Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?
Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.
Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jerat dalam Gelas Kaca
Kegagalan di rumah Dinoyo ternyata tidak membuat Ghea mundur. Rasa malu yang ia terima justru berubah menjadi obsesi kelam yang semakin meracuni akal sehatnya. Baginya, penolakan keras dari Rayyan adalah akibat dari pengaruh Zaza, dan ia harus menemukan celah terkecil dari masa lalu Rayyan sebelum pria itu mengenal dunia spiritualnya yang sekarang.
Di dalam kamar hotel tempatnya menginap sementara, Ghea duduk termenung sembari memutar-mutar gelas kaca kosong di jarinya. Pikirannya melayang pada kenangan beberapa tahun lalu, saat Rayyan masih menjadi anak muda yang liar di jalanan.
"Kamu boleh berubah jadi malaikat sekarang, Kak," gumam Ghea dengan senyum sinis yang perlahan terukir di wajahnya. "Tapi aku tahu persis titik lemahmu. Kamu dulu tidak pernah bisa menolak alkohol kalau sudah tertekan."
Sebuah rencana baru yang lebih rapi mulai tersusun. Ghea tahu Rayyan tidak akan pernah mau menemuinya secara pribadi lagi. Maka dari itu, ia memanfaatkan posisinya di kantor untuk mengatur sebuah agenda pertemuan bisnis penting dengan klien besar dari Surabaya. Tempat yang dipilih pun sengaja berada di restoran mewah yang letaknya hanya beberapa meter dari hotel tempat Ghea menginap. Sebagai pelengkap jebakan, Ghea secara khusus memesan sebotol anggur merah berkualitas tinggi dengan kadar alkohol kuat untuk disajikan di meja pertemuan.
Malam yang ditentukan tiba. Suasana restoran hotel bernuansa remang dan elegan itu tampak tenang. Rayyan datang tepat waktu dengan setelan formal tanpa menaruh curiga sedikit pun, karena agenda ini memang melibatkan proyek besar Dafril Group.
Namun, skenario pertama Ghea tidak berjalan mulus. Pertemuan dengan klien berlangsung sangat cepat dan formal. Rayyan yang kini selalu menjaga diri, sama sekali tidak menyentuh gelas anggur yang telah dituangkan di mejanya. Ia hanya meminum air putih dan langsung bersiap pamit karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, waktu di mana ia biasanya sudah dalam perjalanan pulang ke rumah untuk menemui Zaza.
"Terima kasih atas kerja samanya, Pak. Kami tunggu kelanjutan kontraknya besok di kantor," ucap Rayyan menjabat tangan sang klien dan mengabaikan gelas anggur di dekatnya.
Melihat Rayyan yang terburu-buru hendak pergi, Ghea panik. Rencananya bisa hancur berantakan jika pria itu melangkah keluar dari pintu restoran.
"Aduh...!"
Ghea tiba-tiba terduduk kembali ke kursinya sembari memegangi perutnya erat-erat. Wajahnya ditekuk, merintih kesakitan dengan sangat meyakinkan. "Kak... Kak Rayyan, bentar... Perutku sakit banget. Duh, kayaknya maagku kambuh parah, perih sampai gak bisa berdiri."
Rayyan yang sudah memegang tas kerjanya langsung menghentikan langkah. Sifat dasarnya yang tidak tegaan dan rasa tanggung jawabnya sebagai atasan sekaligus rekan kerja membuat ia tidak bisa begitu saja meninggalkan Ghea yang tampak kesakitan setengah mati.
"Kamu gak apa-apa, Ghea? Perlu aku panggilkan ambulans atau taksi?" tanya Rayyan, guratan cemas muncul di dahinya namun ia tetap menjaga jarak berdiri.
"Gak usah ambulans, Kak... hotel tempatku menginap cuma di sebelah gedung ini, tinggal lewat koridor penghubung," rintih Ghea dengan suara melemah, memegangi lengan kursi. "Tolong bantu aku jalan sampai ke kamar saja, Kak. Obatku ada di dalam koper. Aku benar-benar gak kuat kalau jalan sendiri."
Rayyan mengembuskan napas berat. Dilema melanda hatinya, namun melihat kondisi Ghea yang semakin lemas, ia akhirnya mengangguk. "Baiklah. Ayo, aku antar sampai depan kamarmu."
Dengan sisa tenaga yang dibuat-buat, Ghea bertumpu pelan pada lengan Rayyan tanpa berani bersandar terlalu intim karena tahu Rayyan pasti akan langsung menghindar. Mereka berjalan melewati koridor penghubung hingga akhirnya tiba di depan pintu kamar hotel nomor 402.
Begitu pintu kamar terbuka, Ghea langsung melangkah masuk dan berpura-pura duduk di tepi ranjang dengan napas terengah-engah. Sementara itu, Rayyan tetap berdiri tegap di ambang pintu yang sengaja ia biarkan terbuka lebar, menolak untuk melangkah masuk lebih jauh.
Napas Rayyan agak memburu, tenggorokannya terasa sangat kering dan haus karena terburu-buru berjalan dari restoran tadi. Ghea yang memiliki kepekaan tajam langsung menangkap gelagat itu. Dengan cepat, memanfaatkan posisi tubuhnya yang membelakangi Rayyan dekat meja bar mini, Ghea membuka botol anggur merah yang ternyata sudah ia siapkan di dalam kamar sejak sore dan menuangkannya ke dalam gelas kaca.
"Ini, Kak... minum dulu. Kakak pasti haus banget gara-gara bantu aku tadi," ucap Ghea membalikkan badan, menyodorkan gelas berisi cairan merah pekat itu dengan wajah yang tampak polos.
Karena pencahayaan kamar yang remang dan rasa haus yang teramat sangat, ditambah fokusnya yang terpecah memikirkan waktu pulang, Rayyan tidak memeriksa dengan jeli. Ia mengira itu adalah jus kranberi atau sirup dingin yang biasa disediakan pihak hotel. Rayyan menerima gelas itu dan langsung menegguknya dengan cepat.
Gluk. Gluk.
Baru setengah gelas cairan itu melewati tenggorokannya, indra pencecap Rayyan langsung menyadari ada sesuatu yang salah. Rasa getir, hangat, dan tajam yang sangat familiar dari masa lalunya seketika menyengat kesadarannya.
"Ini... ini bukan air biasa, Ghea..." ucap Rayyan terbata, suaranya mendadak berat. Ia langsung menjauhkan gelas itu dari mulutnya, menaruhnya dengan kasar ke atas meja hingga cairannya sedikit memercik.
Namun, semuanya sudah terlambat. Tubuh Rayyan yang sudah bertahun-tahun bersih dari alkohol sama sekali tidak siap menerima asupan minuman keras dengan kadar setinggi itu secara mendadak. Efeknya bekerja dengan sangat cepat dan agresif.
Kepala Rayyan mendadak terasa seperti dihantam benda tebal, berdenyut sangat hebat hingga pandangannya mengabur. Seluruh persendian fisiknya terasa melosot dan lemas seketika. Tubuh jangkungnya limbung, kehilangan keseimbangan.
"Kak Rayyan...!" Ghea berseru, namun kali ini ada nada kepuasan yang tertahan di balik suaranya saat melihat tubuh Rayyan ambruk ke atas karpet tebal di dekat ranjang, sepenuhnya lemas dan tak berdaya sebelum sempat melangkah keluar dari kamar tersebut.
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe