NovelToon NovelToon
Aku Bukan Actor Genius

Aku Bukan Actor Genius

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:23.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rohid Firmansyah

Apa anda serius?...... AKU BENAR BENAR HANYA INGIN MENJADI PENULIS NOVEL, Mengapa sistem ini Memaksaku untuk Menjadi Aktor ?........

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohid Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Viral 2

Sore itu, mentari mulai condong ke barat, memancarkan semburat jingga di langit Sacramento. Udara sejuk dan aroma kopi menggantung di sepanjang jalan. James, seperti biasa, berjalan santai menuju Redwood Cafe untuk memulai shift kerjanya, menikmati ketenangan yang biasanya menyelimuti kawasan ini. Namun, kali ini pemandangan yang dilihatnya jauh dari biasa.

Sebuah antrian panjang mengular di depan cafe, bahkan melewati blok berikutnya. Puluhan orang berdesakan, saling dorong, dan berbicara penuh semangat. Wajah-wajah mereka dipenuhi antusiasme dan sedikit ketidaksabaran. James berhenti sejenak, mengerutkan kening, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

Dia mengedarkan pandangannya ke kerumunan, tapi baru saja akan melangkah masuk, seseorang di tengah kerumunan tiba-tiba mengenalinya.

"Itu dia! Itu dia orangnya!" seru seseorang dengan nada bersemangat, menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

"James! James! Boleh minta foto?" teriak yang lain.

James terkejut dan sedikit kewalahan, tak pernah menyangka akan menjadi pusat perhatian seperti ini. Beberapa orang mulai merangsek mendekat, mengulurkan tangan mereka untuk meminta tanda tangan atau sekadar foto. Ia mencoba tersenyum sopan sambil terus melangkah menuju pintu cafe, terbantu oleh beberapa orang yang dengan baik hati memberikan jalan untuknya.

Begitu berhasil masuk ke dalam, ia langsung disambut oleh pemandangan yang sama kacau. Richard, manajer cafe, berdiri di belakang meja kasir, wajahnya dipenuhi keringat. Para pelayan berlarian di antara meja-meja yang penuh sesak, membawa nampan kopi dan makanan dengan gerakan panik.

"James! Syukurlah kau datang!" seru Richard dengan napas terengah-engah begitu melihatnya. "Lihat ini! Cafe kita penuh sesak! Mereka semua di sini karena ingin bertemu denganmu!"

James mengerutkan kening, masih belum mengerti sepenuhnya apa yang terjadi. “Richard, ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba ramai begini?”

Richard menatap James dengan ekspresi setengah kagum, setengah tidak percaya. "Kau tidak tahu? Videomu bernyanyi semalam viral, James! Kau terkenal sekarang!"

James menatap Richard, masih belum sepenuhnya menangkap maksudnya. "Video apa yang kau maksud?"

Richard mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan sebuah video yang diambil secara diam-diam saat James bernyanyi semalam di cafe. “Ini! Videomu menyanyi. Lihat, sudah ditonton lebih dari 30 juta kali di YouTube!”

James memandang layar ponsel Richard dengan ekspresi datar. Di dalam video, dia terlihat menyanyi dengan tenang di sudut cafe, suaranya yang penuh emosi memikat siapa pun yang menontonnya. Namun, meskipun angka tayangan di video itu mencengangkan, dia sendiri tak terlalu peduli.

“Oh,” jawabnya singkat, seolah hal itu tak berarti banyak.

'sialan kok viral ?... ahkkk' di dalam hatinya dia ingin teriak .

Richard menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan sikap santai James. “James, ini kesempatan besar! Banyak agensi menghubungi kami, mereka ingin menawarkan kontrak untukmu! Ini bisa mengubah hidupmu!”

James menghela napas panjang. Popularitas bukanlah sesuatu yang ia inginkan. Ia hanya ingin menjalani hidup sederhana dan menulis novelnya tanpa gangguan.

Tiba-tiba, Lily,  yang diam-diam menaruh hati padanya, mendekat dengan segelas air. Ia menatap James dengan sedikit khawatir, namun juga ada perasaan tak nyaman di matanya.

"Kau baik-baik saja, James?" tanyanya dingin, seolah mencoba menyembunyikan perasaannya.

James mengangguk. "Aku baik-baik saja."

Lily menganggukkan kepala, meski tatapannya menunjukkan rasa khawatir yang belum hilang. Dalam hati, ia merasa takut jika perhatian besar ini akan membawa James pergi dari hidupnya. 'james sialan kau menghancurkan hatiku dengan melihatmu saja' di dalam dirinya yang asli.

Di luar, suara kerumunan makin riuh, meneriakkan nama James dan memintanya untuk keluar dan bernyanyi lagi. Richard menatap James dengan penuh harap, menyadari ini adalah peluang emas untuk cafe mereka.

“James, kumohon, turuti permintaan mereka. Ini baik untuk cafe kita,” bujuk Richard sambil meletakkan tangan di pundaknya.

James terdiam sejenak, memikirkan permintaan Richard. Ia enggan menyanyi di depan banyak orang, apalagi untuk alasan ketenaran. Namun, melihat wajah penuh harap Richard dan menyadari betapa cafe ini berarti baginya, ia pun luluh.

'hah kapitalis sialan, aku baru sampai, lihat senior itu kewalahan , mereka pasti dipaksa datang di jam istrirahat mereka , aduh ini semakin keluar dari jalur rencana' james merasa tidak enak pada para seniornya yang menerima banyak pesanan dari berbagai kursi .

dia melihat mereka, mereka yang mengenal james, memberikan tatapan 'tak apa aku baik'.

Dengan napas berat, James melangkah keluar dari cafe. Saat melihatnya, kerumunan langsung bersorak-sorai, beberapa di antaranya mengangkat ponsel untuk merekam momen itu.

James melangkah keluar dari cafe dengan tenang, masih mengenakan hoodie abu-abu yang agak kebesaran, menutupi sebagian wajahnya yang sedikit malu-malu. Di tangannya, ia membawa gitar akustik yang sudah usang milik cafe.

Richard, yang penuh semangat melihat banyaknya orang berkumpul di luar, buru-buru menyusul James dengan membawa kursi kayu dari dalam cafe. Bahkan, Richard juga membawa sebuah speaker kecil, berharap suara James dapat terdengar lebih jelas untuk orang-orang yang sudah menunggu. Dia menempatkan kursi di tengah trotoar yang cukup luas, cukup besar untuk menampung puluhan orang yang kini sudah berkerumun, menyambut James dengan antusias. Beberapa orang bahkan duduk di trotoar, sementara yang lain berdiri, membentuk lingkaran penuh mengelilingi James.

James menatap sekeliling, sedikit terintimidasi dengan banyaknya mata yang tertuju padanya. Tetapi dia mengambil napas dalam-dalam, dan tangannya yang cekatan mulai mengatur kunci pada gitar dengan alami, seolah-olah dirinya sudah menyatu dengan instrumennya.

“Tenang, ayo tenang,” ucapnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri, sambil memastikan gitar sudah siap.

Ia mengangkat pandangannya, kali ini dengan senyuman kecil yang tulus. “Halo semuanya,” sapa James, suaranya lembut tapi cukup jelas untuk didengar oleh semua yang hadir. Kebanyakan dari mereka adalah wanita muda yang langsung merespons dengan senyuman dan sorakan kecil.

“Perkenalkan, saya James. Tapi, teman-teman saya biasanya memanggil saya… B,” lanjutnya sambil tersenyum kaku, seolah masih terbiasa dengan perasaan aneh berbicara di depan kerumunan. “Yah, sebenarnya, saya juga nggak tahu apa yang terjadi sampai cafe jadi ramai begini. Tapi, satu hal yang pasti… saya suka musik. Jadi, ya… uh, saya agak canggung sebenarnya.”

Beberapa penonton tertawa kecil, menghangatkan suasana dan membuat James merasa lebih nyaman. Ia mengangkat bahunya, tersenyum pasrah.

“Jadi,” James melanjutkan dengan suara yang lebih percaya diri, “lagu apa yang ingin kalian dengar?” tanyanya sambil memandang penonton, berharap untuk dapat menyenangkan mereka. Sorak-sorai mulai terdengar, dan beberapa orang langsung mengusulkan lagu-lagu kesukaan mereka.

"emm beat it michel jacson"

"Glimps of us "

"Yasterday the beatles"

Beberapa orang meneriakkan nama lagu pop populer, sementara yang lain mengusulkan lagu-lagu klasik. James mengangguk-angguk, mendengarkan saran-saran mereka dengan serius, seolah-olah memilih satu lagu di antara mereka adalah hal yang sangat penting baginya.

“Aku denger-denger… lagu ‘Yesterday’ dari The Beatles bagus juga, ya?” kata James akhirnya, memilih lagu klasik yang disukai banyak orang.

' pergi kau pikiran negatif , biarkan yang positif menguasai, dasar orang tua kapitalis , dia bahkan tidak menyuruhku menyimpan barang barangku '

James duduk dengan nyaman di kursi kayu yang disiapkan Richard. Di bawah sinar matahari senja yang menyinari Sacramento, ia memposisikan gitarnya dengan hati-hati. Sejenak, ia menutup mata, membiarkan suasana sunyi meresap, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar. Kemudian, ia mulai memetik senar gitar dengan lembut, mengeluarkan melodi dari "Yesterday" dengan sentuhan modern yang ia ciptakan sendiri—nada-nada yang lebih lambat, penuh emosi, dan sedikit jazz yang memberikan kehangatan baru pada lagu klasik itu.

Begitu suara pertamanya terdengar, lembut dan penuh perasaan, semua orang terdiam, terpukau oleh aura yang dibawa James. Ia menyanyikan lirik demi lirik dengan nada rendah, suaranya mengalir seperti bisikan lembut, menyentuh setiap orang di sekitar yang mendengarkannya.

*"Yesterday\, all my troubles seemed so far away…”*

James mengucapkan lirik ini dengan nada yang hampir mendesah, seakan-akan setiap kata menggambarkan beban yang pernah ia rasakan. Suara hangatnya mengisi udara, bergema dengan keindahan yang membuat orang-orang terpaku. Penonton yang semula ramai berubah hening, bahkan beberapa orang memasang ekspresi kagum, terhanyut dalam kehalusan suaranya.

*"Now it looks as though they're here to stay…”*

James menaikkan sedikit nadanya, namun tetap dalam nada lembut yang menyentuh hati. Suaranya penuh kerinduan dan nostalgia, memberikan sentuhan yang hampir magis pada kata-kata yang ia nyanyikan. Orang-orang yang mendengarnya merasa seperti diajak masuk ke dalam dunia James—sebuah dunia yang penuh perasaan dan kejujuran yang jarang terlihat.

James mengalirkan setiap bait seperti gelombang lembut yang menerpa hati semua orang di sana. Sinar matahari senja menciptakan cahaya hangat di sekelilingnya, menambah nuansa dramatis pada setiap kata yang ia nyanyikan.

*"Oh\, I believe in yesterday…”*

Nada ini ia nyanyikan dengan suara tinggi yang lembut, seakan-akan langsung menghantam jiwa mereka yang mendengarnya. Suara James semakin merasuk, seperti bisikan dari tempat yang jauh dan indah. Beberapa orang menutup mata, meresapi tiap nada dan liriknya seakan-akan James adalah seorang malaikat yang menyampaikan pesan tersembunyi melalui lagu ini.

Pada bait terakhir, James memperlambat irama gitarnya, membawa semua orang menuju akhir lagu dengan kelembutan penuh haru.

*"Why she had to go\, I don’t know\, she wouldn’t say…”*

James membiarkan suaranya terdengar sedikit rapuh namun penuh perasaan, membuat orang-orang yang mendengarkannya merasa seperti ikut merasakan setiap perasaan itu bersamanya. Ada yang mulai terisak pelan, terbawa oleh kedalaman dan keindahan suara James yang menghanyutkan.

Saat akhirnya ia memainkan nada terakhir, membiarkan senar gitar bergetar pelan sebelum suara akhirnya menghilang, semua orang tetap hening. Suasana terasa seperti berhenti sesaat, seolah waktu memberi jeda untuk memproses apa yang baru saja mereka alami.

Lalu, perlahan, tepuk tangan mulai menggema. Namun tepuk tangan itu bukan sekadar sorakan atau teriakan; itu adalah tepuk tangan penuh penghargaan, seolah-olah setiap orang tahu bahwa mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang luar biasa. James mengangkat kepalanya, memberikan senyum kecil yang hangat pada kerumunan.

diantara para penonton, seorang dengan jas rapi, terpaku dan tertegun, bahkan mematung dia melihat james yang tersenyum begitu cerah , dia menjatuhkan es krim yang dia pegang ke tanah, saking tertegun dan tekjubnya atas apa yang dia dengar saat ini.

'Di di dia suara itu , i itu jelas yasterday tapi terdengar lebih fresh dan modern , bahkan seperti lagu lain ketika di dengar kupingku... ini ini pasti hari keberuntunganku... b bos harus melihat dia , dia harus memasukkan dia kedalam agensi '. pikirnya dengan masih tertegun, karena james melanjutkan lagu kedua yang tak kalah indahnya .

james

'malah ketawa lagi, lily tolong berikan aku minum aku kering ' perasaan james sesungguhnya.

1
ADYER 07
oy thorr up ngakkkk?
Hari Sptra
authornya kemana dah nih di tinggal bae
Kiki Ginanjar
lanjut dong ini bagus
Kiki Ginanjar
kenapa gak di lanjut padahal seru loh
Fadli
up dong
Kiki Ginanjar
kenapa gak up lagi/Grin/
Baday ys
bague
Baday ys
mantab...up up
ADYER 07
walau penjabaran nya bertele² tapi alurnya lumayan bagus.
Hr⁰ⁿ
yang bener *arghhh bikin orng khawatir saja*
Hr⁰ⁿ
maaf Thor kritik dikit,
saya baru baca dan kosa katanya masih agak berantakan,ayo Thor smngt untuk memperbaiki tulisannya
Go Anang
Luar biasa
Farah Umaiha
thor gak up??🤔
RidhoNaruto RidhoNaruto
up
Farah Umaiha
bentar lagi hp Arthur mati itu(meledak) 🤣🤭
Farah Umaiha
bagus
Farah Umaiha
bangus banget😀👍👍👍
Was pray
kok james gak tahu nominal uang dlm kontrak kerjanya? emang gitu ya dlm dunia perfilman ya thor? aktor gak tahu apa2 isi kontrak kerjanya?
Smeliy: dia sahabat James mereka sudah seperti saudara, Dan Arthur akan jadi orang paling berpengaruh pada cerita
total 4 replies
Farah Umaiha
ceritanya seru banget thor🤣😂😂😭😭💪💪
RidhoNaruto RidhoNaruto
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!