Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.
Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Pintu rumah akhirnya tertutup pelan.
Suara langkah kaki Arin, Zayyan, dan Fahri perlahan menghilang di kejauhan, menyisakan keheningan yang terasa begitu mencekam dan menyesakkan di dalam rumah mewah itu.
Regan masih terduduk kaku di sofa ruang tamu. Pandangannya kosong menatap langit-langit yang tinggi, sementara selembar kertas hasil tes DNA masih tergenggam erat di tangannya—kini agak meremuk karena cengkeramannya yang terlalu kuat.
Yang terngiang di telinganya saat ini hanyalah rentetan kalimat Arin yang menghunjam tepat di jantungnya.
*“Kamu ke mana waktu Zayyan demam tinggi?”*
*“Kamu ke mana waktu orang-orang ngatain Zayyan anak haram?”*
*“Kamu yang buang kami, Regan.”*
Dadanya terasa sangat sesak, seolah pasokan oksigen di ruangan luas itu mendadak hilang. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengusir rasa bersalah yang menggerogoti warasnya. Namun gagal. Perlahan, air mata penyesalan itu kembali jatuh, membasahi pipinya yang masih terasa panas.
Sementara itu, di kediaman keluarga Utama.
Farah berkali-kali melirik jam dinding di ruang keluarga dengan raut wajah cemas.
"Pah, Regan sudah beberapa hari ini tidak pulang ke rumah utama, ya?" tanya Farah pada suaminya, Gani, yang sedang fokus membaca koran di tangannya.
Gani hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan. "Katanya dia lebih sering menginap di rumah pribadi. Biarkan saja, mungkin dia sedang banyak urusan kantor."
Farah mengembuskan napas berat, meremas jemarinya sendiri. "Tapi hati Mama kok gak enak banget dari kemarin, Yah. Perasaan Mama mendadak gelisah."
Karena rasa cemas yang tak terbendung, Farah akhirnya mengajak suaminya untuk mendatangi rumah pribadi Regan. Sesampainya di sana, Farah langsung membuka pintu depan menggunakan kunci cadangan yang selalu ia bawa.
"Regan..." panggil Farah pelan begitu melangkah masuk.
Langkah wanita paruh baya itu seketika terhenti saat melihat pemandangan di ruang tamu. Putranya tampak terbaring lemah di atas sofa dengan wajah yang sangat pucat dan kedua mata yang sembap.
"Ya Allah, Regan..." Farah langsung berhambur mendekat, menyentuh dahi putranya.
"Mama..." sahut Regan lirih, suaranya terdengar sangat parau dan tak bertenaga.
"Kamu sakit, Nak?" tanya Farah dengan guratan panik di wajahnya.
Regan hanya menggeleng pelan, enggan bersuara.
"Kamu sudah makan belum? Wajahmu pucat sekali," Farah beralih menatap suaminya yang berdiri tak jauh di belakangnya dengan kening berkerut. Belum sempat Regan menjawab, Farah melihat tubuh putranya sedikit menggigil karena hanya berbaring tanpa selimut di bawah embusan AC yang dingin.
"Tunggu sebentar. Mama ambilkan selimut ke kamar kamu di atas, ya."
Farah pun bergegas menaiki anak tangga menuju lantai atas. Sesampainya di depan kamar utama Regan, ia langsung membuka pintu jati tersebut begitu saja. Namun, langkah kaki Farah mendadak terkunci di ambang pintu. Matanya membelalak tak percaya.
Di atas ranjang king size milik Regan yang biasanya rapi dan minimalis, kini berserakan berbagai macam mainan anak-anak. Mobil-mobilan, robot raksasa, balok lego, hingga boneka dinosaurus besar. Beberapa kantong belanja dari toko mainan ternama di pusat kota bahkan masih tergeletak begitu saja di sudut kamar.
Tidak hanya itu, di atas sofa panjang dekat jendela, tertata rapi beberapa stel pakaian anak kecil laki-laki yang masih lengkap dengan label harganya.
Farah mengernyit bingung, hatinya berdegup kencang karena firasat aneh. "Astaghfirullah... Apa semua ini?"
Ia melangkah semakin masuk ke dalam kamar, memandangi satu per satu mainan itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Tangannya gemetar saat mengambil sebuah mobil-mobilan kecil yang tergeletak di atas bantal. "Regan beli semua mainan ini buat siapa?"
Gani yang menyusul ke atas ikut menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Alis tebal pria tua itu bertaut rapat.
"Kok banyak mainan anak-anak di kamar Regan?"
Farah menoleh ke arah suaminya dengan tatapan heran yang amat sangat.
"Ayah lihat ini. Regan gak pernah bilang punya keponakan atau kerabat yang sering main ke rumahnya sampai dibelikan barang sebanyak ini."
Dengan benak yang diliputi tanda tanya besar yang saling berkecamuk, Farah menyimpan kembali mobil-mobilan itu. Ia bergegas mengambil selimut tebal dari dalam lemari, lalu kembali turun ke ruang tamu bersama suaminya.
Farah membentangkan selimut itu dengan lembut ke tubuh Regan yang masih memejamkan mata. Baru setelah itu, ia duduk di sisi sofa, tepat di samping kepala putranya.
"Gan..." panggil Farah dengan suara yang dihaluskan.
Regan membuka matanya perlahan, menatap wajah sang Mama yang dipenuhi rasa khawatir.
"Mama..."
Farah mengelus rambut Regan, lalu bertanya dengan sangat hati-hati.
"Mainan dan baju anak-anak di kamar atas... itu buat siapa, Nak?"
Pertanyaan sederhana itu seketika membuat Regan terbungkam. Tatapannya yang tadi sempat terarah pada Mamanya kini kembali kosong, menerawang jauh ke dalam rasa bersalah. Betapa ingin ia berteriak bahwa itu semua milik cucu kandung mereka yang selama ini terbuang. Bibirnya bergetar hebat, mencoba menahan gejolak emosi yang kembali menghantam dadanya.
Lalu... tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya, air mata kembali mengalir deras dari kedua sudut mata Regan. Satu tetes luruh, lalu disusul tetes-tetes berikutnya yang kian tak terbendung.
Farah langsung panik melihat respons putranya. "Ya Allah... Regan, kamu kenapa, Nak?"
Wanita itu langsung membawa kepala putranya ke dalam pelukannya, mengusap punggung Regan dengan penuh kasih sayang seorang ibu.
"Kalau memang rasanya berat... cerita sama Mama, Nak. Jangan dipendam sendiri seperti ini. Ada apa sebenarnya?"
Gani yang berdiri di dekat mereka hanya diam mematung, namun sorot mata tajamnya diam-diam memperhatikan kertas remuk yang sedari tadi digenggam erat oleh Regan.
Di dalam pelukan ibunya, pertahanan Regan runtuh sepenuhnya. Tangisnya pecah tanpa suara. Bahunya terguncang hebat, meluapkan seluruh rasa sesak, penyesalan, dan kehancuran yang telah ia pendam sendiri.
Farah menarik napas panjang, lalu menatap putranya dengan tatapan lembut.
"Regan," panggil Farah.
"Iya, Mah."
"Apa sebenarnya yang terjadi antara kamu dan Arin sembilan tahun lalu?"
Regan terdiam. Pria itu memalingkan wajah ke arah jendela dengan rahang mengeras, sementara air mata kembali meluncur deras tanpa bisa dibendung.
Farah menggenggam erat telapak tangan putranya yang terasa dingin.
"Jawab Mama, Nak."
Regan menggeleng pelan. "Aku... nggak tahu, Ma."
"Maksud kamu?" Farah mengernyit bingung.
Regan mengusap wajahnya kasar, lalu tertawa lirih sebuah tawa getir yang sarat akan kepedihan. "Aku nggak tahu apa kesalahan fatal yang udah aku perbuat sampai dia sebenci itu, Ma. Padahal aku cinta... cinta banget sama dia."
"Kalau kamu memang secinta itu, kenapa Arin bisa membencimu sampai seperti sekarang?" tanya Farah lembut, menuntut penjelasan.
Regan tidak lagi menyahut. Ia memilih bungkam dan kembali menatap kosong ke arah luar jendela. Pundaknya yang kokoh kini tampak rapuh, terguncang pelan seiring dengan air mata yang terus menetes tanpa suara.
Melihat putranya menutup diri, Farah mengurungkan niat untuk bertanya lebih jauh. Ia hanya mengusap punggung Regan dengan lembut, mencoba menyalurkan ketenangan. Sementara itu, Gani yang sejak tadi berdiri di dekat pintu hanya diam mematung, memalingkan wajahnya ke arah lain dengan ekspresi yang sulit diartikan.