai malam ini dan seterusnya, dia akan tinggal di sini bersama kita di dalam kastil," jelas Jacob, matanya yang tajam mengawasi pergerakan Alan dari ujung meja.

"Apa dia sejenis makhluk alien, Ayah? Tapi... mengapa wajahnya sama sekali tidak menyeramkan seperti monster di buku cerita? Dia justru terlihat sangat mirip seperti manusia biasa," gumam Justin, fokus matanya tidak sedetik pun lepas dari mengamati visual anak di hadapannya.

Mendengar kata 'alien', Alan langsung mendelik kesal dan memajukan bibir bawahnya, merasa tersinggung. "Aku bukan makhluk alien, bukan juga ras manusia fana seperti yang kau kira! Namaku Alan, dan aku berasal dari tempat yang jauh bernama Planet Diamond."

"Planet Diamond?" Justin mengernyitkan dahinya, mengulang nama asing tersebut. "Aku baru pertama kali mendengarnya dari Ayah. Lalu... jika kau bukan manusia atau alien, kau ini makhluk jenis apa?"

"Aku adalah seorang Pegasus," sahut Alan singkat dan padat, sebelum kembali meraih garpunya untuk menyuap potongan kentang ke dalam mulutnya, mencoba mengabaikan rasa canggung.

"Kau terlihat sangat kelaparan, Alan. Cara makanmu seperti orang yang tidak pernah melihat makanan selama berhari-hari," komentar Justin polos melihat piring Alan yang sudah bersih setengahnya dalam waktu singkat.

Gerakan tangan Alan yang hendak menusuk sosis di piringnya mendadak terhenti seketika di udara. Matanya yang ungu perlahan meredup, memendam kabut kesedihan yang teramat pekat.

"Iya... aku memang belum makan makanan yang layak selama beberapa hari terakhir," aku Alan, suaranya mendadak berubah lirih dan bergetar.

"Di planet asalku, aku tidak pernah bisa makan atau tidur dengan tenang. Apalagi setelah... setelah ibuku dibunuh dengan kejam oleh monster Typhon. Selama ini, hidupku hanya habis digunakan untuk berlari dan sibuk menyelamatkan diri dari kejaran maut."

Justin tertegun di tempat duduknya. Jantung manusianya yang telah diubah menjadi esensi vampir mendadak mencelos. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa bocah yang secara fisik tampak seumuran dengannya itu harus memikul beban penderitaan trauma psikologis sehebat itu di usia muda.

Sebagai seorang pangeran tunggal di kastil ini, meskipun dia juga mengonsumsi makanan sekunder manusia, dia tidak pernah kekurangan kemewahan sedikit pun. Ayahnya, Jacob, selalu menyediakan apa pun yang dia inginkan dalam kedipan mata.

Atmosfer di dalam ruang makan yang semula dipenuhi oleh rentetan pertanyaan interogasi polos anak-anak, seketika berubah drastis menjadi hening, dingin, dan terasa sangat berat.

Justin terdiam seribu bahasa, tangannya yang semula hendak memotong pisau daging di atas piringnya mendadak kaku dan mati rasa. Dia menatap wajah Alan dengan pandangan mata yang kini jauh lebih lembut dan sarat akan rasa simpati, tidak ada lagi kilat kecurigaan atau keangkuhan seorang pangeran di sana.

"Maafkan aku, Alan... aku benar-benar tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu atau masa lalumu," ucap Justin dengan nada suara yang tulus dan dipenuhi rasa penyesalan yang mendalam.

Tanpa ragu-ragu, Justin berdiri dari kursinya, meraih piring porselen besar berisi tumpukan kue-kue manis berlapis cokelat miliknya, lalu menggesernya melewati garis tengah meja ke arah hadapan Alan.

"Makanlah kue-kue manis ini juga untuk pencuci mulutmu. Ayah selalu bilang bahwa kue buatan koki kastil ini adalah yang paling enak di seluruh wilayah utara. Kau boleh menghabiskan seluruh isinya jika kau mau, aku tidak akan memintanya."

Alan mendongakkan kepalanya, sepasang matanya yang berwarna ungu murni tampak sedikit berkaca-kaca menahan haru, menatap piring kue yang disodorkan secara tulus oleh Justin.

"Terima kasih banyak... Pangeran..."

Alan menjeda kalimatnya di tenggorokan karena dia baru menyadari bahwa dia belum mengetahui nama fungsional dari anak lelaki murah hati yang duduk di seberangnya tersebut.

"Maaf... aku harus memanggil nama Pangeran dengan sebutan apa?" tanya Alan pelan.

Justin tersenyum kecil, lalu melangkah memutari meja panjang tersebut. Dia berdiri tegak di samping kursi Alan, lalu mengulurkan tangan kanannya dengan formalitas yang ramah untuk memperkenalkan diri.

"Namaku Justin. Cukup panggil namaku saja, tidak perlu embel-embel Pangeran."

Alan ikut menggeser kursinya ke belakang, berdiri dengan tegap dan menyambut hangat uluran tangan tersebut. Sepasang tangan mungil berambut putih dan hitam itu saling bertautan erat di dalam ruang makan, memulai sebuah jalinan hubungan pertemanan yang awalnya canggung namun didasari oleh ketulusan yang murni dari dasar hati masing-masing.

Justin melepaskan jabat tangan mereka, lalu menoleh ke arah bangku utama di mana ayahnya, Jacob, sedari tadi hanya duduk bersandar sembari menyimak seluruh interogasi dan interaksi mereka dengan ekspresi wajah yang datar tanpa emosi.

"Ayah," panggil Justin dengan nada suara yang sengaja dibuat memohon, menatap Jacob dengan pandangan mata bulatnya yang penuh harap. "Bisakah kita berjanji untuk menjaga dan merawat Alan dengan fasilitas terbaik di sini? Dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di alam semesta ini, Ayah. Aku ingin dia bisa merasakan kenyamanan dan keamanan mutlak di dalam kastil kita, supaya... supaya dia tidak perlu lagi berlari ketakutan dari kejaran monster-monster mengerikan itu."

Jacob mengangkat sebelah alis matanya yang tebal, menatap lurus ke arah putra angkatnya yang biasanya hanya peduli pada koleksi mainan kayu dan latihan pedangnya sendiri. "Kau meminta dengan sungguh-sungguh agar aku bersedia menjadi perisai pelindungnya, Justin? Kau tahu sendiri bahwa hukum klan malam kita tidak pernah mengizinkan orang asing masuk ke dalam lingkaran terdalam dengan begitu mudah tanpa kompensasi."

"Tapi dia bukan lagi orang asing yang patut dicurigai, Ayah! Mulai detik ini, dia adalah teman pertama dalam hidupku!" bantah Justin dengan nada tegas, menentang otoritas ayahnya demi melindungi Alan.

Jacob menghela napas pendek melihat keras kepala putranya yang mirip dengannya. Namun, sedetik kemudian, sudut bibir pria abadi itu terangkat tipis—sebuah senyuman tipis tersembunyi yang hampir mustahil ditangkap jika tidak diperhatikan dengan jeli.

"Baiklah. Jika itu adalah keinginan dari pangeranku," ujar Jacob dengan nada baritonnya yang mantap. "Selama anak Pegasus ini berada di bawah naungan atap dan di dalam tembok batu hitam kastil ini, tidak akan ada satu pun monster atau entitas luar yang akan kubiarkan berani menyentuh seujung rambutnya. Itu adalah sumpah darahku."

Mendengar jaminan absolut dari penguasa Luminara tersebut, Alan tersenyum sangat lebar untuk pertama kalinya sejak kakinya menginjak tanah planet Bumi. Beban kecemasan, rasa takut akan kejaran masa lalu, dan kesunyian yang sempat menghimpit pundak kecilnya seolah luruh dan terangkat sedikit demi sedikit, digantikan oleh kehangatan fajar baru di kastil bangsa malam.

Di lubuk hatinya yang terdalam, sebuah kehangatan asing yang sudah berabad-abad tidak dirasakannya mendadak merayap di dada Jacob.

Sang Raja Vampir merasa lega dan senang karena Justin akhirnya memiliki seorang teman sebaya. Di dalam kastil batu hitam yang sunyi ini, tidak pernah ada anak kecil selain Justin. Kalaupun ada anak-anak lain di wilayah utara, mereka biasanya berasal dari ras supernatural sekunder seperti siluman serigala atau klan penyihir yang bermukim di sekitar kedalaman hutan dekat teritori klan Vampir. Interaksi di antara mereka selalu dibatasi oleh kecurigaan politik faksi.

Jacob memiliki alasan yang teramat kuat mengapa dia memilih untuk membangun kastil megahnya tersembunyi di tengah hutan lebat yang belum terjamah dan jauh dari jangkauan peradaban manusia fana. Dia tidak ingin keberadaan eksistensi klannya diendus oleh dunia luar.

Pria abadi itu mendadak teringat memori pahit beberapa tahun lalu, saat dia terpaksa membawa Justin kecil pergi ke wilayah kota manusia untuk sebuah urusan.

Di sebuah taman bermain umum, Jacob sempat terpisah selama beberapa menit dari putranya akibat kerumunan massa. Saat berhasil melacak aroma tubuh Justin, Jacob menemukan putranya tengah dikelilingi dan dirundung oleh sekumpulan anak manusia yang berusia lebih tua. Mereka mendorong Justin, menghina warna kulitnya yang pucat pasi menyerupai sesosok mayat hidup, dan menertawakan tatapan matanya yang asing.

Pada detik itulah, Jacob hampir saja kehilangan kendali atas insting predatornya. Sisi gelap vampirnya bergejolak hebat, taringnya mendesak keluar, dan dia nyaris membantai anak-anak manusia itu hingga menjadi tumpukan daging tak bernyawa.

Beruntung, akal sehatnya sebagai seorang Raja berhasil meredam emosi monster tersebut. Dia tidak ingin identitas aslinya sebagai entitas malam terbongkar oleh otoritas warga kota, yang mana akan memicu perang besar yang merepotkan.

Kenangan buruk itu membuat Jacob bersumpah untuk mengisolasi Justin dari dunia luar, hingga hari ini, saat seorang bocah Pegasus murni jatuh dari langit untuk menemani putranya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!