Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.
Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03.
Sebelum pulang ke rumah, Alesha memutuskan mampir lebih dulu ke warung bakso langganannya.
Begitu turun dari motornya sambil menggendong Pingky, ia langsung tersenyum.
"Kang, baksonya dua porsi, ya!" seru Alesha.
Penjual bakso itu menoleh, lalu tersenyum ramah.
"Ehh, Neng Alesha. Kumaha, Neng? Kok ayeuna pulangna cepet pisan? Bolos, nya?" godanya sambil terkekeh.
Alesha langsung mencebik.
"Ih, bukan bolos, Kang. Aku diskors."
"Hah? Diskors? Neng mah aya-aya wae atuh," balas si Kang sambil menggeleng geli. "Ya udah, tunggu sebentar, baksonya Kang siapin dulu."
"Biasalah, Kang," jawab Alesha santai sambil nyengir.
Kang Herman hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat tingkah pelanggan langganannya itu.
"Neng mah, aya-aya wae," gumamnya pelan, lalu meletakkan dua mangkuk bakso di atas meja.
"Nih, Neng. Mangga, silakan."
Setelah itu, Kang Herman kembali sibuk melayani pembeli lainnya. Sementara Alesha fokus menghabiskan semangkuk bakso di hadapannya.
Menurutnya, menghadapi omelan Papa dalam keadaan lapar adalah keputusan yang buruk.
"Pokoknya harus kenyang dulu sebelum kena omel," gumamnya pelan, lalu menyuapkan satu butir bakso ke mulutnya.
Sedangkan Pingky yang berada di sampingnya ikut menatap mangkuk itu, seolah berharap mendapat bagian.
"Kamu nggak boleh ikut makan, Pingky. Semua ini gara-gara kamu," ucap Alesha sambil menunjuk bebek itu dengan wajah kesal.
Pingky hanya menatapnya polos tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Namun beberapa detik kemudian, Alesha malah menghela napas kecil lalu membuka tasnya. Ia mengambil sesuatu dari dalam sana dan memberikannya kepada Pingky.
"Nih, makan. Tapi jangan merasa menang, ya. Tetap aja gara-gara kamu aku kena masalah," gerutunya.
Pingky dengan santainya langsung memakan pemberian itu, membuat Alesha hanya bisa menggeleng melihat tingkahnya.
Beberapa menit kemudian, Alesha selesai makan. Ia segera membayar baksonya.
"Makasih ya, Kang," ucapnya sambil berdiri.
Kang Herman menerima uang itu lalu menatapnya heran.
"Eh, Neng Alesha, kok ayeuna pulangna gancang pisan? Ada apa, Neng?"
Alesha memasang wajah lesu.
"Mungkin dua hari ke depan saya nggak bakal ke sini dulu, Kang."
"Lah, naha kitu, Neng? Kenapa?" tanya Kang Herman.
"Kayaknya saya bakal dikurung di rumah," jawab Alesha lemas.
Kang Herman hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
"Neng mah aya-aya wae. Sok atuh, hati-hati di jalan."
Alesha mengangguk kecil.
"Iya, Kang. Saya pamit dulu."
Setelah itu, Alesha pun pergi meninggalkan warung bakso sambil membawa Pingky.
Sesampainya di rumah, Alesha langsung merasa cemas. Dalam hati, ia berharap papanya belum pulang.
Dengan langkah pelan, ia membuka pintu dan mengintip ke arah ruang tamu.
Namun harapannya langsung pupus.
Di sana, terlihat kedua orang tuanya sudah berada di rumah. Sang Papa duduk di sofa dengan wajah yang sulit ditebak, sementara Mamanya terlihat berada di sampingnya.
Alesha langsung menelan ludah.
"Matilah aku..." gumamnya pelan.
Alesha memberanikan diri masuk ke dalam rumah, matanya langsung tertuju pada sebuah koper yang berada di dekat sofa.
Ia berhenti melangkah.
"Lah?" gumamnya pelan.
Tatapannya berpindah dari koper itu ke arah kedua orang tuanya. Entah kenapa, tiba-tiba muncul firasat buruk di pikirannya.
"Ngapain diam di situ, Alesha?" tegur papanya.
Alesha yang masih berdiri dekat pintu langsung tersentak. Ia buru-buru mengalihkan pandangan dari koper di dekat sofa lalu menatap papanya.
"Ehm... nggak apa-apa, Pa," jawabnya pelan.
Alesha pun melangkah mendekati kedua orang tuanya. Matanya masih sesekali melirik ke arah koper yang berada di dekat sofa.
"Itu koper siapa, Pa?" tanyanya penasaran.
Papanya menatapnya sebentar sebelum menjawab singkat.
"Koper kamu."
Alesha langsung terdiam.
"Koper aku?" ulangnya dengan wajah bingung.
Alesha langsung panik begitu mendengar jawaban papanya.
"Ah, Papa jangan usir Alesha..." ucapnya dramatis.
Ia langsung mendekat sambil memasang wajah memelas.
"Ingat, Pa... Alesha ini satu-satunya anak Papa," lanjutnya dengan suara bergetar.
Bahkan tanpa aba-aba, air matanya mulai mengalir deras, seolah-olah dirinya benar-benar akan dibuang dari rumah.
"Hari ini Papa dapat telepon dari Pak Ridwan. Katanya kamu buat ulah lagi," ucap papanya dengan wajah serius.
Alesha langsung panik.
"Papa, Alesha janji nggak bakal buat masalah lagi," katanya cepat.
Melihat papanya masih diam, Alesha segera beralih menatap mamanya.
"Ma... jangan usir Alesha, ya. Nanti Mama sama Papa berdosa karena mengusir putri sendiri," ucapnya dramatis sambil menyeka air matanya.
Mamanya hanya bisa menatap Alesha dengan ekspresi antara ingin tertawa dan pusing melihat tingkah putrinya.
"Malahan kamu yang bakal berdosa, Alesha. Karena terus membuat masalah dan selalu melibatkan Papa sama Mama," ucap papanya sambil menatapnya tajam.
Alesha langsung terdiam beberapa detik.
"Tapi jangan usir Alesha, Pa..." pintanya cepat. "Hukum yang lain aja, Pa. Alesha janji bakal nurut."
Ia kembali memasang wajah memelas, berharap perkataannya bisa meluluhkan hati papanya.
"Itu hukumannya," ucap papanya tenang.
Alesha langsung membeku.
"Kamu akan Papa pindahkan ke Jakarta. Tinggal bersama Opa dan Oma kamu di sana."
Mata Alesha langsung membesar.
"Jakarta?" ulangnya pelan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Iya. Papa rasa tinggal jauh dari lingkungan kamu sekarang bisa membuat kamu belajar lebih bertanggung jawab."
Alesha langsung memasang wajah panik.
"Pa... jangan, dong. Masa harus sampai Jakarta?"
"Di Jakarta nanti ada Kak Kevin juga, sayang. Kamu bakal satu sekolah sama dia. Jadi kamu nggak perlu khawatir, kamu punya teman di sana," ucap mamanya mencoba menenangkan.
"Kak Kevin juga tinggal di rumah Opa sama Oma karena kedua orang tuanya sedang di luar negeri," lanjutnya.
Alesha terdiam sejenak.
"Kak Kevin bakal jagain Alesha?" tanyanya memastikan.
"Iya. Dia pasti bantu kamu beradaptasi di sana."
Mendengar itu, wajah Alesha langsung berubah lesu.
"Astaga..." gumamnya pelan. "Berarti hidup Alesha bakal nggak seru lagi."
Dalam pikirannya, kehadiran Kak Kevin berarti ia tidak akan bisa sebebas dulu melakukan berbagai hal sesuka hati.
"Kamu ganti baju dulu, sayang. Nanti kita makan bersama," ucap mamanya sambil melihat jam.
Alesha masih terlihat terpaku.
"Soalnya dua jam lagi kita harus berangkat ke bandara," lanjut mamanya.
Alesha langsung membeku.
"Bandara?" ulangnya pelan.
Alesha hanya bisa diam menatap mamanya. Baru beberapa menit lalu ia pulang dengan membawa masalah, sekarang ia sudah harus bersiap pergi ke Jakarta.
Kini Alesha sudah selesai berganti pakaian. Sebelum keluar dari kamar, langkahnya terhenti.
"Bye, kamar kesayanganku..." ucapnya dramatis.
Ia kemudian mengambil napas panjang sebelum akhirnya keluar dari kamar dan turun menuju ruang makan.
Saat tiba di sana, Alesha langsung duduk sambil menatap papanya.
"Pa, tapi Alesha belum urus surat perpindahan sekolah," katanya mengingatkan.
"Nanti Papa yang urus," jawab papanya santai.
Alesha masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi papanya lebih dulu mengambil piringnya.
"Sekarang kamu makan dulu. Jangan pikirkan yang lain."
Alesha hanya bisa mengaduk-aduk makanannya dengan wajah pasrah.
"Padahal Alesha masih punya banyak rencana di sini..." gumamnya pelan.
Mamanya yang duduk di sampingnya hanya tersenyum kecil.
"Rencana apa? Membuat masalah lagi di sekolah?" godanya.
Alesha langsung mengangkat wajah.
"Ya ampun, Mama. Kenapa langsung menuduh begitu?"
Papanya yang mendengar hanya melirik sekilas.
"Karena selama ini memang begitu kenyataannya."
Alesha langsung terdiam karena Ia tahu kali ini tidak bisa membantah.
Dengan berat hati, ia mulai menyuapkan makanannya. Meski pikirannya masih sibuk membayangkan bagaimana kehidupannya nanti di Jakarta.
Setelah beberapa suapan, ia tiba-tiba berhenti.
"Pa..."
"Hm?"
"Kalau Alesha sudah berubah, boleh pulang lagi kan?"
Sorot mata papanya tertuju padanya beberapa saat.
"Itu tergantung kamu. Kalau kamu bisa membuktikan diri dan tidak membuat masalah lagi, Papa akan pertimbangkan."
Mendengar itu, mata Alesha sedikit berbinar.
"Oke, Alesha janji."
Mama dan papanya hanya saling pandang, mereka sudah sering mendengar janji itu dari Alesha. Namun kali ini, mereka berharap putrinya benar-benar menepatinya.