NovelToon NovelToon
Sembilan Tahun Pelarian

Sembilan Tahun Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.

Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Tak terasa, jarum jam sudah merambat ke angka dua belas siang. Jam istirahat yang dinanti-nanti akhirnya tiba.

Arin melepas celemek kerjanya, lalu menghampiri beberapa temannya yang sedang bersiap-siap untuk makan siang bergantian.

"Mbak Asri," panggil Arin.

Asri menoleh dari tumpukan kain lap. "Eh, iya, Mbak Arin? Ada apa?"

"Saya izin istirahat duluan ke mes ya, Mbak," pamit Arin sopan.

Asri langsung mengangguk maklum sambil tersenyum hangat. Semua orang di sini sudah tahu kalau setiap jam istirahat, Arin pasti selalu mendahulukan waktu untuk mengecek anak laki-lakinya di mes.

"Oh, iya, silakan, Mbak. Buruan, Zayyan pasti udah nungguin ibunya tuh."

"Iya, Mbak. Makasih ya," ucap Arin lega.

Rekan kerja yang lain ikut menyahut dari arah belakang sambil bercanda santai. "Tapi awas ya, Mbak, jangan sampai keasikan di mes terus telat baliknya!"

Arin terkekeh kecil sambil mengacungkan jempolnya. "Aman, Mbak. Siap!"

Setelah berpamitan, Arin melangkah cepat menuju pintu belakang restoran. Pintu itu merupakan akses jalan pintas yang menghubungkan area dapur utama langsung ke lorong mes karyawan.

Namun, tepat saat jemari Arin baru saja menyentuh gagang pintu, benda berbahan besi itu tiba-tiba berputar dan terdorong terbuka dari arah luar. Ada seseorang yang mau masuk.

Arin yang posisinya mau keluar refleks menggeser tubuhnya ke sebelah kanan untuk memberikan jalan. Tapi anehnya, orang di hadapannya itu malah ikut melangkah ke arah yang sama.

Merasa jalannya terhalang, Arin buru-buru berpindah geser ke sebelah kiri. Namun, pria asing itu lagi-lagi bergerak ke kiri, seolah sengaja memblokir langkahnya.

Gerakan kompak yang salah itu membuat langkah Arin terhenti total. Pria di depannya pun ikut diam bergemirang. Suasana di ambang pintu seketika berubah menjadi sangat canggung.

Karena merasa tidak enak dan ingin buru-buru menemui Zayyan, Arin akhirnya mendongak untuk meminta maaf.

"Maaf, Pak, permisi..."

Kalimat Arin terputus begitu saja di udara.

Lidahnya mendadak kelu, dan seluruh pasokan udara di parunya seolah tersedot habis. Sepasang matanya membelalak kaku menatap wajah pria yang kini berdiri tepat satu jengkal di hadapannya.

Di sisi lain, Regan pun ikut terpaku di tempatnya berdiri.

Selama sembilan tahun belakangan ini, ia sudah ribuan kali membayangkan seperti apa rasanya jika suatu hari nanti takdir mempertemukannya kembali dengan Arin. Ia bahkan sudah menyusun rentetan kalimat interogasi yang ingin ia tumpahkan. Namun, begitu sosok yang dicarinya kini benar-benar berdiri nyata di depannya, semua kata yang sudah ia siapkan mendadak menguap tanpa sisa. Regan mendadak bisu.

Takut ketahuan sedang menatap terlalu lama, Arin buru-buru menurunkan pandangannya dalam-dalam ke arah lantai.

"Permisi, Pak," cicit Arin.

Sementara itu, Regan hanya mampu berdiri mematung seperti patung bernyawa. Tubuhnya menolak untuk berbalik, namun matanya terus bergerak statis, mengikuti kepergian punggung Arin yang kian menjauh hingga sosok wanita itu benar-benar menghilang di balik belokan pintu mes.

......................

Menjelang pukul sembilan malam, restoran mulai sepi. Beberapa pelanggan terakhir sudah meninggalkan tempat, sementara para karyawan sibuk membereskan meja dan mempersiapkan restoran untuk tutup.

Arin mendapat tugas terakhir malam itu: membersihkan kamar mandi pelanggan. Ia mengenakan kembali sarung tangan karetnya, lalu membawa ember berisi air dan cairan pembersih ke dalam kamar mandi wanita.

Dengan teliti ia menyikat lantai, mengelap cermin, dan membersihkan wastafel. Sesekali ia bersenandung pelan untuk mengusir rasa lelah yang sejak pagi menggelayuti tubuhnya.

Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terdengar terbuka.

Klek...

Arin tidak menoleh. Dalam pikirannya, mungkin ada pelanggan terakhir yang belum pulang. Ia pun sedikit bergeser agar orang yang masuk bisa lebih leluasa. Namun, bukannya terdengar langkah kaki seorang wanita, melainkan sebuah suara berat yang sangat dikenalnya.

"Hai, Sayang."

Gerakan tangan Arin langsung terhenti. Sikat yang dipegangnya nyaris terlepas, sementara tubuhnya mendadak menegang.

Suara itu... ia mengenalnya. Bahkan, terlalu mengenalnya.

Arin menarik napas pelan, berusaha mengendalikan diri sebelum perlahan berdiri dan berbalik. Di depan pintu, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana.

Regan.

Arin memaksa wajahnya tetap tenang. "Maaf, Pak," ucapnya dengan suara datar.

"Ini kamar mandi khusus wanita. Mungkin Bapak salah masuk. Kamar mandi pria ada di sebelah."

Regan sama sekali tidak bergeming. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Arin. "Kamu benar-benar enggak kenal sama saya?"

Arin menggeleng pelan. "Maaf, Pak. Sepertinya Bapak salah orang. Permisi."

Arin melangkah menuju pintu. Namun baru beberapa langkah, Regan lebih dulu menggeser tubuhnya dan berdiri tepat di depan pintu. Jalan keluar tertutup karena badannya.

Arin mengangkat wajahnya. "Pak, tolong minggir."

Regan tetap diam. "Kamu masih mau pura-pura enggak kenal?"

"Tolong jangan membuat masalah di tempat saya bekerja,"

"Saya benar-benar tidak mengenal Bapak."

Regan tersenyum tipis, jenis senyuman yang justru membuat dada Arin semakin sesak.

"Benarkah?"

"Iya."

"Lalu, kenapa tanganmu gemetar?"

Refleks, Arin langsung menyembunyikan kedua tangannya di balik tubuh agar tidak terlihat.

"Pak, saya mau keluar. Tolong minggir."

Regan tetap tidak bergeser sedikit pun. "Kalau saya enggak mau?"

Arin menarik napas dalam-dalam. Sorot matanya berubah tajam.

"Minggir, Pak. Atau saya teriak."

Regan sama sekali tidak bergeming. Ia justru menyandarkan bahunya pada kusen pintu sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Tatapannya masih lekat pada Arin, seolah menikmati kepanikan yang berusaha disembunyikan wanita itu.

"Galak juga sekarang," gumam Regan.

Arin mengembuskan napas pelan, berusaha keras mengendalikan emosinya. "Pak, saya sedang bekerja."

"Hm."

"Tolong minggir."

"Bilang dulu kalau kamu kenal saya."

"Saya tidak kenal!"

Regan mengangkat sebelah alisnya. "Oh, ya?"

"Iya."

"Berarti saya salah orang."

Arin memilih tidak menjawab. Namun, Regan kembali membuka suara dengan nada yang sengaja dibuat santai.

"Tapi aneh, ya. Orang yang katanya enggak kenal sama saya, kenapa dari tadi enggak berani lihat mata saya?"

Arin mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. "Pak, saya hitung sampai tiga. Satu... dua..."

Regan malah tersenyum tipis, memotong hitungan itu. "Tiga? Boleh. Saya juga penasaran, habis itu kamu mau ngapain."

Kesabaran Arin benar-benar habis. Tanpa pikir panjang, ia meraih kain pel yang masih berada di atas ember.

Plak!

Kain pel yang masih basah itu mendarat tepat di wajah Regan.

Pria itu refleks memejamkan mata. "Astaga..."

Belum sempat Regan bereaksi, Arin sudah menunjuk wajahnya dengan napas memburu. Suaranya menggema di dalam kamar mandi.

"Enggak tahu diri! Dasar pria brengsek!"

Wajah Regan membeku. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali, Arin benar-benar meluapkan kemarahannya.

Arin tidak memberikan kesempatan bagi Regan untuk berbicara. Ia mendorong bahu pria itu dengan kasar agar menyingkir dari depan pintu.

"Kamu... minggir!"

Kali ini Regan tidak menghalangi. Ia melangkah ke samping, membiarkan jalan keluar terbuka. Arin segera membuka pintu dan berjalan keluar dengan langkah cepat, meninggalkan Regan yang masih berdiri terpaku dengan wajah basah kuyup terkena air dari kain pel.

Regan mengusap wajahnya perlahan, lalu justru terkekeh pelan. "Jadi... kamu memang masih marah."

1
Anonim
ANJING PENGEN BUNUH REGAN ... DEMI TUHAN PENGEN BUNUH REGAN
Lina Asm
lanjut kak
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
🤣🤣 didikan mu jelek rin 🤣 pantes anak mu berontak harusnya klo ada yg nginjak lawan. bego bukan diem😒 di bully diem. ya bloon
falea sezi
lagian goblok nya harusnya pergi dr suami bawa uang banyak biar anak mu gk menderita bawa fto nikah di pajang gede biar orang kampung tau lu bersuamii😒 begooo MC nya menye
falea sezi
anak g tau diri😒 baru baca uda kesel anak gk pernah di didik. ya gini
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🌹
Mutaharotin Rotin
mampir thor 🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰😭😭
Mutaharotin Rotin
karya baru ya🥰🥰🥰 mampir ya 🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!