NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 11: Menghindari Jalanan Maut

Pagi hari setelah malam yang menguras emosi itu datang dengan keheningan yang berbeda di kediaman Arthur.

 Sinar matahari yang menembus jendela dapur terasa lebih hangat, sehangat rasa lega di dada Gisella saat melihat Adrian turun ke ruang makan dengan kondisi fisik yang jauh lebih prima.

Wajah pucat dan keringat dingin semalam telah digantikan oleh raut tegas sang profesor yang biasa, lengkap dengan kemeja flanel biru dongker rapi dan kacamata peraknya.

Menu sarapan hari ini adalah sup ayam bening dengan jahe dan bawang putih, ditemani semangkuk kecil beras merah organik.

Menu yang sengaja dirancang Gisella untuk memulihkan energi Adrian tanpa membebani sistem pencernaan dan kadar glukosanya pasca-krisis semalam.

"Minum obatmu tepat waktu hari ini, Adrian,"

ucap Gisella pelan saat meletakkan mangkuk sup di hadapan pria itu.

Dia sengaja tidak menggunakan embel-embel 'Profesor' karena atmosfer di antara mereka telah bergeser sejak genggaman tangan di ruang kerja semalam.

Adrian menatap mangkuk sup itu, lalu mendongak menatap Gisella.

Ada binar yang lebih lembut di sepasang mata elangnya, sebuah ekspresi yang belum pernah dia tunjukkan kepada siapa pun.

"Aku tahu. Terima kasih untuk... semalam."

"Kak Adrian! Gisella!"

suara Valerie memotong momentum tersebut saat gadis itu masuk ke ruang makan dengan pakaian kuliahnya.

Dia melirik piringnya sendiri yang berisi roti gandum panggang dengan telur mata sapi, lalu melirik ke arah kakaknya.

Valerie tidak lagi cemberut.

Setelah insiden di taman kota kemarin, ada rasa segan dan rasa ingin tahu yang besar setiap kali dia menatap Gisella.

"Kak, hari ini aku ada kelas siang. Bisakah aku menumpang mobilmu sampai ke persimpangan jalan lingkar luar?"

Adrian mengangguk pelan sembari menyuap supnya.

"Ya. Bersiaplah dalam lima belas menit."

Mendengar kata 'jalan lingkar luar' dan 'hari ini', sebuah letupan memori mendadak meledak di dalam kepala Gisella.

Potongan-potongan teks dari novel asli Belenggu Cinta di Aethelgard mendadak melintas dengan sangat jelas di depan matanya, tercetak seperti huruf-huruf tebal yang menyala.

> "...Pada hari Kamis minggu kedua setelah kepulangan Gisella dari rumah sakit, sebuah truk kontainer yang mengalami rem blong menghantam tiga mobil di persimpangan jalan lingkar luar Aethelgard pada pukul sembilan pagi. Kecelakaan beruntun itu merenggut nyawa pengemudi lokal dan menyebabkan jalur tersebut lumpuh total..."

>

Gisella melirik jam dinding di ruang makan. Pukul delapan lewat lima belas menit pagi. Hari ini adalah hari Kamis.

Dan jika Adrian mengantar Valerie ke persimpangan jalan lingkar luar, mereka akan tiba di sana tepat sekitar pukul sembilan pagi!

Jantung Gisella mendadak berpacu menggila. Rasa dingin menjalar dari ujung jari-jarinya hingga ke tengkuk.

Ini adalah salah satu plot insiden besar dalam novel.

Dalam cerita aslinya, Adrian dan Valerie memang tidak berada di dalam mobil yang hancur, tetapi mobil mereka terjebak tepat di belakang kecelakaan itu.

Kejadian tersebut membuat Valerie mengalami trauma psikologis ringan dan Adrian terlambat menghadiri presentasi proposal riset besarnya di hadapan para investor, yang berujung pada penolakan dana dan awal mula kemunduran finansial keluarga Arthur.

"Aku harus menghentikan mereka,"

batin Gisella panik.

"Jalur itu harus dihindari!"

"Adrian, Valerie, tunggu!"

seru Gisella mendadak, membuat kedua kakak beradik itu menghentikan aktivitas makan mereka dan menatapnya dengan dahi berkerut.

"Ada apa, Gisella?"

tanya Adrian, menyadari perubahan drastis pada raut wajah istrinya yang tiba-tiba memucat.

Gisella mencoba menenangkan napasnya, memutar otak secepat kilat untuk mencari alasan yang logis.

Dia tidak bisa mengatakan bahwa dia tahu masa depan dari sebuah buku novel.

Profesor ber-IQ tinggi di hadapannya ini pasti akan menganggapnya gila.

"Hari ini... jangan lewat jalur lingkar luar. Gunakan jalur alternatif melalui pusat kota,"

kata Gisella, suaranya sedikit bergetar namun penuh penekanan.

Valerie mendengus kecil, meski tidak secemas biasanya.

"Lewat pusat kota? Jalur itu memutar jauh, Gisella. Lagipula, jam segini jalur pusat kota pasti sangat padat karena jam masuk kantor. Kenapa kami harus membuang waktu?"

"Firasatku buruk,"

kilah Gisella, menggunakan alasan klasik yang paling aman.

Dia melangkah mendekati meja makan, menatap Adrian lurus-lurus ke dalam matanya, mencoba menyalurkan rasa urgensi yang dia rasakan.

"Tadi malam aku bermimpi buruk tentang jalanan itu.

Dan pagi ini, saat aku membaca berita sekilas di ponsel, ada laporan bahwa jalur lingkar luar sedang ada perbaikan aspal darurat di beberapa titik.

Jika ditambah dengan volume kendaraan besar, jalur itu akan sangat berbahaya dan berpotensi macet total."

Adrian meletakkan sendoknya.

Dia menganalisis ekspresi Gisella.

Ini bukan ekspresi seorang wanita yang sedang mencari perhatian atau membuat drama manja.

Di mata Gisella, ada ketakutan yang murni dan kepanikan yang nyata—persis seperti ekspresinya saat melihatnya tergeletak sakit di ruang kerja semalam.

"Perbaikan aspal?"

Adrian merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel pintarnya untuk memeriksa navigasi lalu lintas waktu nyata (real-time traffic).

"Di peta digital, jalur lingkar luar masih berwarna hijau. Belum ada laporan kemacetan atau penutupan jalan."

"Peta digital sering kali terlambat memperbarui data darurat, Adrian!"

potong Gisella cepat, menopang tangannya di atas meja, memperkecil jarak di antara mereka.

"Kumohon, kali ini saja, dengarkan aku. Jika kau terlambat untuk presentasimu hari ini karena terjebak macet atau... atau hal lain, bukankah itu akan mengacaukan segalanya? Apa salahnya memutar sedikit lewat pusat kota demi keamanan?"

Valerie menatap kakaknya, lalu menatap Gisella.

"Kak... Gisella tampaknya benar-benar serius. Wajahnya pucat sekali."

Adrian terdiam selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian bagi Gisella.

Logikanya mengatakan untuk mengabaikan firasat tak berdasar dari seorang wanita.

Namun, mengingat bagaimana akuratnya analisis Gisella tentang kesehatan dan gejala penyakitnya kemarin, ada bagian dari diri Adrian yang memilih untuk memercayai insting istrinya kali ini.

"Baiklah,"

ucap Adrian akhirnya sambil berdiri dari kursi.

"Kita lewat jalur pusat kota."

Gisella mengembuskan napas lega yang amat sangat, hingga bahunya yang tegang mendadak merosot rileks.

"Terima kasih, Adrian. Terima kasih."

"Aku pergi dulu," kata Adrian.

Sebelum melangkah keluar, dia berhenti tepat di samping Gisella, menatapnya dengan tatapan mendalam yang sulit diartikan.

"Jika jalur pusat kota ternyata macet parah dan aku terlambat, kau utang penjelasan besar padaku, Gisella."

Gisella hanya mengangguk tegas.

"Hati-hati di jalan."

Setelah mobil sedan hitam yang membawa Adrian dan Valerie meninggalkan pelataran rumah, Gisella tidak bisa tenang.

Dia duduk di ruang tengah dengan televisi menyala, terus-menerus memantau saluran berita lokal Aethelgard.

Tangannya menggenggam erat cangkir teh hangat yang sudah mendingin.

Waktu berputar lambat.

Pukul delapan lewat empat puluh lima... pukul sembilan kurang sepuluh...

Tepat pada pukul sembilan lewat lima menit, layar televisi yang menayangkan acara bincang-bincang pagi mendadak terputus oleh siaran berita sela (breaking news).

Seorang reporter wanita berdiri di depan latar belakang kepulan asap hitam yang membubung tinggi ke langit, dengan sirene ambulans dan mobil polisi yang meraung-raung memekakkan telinga.

> "Pemirsa, kami melaporkan langsung dari persimpangan jalan lingkar luar Aethelgard. Baru saja terjadi kecelakaan beruntun yang sangat mengerikan melibatkan sebuah truk kontainer bermuatan berat yang diduga mengalami rem blong. Truk tersebut menghantam tiga kendaraan roda empat di depannya sebelum terguling dan menutup seluruh badan jalan. Laporan sementara menyatakan jalur lingkar luar lumpuh total dan proses evakuasi sedang berlangsung..."

>

Gisella menyandarkan punggungnya ke sofa dengan tubuh yang lemas.

Tangannya gemetar hingga teh di dalam cangkirnya sedikit tumpah.

Kecelakaan itu benar-benar terjadi.

Tepat di waktu dan tempat yang sama seperti yang tertulis di dalam novel.

Jika tadi dia tidak bersikap keras kepala untuk menahan Adrian dan Valerie, mobil mereka pasti sudah terjebak di tengah pusaran maut tersebut, dan takdir buruk keluarga Arthur akan mulai bergulir hari ini.

"Aku berhasil,"

batin Gisella, air mata kelegaan menyeruak di sudut matanya.

"Aku berhasil mengubah satu plot besar."

Sore harinya, pukul lima tepat, pintu utama kediaman Arthur terbuka.

 Adrian melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya terdengar lebih cepat dari biasanya.

Di belakangnya, Valerie berjalan dengan wajah yang masih tampak sedikit syok dan pucat.

Gisella yang sedang membaca buku di ruang tengah langsung bangkit berdiri dan berjalan ke koridor depan.

Begitu mata Adrian menangkap sosok Gisella, pria itu langsung berjalan mendekat tanpa memedulikan tas dokumennya yang dia letakkan begitu saja di atas meja konsol.

Dia berhenti tepat di depan Gisella, mencengkeram kedua lengan atas wanita itu dengan genggaman yang kuat namun tidak menyakitkan.

"Bagaimana kau bisa tahu, Gisella?"

tanya Adrian, suaranya terdengar rendah, bergetar oleh kombinasi rasa tidak percaya, keterkejutan, dan intensitas emosi yang tinggi.

"Kak... kecelakaan itu benar-benar terjadi," Valerie menimpali dari belakang dengan suara yang masih agak gemetar.

"Kami melihat setitik asapnya dari jalur pusat kota. Jika kita lewat sana tadi... kita pasti berada di jalur yang sama. Kak Adrian juga berhasil melakukan presentasi dengan sukses karena kita tiba tepat waktu lewat jalur kota."

Adrian tidak melepaskan pandangannya dari sepasang mata bulat Gisella.

Cengkeramannya di lengan Gisella justru terasa semakin intens.

Di dalam mobil tadi, saat mendengar berita radio tentang kecelakaan di jalur lingkar luar tepat pada pukul sembilan pagi, bulu kuduk seorang Profesor Adrian Arthur berdiri seketika.

Logika sains yang dia agungkan selama hidupnya patah total oleh fakta bahwa istrinya telah menyelamatkan nyawa dan masa depannya hari ini hanya berdasarkan sebuah

"firasat".

"Kau menyelamatkanku, Gisella. Kau menyelamatkan Valerie,"

bisik Adrian, matanya menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Gisella, mencari jawaban atas misteri besar yang menyelubungi wanita di hadapannya ini.

"Siapa kau sebenarnya? Dan bagaimana bisa kau memprediksi hal semengerikan itu dengan begitu tepat?"

Gisella menelan ludah, merasakan kehangatan dari cenckerangan tangan Adrian yang menyalurkan rasa terima kasih yang teramat dalam, sekaligus sebuah tuntutan akan kebenaran yang tidak bisa lagi dia hindari.

Jalanan maut telah berhasil dihindari, tetapi sekarang, permainan catur psikologis di antara mereka baru saja memasuki babak yang paling krusial.

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!