NovelToon NovelToon
BAKTI BUTA SUAMIKU

BAKTI BUTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.

​Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.

​Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.

​Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAKTI BUTA SUAMIKU

​Suara pintu kamar sekat yang berderit pelan tidak membuat Adinda mengalihkan pandangannya dari langit-langit kontrakan. Wanita itu berbaring menyamping di atas kasur busa tipis tanpa ranjang, memeluk bantal kapuk yang sudah mengeras. Air matanya sudah mengering, meninggalkan jejak lengket dan rasa kaku di pipinya. Di luar, jam dinding murahan sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Keheningan malam yang pekat menyelimuti gang sempit di luar kontrakan, tetapi di dalam dada Adinda, badai justru baru saja dimulai.

​Dimas sudah tertidur di sudut kasurnya sendiri setelah berulang kali memastikan ibunya baik-baik saja. Remaja empat belas tahun itu tampak begitu pulas, meski guratan lelah dan beban mental yang terlalu dini ia pikul tetap tercetak di keningnya. Adinda mengusap rambut putranya sekilas, merasa bersalah karena anak seumur Dimas harus menyaksikan kebusukan rumah tangga orang tuanya.

​Langkah kaki terdengar mendekat. Pelan, ragu, namun pasti.

​Adinda merasakan kasur busa yang didudukinya sedikit amblas ketika sebuah beban berat mendarat di atasnya. Bau minyak wangi murahan yang dipakai Bagas sejak sore tadi di hotel menyeruak, bercampur dengan aroma keringat yang mulai asam. Bagas masuk ke kamar sekat itu. Pria itu melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya sudah digulung hingga siku.

​Adinda tetap bergeming, memunggungi suaminya. Dalam hati, ada secercah harapan kecil yang mendadak muncul sebuah insting alami seorang istri yang berharap suaminya datang membawa penyesalan, duduk di sampingnya untuk berbisik, "Maafkan aku, Dinda. Aku salah."

​Namun, harapan itu menguap secepat embun pagi begitu Bagas berdeham lambat. Tidak ada nada penyesalan. Tidak ada sentuhan lembut di bahu Adinda yang gemetar. Yang ada hanyalah helaan napas berat seorang pria yang sedang menyusun strategi untuk kembali memenangkan egonya.

​Bagas bergeser sedikit, mendekatkan posisinya ke punggung Adinda. "Din... kamu belum tidur, kan?" tanyanya, suaranya sengaja dilembutkan, jenis suara yang sangat dihafal Adinda sebagai tanda bahwa pria ini sedang menginginkan sesuatu.

​Adinda tidak menjawab. Ia tetap memejamkan mata, membiarkan keheningan yang menyahut.

​"Din, sudahlah. Enggak usah diperpanjang lagi masalah yang tadi di depan. Aku tahu aku agak emosi tadi di jalan," Bagas mulai membuka percakapan, nadanya terdengar seolah ia sedang mengalah, padahal intinya tetap tidak mau disalahkan. "Tapi kamu juga harus mengerti posisiku. Aku ini anak laki-laki, dinilai dari bagaimana aku memperlakukan keluargaku. Mas Broto itu orangnya perfeksionis, kalau aku enggak bayar iuran dua juta itu minggu ini, tamat riwayatku di grup keluarga. Aku bakal disindir habis-habisan."

​Adinda perlahan membalikkan tubuhnya. Ia telentang, lalu menoleh menatap wajah suaminya di bawah pendar lampu teplok kecil yang temaram. Wajah Bagas tampak memelas, tetapi tidak ada ketulusan di sana. Yang ada hanyalah kecemasan akan harga dirinya yang terancam runtuh di mata klan besar Lastri.

​"Jadi, kamu masuk ke sini malam-malam begini untuk apa, Mas?" tanya Adinda, suaranya serak namun terdengar sangat dingin.

​Bagas membasahi bibirnya yang kering. Ia memajukan tubuhnya, menatap Adinda dengan pandangan memohon yang dibuat-buat. "Din... aku mau pinjam uang kamu. Tolong lah, Din. Aku pinjam uang dari tabungan katering kamu dua juta saja. Cuma buat melunasi utang iuran pesta Mama ke Mas Broto. Aku benar-benar kepepet minggu ini."

​Adinda menatap suaminya tanpa berkedip. Pinjam. Kata itu terdengar sangat menggelikan di telinganya. Sejak kapan uang yang dipinjam Bagas pernah kembali ke dompetnya?

​Melihat Adinda yang hanya diam, Bagas dengan cepat menambahkan janji manisnya senjata andalan yang selalu ia gunakan setiap kali berhasil menguras isi celengan istrinya. "Aku janji, Din. Kali ini aku benar-benar janji. Bulan depan, uang gaji aku dari kantor full kamu yang pegang. Enggak akan aku sentuh sepeser pun. Kebetulan banget, bulan depan itu proyek besar di kantor selesai, dan aku dipastikan dapat bonus besar dari bos. Nah, uang bonus itu ditambah gaji pokok bulanan, semuanya silakan kamu ambil, kamu kelola, buat ganti uang katering kamu yang aku pinjam sekarang. Bagaimana?"

​Suasana kamar sekat itu mendadak sunyi. Bagas menatap Adinda penuh harap, mengira janji "gaji full dan uang bonus" akan membuat mata istrinya berbinar dan langsung luluh seperti sebelum-sebelumnya.

​Namun, reaksi Adinda justru di luar dugaan Bagas.

​Perlahan, sudut bibir Adinda terangkat. Sebuah senyuman muncul di wajahnya yang pucat. Senyuman itu melebar, hingga akhirnya Adinda mengeluarkan suara tawa kecil. "Hehehe... hahaha..."Tawa itu terdengar begitu renyah namun sarat akan kepedihan, bergaung di sela-sela dinding tripleks. Bersamaan dengan tawa yang semakin keras itu, air mata Adinda kembali meleleh deras dari sudut matanya, mengalir membasahi bantal.

​Bagas mengernyitkan dahi, merasa ngeri sekaligus tersinggung melihat reaksi istrinya. "Din? Kamu kenapa sih? Malah ketawa kayak orang kesurupan? Aku ini lagi ngomong serius, mau pinjam uang baik-baik!"

​Adinda menghentikan tawanya secara mendadak. Ia bangkit dari posisi berbaring, duduk tegak di hadapan Bagas dengan air mata yang masih terus mengalir membasahi pipi. Tatapan matanya yang tadi kosong, kini berkilat penuh dengan luka dan amarah yang menuntut balas.

​"Sudah berapa kali, Mas?" tanya Adinda dengan suara bergetar, menahan sesak yang amat sangat di dadanya. "Sudah berapa kali kamu bilang kalimat seperti ini ke aku, hah?!"

​Bagas tersentak, mencoba mundur sedikit. "Maksud kamu apa..."

​"Jangan pura-pura bodoh, Mas Bagas!" potong Adinda cepat, suaranya meninggi, membuat Dimas di sudut kasur sempat melenguh dalam tidurnya, memaksa Adinda untuk kembali menekan volumenya namun tetap terdengar tajam. "Kamu bilang bulan depan gaji kamu full dipegang aku? Kamu bilang kamu mau kasih uang bonus kantor kamu ke aku? Bukannya kamu sudah sering mendapatkan uang bonus dari kantor?!"

​Wajah Bagas seketika berubah kaku. Rona merah kepanikan mulai menjalar di lehernya.

​"Kamu pikir aku bodoh, Mas? Kamu pikir selama bertahun-tahun ini aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di belakangku?" Adinda menunjuk tas kerja ransel hitam milik Bagas yang digantung di balik pintu. "Setiap kali kamu dapat uang bonus proyek, atau uang lemburan dari kantormu, apa kamu pernah cerita ke aku? Tidak pernah, Mas! Kamu selalu menyembunyikan uang-uang itu di dalam lipatan tas kamu! Kamu simpan rapat-rapat seolah-olah itu adalah harta karun yang tidak boleh disentuh oleh anak dan istrimu sendiri!"

​"Dinda, jaga ucapan kamu! Uang bonus itu kan hak aku..."

​"Hak kamu?!" Adinda tertawa getir, air matanya kian deras. "Iya, itu hak kamu!

Tapi ke mana uang bonus berupa uang cash yang sering kamu dapatkan itu pergi, Mas? Kamu gunakan uang itu hanya untuk mentraktir semua keluarga besar kamu! Kamu bawa mama kamu, Mas Broto, Mbak Rika, Ambar, dan semua keponakan-keponakan kamu untuk makan-makan mewah di restoran mahal! Kamu bayari semua tagihan makan mereka sampai jutaan rupiah hanya demi mendapatkan pujian kalau Bagas adalah adik yang sukses, Bagas adalah anak yang royal, Bagas adalah pahlawan keluarga!"

​Adinda mendekatkan wajahnya ke arah Bagas, mencengkeram kain kasur dengan erat. "Sementara kamu sibuk menjadi pahlawan dan mentraktir keluarga kamu di restoran mewah, di mana anak dan istrimu, Mas? Kami berdua kamu tinggalkan di kontrakan sempit ini! Jangankan diajak bergabung untuk ikut makan, kamu bahkan tidak pernah terpikir untuk membelikan sebungkus sisa makanan pun untuk Dimas yang kelaparan di rumah! Kami berdua tidak pernah kamu libatkan!"

​Bagas memalingkan muka, gugup. "Itu... itu kan sesekali, Din. Lagian kalau aku bawa kamu ke acara makan-makan besar kayak gitu, kamu sendiri yang selalu menolak karena sibuk jualan kue."

​"Aku menolak karena aku tahu diri, Mas!" sergah Adinda, suaranya tercekat oleh tangis. "Aku tahu diri karena pakaianku tidak ada yang bagus. Gamis-gamis yang aku punya hanyalah kain murah yang warnanya sudah pudar karena sering dipakai di dapur. Aku tidak punya perhiasan emas berkilau seperti Mbak Rika atau Ambar. Dan yang paling membuatku sakit hati... kamu sendiri yang malu membawa aku, kan?"

​Kata-kata Adinda bagai anak panah yang tepat sasaran, menembus topeng kebohongan Bagas.

​"Kalau kamu memang malu dengan penampilan aku yang selalu sederhana ini, modali aku, Mas! Modali istri kamu ini!" Adinda memukul dadanya sendiri dengan telapak tangan, meluapkan rasa sakit yang selama ini ia pendam dalam diam.

"Belikan aku pakaian yang layak, belikan aku perawatan, belikan aku perhiasan kalau kamu memang mau istrimu ini tampil megah di depan keluarga kamu! Bukan malah menghina aku di belakang! Bukan malah mengata-ngatai aku pelit dan tidak tahu malu di depan Mas Broto!"

​Bagas mengepalkan tangannya, harga dirinya sebagai laki-laki kembali terusik. "Aku enggak pernah menghina kamu, Din! Tapi kamu sendiri yang enggak bisa dibilani. Penampilan kamu itu bikin jatuh harga diriku sebagai suami!"

​"Harga diri yang mana lagi yang kamu punya, Mas?" Adinda menatap suaminya dengan pandangan menghina. "Tadi sore di jalan... lalu tadi di hotel, kamu dengan lantang bilang ke semua orang, bahkan berani membentakku, kalau kamu tidak pernah menikmati uang gaji kamu sendiri. Kamu berlagak seolah-olah kamu adalah suami paling menderita yang seluruh hasil keringatnya dirampas oleh istri yang kejam. Padahal kenyataannya apa? Kamu sering sekali mendapat uang lembur! Kamu sering dapat bonus berupa uang cash dari bos kamu yang tidak pernah masuk ke dalam pembukuan rumah tangga kita!"

​Adinda mengusap air matanya dengan kasar, menyisakan gurat kemarahan yang mutlak di wajahnya. "Uang gaji kamu yang masuk ke rekeningku itu, habis bersih dalam seminggu pertama untuk semua urusan mama dan keluarga kamu. Lalu uang lembur dan bonus cash kamu, habis kamu pakai buat foya-foya dan mentraktir mereka tanpa sisa. Sementara kehidupan di kontrakan ini, dari mulai bayar air, listrik, kontrakan tahunan, sampai biaya sekolah Dimas, semuanya murni ditopang oleh keringatku dari jualan katering! Jadi, di bagian mana kamu tidak menikmati uang kamu sendiri, Mas Bagas?! Kamu menikmati semuanya sendirian di luar sana, sementara aku yang menanggung semua bebannya di sini!"

​Bagas terbungkam seribu bahasa. Ia tidak menyangka kalau Adinda tahu sedetail itu tentang uang lembur dan bonus cash yang selama ini ia sembunyikan di selipan dompet dan tas kerjanya. Semua pembelaan yang sudah ia siapkan di kepala mendadak runtuh tak bersisa. Ia terduduk kaku di tepi kasur busa, menatap istrinya yang kini tampak begitu asing begitu kuat, begitu keras, dan tidak bisa lagi dikendalikan dengan bentakan ataupun janji palsu.

​Adinda menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa ketegasan terakhir di dalam jiwanya. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Bagas, memutuskan rantai penderitaan yang selama ini membelenggunya.

​"Maaf, Mas. Aku enggak ada uang lagi untuk kamu pinjam. Uang tabungan kateringku sudah habis kamu kuras habis untuk uang muka hotel kemarin, dan sisanya tidak akan pernah aku serahkan untuk melunasi utang gengsi kamu ke Mas Broto," ucap Adinda dengan nada suara yang sangat datar, dingin, dan final.

​Bagas menegakkan tubuhnya, kepanikan kini benar-benar menguasai dirinya. "Din, tolong lah... kalau Sabtu besok aku enggak bayar ke Mas Broto..."

​"Itu urusan kamu, Mas. Bukan urusanku lagi," potong Adinda tanpa belas kasihan. "Dan satu hal lagi yang harus kamu tahu..."

​Adinda menjeda kalimatnya, menatap buku agenda biru yang tergeletak di dekat kaki Bagas.

​"Mulai bulan depan... uang gaji kamu, uang lembur kamu, uang bonus kamu, atau uang apa pun yang kamu dapatkan dari kantormu, silakan kamu pegang sendiri saja. Aku tidak mau lagi memegang kartu ATM kamu. Aku tidak mau lagi melihat sepeser pun uang dari kamu," maklumat Adinda jatuh bagaikan palu hakim yang mengetok keputusan mutlak.

​Bagas terbelalak. "Maksud kamu apa, Din?! Kamu mau lepas tanggung jawab sebagai istri?!"

​"Bukan aku yang lepas tanggung jawab, Mas, tapi aku mengembalikan semua tanggung jawab itu ke pundak kamu yang sok pahlawan itu," sahut Adinda dengan senyum sinis yang teramat pahit. "Silakan kamu pegang seluruh uang kamu. Kamu atur sendiri bagaimana caranya uang gaji kamu itu cukup untuk membelikan perhiasan mama kamu, cukup untuk mentraktir Mas Broto dan Mbak Rika di restoran mewah setiap minggu, dan yang paling penting... cukup untuk membayar biaya kontrakan tempat kita tinggal ini bulan depan. Kamu yang bayar listrik, kamu yang bayar PAM, kamu yang beli beras."

​Adinda kembali merebahkan tubuhnya, menarik selimut tipis hingga sebatas dada, lalu membalikkan badannya memunggungi Bagas, persis seperti posisi awal saat suaminya masuk ke dalam kamar.

​"Mulai detik ini, uang hasil katering dan jualan kue subuhku hanya akan aku gunakan untuk menghidupi diriku sendiri dan membiayai keperluan sekolah Dimas. Aku tidak akan lagi mengeluarkan satu rupiah pun untuk menambal kekurangan hidup kamu, apalagi untuk membiayai gengsi keluarga kamu. Sekarang, silakan keluar dari kamar ini. Aku mau istirahat, besok jam dua pagi aku harus bangun untuk membuat kue."

​Bagas terpaku di tempatnya duduk. Angin malam yang berembus dari celah ventilasi kontrakan terasa begitu menusuk tulang, tetapi hawa dingin yang ada di dalam hatinya jauh lebih mencekam. Pria itu menatap punggung Adinda yang diam mematung, menyadari bahwa ruang geraknya kini telah mati. Janji manisnya telah basi, kebohongannya telah telanjang, dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Bagas merasakan ketakutan yang luar biasa akan hari esok yang harus ia hadapi tanpa tameng kesabaran istrinya. Dengan langkah gontai dan kepala tertunduk penuh beban, Bagas bangkit dari kasur, melangkah keluar dari kamar sekat meninggalkan kegelapan yang kian pekat.

1
Zhafran Althaf
mantap dindaaaa
Heni Setiyaningsih
bagus adinda 👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Zhafran Althaf
🤣🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Jetva
keren ceritax...semoga keren hingga akhir..aq suka perempuan yg mandiri dan tak takut suami dgn alasan surga ada pada suami....semangat Thor...
Jetva
istri Danu, Anik apa Anita, Thor..??🤔
blcak areng: iya kak aku keder sendiri 😄😄
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Anonim
BAGAS HALAL DARAH NYA... AYO BUNUH DIA
blcak areng: kak😁🤣🤣
total 1 replies
stela aza
q pingin nya si Bagas itu habis naik jabatan sebentar langsung khilaf trs di pecat jadi gembel biar g belagu trs sombong 🤭 ok Thor ❤️❤️❤️
Zhafran Althaf
hai kak aku mampirrrr😍😍😍
blcak areng: Hay juga kak Terima kasih 🙏
total 1 replies
stela aza
Thor ceritamu hampir mirip kaya kisahnya si abdi dan Disa ,,, yg lakinya manipulatif ,,, bodoh ,, belagu sombong trs so kaya kenyataan nya kere ,,, bergaya yg terlalu di paksakan 🤭
stela aza
rasain,,, syukurin ,,, bergaya tapi g mampu ,,, tinggal nunggu di pecat dr kantor biar jadi gembel ,,,, coba ibunya mau Nerima dia g ,,, kalau udh g kerja pasti bakalan di buang sama ibunya sendiri 🤦
Heni Setiyaningsih
💪💪💪 adinda
Lee Mba Young
bagus lanjutt
Lee Mba Young
bagus lah jng mau jd budak. anak sdh besar.
Heni Setiyaningsih
lbh baik lepaskan suami kyk gitu, hdup berdua dgn anak mu sj drpd dirong-rong terus sama suami pecundang
Heni Setiyaningsih
👍👍👍👍👍👍👍👍👍😍😍
Heni Setiyaningsih
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!