Di desa terpencil, Zifa hidup bersama Mama Auna dan Uti Yaya, dihantui kerinduan akan ayahnya yang hilang, hingga kebenaran pahit terungkap bahwa ayahnya telah menikah lagi, berbeda dengan cerita Mama Auna tentang ayahnya yang bekerja di luar negeri. Malam-malam misterius dengan hilangnya hewan ternak warga desa menambah teka-teki, sementara takdir mempertemukan Auna dengan cinta pertamanya, Zhafran, yang kini kaya raya. Rahasia masa lalu yang terkubur dalam-dalam muncul ke permukaan: Zifa ternyata bukan anak Fauzan, melainkan darah daging Zhafran! Kini, Auna harus memilih antara mengungkap kebenaran yang mengubah hidup Zifa atau terus memendamnya demi melindungi putrinya dari intrik dunia gemerlap. Mampukah Auna mempertahankan Zifa, ataukah takdir akan memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang di Balik Dinding Rumah Baru
Malam pertama di rumah baru seharusnya menjadi malam yang penuh kehangatan, tapi bagi Zifa, dinding-dinding yang masih berbau cat segar itu terasa seperti jeruji yang dingin. Meskipun kamarnya sangat indah, lengkap dengan boneka-boneka dan lampu tidur berbentuk bintang, Zifa merasa ada sesuatu yang hancur di dalam dirinya yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan dekorasi kamar.
Di luar kamar, sayup-sayup terdengar suara denting piring. Mama, Uti Yaya, dan Om Zhafran sedang makan malam. Zifa menolak keluar dengan alasan kenyang, padahal perutnya terasa kaku karena sesak yang memenuhi dadanya.
Zifa meringkuk di atas tempat tidur, memeluk lututnya. Pikirannya melayang pada kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui.
Kata "anak haram" terus berdengung di telinganya seperti lebah yang menyengat.
"Kenapa harus Zifa yang ngalamin ini?" bisiknya dalam hati, air matanya mulai membasahi bumbu bantal.
Ia membayangkan mamanya bertahun-tahun yang lalu. Seorang diri, mengandung Zifa dengan perut yang semakin membesar, menahan malu, dan ketakutan tanpa ada laki-laki di sampingnya.
Zifa menangis membayangkan betapa sepinya malam-malam Mama saat itu. Dan pelakunya adalah laki-laki yang sekarang ada di ruang makan itu, Om Zhafran.
"Kenapa Om Zhafran jahat banget dulu?" isak Zifa pelan. "Kenapa dia ninggalin Mama kalau emang dia bapaknya Zifa?"
Pikiran Zifa kemudian beralih ke Ayah Fauzan. Hatinya perih seperti disayat sembilu. Fauzan, laki-laki yang tidak punya hubungan darah dengannya, justru menikahi mamanya dan menjadi orang pertama yang mengulurkan tangan. Fauzan yang menyuapinya saat kecil, yang menggendongnya saat ia menangis karena jatuh, dan yang memberinya nama belakang. Ayah Fauzan melakukan segalanya tanpa peduli bahwa Zifa bukan darah dagingnya.
Sedangkan Zhafran? Laki-laki itu baru muncul sekarang, saat Zifa sudah besar, saat segalanya sudah kacau, dan tiba-tiba menuntut posisi sebagai seorang ayah.
Tok, tok, tok.
Pintu kamar diketuk pelan. "Zifa? Sayang, ini Mama. Boleh Mama masuk?" suara Auna terdengar lembut dari balik pintu.
Zifa cepat-cepat menghapus air matanya dan membenamkan wajahnya di bantal. "Zifa mau tidur, Ma."
Pintu terbuka sedikit. Auna masuk dan duduk di pinggir tempat tidur. Ia mengusap punggung Zifa yang bergetar. Auna tahu, putrinya tidak sedang tidur.
"Zifa... Mama tahu apa yang ada di pikiran kamu," ujar Auna lirih. "Maafin Mama karena sudah nutupin ini semua terlalu lama. Mama cuma nggak mau Zifa ngerasa kurang. Mama mau Zifa tumbuh seperti anak-anak lain."
Zifa berbalik, matanya sembap dan merah. "Ma... apa Zifa beneran anak yang nggak diinginkan sama Om Zhafran dulu?"
Pertanyaan itu seperti hantaman keras bagi Auna. Ia menarik napas panjang, mencoba mencari kata-kata yang tidak akan semakin melukai hati anaknya. "Zhafran yang dulu adalah orang yang tersesat, Sayang. Dia salah, sangat salah. Tapi dia yang sekarang... dia sedang berusaha mati-matian menebus semua kesalahan itu."
"Tapi Ayah Fauzan lebih hebat dari dia, Ma!" potong Zifa dengan suara serak. "Ayah Fauzan nggak butuh bukti DNA buat sayang sama Zifa. Kenapa sekarang Ayah Fauzan yang harus sakit? Kenapa nggak adil?"
Auna tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa memeluk Zifa erat-erat. Zifa menangis sejadi-jadinya di pelukan mamanya. Di tengah isakannya, Zifa bergumam, sebuah pertanyaan yang paling sulit ia jawab sendiri.
"Zifa pengen punya keluarga utuh kayak temen-temen sekolah, Ma. Ada Mama, ada Ayah... tapi apa Zifa sanggup manggil Om Zhafran dengan sebutan 'Ayah'? Apa itu nggak bakal ngelukain Ayah Fauzan?"
Di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Zhafran berdiri mematung. Tangannya yang hendak mengetuk pintu tertahan di udara. Ia mendengar setiap isakan dan setiap kata yang keluar dari mulut Zifa. Dadanya terasa sesak seolah dihimpit batu besar. Ia menyadari bahwa rumah mewah ini tidak akan pernah terasa seperti rumah bagi Zifa, selama ia belum bisa memaafkan masa lalunya.
Zhafran bersandar di tembok koridor, menatap lantai dengan tatapan kosong. Ia tahu, perjalanan untuk mendapatkan panggilan "Ayah" dari mulut Zifa akan jauh lebih panjang dan berliku daripada yang ia bayangkan. Ia telah membeli rumah baru, tapi ia belum bisa membeli kembali hati putri yang pernah ia abaikan.
Malam itu, di rumah baru yang asri, keheningan terasa lebih berat dari biasanya. Ada rindu yang salah alamat, dan ada maaf yang masih tertahan di tenggorokan. Mereka tinggal di bawah atap yang sama, namun hati mereka masih berada di semesta yang berbeda.