Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4.
Keputusan Ayah Bastian seakan menjadi akhir dari seluruh perdebatan panjang. Pendopo Balai Desa yang sejak tadi dipenuhi suara adu pendapat kembali diliputi keheningan. Tak ada lagi yang mampu mengubah keputusan yang telah disepakati para Tetua Adat tersebut.
Atas permintaan Kepala Desa, seorang penghulu yang biasa memimpin akad nikah di desa itu segera dipanggil. Sementara beberapa warga yang lain, dengan sigap menyiapkan perlengkapan seadanya. Seperti menata meja dan kursi tempat berlangsungnya akad nikah, serta beberapa kursi yang disusun untuk duduk para saksi.
Semuanya berlangsung begitu cepat. Saking cepatnya hingga Daniel dan Zeya seolah belum sempat menerima kenyataan bahwa dalam hitungan menit, status mereka akan segera berubah untuk selamanya.
Di dalam ruangan terpisah, seorang perias pengantin di desa itu, tampak merias wajah Zeya, agar tidak terlihat pucat dan sembab, akibat terlalu banyak menangis. Karena wajahnya yang cantik alami, maka dalam sekejap pun riasan selesai. Gadis itu kemudian dipakaikan kebaya yang telah disiapkan pula oleh sang perias tersebut.
"Pantas saja pemuda itu sangat melindungimu, Neng. Kamu cantiknya kebangetan begini, sih," celetuk Bu Kades yang sedari tadi berada di sana. Rupanya ia begitu mengagumi kecantikan Zeya.
Mami Mia yang duduk tak jauh dari Zeya, langsung merangkul pundak calon menantunya itu.
"Iya, dong. Calon menantu siapa dulu. Sudah lama saya menginginkannya menjadi bagian dari keluarga kami. Dan ternyata semesta mendukung," ujar Mami Mia sambil tersenyum bangga.
"Ck...pantesan kelakuan anak Ibu, begitu! Ternyata keluarganya juga mendukung, ya?" cibir seorang ibu yang lain sambil menatap sinis.
"Eh, bukan begitu maksud saya, Bu," sahut Mami Mia tenang. "Saya memang menginginkan Ze, menjadi menantu saya, karena dia gadis yang baik. Tapi, tentunya setelah mereka berdua menyelesaikan pendidikannya."
"Kalau dia gadis baik-baik, kenapa mau saja dipeluk-peluk sama lelaki yang bukan muhrimnya, atuh?"
"Ya karena mereka itu sudah berteman dari kecil. Dan Daniel anak saya, memang menyayangi Zeya, makanya dia sangat melindungi gadis ini."
Ibu itu tampak mengerucutkan bibirnya, tetapi Mami Mia tak peduli. Wanita itu lantas menggenggam kedua tangan Zeya dengan lembut. "Maafkan keadaan yang memaksamu seperti ini ya, Sayang."
Zeya hanya bisa tersenyum kecut. "Tapi... Ze masih merasa seperti sedang bermimpi, Tante."
Mami Mia membelai pipi Zeya dengan lembut. "Mulai hari ini, jangan panggil Tante lagi, ya. Tapi, panggil mami." Suaranya terdengar begitu tulus, dan netranya ikut berkaca-kaca.
Zeya menatap wanita yang sesaat lagi akan menjadi ibu mertuanya. Airmata kembali menetes. "I-iya... Mi," jawabnya lirih sambil terisak.
Di pendopo utama, Daniel telah duduk di kursinya. Dia mengenakan setelan jas milik Ayah Bastian yang selalu tersedia di mobilnya. Wajah remaja itu tampak tegang. Kedua telapak tangannya berkeringat dan saling menggenggam erat berusaha menyembunyikan kegelisahan yang sejak tadi menguasai dirinya.
Di sampingnya duduk Papi Baim yang beberapa kali menepuk bahu putranya, mencoba menenangkannya.
"Tarik napas, lalu keluarkan perlahan. Kakak pasti bisa," ujarnya sambil tersenyum.
Daniel mengangguk pelan, lalu melakukan apa yang papinya perintahkan.
Kemudian, Ayah Bastian mengambil tempat duduk tepat di hadapan Daniel sebagai wali nikah. Meski berusaha terlihat tegar, tetapi sorot matanya menyimpan kekhawatiran yang begitu dalam.
Pak Penghulu membuka prosesi dengan membaca basmallah, dilanjutkan dengan khutbah nikah singkat yang mengingatkan tentang amanah besar dalam sebuah pernikahan.
Setelah semua syarat dipastikan terpenuhi, Pak Penghulu memandang Daniel. "Ananda Daniel," panggilnya tegas.
"Iya, Pak," jawab Daniel cepat.
"Apakah Ananda siap melaksanakan akad nikah?" tanya Pak Penghulu lagi.
Daniel menarik napas panjang. "In sya Allah... saya siap, Pak."
Ayah Bastian menegakkan posisi duduknya, menatap Daniel dengan pandangan yang sulit diartikan. Perlahan tangannya terulur untuk berjabat tangan, dan Daniel segera menyambutnya.
Suasana seketika hening. Tak seorang pun bersuara. Semua mata tertuju kepada dua laki-laki beda generasi yang kini saling menggenggam erat.
Dengan suara yang terdengar berat, Ayah Bastian mengucapkan ijab.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Daniel Naradipta Al Ghifari bin Ibrahim Al Ghifari dengan putri kandung saya, Zeya Althafunisa Winata binti Bastian Arya Winata, dengan mas kawin kalung emas seberat lima gram dan uang tunai sebesar satu juta lima ratus ribu rupiah, dibayar... tunai!"
Daniel menggenggam tangan mertuanya semakin erat. Tanpa jeda, ia menjawab dengan suara mantap dalam satu tarikan napas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Zeya Althafunisa Winata binti Bastian Arya Winata dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!"
Hening....Sesaat seluruh ruangan seperti berhenti bernapas. Kemudian salah seorang saksi menganggukkan kepalanya mantap.
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah...!"
Ucapan syukur bergema hampir bersamaan dari para saksi dan warga yang memenuhi Balai Desa.
Pak Penghulu tersenyum, lalu mengangkat kedua tangannya. "Marilah kita berdoa agar rumah tangga yang baru saja terbentuk ini, menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah."
Semua yang hadir menundukkan kepala mendoakan kebaikan pasangan muda tersebut.
Daniel diam-diam melirik ke arah pintu sudut ruangan. Di sana, Zeya baru saja keluar didampingi Mami Mia serta Bu Kades. Kedua matanya masih terlihat sembab, tetapi berusaha tersenyum saat pandangan mereka bertemu. Kini statusnya bukan gadis lagi, sebab telah resmi menjadi seorang istri.
Bukan melalui proses panjang penuh cinta. Bukan pula melalui lamaran indah yang telah direncanakan. Melainkan karena sebuah kesalahpahaman yang mengubah jalan hidup mereka hanya dalam waktu hitungan jam.
Usai doa dipanjatkan, penghulu mempersilakan Daniel menghampiri istrinya. "Sekarang jemput lah istrimu, dan genggam tangannya erat-erat."
Daniel mengangguk sambil tersenyum tipis. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Dengan langkah mantap, dia berjalan menghampiri Zeya. Lalu berdiri di hadapan gadis yang kini telah sah menjadi istrinya. Beberapa detik mereka hanya saling memandang dalam diam. Hingga akhirnya Zeya menundukkan kepalanya.
Daniel menghela napas, kemudian berkata lirih, "Maaf..." Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibirnya.
Zeya menggeleng pelan. "Nggak perlu minta maaf. Semua yang terjadi di luar kendali kita."
Daniel menundukkan kepala. "Tapi mulai hari ini... aku akan menepati janjiku padamu. Ijinkan aku terus bersamamu, melindungimu, dan mencintaimu selamanya"
Zeya mengangkat kepalanya, menatap pemuda yang telah menjadi suaminya. Ada rasa haru menyeruak dari dalam sanubarinya. Ia tak mampu menjawab. Namun, untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan terjadi, ia merasakan kedamaian menyentuh kalbunya. Bukan karena telah menerima keadaan, meski sebenarnya ada rasa suka pada Daniel. Melainkan karena ia pun menyadari, tak ada lagi jalan untuk kembali.
Setelah prosesi pernikahan selesai, semua orang mengira permasalahan Daniel dan Zeya telah berakhir. Baik Papi Baim dan Mami Mia serta Ayah Bastian, ingin segera membawa anak-anak mereka pulang.
Namun, ketika mereka hendak berpamitan untuk meninggalkan Balai Desa tersebut, Kepala Desa langsung berdiri.
"Tunggu...!" serunya seraya mengangkat satu tangannya ke atas.
Langkah Daniel dan Zeya terhenti. Mereka saling berpandangan. Begitu pula dengan orangtua mereka.
"Ada satu hal lagi yang harus kalian ketahui!"
.emaknya datang😁