Malam itu, semuanya berubah. Kegelapan yang seharusnya membaw kedamaian, justru menjadi saksi bisu atas kekerasan yang tak terkatakan.
Indira perempuan malang. Dia harus kehilangan kehormatannya yang di renggut paksa dari seseorang yang tidak di kenalinya. Hidupnya berubah drastis setelah mengalami musibah itu, dia di usir sama tetangganya karena tidak mau nama baik lingkungannya tercoreng karena keberadaannya.
Angksa Bagaskara. Harus memilih antara menerima perjodohan dari orang tuanya atau di coret dari hak waris keluarganya.
Simak ceritanya yu jangan sampai ketinggalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Diantara Dua Laki-laki
"Pasien kehilangan banyak darah, Dokter Aditya," ujar Dokter yang lain.
"Iya Dokter, suster tolong carikan golongan darah yang sama kaya golongan darah pasien. Cepet suster kita enggak bisa menunggu waktu terlalu lama, kita harus secepatnya melakukan transfusi darah sekarang," Dokter Aditya terlihat begitu panik.
Suster mengangguk cepat ia langsung keluar dari ruangan UGD, mau mencari darah sesuai golongan darah yang pasiennya butuhkan, dia juga meminta sesama suster untuk membantunya agar secepatnya di berikan ke Dokter Aditya.
Dokter Aditya dan teman sesama Dokter, lagi memberi pertolongan untuk bu Sukma. Mereka berdua terus berusaha untuk menyelamatkan bu Sukma, Dokter Aditya yang seharusnya sudah tidak ada jam praktik harus ikut serta membatu temen sejawatnya menangani bu Sukma. Dirinya memang sengaja ikut andil atas penyelamatan ibu dari perempuan yang ia sukai.
"Dokter, detak jantung pasien semakin melemah," ucap Suster yang lain memberi tau.
Dengan cepat Dokter Aditya membantu memasangkan alat pacu jantung sementara dengan elektroda yang menempel di dada untuk mengirimkan implus listrik ringan ke jantung, Dokter Aditya menyuruh Suster untuk terus mengawasinya.
Beberapa kali, Dokter Aditya dan temennya mengusap keringat yang sudah membasahi wajahnya. Pintu terbuka terlihat suster masuk membawa golongan darah yang Dokter Aditya minta mereka langsung melakukan transfusi darah untuk bu Sukma.
Dokter Aditya dan yang lain bernafas lega akhirnya berhasil menolong bu Sukma, walaupun sekarang keadaan bu Sukma di nyatakan kritis tapi setidaknya mereka sudah berjuang menyelamatkan pasiennya. Keduanya keluar dari ruangan UGD dengan wajah yang terlihat lelah.
"Dokter Aditya, terimakasih dokter sudah mau membantu saya menangani pasien," ucapnya.
"Tidak perlu berterimakasih dokter Damar," jawab Dokter Aditya menepuk pundak Dokter Damar.
"Kalau boleh tau dimana keluarga pasien Dokter? Bukankah tadi Dokter yang membawanya kesini?" tanya Dokter Damar membuat Aditya tersenyum kecil.
"Saya sampai lupa memberi tau keluarganya, terimakasih Dokter sudah mengingatkan saya, saya permisi dulu Dok," Aditya berpamitan ia mau memberi tau Indira untung saja waktu itu ia meminta nomer Indira sama perempuan itu.
***
Sesampainya di depan rumah mertuanya, Angkasa memarkirkan mobilnya ia mendesah saat Indira turun dari mobilnya dengan tidak sabaran, Angkasa turun menyusul sang istri yang sudah meninggalkan dirinya lebih dulu.
Indira mengitari halaman rumah orang tuanya yang terlihat sangat berantakan perasaannya suda bener-bener tidak enak, dia bingung melihat pintu rumahnya terbuka lebar ia melangkahkan kakinya membawanya masuk kedalam mata Indira terbelalak menutup mulutnya sendiri. Dia kaget melihat rumahnya seperti tempat pembuangan sampai banyak perabotan pecah yang berserakan di lantai.
"Astaghfirullah. Ibu, Bapak!" seru Indira memanggil kedua orang orang tuanya.
Sepi tidak ada sahutan membuat dirinya semakin was-was. Indira berlari ke kamar orang tuanya tapi ia tidak menemukan keberadaannya keduanya, ia memeriksa kamar mandi kosong tidak ada siapapun di dalam, Indira kembali keluar memeriksa dapur tetep nihil kedua orang tuanya tidak ada dimana pun.
"Ya Allah. Ibu, Bapak, kalian ada dimana? Aku datang, Bu, Pak," ujarnya.
Dug!
Akh!
Tidak sengaha Indira tersandung kaki meja dan terjatuh ke lantai tangannya terkena pecahan fas bunga. Ia melihat percikan darah di setiap lantai, Indira mencolek dan melihatnya ternyata darah itu masih basah dia menggelengkan kepalanya.
"Ibu, Bapak, kalian dimana? Tolong jangan bikin aku takut!" teriaknya, Indira mengusap-usap darah yang berceceran di lantai.
Indira tergugu tangannya menyingkirkan semua pecahan-pecahan kaca sampai tergores tapi ia tidak mempedulikannya sama sekali. Indira menemukan cincin kawin ibunya mengambilnya menggenggamnya erat.
"Siapa yang melakukan ini semua! Ibu, bapak, kalian dimana? Maafkan aku karena tidak pernah mengunjungi kalian." ujar Indira terisak.
Angkasa masuk kedalam ia terkesiap mendapati sang istri lagi terduduk di lantai menangis meraung-raung, Angkasa mengerutkan dahinya dia bertanya-tanya apa yang terjadi kenapa rumah mertuanya itu begitu sangat berantakan? Dia mendekati sang istri berjongkok memeluk Indira.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa berantakan kaya gini dan dimana orang tua mu?" tanyanya mendekap tubuh Indira.
"Tuan, tolong cari ibu dan bapak, aku takut mereka kenapa-napa." Indira mengguncang tangan suaminya.
"Iya, aku pasti akan mencari mereka kau tenanglah," sahut Angkasa menenangkan istrinya.
"Kerjaan siapa ini? Apa ada seseorang yang sengaja melakukan ini?" batin Angkasa.
Dret... Dret.
Ponsel Indira terus berdering tapi si pemilik tidak ada keinginan untuk mengangkatnya, ia masih terus saja menangis dengan tangannya yang masih menggenggam erat cincin pernikahan ibunya.
Angkasa sedikit terusik karena ponsel milik sang istri terus berbunyi ia menyuruh Indira agar mengangkat telponnya, takutnya itu telpon penting dari seseorang yang mau memberi tau kabar soal mertuanya.
"Angkatlah dulu siapa tau itu telpon penting!" ujar Angkasa mencoba memberi tau.
Indira menarik tubuhnya menjauh dari suaminya ia mengusap wajahnya merogoh saku kimononya mengambil ponselnya. Indira melihat nama Dokter Aditya dan langsung memencet tombol berwarna hijau mendekatkan ponselnya di daun telinga.
"{Asalamualaikum. Iya Dokter Aditya}." ucap Indira dengan suara seraknya.
"{Indira, kamu kemana saja dari tadi aku menelpon mu? Kau tidak papa kan Indira}?" terdengar sahutan dari seberang telpon.
"{Iy-a saya tidak papa Dokter. Ada apa Dokter menelpon saya}?" tanyanya.
"{Indira, datanglah ke rumah sakit yang dulu kamu di rawat, Ibu, kam...}." belum sempet Aditya memberi tau Indira mematikan telponnya secara sepihak.
Tut!!
"Tuan, kita harus ke rumah sakit sekarang. Ibu dan Bapak saya ada disana," ujar Indira menarik paksa tangan Angkasa.
****
Aditya mengalihkan pandangannya mendegar suara langkah kaki seseorang. Dia berdiri melihat kedatangan Indira bersama seorang laki-laki yang tidak ia kenali, Aditya penasaran siapa laki-laki yang datang bersama Indira? Dan kenapa Indira bisa kenal? Berbagai pertanyaan yang ada di benaknya tapi dirinya tidak mau mempertanyakan sekarang. Karena ada yang jauh lebih penting daripada soal laki-laki itu.
Indira sedikit berlari menghampiri Aditya, dirinya sudah tidak sabar ingin tau keadaan ibunya. Indira juga ingin tau kenapa sang ibu ada di rungan UGD? Ya saat lagi di jalan Aditya mengirim pesan padanya memberi tau kalau bu Sukma ada di ruangan UGD.
Angkasa dan Aditya saling menatap satu sama lain, Angkasa terlihat tidak suka melihat laki-laki di hadapannya setelah mengetahui kalau ternyata yang memberi kabar ke istrinya ternyata seorang laki-laki. Begitu juga sebaliknya Aditya ia terlihat kurang nyaman sama Angkasa yang tadi datang bareng Indira, Aditya mengalihkan perhatiannya saat Indira menanyakan sesuatu padanya.
"Dokter Aditya, kenapa Ibu saya bisa ada di rumah sakit? Terus gimana keadaannya sekarang? Lalu kemana bapak saya kenapa enggak kelihatan?" tanya Indira beruntun membuat Aditya bingung harus menjawab mulai darimana dulu.
"Indira, atur nafas dulu ok? Aku pasti akan menjawab semu pertanyaan kamu." ujar Aditya memegang kedua pundak Indira.
Indira mengangguk mengerti membuat Aditya lega karena Indira mau mendengar ucapannya. Sedangkan Angkasa sudah mengepalkan tangannya saat ada laki-laki menyentuh istrinya, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena sekarang mereka semua lagi ada di rumah sakit.
"Yang pertama. Saat aku pulang kerja aku tidak sengaja menemukan ibu mu tergeletak di pinggir jalan, dan saat ini kondisi bu Sukma dalam ke adaan kritis karena tadi beliau mengalami kehilangan banyak darah, yang terakhir aku tidak tau dimana keberadaan bapak kamu Indira. Aku enggak tau beliau ada dimana. Sepertinya bu Sukma kena tabrak lari." jawab Aditya memberi tau semuanya.
Indira terhuyung ke belakang hampir saja ia terjatuh untungnya Aditya langsung gercep menahan tubuh Indira, Indira meneteskan air matanya tatapannya kosong ia syok mendengar semua keterangan yang di sampaikan Aditya.
"Tidak. Ini tidak mungkin," ucap Indira dengan lelean air mata.
Bruk!
"Astaghfirullah, Indira!" teriak Aditya kaget.
****
Bersambung.......