NovelToon NovelToon
Aisyah Aqila

Aisyah Aqila

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:198k
Nilai: 4.9
Nama Author: Auriel zeta

Pernikahan adalah pengikatan janji sakral yang dilaksanakan oleh dua orang yang saling mencintai. Tapi tidak dengan Aqila.

Aisyah Aqila adalah seorang gadis yang cantik, baik, pintar dan manja. Tetapi juga berani. Berumur 18 tahun dan baru lulus sma.

Aqila adalah salah satu murid terpintar dan bintang sekolah di sma nya dulu. Karena kepadaiannya, ia ingin sekali melanjutkan kuliah, tapi keadaan yang membuat nya mundur.

Hingga nasib buruk menimpanya.
Aqila harus menikah dengan orang yang tidak dia kenal dan bahkan orang yang ditakuti dikota itu.
umurnya pun jauh berbeda 10 tahun lebih tua darinya.
Hanya karena ayahnya tidak bisa membayar hutangnya yang bunganya sangat besar.

"Saya akan membebaskan hutang-hutang kamu Hendra, tapi dengan satu syarat," ucap Edwin menggantungkan kata-katanya yang terakhir.

"Kamu nikahan saya dengan gadis bodoh ini?" sambil menunjuk Aqila.

Aqila bingung, di satu sisi ia tidak ingin menikah dengan orang itu, tapi disisi lain keadaan yang membuatnya harus bilang iya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auriel zeta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 31 Merasa bersalah

Maaf buat kakak-kakak pembaca setia Aisyah Aqila, kemarin aku nggak up karena ada sedikit kendala.

Tapi insyaallah saya usahakan akan up setiap hari.

Thanks you for royal readers Asiyah Aqila.

Happy Reading

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

"Dia lemas badannya karena belom makan." jawab Edwin.

"Pantesan, mama pas makan malam nungguin Aqila turun tapi nggak turun-turun dari kamar. Terus mama nyuruh bibi untuk nganterin makanan buat dia," ucap Mama Merliana sambil mengelus-elus rambut Aqila.

"Edwin, kenapa kening Aqila diperban?" tanya Mama Merliana.

"Saya jawab apa? Apa saya ngomong yang sebenarnya aja, tapi kalo saya jawab yang sebenernya... mama pasti marah." gumannya dalam hati.

"Edwin... ada apa ini sebenarnya? Apa Aqila sakit gara-gara keningnya terluka?" tanya Mama Merliana dengan cemas.

"Huft," menarik nafas dan mengeluarkannya dengan kasar. "Iya. Saya yang sudah membuat kening Aqila terluka." jawab Edwin.

"Apa?!"

"Kok bisa? Kamu apakan dia Edwin!"

"Saya emosi ma, karena Aqila diantar pulang sama laki-laki yang mencintai nya." jawab Edwin terus terang.

"Tapi kamu nggak harus melukainya Edwin! Apa kamu nggak mikir? Seusia Aqila sama seperti adik kamu Alisya, dia masih menikmati masa remajanya... tapi apa? Aqila malah menikah dengan kamu,"

"Iya. Saya paham." jawab Edwin.

"Tapi kamu udah telfon dokter Rani kan?"

"Udah. Tadi jam 12 dia datang kesini."

"Kenapa mama nggak tahu?"

Saat asyik berbicara dengan mamanya, Aqila terbangun dan mulai membuka matanya. Ia mengumpulkan nyawanya untuk bangun.

"Ma..." lirih Aqila.

"Sayang, kamu udah bangun. Dimana keadaan kamu? Apa masih sakit?"

"Enggak kok ma, udah mendingan," jawab Aqila.

Tiba-tiba Mama Merliana meneteskan air matanya.

Aqila dan Edwin pun bingung.

"Mama kok nangis, mama kenapa? Aqila ada salah ya ma?" tanya Aqila sambil mengusap air mata dipipi Mama Merliana.

"Mama minta maaf ya sayang, gara-gara Edwin kamu jadi seperti ini,"

"Enggak ma... Aqila juga udah sembuh kok. Ini bukan salah mama,"

Mama Merliana memeluk Aqila.

Edwin yang melihatnya ikut kebawa perasaan.

"Nggak seharusnya saya menyakiti dia, kenapa saya bisa lepas kontrol saat melihat dia bersama laki-laki lain, apa saya sudah benar-benar jatuh cinta sama dia?" tanyanya dalam hati.

"Oh ya, papa sama Alisya udah nunggu dibawah. Kita turun yuk," ajak Mama Merliana.

"Maaf ma, bukannya Aqila nggak mau. Tapi Aqila masih lemes,"

"Ya udah sayang nggak papa, nanti mama suruh bibi nganterin makanan buat kamu. Kamu mau makan apa?"

"Terserah mama aja,"

"Ya udah, nanti mama suruh bibi masak kesukaan kamu sayang. Edwin, kamu mau nemenin Aqila atau ikut mama makan dibawah?" tanya Mama Merliana.

"Saya disini aja ma, nungguin dia." jawab Edwin.

"Modus banget sih om, padahal aku berani disini sendiri nggak usah ditemenin. Alasan aja tuh ma... sebenarnya mau deket-deket sama Qila," gumannya dalam hati.

"Ya udah, nanti sekalian mama nyuruh bibi masak kesukaan kamu. Sayang, mama turun kebawah dulu ya... kamu cepet sembuh," sambil mencium kening Aqila.

"Iya ma, makasih ya ma..."

"Iya sayang," jawab Mama Merliana pergi meninggalkan Aqila dan Edwin.

Setelah Mama Merliana pergi dari kamar, tinggal Aqila dan Edwin.

"Om modus banget sih, padahal Qila berani loh disini sendiri nggak usah ditemenin..."

"Om nggak bisa jauh-jauh ya dari Qila..." goda Aqila.

"Dasar gadis bodoh,"

"Saya nggak turun, karena saya nemenin kamu. Dan saya nggak mau dimarahin mama lagi karena saya ninggalin kamu sendiri disini dalam keadaan kamu yang lagi sakit." jawab Edwin.

"Yakin om itu alasannya?" goda Aqila.

"Ya."

"Aqila tahu kok kalo om terpesona dengan Qila, tapi om malu kan ngakui nya? Mana ada maling ngaku om, yang ada penjara penuh,"

"Saya bukan maling."

"Om maling, maling hatinya Qila hehehhe,"

Edwin tersenyum dengan tingkah lucu Aqila.

"Hayo om senyum-senyum sendiri..."

"Saya mau mandi."

"Om," Aqila memanggil Edwin.

"Apa?" tanya Edwin. "Apa kamu mau ikut?" Godanya.

"Ih, apaan sih om. Dasar mesum. Aqila cuma mau bilang, hati-hati hehehe..."

"Dasar," belom sempat Edwin menyelesaikan ucapannya, sudah disahut Aqila.

"Gadis bodoh," sahut Aqila.

Edwin tersenyum dan pergi ke kamar mandi.

Setelah Edwin pergi ke kamar mandi, Aqila mencari handphone nya yang disembunyikan dilaci oleh Edwin. Karena Edwin tidak mau Aqila masih berhubungan dengan Rehan.

"Handphone ku kemana ya? Perasaan kemarin aku taruh disini deh, tapi kok nggak ada ya..." gumannya.

"Coba aku cari kesana deh,"

Aqila berjalan ke sofa. Ia terus mencari sambil memegang kepalanya yang sedikit sakit akibat benturan.

"Kok nggak ada juga sih, apa mungkin dilaci kali ya... coba aku cari kesana deh,"

Aqila membuka laci bawah. Dan masih tidak ada. Kemudian laci kedua. Dan ketemu.

"Yes ketemu, pasti ni kerjaan om nggak punya hati itu," gerutunya. "Ya ampun sayang, aku kangen sama kamu. Muach," Aqila berbicara sendiri dengan handphone yang dipegangnya. Baginya, handpone adalah segalanya buat dia.

Aqila kembali duduk ditempat tidur dan memainkan handponenya.

Tring...

Notifikasi dm dari Rehan.

Aqila segera membukanya.

"Ya ampun, udah lama aku nggak kontekan sama Rehan. Sebenarnya aku kangen banget sama Rehan, tapi mau gimana lagi," batinnya.

"Mending aku bales dulu dm nya,"

"Qila... kamu sekarang kok jarang online ig. Kamu sebenarnya kemana? Aku cari dirumah kamu, kamu juga nggak ada? Qila, apa bisa kita ketemu?" isi dm dari Rehan.

"Rehan, jujur aku sebenarnya nggak mau kek gini. Tapi mau gimana lagi," ucap Aqila tidak terasa ia meneteskan air matanya.

Edwin yang sudah selesai dari tadi. Ia tidak langsung mengambil baju dilemari. Dia menguping pembicaraan Aqila.

"Maafkan saya Aqila. Saya sudah mengambil masa depan kamu. Seharusnya kamu masih seperti remaja diluar sana, tapi kamu malah disini dan menikah dengan saya," gumannya dalam hati.

"Aku bales gimana ya sama Rehan? Apa aku jujur aja kalo aku udah nikah, atau... duh aku bingung sendiri,"

"Iya, aku bales gini aja,"

"Maaf Rehan kalo aku jarang online, aku akhir-akhir ini lagi sibuk. Makanya aku jarang online. Aku dirumah nenek aku yang ada diluar kota. Aku mau refreshing dulu disini, dan kalo ketemu... maaf aku belom bisa. Aku mungkin lama disini Han," balasan dari Aqila.

Aqila terpaksa berbohong kepada Rehan. Karena dia tidak ingin Rehan tahu sebenarnya.

"Maafin aku Han, aku harus berbohong sama kamu."

Edwin yang mendengarnya semakin merasa bersalah kepada Aqila.

Ia lalu berjalan ke arah Aqila.

Aqila yang kaget melihat Edwin, ia cepat-cepat menyembunyikan handponenya dibelakangnya. Karena takut disita lagi oleh Edwin.

"Om ngagetin Qila aja sih, om pakek baju sana,"

"Kamu habis ngapain?" tanya Edwin yang pura-pura tidak tahu kalo Aqila sedang dm dengan Rehan.

"Oh, e... Aqila lagi... Aqila lagi mau makan om, iya om Aqila mau makan hehehhe," ucap Aqila berbohong.

"Apa kamu yakin sedang tidak berbohong dengan saya?"

"Enggak dong, ngapain Aqila bohong sama om,"

"Demi dia kamu rela berbohong dengan saya Qila, apa kamu sebegitu cintanya dengan dia?" tanya Edwin dalam hati.

"Biar saya saja yang ngambil makanannya. Sebentar, saya pakai baju dulu."

Edwin mengambil kaos dan celana pendek selutut.

Dan turun kebawah untuk mengambil makanannya.

Edwin turun dari tangga. Rumah sudah sepi. Karena Papa Sanjaya dan Mama Merliana pergi ke kantor dan Alisya pasti lagi dikamarnya.

Edwin mengambil makanan yang sudah disiapkan bibi dan membawanya ke kamarnya.

1
Rahma Inayah
wajr aja di julukin edwin bodoh mmg bodoh gk peka dia ns cemburu tp dia gk bs liat edwin cemburu..gak peka
Lizaz
Aku mampir thor

mampir juga di karya aku
mari saling mendukung 🤗
R_armylove ❤❤❤❤
like disini
R_armylove ❤❤❤❤
mampir lagi
R_armylove ❤❤❤❤
semangat buat kamu
R_armylove ❤❤❤❤
mampir lagi ka
Agustina RS
ceritanya bagus, sudah saya kasih bom like👍
semangat terus Thor,mampir juga di karyaku

Ustadz Idolaku

terimakasih 🙏
kicauan.merdu
kok nggak dilanjutkan sih Thor? author lagi Hiatus ya?
R_armylove ❤❤❤❤
semangat buat nulisnya
R_armylove ❤❤❤❤
mampir lagi ya
P.Aisyah
mampir dengan 5 like😁
salam manis dari " PERJUANGAN DALAM PERNIKAHAN "
Intan Komalasari
lanjuttttt
R_armylove ❤❤❤❤
like
R_armylove ❤❤❤❤
bawa 3 like ya
R_armylove ❤❤❤❤
ka...aku blik lagi
coco
like mendarat .
jangan lupa mampir
Ulfa
3 like mendarat kak tetap smangat
silviaanugrah
hai thor, aku datang bawa 15like.
smngt up & smg ceritanya sukses ya, aku tunggu feedback-nya 😉✨
unknown
Like mendarat kakak, semangat berkarya ya... Salam dari My Husband, King Of Trouble 😘🤗❤
By_Ana
Next thor...ceritanya seru😄

salam dari _Pesona Pocong Cantik_🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!